Voa-islamic Parenting (24): Makna Pelukan Bagi Buah Hati

Sahabat Muslimah, Bunda Shalihah dan calon bunda yang merindukan datangnya sang buah hati….

Si Kecil baru saja bisa berjalan tertatih-tatih. Karena gembira, ia pun ingin segera mencapai tujuan yang diinginkan. Keseimbangan hilang, ia pun jatuh dan menangis. Tak perlu panik, Bunda. Tak usah reaktif dengan berteriak seolah dunia akan kiamat. Tak perlu juga menunjukkan wajah cemas, ketakutan, atau bahkan histeris.

Jatuh adalah proses alami manusia untuk tumbuh. Datangi Si Kecil dengan tenang, berjongkoklah dan berikan pelukan terbaik yang Bunda bisa. Yaaa…pelukan. Tak perlu mengomel panjang lebar dan menyalahkan jalan karena membuat Si Kecil menangis sebagaimana banyak dilakukan ibu-ibu lainnya. Berikan kata-kata positif di telinga si kecil sembari terus memeluknya. Pelukan ini Bunda, memberi efek luar biasa pada pertumbuhan Si Kecil ke depan.

Pelukan bisa membuat Si Kecil merasa aman dan terlindungi. Ia merasa dicintai dan disayang. Rasa ini menguatkan jiwanya sebagai bekal kelak ketika ia dewasa. Ia akan tumbuh menjadi sosok yang percaya diri dan menyenangkan bagi lingkungan. Meskipun pelukan tak lagi diberikan ketika ia beranjak besar sebagaimana kebiasaan orang tua di Indonesia, hal ini tak lagi menjadi masalah. Kebutuhan emosional Si Kecil telah terpenuhi dengan baik di masa kanaknya.

Begitu sebaliknya. Bila Si Kecil jarang atau bahkan tidak pernah mendapat pelukan dari Bunda sebagai orang terdekatnya, maka biasanya ia akan tumbuh menjadi pribadi yang labil. Ia akan cenderung kesulitan untuk beradaptasi, merasa tak percaya diri, bahkan cenderung emosian atau mudah marah. ‘Luka’ ini akan terus dibawanya sampai kapan pun hingga ia menyadari bahwa ‘luka’ ini harus diobati. Bila tidak, maka anak yang kurang mendapat pelukan dari bundanya ini akan terus hidup dalam kebimbangan, kekacauan bahkan penuh masalah.

Bila tidak disertai keimanan yang kuat, bukan tidak mungkin Si Kecil akan tumbuh menjadi sosok yang haus kasih sayang. Ia akan mencari ‘hal’ yang pernah hilang di masa kecilnya ini pada lawan jenis dengan pola gaul bebas. Naudzubillah. Tentu ini bukan hal yang kita harapkan terjadi pada si buah hati. Karena itu, senyampang Si Kecil masih balita berikan pelukan sebagai hadiah terindah dari Bunda. Pelukan ini  bisa sebagai ‘reward’ ketika ia melakukan hal yang positif. Bisa juga sebagai ‘penghiburan’ ketika ia merasa sedih, cemas dan ketakutan.

Bagaimana bila Si Kecil saat ini sudah duduk di bangku SD, SMP atau bahkan SMA? Ia bukan lagi Si Kecil yang dengan mudah dipeluk oleh ibunya. Masa lalu memang tak bisa diulang, Bunda. Tapi sebesar apa pun ia selama masih tinggal seatap dengan ibunya, selalu ada jalan keluar untuk ‘menambal’ apa yang dulu pernah ia dapatkan.

Bagi kita dengan adat ketimuran yang cenderung ‘kagok’ dengan kedekatan secara fisik seperti pelukan, bisa dimulai dengan memberikan buah hati dengan perhatian. Tidak perlu langsung berubah secara drastis dengan memeluknya ketika sebelumnya hal ini tidak pernah dilakukan. Bunda bisa memulainya dengan mengubah sikap. Sosok ibu yang dulu sering marah-marah bila dekat dengan anaknya, hal ini bisa mulai dikurangi. Nada tinggi suara yang otomatis keluar bila berdekatan dengan anak yang beranjak dewasa, mulai direndahkan sekian oktaf. Bangunlah suasana tenang, aman dan nyaman dalam keluarga. Ini semua kuncinya ada pada sosok ibu sebagai pengendali suasana keluarga.

Komunikasi. Mulailah membiasakan diri dengan mau mendengarkan cerita buah hati yang tidak kecil lagi. Bila ini sudah bisa terjalin, berilah pelukan di momen istimewa semisal ketika usai menerima raport. Baik atau buruk hasilnya, yakinkah bahwa mereka tetap istimewa di hati orang tua. Berawal dari sini, gejala kenakalan remaja yang biasanya muncul, dengan izin Allah bisa diminimalkan. Anak akan memunyai rasa percaya terhadap orang tua sehingga tak perlu mencari perhatian dengan bertingkah aneh-aneh di luar sana.

Lihatlah Bunda, pelukan ini bisa mengatasi banyak hal terutama masalah psikologi pada buah hati bahkan diri kita sendiri. Mulai sekarang, jangan pelit memeluk mereka, putra-putri kita baik yang masih kecil, remaja atau bahkan beranjak dewasa. Percayalah, satu ketika nanti dalam perjalanan kehidupan buah hati yang masih panjang, mereka akan berterima kasih pada orang tuanya. Pelukan orang tua memberi kekuatan dalam dirinya. Dalam pelukan, mengalir rasa kedekatan yang penuh kehangatan, aman dan nyaman untuk melangkah sebagai sosok yang cukup mendapat kasih sayang dari rumah. Bekal ini cukup untuk mengantarkan buah hati menjadi orang yang sukses dunia dan akhirat, insya Allah. [riafariana/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/09/15/32855/voaislamic-parenting-24-makna-pelukan-bagi-buah-hati/

Voa-Islamic Parenting (23): Sejak Pandangan Pertama, Barokah itu Telah Hadir

Sahabat Voa-Islam yang Mengharap Ridho Allah SWT…

Tatkala ucapan janji dalam akad nikah telah terikrar, maka senyum pun terbingar dengan indahnya, hati senang tiada tara, air mata kebahagiaan pun menetes dengan redupnya, karena asa yang diimpikan untuk berjalan dalam syariah suci telah terjalani.

Sang ikhwan berdiri sebagai suami yang gagah rupawan, dengan membawa banyak harap yang telah tertanam dalam benakdiri, dengan tersenyum malu dia pun menghampiri sang istri yang kini telah dipersuntingnya. Maka coba tanyakan padanya, apakah dadanya gemuruh bak ombak besar di laut, karena hendak mendatangi bidadarinya saat ini? Maka pancaran merona kebahagian pun terlihat nyata. Itulah kebahagian yang sangat luar biasa, hanya mereka yang sanggup menahan kesucian dan nafsunya yang akan merasakan perasaan itu. Bukan mereka yang mengumbar nafsu dengan pacaran, tidak akan mungkin bisa merasakan‘sensasi’ itu.

Barokallah laka! Menghantarkan sang suami kelak menjadi suami selembut dan berkasih sayang bak Nabi Muhammad SAW sang Rosululloh, menjadikan dia ayah sebijak Luqmanul Hakim, menjadikan, kakek setegar Nabi Ibrahim AS yang kelak anak cucunya menjadi penerus para anbiya insya Allah.

Sedangkan sang istri yang berparas cantik bak ratu Bilqis pun, terhias dengan menawan, busana muslimah nan syar’i tergambar apik, wajahnya tertunduk malu, terlintas dalam benak dada, menaruh harap, karena telah datang suami yang kelak akan menjadi Qowwam dalam keluarganya. Yang sanggup mendekap saat terdinginkan keadaan, yang siap menopang saat terlesukan suasana, dan menjaga serta membimbing kala terkalutkan rasa. Sungguh dengan selalu taat dalam kemakrufan kepada suami tercinta, adalah kunci dari kebahagian mahligai untuk selamanya.

Maka tatkala kedua pasutri (pasangan suami-istri) masuk dalam kamar cinta pengantin, mereka sungguh saat itu mawar qolbu memekar dengan harumnya, gemetar rasa gambarkan kebahagian, tiada terkata indahnya saat itu. Tatkala sang suami memandang dengan rasa kehalalan untuk pertama kali, sang istri membalas dengan pandangan cinta penuh dengan pesona, teriring senyum cerah sembari bersalaman dengan suami, dan dicium lah telapak tangan sebagai bukti kehalalan. Sontak suami pun mengecup kecing tanda kasih saying yang terungkapkan, merekapun berdekap dengan dekapan cinta dan kemesraan, dalam suasana indah tersebut mereka berkata (dalam hati) “Indahnya hari ini (dan seterusnya) setelah kian lama aku menahan rasa ini, kini tiba kebahagian dalam keberkahan dalam biangkai halal untuk luapkan keinginan fitroh manusiawi”.. (aduh….jadi iri banget tahu kalau di bayangkan),

Barokallah laka! Membentuk sang istri secerdas Aisyah ra, setegar ibunda Siti Hajar, kuat dalam godaan bak Maryam dan penopang dakwah suami bagai ibunda Khadijah ra. Insya Allah.

Barokallah laka! Menghantarkan sang suami kelak menjadi suami selembut dan berkasih sayang bak Nabi Muhammad SAW sang Rosululloh, menjadikan dia ayah sebijak Luqmanul Hakim, menjadikan, kakek setegar Nabi Ibrahim AS yang kelak anak cucunya menjadi penerus para anbiya insya Allah.

Barokallah laka! Membentuk sang istri secerdas Aisyah ra, setegar ibunda Siti Hajar, kuat dalam godaan bak Maryam dan penopang dakwah suami bagai bunda Khadijah ra. Insya Allah.

Benarlah apa yang di wahyukan Allah SWT dalam Al Quran surat An Nuurr ayat 26:

Wanita yang kotor adalah untuk lelaki yang kotor, dn laki laki yang kotor hanyalah untuk wanita yang kotor, wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik dan laki laki yang baik hanyalah untuk wanita yang baik” (QS An-Nuur: 26).

 

Hanyalah Untuk Mereka yang Kuat Bertahan

Apa yang tergambarkan di atas, adalah sebuah potret kebahagiaan pengantin, di mana mereka berhasil menjaga hasrat mereka di saat masih perjaka dan gadis. Gak ada rumus pacaran, gak ada jadwal ngapel (berkunjung –red), gak kenal jalan berdua, apa lagi sampai nonton bioskop bareng setelah kajian, aduh…nggak deh.. Semua itu harus kita jauhi, karena keberkahan dalam sebuah pernikahan itu harus diawali dengan keberkahan dalam pencarian. Cara mencari jodohnya harus halal,gak main asal-asalan.

Dan yang lebih dasyat lagi, bagi mereka yang mencoba bermain kotor saat mencari jodoh, maka tak mungkinmereka akan merasakan keindahan dipandangan pertama sebagimana  para ikhwan dan akhwat yang berhasil menjaga nafsunya.

Sunguh indah dan indah tak tergamparkan, kecuali mereka yang benar-benar menjaga kesuciannya. Dan sangatlah rugi dan begitu rugi jikalau mereka telah mencuri start untuk menculik kenikmatan sesaat, selain karena tak merasakan kebahagian sejati, dia juga diancam dengan siksa neraka yang telah disiapkan karena telah mendekati zina, dan itu adalah haram semata.Maka indahnya dan barokahnya pandangan pertama hanya dihadiahkan bagi mereka yang berhasil menjaga kesucian syariah tanpa pelanggaran. Inilah barokallahlaka!

 

Everyone Wants to Succeed

Bila kita berbicara tentang pernikahan, tentulah setiap pasangan pengantin akan berkata “Kami ingin keluarga kami sakinah mawadah warrahmah sampai tua nanti”, iya bukan? Bagi siapa saja hal itu adalah maklum dan pantaskarena setiap orang ingin kesuksesan. Everyone wants to Succeed!

Lalu pernahkan Anda ditanya oleh seseorang, apakah anda sudah sukses hari ini? Atau sudahkah keluarga anda bahagia? Atau apakah anda merasa keluarga anda sakinah? Atau pertayaan lainnya yang serupa.

Maka ketauhilah, pertanyaan itu semua adalah menjadi pemetik api kesuksesan yang akan menghantarkan keluarga kita menuju impian yang kita cita-citakan.Seorang pakar konsultan keluarga pernah berkata, titik inti untuk menjadikan keluarga kita menjadi bahagia serta sungguh-sunguh dalam mengejar asa bersama, demi terwujudnya sebuah keluarga yang sakinah mawadah dan rahmah itu terletak pada kesungguhan kita dalam memegang janji suci yang kita ikrarkan.Allah berfirman:

“Diantara orang orang mumin itu ada orang yang Benar, menepatiapa yang mereka janjikan kepada allah, maka di antara mereka ada yang gugur, dan diantara mereka ada juga yang menunggu-nunggu, dan mereka sedikitpun tidak berubah ( QS Al Ahzab:23).

Ayat ini memang membahas tentang kondisi para mujahid dalam membela agama Allah dalam memegang janji suci, tapi saya ingin mengajak antum semua untuk berbicara lebih umum saja.

Bahwasanya ada orang yang jujur (shidqun) dalam memegang janjidan diantaranya adalah adanya para suami yang selalu faham akan janji yang mereka ucapkan demi kebahagian keluarga.Berpegang pada janji itu membutuhkan sebuah power fuul karena tak mudah untuk eksis dalam sebuah kebenaran apalagi membina sebuah mahligai sakinah.

Arnold Scwarzenegger, salah seorang aktor hollywood pernah berkata: “Sebuah kekuatan tidak lahir dari sebuah kekuatan. Perjuangan anda sesungguhnya mengembangkan kekuatan yang ada dalam diri anda, ketika anda menghadapi kesulitan dan memutuskan untuk terus maju tanpa menyerah, itulah yang disebut sebuah kekuatan”

Menjalankan roda sakinah butuh sebuah perencanaan yang matang, maka berpegang pada shidqun adalah kunci dari keberhasilan.

 

Saat Tatapan Mata Keberkahan Begitu Menggoda

Bak raja sehari, itulah ungkapan yang mashur di nusantara ini bagi para pengantin. Kebahagian yang tersiar di hari itu membuat banyak mata berbingar karena dua sejoli menyatu dalam mahligai halal keberkahan.

Ada dzikrulah dengan sholat dua rokaat tanda syukur keberkahan, ada adegan kasih sayang saling menyuap dengan buah dan air susu. Serta ada rayuan sang pangeran yang mulai berani menggoda, serta ada sang ratu yang kian memanja

Mata memandang, senyuman menggoda, ada lirikan tajam dan suara dehem yang berisyarat, hantarkan dua sejoli yang halal dalam tatapan mata tertajam panah hasrat yang lama tersimpan. Tawa kecil mulai terdengar, ada cubitan cinta tanda malu yang tak terkira, karena dua sejoli yang beriman belum pernah merasabagaimana indahnya duduk berdua, saat pundak harus tersenggol, dan jari tangan saling mengikat, dan kaki saling menginjak nakal.

Ada dzikrulah dengan sholat dua rokaat tanda syukur keberkahan, ada adegan kasih sayang saling menyuap dengan buah dan air susu. Serta ada rayuan sang pangeran yang mulai berani menggoda, serta ada sang ratu yang kian memanja.

Semua adalah keberkahan yang tiada terkira di awal jumpa. sungguh indah sebuah pernikahan yang sesuai sunah dan jalan yang halal. [Protonema/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/09/12/32809/voaislamic-parenting-23-sejak-pandangan-pertama-barokah-itu-telah-hadir/

Pernyataan Sikap AILA (Aliansi Cinta Keluarga) Tentang RUU KKG

Zionis Yahudi Khawatir Hamas Lanjutkan Perang Jika Perundingan Kairo Gagal

Al Jazeera: Jabhat Al-Nusrah Bebaskan 45 Pasukan Perdaiaman PBB Asal Fiji

Busway Karatan Sebagian Kecil Korupsi Jokowi, Benarkah Ada Yang Lebih Besar?

Pertemuan Tidak Membuahkan Hasil, Warga Kampung Deret Laporkan Jokowi ke KPK

Pernyataan Sikap AILA (Aliansi Cinta Keluarga) Tentang RUU KKG

Ketika Kematian Menjadi Tamu Anda

Horee.. Ahok Gagal Jadi Gubernur DKI.. Eits Dengar Dulu Penjelasan Kemendagri

Produk Telkom: Bostoko Semakin Handal dan Tangguh

Green Kurban: Inovasi Program ‘Kurban Plus Penghijauan’

Ini Komitmen Koalisi Merah Putih Untuk Masa Depan Pribumi Anti Neoliberal

Lasinta Ari Nendra Wibawa Pemenang Lomba Cipta Puisi ‘Bebaskan Palestina’

Rafsanjani Nyatakan Negaranya (Iran) Siap Bekerjasama dengan AS Memerangi ISlamic State (ISIS)

[Foto] Daulah Islamiyyah (ISIS) Dirikan Yayasan untuk Rawat Orang-orang Lanjut Usia

HAMAS Serukan Perlawanan di Tepi Barat

Ahrar Al-Sham Umumkan Pemimpin Baru Setelah Terbunuhnya Hassan Aboud

Fadli Zon: Ahok Politisi Kutu Loncat, Bukan Kader Terbaik

Rilis Iwan CH Pangka Soal SP3 Kasus Perkosa ‘Buayawan’ Liberal Sitok Srengenge

Hanibal Berbagi Pengalaman Dalam Diskusi ‘Standard Peliputan Kasus Terorisme’

Konsep Legalnya Nikah Beda Agama Hanya Berlaku di Negara Sekuler

Masuk Islam, Haruskah Mengganti Nama?

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/09/11/32802/pernyataan-sikap-aila-aliansi-cinta-keluarga-tentang-ruu-kkg/

Kala Hati Merindu Belahan Jiwa

“Sendiri dalam ketakwaan itu lebih baik daripada bersama dalam kemaksiatan. Karena sesungguhnya kita tak pernah benar-benar sendiri, selalu ada Allah yang menemani.”

Sahabat Muslimah Voa-Islam…

Kata-kata di atas itu semoga menjadi pengingat ketika kita lupa. Lupa karena hati gersang, iman sedang turun atau bahkan tergoda untuk berpasangan dalam kemaksiatan.

Hidup ‘sendiri’ memang sungguh tidak nyaman. Sendiri di sini maksudnya belum memunyai pasangan yang sah, belahan jiwa yang akan mendampingi diri meraih ridho-Nya. Tak ada teman untuk berbagi, berkeluh-kesah, curhat, atau ‘sekadar’ teman ngobrol. Ada kerinduan yang kadangkala hadir tanpa diundang. Apalagi bila melihat teman-teman menggandeng suaminya atau bahkan menggendong buah hati dalam dekapan. Hati perempuan mana yang tak merasakan fitrah untuk berada pada posisi yang sama.

Wajar. Karena naluri untuk mencintai baik kepada pasangan ataupun anak keturunan itu sudah ‘built in’ alias anugrah dari Sang Mahacinta. Sehingga serapat apapun kita menyimpannya, tak sepeduli apapun kita untuk memikirkannya, ketukan itu nyata ada. Padahal di saat yang sama, Allah masih menyimpan ‘dia’ yang akan menjadi pasangan hidup kita. Allah bukan sedang membenci atau menghukum kita, hanya karena belahan jiwa belum ada. Sebaliknya, Allah sedang menempa kualitas diri kita, sejauh mana bisa tetap bersabar dan bersyukur disaat hati seolah-olah sempit. Bukankah Allah sesuai persangkaan hamba-Nya?.

Allah bukan sedang membenci atau menghukum kita, hanya karena belahan jiwa belum ada. Sebaliknya, Allah sedang menempa kualitas diri kita, sejauh mana bisa tetap bersabar dan bersyukur disaat hati seolah-olah sempit. Bukankah Allah sesuai persangkaan hamba-Nya?

Dititik inilah, kondisi hati paling rawan untuk berpaling. Ya…berpaling dari ketakwaan yang selama ini digenggam. Muncul anggapan seolah-olah jodoh itu jauh karena kita tak mengikuti trend kebanyakan. Pacaran, tabarruj (berhias untuk non-mahrom), ber-khalwat (berduaan dengan lawan jenis non-mahrom) dan ber-ikhtilat (campur baur antara laki-laki dan perempuan tanpa alasan yang syar’i) mulai dijadikan ajang coba-coba.

Telah banyak kisah nyata yang mengabarkan bahwa si A, yang dulu berhijab dengan baik sekarang mulai berubah. Sedikit demi sedikit, hijabnya berubah bentuk hingga akhirnya ditanggalkan sama sekali. Naudzubillah. Lelah hatinya menunggu. Imannya tergerus oleh kegelisahan akan rindunya pada pernikahan, yang tak kunjung datang. Akhirnya ia pun ‘menggugat’ Allah. Ia tak lagi mau taat pada-Nya karena toh ‘sekadar’ suami saja ia beranggapan Allah tak mengabulkannya. Astaghfirullah.

Sahabat Muslimah…

Ujian manusia itu bisa beragam warna. Ibarat sekolah, mustahil tak ada ujian untuk menentukan kualitas dan pemahaman peserta didik. Dan kehidupan ini adalah madrasah terbesar manusia untuk menghadapi jenis ujian, apapun itu bentuknya. Ada yang diuji masalah jodoh yang tak kunjung datang. Ada juga yang diuji sudah ada jodoh tapi tak sesuai harapan. Yang lainnya lagi, diuji anak yang sangat membangkang atau orang tua yang selalu turut campur urusan rumah tangga anaknya. Bisa jadi masalah ekonomi datang menghantam, dipecat tanpa pesangon dengan tiba-tiba. Atau mungkin saja, penyakit yang tak sembuh-sembuh bahkan nyawa pun harus kembali pada-Nya dengan cepat.

Inilah hidup. Toh tak semua melulu berbentuk kesedihan. Ia datang silih berganti dengan kebahagiaan. Mungkin ada yang belum menemukan belahan jiwa, tapi ia berprestasi di kuliah. Belum bisa menikah dengan segera, tapi Allah menganugerahinya keluarga besar yang selalu harmonis. Masih merindu sosok imam yang akan menuntunnya ke surga, ia masih bisa menumpahkan rindu itu dipertiga malam dengan tahajudnya. Ia masih bisa berbuat banyak untuk umat disegala bidang yang ia bisa.

Bersabar itu memang tak berbatas. Bila ia memunyai batas, maka bukan bersabar lagi namanya. Begitu juga dengan penantian ini, ia harus dibekali dengan kesabaran yang luar biasa.

Bersabar itu memang tak berbatas. Bila ia memunyai batas, maka bukan bersabar lagi namanya. Begitu juga dengan penantian ini, ia harus dibekali dengan kesabaran yang luar biasa. Bila merasa kesabaran itu sudah mulai menipis, maka harus segera di-recharge. HP saja bisa lowbat kalau dipakai terus-menerus, apalagi ini kualitas iman. Maka benarlah kalau tombo ati (penawar hati) itu ada 5: baca Quran dan maknanya, lakukan salat malam, berkumpul dengan orang-orang salih, perbanyak puasa dan dzikir di kala malam.

Sungguh, rasakan manisnya iman saat kita berada dalam kesempitan. Meskipun ketika berada dalam kelapangan, manisnya iman itu seharusnya juga tetap ada. Tak perlu tergoda rayuan duniawi, dengan cara berpacaran atau menanggalkan rasa malu sebagai ciri khas muslimah. Apalagi sampai menanggalkan keimanan hanya karena pasangan, naudzubillah. Toh, tak ada yang kekal di dunia ini. Begitu juga nikmat dan bahagianya pernikahan, selalu ada pasang surutnya.

Sembari bersabar menunggu belahan jiwa datang, mengapa tak fokus untuk mempelajari dinullah ini? Semakin kita paham Islam dengan baik dan benar, semakin kuat pula kita memegang tali agama Allah. Dan semakin kuat memegang tali agama Allah, semakin terasa ‘ringan dan kecil’ penantian ini, insya Allah. Rasakan indahnya ‘kesendirian’ ini karena sesungguhnya kita tak pernah benar-benar sendiri. Ada Allah dengan segenap cinta-Nya yang terus menemani bahkan tanpa kita sadari. Wallahu alam. [riafariana/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/09/10/32781/kala-hati-merindu-belahan-jiwa/

Pernikahan Beda Agama Melanggar Konstitusi

JAKARTA (voa-islam.com) – Pengajuan Uji Materil (Judicial Review) di Mahkamah Konstitusi terhadap Pasal 2 ayat (1) UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan menimbulkan polemik ditengah-tengah masyarakat; Apabila dikaji berdasarkan sejarah pembentukan hukum di Indonesia, setidaknya hukum dibentuk berdasarkan pertimbangan keadilan (gerechtigkeit) disamping kepastian hukum (rechtssicherheit) dan kemanfaatan (zweckmassigkeit).

Indonesia yang notabene sangat heterogen dan multikultural dalam membentuk formulasi hukum positif agak berbeda dengan negara-negara lain yang cenderung lebih homogen. Tentu ada penggalian yang mendalam berdasarkan aspek historis dan filosofis oleh para pendiri bangsa ini agar terwujud keadilan yang nyata bagi seluruh golongan, suku, ras, agama yang ada di Indonesia.

Pun demikian halnya dengan pembentukan undang-undang perkawinan yang beberapa pasalnya saat ini mengalami uji materil, yakni Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang tentang Perkawinan yang menyatakan “Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu”.

Ryan Muthiara Wasti, Direktur Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia (PAHAM) Jakarta mengatakan Pasal 2 ayat (1) UU Perkawinan ini merupakan wujud kompromi sekaligus penghormatan terhadap nilai-nilai agama-agama yang diakui di Indonesia.

Negara dalam pasal ini berlaku arif dengan tidak melakukan intervensi dan menyerahkannya pada hukum agama masing-masing individu yang bersangkutan. Maka, tidak dapat dikatakan bahwa UU Perkawinan hanya mengakomodir kepentingan masyarakat mayoritas yaitu umat Islam, tetapi sudah melihat secara keseluruhan dari agama dan keyakinan yang ada di Indonesia pada masa itu.

Artinya pada pendiri negara meyakini bahwa Indonesia tidak akan terlepas dari sebuah pemahaman dasar atas religiusitas.

 

Disamping itu Ryan yang juga Staf Pengajar di salah satu Fakultas Hukum ini menegaskan keberadaan agama tidak dapat dipisahkan dari kehidupan berbangsa karena merupakan sebuah keniscayaan dari berdirinya sebuah negara yang berlandaskan pada sebuah ideologi yaitu Pancasila dimana Sila pertama menyebutkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Artinya pada pendiri negara meyakini bahwa Indonesia tidak akan terlepas dari sebuah pemahaman dasar atas religiusitas.

Oleh karena itu, legalisasi nikah beda agama adalah suatu hal yang tidak sesuai dan bertentangan dengan nilai-nilai dasar kehidupan masyarakat Indonesia. Legalisasi Pernikahan beda Agama adalah sesat pikir yang dapat mengaburkan makna dari pada nilai-nilai yang termaktub di dalam Pancasila sebagai Dasar Negara tegas Ryan. (NN) –

Informasi lebih lanjut, hubungi

P A H A M INDONESIA

Jl. TB. Simatupang, Komplek Depsos RI No.19 Pasar Rebo, Jakarta Timur 13671.

Indonesia Telp Fax : +6221 – 8408232

Website PAHAM Indonesia : www.pahamindonesia.org

e-mail PAHAM Indonesia : info@pahamindonesia.org

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/09/09/32763/pernikahan-beda-agama-melanggar-konstitusi/

Kisah Mualaf (2

Sahabat Voa-Islam yang Dirahmati Allah SWT…

Aku mulai berteman dengan para muslimah di komunitas. Dalam waktu singkat aku merasa akrab dengan mereka. Membayangkan bahwa ada banyak muslimah di luar sana yang bahkan tak mengenalku tapi menghormati dan mencintaiku sebagaimana saudaranya sendiri. “Wow…aku punya keluarga sekarang, satu keluarga besar.” Rasanya begitu membuncah bahagia ketika mengetahui ada saudara yang peduli dengan kita dan ingin yang terbaik untuk kita. Kapan pun aku butuh penjelasan tentang Islam, mereka selalu ada. Begitu juga ketika aku butuh seseorang untuk teman bicara, selalu ada teman untuk berbagi dan siap memotivasi agar imanku semakin naik. Masya Allah, betapa beruntungnya aku bertemu dengan iman dan Islam ini.

Sejak hari pertama mengikrarkan syahadat, aku pun langsung memakai hijab di hari itu juga. Aku merasa merdeka! Aku tak perlu lagi pusing tentang fashion model baju terbaru. Aku juga tak perlu memikirkan pendapat orang tentangku. Aku benar-benar merasa merdeka, bebas dan lepas. Hijab mengubahku. Hijab membuatku tahu dan memiliki rasa malu, sekaligus mengingatkanku bahwa ada tanggung jawab yang harus kuemban seiring hijab ini kukenakan. Alhamdulillah, Allahu Akbar!

Satu hari aku berjalan melewati kerumunan remaja. Ternyata mereka semua memilih minggir untuk memberiku kesempatan lewat dengan leluasa. Yang awalnya mengobrol langsung berhenti, yang sedang asyik merokok memilih menyembunyikan rokoknya ketika melihatku lewat. Kulanjutkan langkah menuju pemberhentian bis dan ada laki-laki yang membukakan pintu bis untukku dengan tersenyum ramah. Orang-orang begitu menghormatiku. Setelah semua perjuanganku dalam berislam, syukurlah aku bisa menjadi sosok yang lebih baik. Beberapa bulan kemudian aku bisa berdoa dalam bahasa Arab. Di saat inilah aku merasa bahwa hubunganku dengan Allah begitu dekat. Seluruh kesedihan, kecemasan dan rasa terluka sejak masa kecil seolah hilang begitu saja. Hatiku sembuh dengan tiba-tiba. Semua ini terjadi karena cinta dan rasa memaaafkan yang terus aku upayakan.

Sering aku teringat pada keluargaku. Betapa inginnya aku mereka juga merasakan kebahagiaan seperti yang kurasakan agar tak ada lagi kesedihan dan rasa amarah seperti sebelumnya. Tapi sungguh, Allah tak akan mengubah nasib satu kaum kecuali kaum itu mengubah nasibnya sendiri. Ini adalah salah satu dari ayat Al-Quran yang begitu pas untuk kondisiku dan keluargaku. Ya…aku harus mulai menyampaikan indahnya Islam ini pada keluargaku. Aku ingin mereka pun merasakan kedamaian dan keindahan Islam seperti yang kurasakan. Memang tidak mudah tapi aku harus memulainya.

Awalnya aku memberikan buku keislaman pada saudara-saudaraku dan ibuku. Kusampaikan ajaran Islam dengan cara yang makruf dan penuh kelembutan serta tentu saja dengan perbuatan nyata dari sikapku sehari-hari. Alhamdulillah, ibuku mulai memberi respon positif dengan bertanya tentang beberapa hal dan meminta nasehatku. Satu hari, adikku yang paling kecil memintaku untuk memakaikan hijab untuknya. Wah…tentu saja dengan senang hati aku melakukannya tanpa ragu. Setelah memakai hijab, dia pun berdiri di depan kaca sambil berujar, “Kira-kira bisa nggak aku seperti kamu?” Saat itu juga airmata bahagia langsung berderai. Rasa dan kalimat yang sama itu juga pernah kulontarkan ketika aku membandingkan diri dengan mereka yang terlahir sebagai muslim. Saat itu, rasanya aku tak mungkin bisa seperti mereka. Dan ternyata itu semua tidak benar. Sekarang aku menjadi bagian dari saudara-saudaraku yang seiman itu.

Dengan penuh senyuman, kuyakinkan adik kecilku ini. “Insya Allah, dengan izin Allah engkau bisa sepertiku asal kamu mau serius dengan keputusanmu ini.” Dia pun melihatku dengan mata berbinar-binar. Aku yakin sebelumnya dia belum pernah menerima kata-kata yang begitu memotivasi seperti yang kukatakan padanya saat itu. Alhamdulillah keluargaku semakin berubah menjadi lebih baik dan aku pun terus melakukan dakwah pada mereka. Keberadaanku membawa perubahan positif dalam kehidupan mereka. Mereka mulai tertarik pada Islam meskipun belum sepenuhnya yakin untuk memeluk Islam. Doakan semoga keluargaku segera mendapat hidayah ya.

Keimananku juga semakin kokoh pada Dien Islam dan pada Allah. Memang sih ada kalanya imanku naik dan turun karena itu semua merupakan proses yang harus dilalui. Tapi intinya aku sudah menemukan jalanku dan tak akan pernah menyerah untuk menapaki jalan Islam ini.

Aku berharap semua mualaf di luar sana yang menbaca kisahku ini memunyai harapan dan keyakinan yang sama. Kita tidak pernah sendiri karena selalu ada Allah yang menemani. Bahkan dalam kondisi keterpurukan yang sangat, selalu ada harapan untuk bangkit. Bukan tidak mungkin orang terbaik itu muncul dari satu tempat yang sangat kelam sebagaimana diriku ini. Kita semua memunyai kesempatan untuk meraih kesuksesan. Tak peduli siapa pun diri kita, dari mana kita berasal, selama ada iman dalam diri Allah pasti akan menunjukkan jalan itu. Mungkin perjuangan mualaf untuk mempertahankan keimanannya jauh lebih berat daripada mereka yang terlahir sebagai muslim. Tapi yakinlah, Allah tidak akan menyia-nyiakan perjuangan hambaNya. Semakin berat perjuangan ini, semakin besar pula pahalanya insya Allah.

Tak ada yang tak mungkin bagi Allah. Yang penting adalah keteguhan dan kesungguhan kita untuk meraih cita-cita tersebut. Allah bisa mengubah kondisi kita dengan begitu luar biasa. Dan tak ada satu detik pun yang kulalui tanpa rasa syukur padaNya. Di titik ini, aku bersyukur atas seluruh rasa sakit, kecewa, terluka dan sedih yang pernah kualami sebelumnya karena tanpa itu semua aku tak akan menjadi diriku yang sekarang ini. Alhamdulillah.

Sumber: thedeenshow.com

[Diterjemahkan oleh riafariana/voa-islam.com]

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/09/08/32713/kisah-mualaf-2-habis-indahnya-berislam-ini-aku-genggam-selamanya/

Kisah Mualaf (1): Perjalanan Muslimah Kanada dalam Berislam

Sahabat Voa-Islam yang mengharap ridho Allah SWT…

Namaku Elizabeth, usiaku 25 tahun dari Ontario Kanada. Inilah kisah perjalananku dalam berislam.

Sebelum menjadi muslimah, aku adalah sosok perempuan yang sangat mudah bersosialiasasi, ramah, suka tersenyum, dan selalu terlihat ceria. Aku mudah akrab dengan siapa saja, orang-orang pun begitu. Mereka mudah akrab denganku. Dulu, aku selalu menjadi pusat perhatian di manapun aku berada. Aku sangat menikmatinya.

Satu hal yang menarik adalah, saat ini pun ketika aku sudah menjadi muslimah, orang masih suka memperhatikan aku, tapi dalam kondisi yang berbeda. Orang-orang heran dengan penampilan baruku sebagai muslimah. Pada saat yang sama, keheranan mereka bercampur penasaran. Hingga detik ini pun, pandangan orang-orang itu tidak berubah. Mereka bisa sangat kejam. Bahkan orang yang dulu kukenal dengan baik bisa menjadi sosok yang sangat kejam juga. Sedih sekali mengetahui mereka yang dulu begitu dekat denganku, sekarang melihatku dengan pandangan yang sama sekali berbeda. Itu semua hanya karena baju yang kukenakan.

Pertama kali aku mengenal Islam yaitu ketika usiaku 13 tahun. Ada satu hal yang begitu menarik perhatianku dan membuatku tergetar. Sejak saat itu aku terus mencari tahu tentang Islam. Ketika guru di sekolah memberi tugas dan kita bebas untuk memilih topik maka satu hal yang pasti kuangkat untuk dibahas adalah Islam. Aku mulai menyadari bahwa terlepas dari salah persepsi yang banyak dipercayai orang tentang Islam, aku yakin ada penjelasan logis untuk semua hal itu. Dan benar saja, akhirnya aku dihadapkan pada penjelasan yang begitu sempurna atas semua salah persepsi dan pertanyaan-pertanyaan hidup yang selama ini menghantuiku. Aku pun tak bisa berpaling. Kubayangkan keluargaku, masa kecilku, seluruh perjalanan hidupku, kira-kira seperti apa jadinya bila Islam ini sudah kupeluk sejak dulu. Aku mulai membandingkan diriku dengan orang-orang Islam yang begitu salih.

“Bisakah aku seperti mereka?” aku bertanya pada diri sendiri. Rasa-rasanya itu menjadi hal yang sangat mustahil untuk diraih. Setelah bertahun-tahun mempelajari Islam, aku pun siap untuk tantangan berikutnya. Setelah semua ini kujalani, apa salahnya mencoba satu hal baru ini? Yang kuinginkan cuma ketenangan dan kebahagiaan dalam hidup.

Aku akan bercerita sedikit tentang keluargaku dan bagaimana peran mereka yang tidak begitu banyak dalam mendidik aku. Semoga setelahnya kalian memunyai gambaran lebih baik tentangku dan mengapa aku memilih Islam. Aku berasal dari keluarga ‘broken home’, tak ada keharmonisan dalam keluarga, tak ada aturan, tak ada kasih sayang. Aku dan saudaraku perempuan bisa berbuat sesuka hati dan segila apapun tanpa ada yang peduli. Aku bisa pergi dari rumah berminggu-minggu dan membolos dari sekolah. Dan ketika aku pulang, tak ada satu pun yang bertanya aku darimana dan apa yang kulakukan selama menghilang dari rumah. Aku bisa melakukan apapun yang kumau tanpa sekali pun pernah dihukum oleh orang tuaku. Ini semua tidak membuatku senang. Aku tumbuh menjadi remaja yang tak tahu arah dan terluka secara psikologis.

Ayahku pemabuk dan ibuku pengguna narkoba. Astaghfirullah. Aku dan saudaraku awalnya terbiasa dengan kondisi ini. Kami tak banyak bertanya tentang apa yang terjadi dengan orang tua kami. Rasa sakit di jiwa kami muncul secara pelan tapi pasti, bahkan tanpa kami sadari. Aku sering berbicara pada diri sendiri bahwa kehidupan ini sungguh memuakkan. Apalagi ketika teringat malam-malam saat ayahku membentak-bentak dan bersikap kasar. Ibuku hanya bisa menangis. Aku pun teringat lubang-lubang di tembok dan luka memar di wajah ibu. Bagaimana mungkin aku bisa melupakan itu semua? Tiga adik perempuan terjebak di tengah prahara rumah tangga yang entah kapan berakhir. Kami sering ikut berteriak pada ayah agar berhenti menyakiti ibu. Sebagai anak, kami harus menanggung trauma itu. Aku mulau menyadari apa yang salah dengan keluarga ini. Ketidaktaatan pada Tuhan. Aku membayangkan, apa jadinya aku dan keluargaku apabila seandainya kami memeluk agama yang berbeda dengan yang kami peluk saat itu. Pertanyaan ini selalu ada dalam benakku.

Satu pagi ketika ayah masih tidur, ibu mengajak aku, kakak dan adik-adikku pergi dengan membawa satu tas saja. Kami keluar rumah rumah dengan tergesa-gesa sehingga aku masih ingat berlari di jalanan dengan kaki telanjang. Sedih rasanya meninggalkan ayah sendirian. Kami tinggal sementara di tempat perlindungan perempuan. Tak lama kemudian, ayah dijebloskan ke penjara. Hidup menjadi begitu sulit bagi kami. Tempat tinggal kami pun berpindah-pindah dari satu penampungan ke penampungan yang lain sebelum akhirnya kami menetap di satu kawasan dengan penghasilan orang-orangnya sangat minim. Banyak orang-orang yang bernasib sama dengan kami di sini. Anak-anak terlantar karena orang tua kami pun tenggelam dalam permasalahan hidup yang demikian berat.

Orang-orang hidup dengan bergelimang dosa bukan masalah di sini. Hal-hal haram adalah sesuatu yang legal, Kanada termasuk salah satu negara yang membolehkan keharaman ini. Andai saja kehidupan kami dekat dengan Tuhan, mungkin kondisi kehidupan di Kanada tidak akan separah ini. Selama masa puber, aku dan saudara-saudaraku menempuh jalan yang salah. Rindu akan figur seorang ayah, kami mencari cinta itu di tempat yang salah. Langkah yang salah ini mengakibatkan rasa bersalah dalam diri dan itu hanya membuat batin ini makin terluka. Tak jarang aku menangis di malam-malam sepi ketika rasa terluka itu tak tertahan lagi. Biasanya setelah menangis, aku pun merasa lega. Kejadian ini berlangsung selama beberapa tahun. Rasanya kehidupan kami tak jauh dari nasib orang tua kami kelak.

Tidak bisakah kami memutus rantai ini dan hidup dengan pola yang sama sekali berbeda? Tapi bagaimana aku mau hidup yang berbeda ketika satu-satunya pola hidup yang kutahu ya seperti ini? Setelah bertahun-tahun menjalani hidup dalam kemaksiatan, rasanya susah sekali untuk keluar dari kehidupan yang begitu akrab sejak aku lahir. Aku benar-benar bingung dan sedih tapi rasa sedih ini muncul karena panggilan hati yang begitu dalam untuk berserah diri kepada Allah. Aku pun mulai menyadari bahwa bahwa hanya Tuhan yang bisa membantuku keluar dari kemelut ini. TanpaNya, aku betul-betul merasa hampa. Tapi pertanyaannya, bagaimana cara memulai untuk mengenal Dia? Bahkan aku tak tahu harus darimana memulainya.

Satu malam aku menangis di hadapanNya. “Ya Allah, Yang Mahapengasih dan Mahapenyayang, aku telah salah langkah dalam hidup ini dan hanya Engkau yang bisa menolongku. Tolonglah aku Ya Allah, kumohon dengan amat sangat. Singkirkan rasa sakit ini dari kehidupanku, dan tunjukkan padaku apa yang harus kulakukan.” Sejak saat itu, aku pun mulai mengambil langkah pasti untuk memulai lembaran baru. Dan inilah awal perjalananku yang begitu indah dalam berislam.

Aku masuk Islam tanggal 28 Januari 2012. Demi Allah, ini adalah keputusan terbaik yang pernah kubuat seumur hidup. Mengingat lingkunganku yang sedemikian, keputusan ini mudah untuk kuambil. Aku tak ingin hidup seperti sebelumnya lagi, hidup yang tanpa makna karena tak ada ketaatan pada Allah. Aku begitu lega, bahagia, tenang dan merasa nyaman yang sangat ketika pertama kalinya aku bersyahadat. Bahkan kata-kata pun tak ada yang bisa mewakilinya rasa ini dengan tepat. Saat aku melafalkan ‘La illaha il Allah Muhammad Rasul Allah’, tiba-tiba tubuhku bergetar. Tangis haru dan bahagia pun pecah tanpa mampu kutahan lagi. Akhirnya kutemukan apa yang kucari selama ini. Rasanya seperti menjadi pribadi yang baru dan penuh harapan. Untuk pertama kalinya seumur hidup, aku merasakan yang namanya harapan. Kutinggalkan masa lalu di belakang. “Segalanya akan menjadi lebih baik mulai sekarang”, aku berkata pada diri sendiri. Ya…aku mempunyai kesempatan untuk memulai hidup yang lebih baik.

Aku mulai berteman dengan para muslimah di komunitas ini. Bersambung…

Sumber: thedeenshow.com

[Diterjemahkan oleh riafariana/voa-islam.com]

Normal
0

false
false
false

IN
X-NONE
X-NONE

/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-priority:99;
mso-style-qformat:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin-top:0cm;
mso-para-margin-right:0cm;
mso-para-margin-bottom:10.0pt;
mso-para-margin-left:0cm;
line-height:115%;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:11.0pt;
font-family:”Calibri”,”sans-serif”;
mso-ascii-font-family:Calibri;
mso-ascii-theme-font:minor-latin;
mso-fareast-font-family:”Times New Roman”;
mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
mso-hansi-font-family:Calibri;
mso-hansi-theme-font:minor-latin;
mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;
mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/09/07/32712/kisah-mualaf-1-perjalanan-muslimah-kanada-dalam-berislam/

Fahira Idris Bakal Gelar Konferensi Solidaritas Hijab Indonesia

Jakarta, (voa-islam.com) - Fahira Idris bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI) akan menggelar konferensi Hijab Indonesia yang rencananya akan digelar pada akhir Oktober 2014 ini. Konferensi ini akan dihadiri 100 peserta yang berasal dari 100 organisasi muslim yang ada di Indonesia. 

Fahira Idris yang saat ini menjadi Anggota Komisi Pendidikan dan Pengkaderan MUI Pusat mengatakan, selain masih dalam suasana memperingati Hari Solidaritas Hijab Sedunia yang jatuh pada 4 September, konferensi ini bertujuan untuk memperkuat solidaritas muslimah Indonesia agar tidak ada lagi pelarangan penggunaan hijab di Indonesia. 

“Sampai saat ini saya masih dapat laporan kalau masih ada pelarangan menggunakan jilbab, terutama di tempat-tempat kerja. Konferensi ini digelar untuk membahas dan memperjuangkan jangan ada lagi larangan hijab di manapun di Indonesia,” ujar Fahira Idris di Jakarta (04/09).  

Menurut perempuan yang baru beberapa bulan diangkat menjadi pengurus MUI Pusat ini, sama seperti kebebasan berpendapat dan hak bebas dari rasa takut, berhijab adalah hak asasi dan hak dasar bagi setiap muslimah yang dibawanya sejak lahir sebagai bentuk implementasi hak asasi dalam memeluk agama dan beribadah sesuai dengan ajaran yang ia peluk.

“Miris di negera dengan jumlah muslim terbesar di dunia ini, masih ada saja pihak-pihak tertentu yang melarang muslimah berhijab. Jilbab itu hak asasi, hak kodrati yang diberikan Tuhan, jadi tidak dapat diganggu gugat oleh pihak manapun,” tegas Fahira.

Lebih lanjut, Fahira mengatakan, Konferensi Solidaritas Hijab Indonesia diharapkan menjadi wadah advokasi para muslimah di Indonesia yang dalam kehidupan sehari-hari masih mengalami deskriminasi karena mengenakan hijab. 

Sebagai langkah awal tema bahasan konferensi, saat ini Fahira mempersilahkan masyarakat Indonesia terutama muslimah jika masih mengalami diskriminasi karena berhijab mengirimkan aduan ke email pribadinya di fahira.idris@gmail.com

“Nanti kita akan buka pusat aduan jika masih ada larangan berhijab untuk seluruh muslimah di Indonesia. Sebagai bentuk solidaritas, kita akan perjuangkan bersama, agar muslimah bisa dihormati hak asasinya untuk berhijab,” terangnya.

Hari Hijab Sedunia sendiri diperingati sebagai bentuk solidaritas atas munculnya peraturan dilarang berjilbab di Prancis pada 4 September 2002. Tanggal 4 September juga menandai kembalinya anak perempuan ke sekolah di Prancis, di mana larangan berjilbab dimulai.  Hari Hijab Sedunia juga untuk mengenang Marwa Al Sherbini (32), yang tewas akibat tikaman seorang pria rasis, dalam persidangan di Jerman, 1 Juli 2004. Saat itu, Marwa bersaksi menggugat pria tersebut yang sebelumnya telah melecehkan dirinya karena memakai hijab.

Kejadian tersebut menyulut kemarahan dan perhatian publik tentang kebebasan hak asasi manusia. Tercetuslah opini publik di dunia maya, 4 September merupakan peringatan Hari Hijab Sedunia untuk mengenang tragedi Marwa yang disebut sebagai martir hijab.

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/09/05/32680/fahira-idris-bakal-gelar-konferensi-solidaritas-hijab-indonesia/

Voa-Islamic Parenting (22 ): Baarakallahu Laka; Kekuatan Cinta Dalam Do’a Untuk Pengantin Baru

Sahabat Voa-Islam yang Dimuliakan dan Memuliakan Allah….

Dalam asa setiap pasangan hidup manusia selalu mendamba akan langgengnya cinta sebuah mahligai yang berbau surgawi. Karena harapan dari setiap pengantin baru adalah bisa mengabadikan kebahagianya dari waktu ke waktu, sehingga senyum keberkahan dan tawa kemakrufan akan senantiasa menghiasi galeri keseharian dalam mengukir cinta dan asanya. Semunya demi mewujudkan tekad yang telah dibulatkan dalam akad suci pernikahan.

Dari sinilah, redaksi voa-islam.com bertekad untuk menghadirkan catatan lika-liku tentang pernikahan dari yang terkecil hingga sesuatu yang dianggap tabu.Semua ini sebagai rasa cinta kami terhadap pembaca setia voa-islam.com, agar mendapatkan ilmu yang barokah, sehingga kami berusaha untuk memberikan sajian Bimbingan Keluarga Sakinah (BKS) guna terwujudnya masyarakat Indonesia yang bertatakan syariah Islam, dengan pondasi keluarga sakinah,Insya Allah.

Baarakallahu Laka Wa Baarakallah Alaika!

Jadi manten! Itulah kalimat yang didambakan dari setiap manusia yang sudah siap untuk masuk dalam gerbang pernikahan. Tatkala seorang akhwat dan ikhwan bertekad untuk mengikat janji dalam tali suci pernikahan, dengan akad ijab kabul di depan wali serta disaksikan keluarga besar, Maka tabuk mahligaipun terbuka untuk menjalani kehidupan berdua.

Saat dekorasi pengantin terpampang dengan indahnya, lampu-lampu bersinar kemilau dan bunga-bunga menghiasi ruangan,kilatan kamera blitz tertuju dalam satu titik, dan dua mahkluk Allah itupun terseyum dengan cerahnya. Tamu-tamu hadir dengan membawa banyak kado serta do’a yang diperuntukan kepada kedua mempelai pengantin.

Kalimat “Mohon Do’a Restu” pun terlihat besar dan elok di arah paling depan, karena memang mempelai berdua sangat mengharapkan kehadiran para tamu untuk memberikan do’a serta menyaksikan pernikahanya dan berbahagia dalam walimahan yang memang disunahkan dalam syariat.

Sontak banyak kalimat pun keluar dari setiap tamu yang datang.“Selamat menempuh hidup baru!” Ada yang berkata, “selamat semoga bahagia selamanya”. Selain itu, juga ada yang berkata “semoga langgeng ya sampai anak cucu”. Demikian berbagai untaian kalimat do’a yang kini sering keluar di dalam acara walimahan.

Akan tetapi, sebenarnya bagaimana Rasululloh mengajarkan kepada para sahabat saat itu, dalam memberikan ucapan selamt bagi kaum muslimin yang sedang menjadi pengantin baru? Apakah kalimat di atas benar sudah sesuai sunah?

Ustadz Mohamad Fauzil Adhim dalam bukunya yang sangat berkualitas untuk dibaca bagi mereka yang hendak menikah, yang berjudul “Kupinang Engkau Dengan Hamdalah”, beliau membawakan satu riwayat di zaman Rasulluloh saat itu.

Sungguh Uqail Bin Thalib sempat gundah gulana, dimana tatkala dia memberlangsukan pernikahan kemudia para sahabat memberikan banyak ucapan dengan kalimat yang macam macam. Dan ketika mendengar kawannya berdo’a dengan kata “Bi rofail wal banin” (semoga bahagia dan banyak anak) kemudian dia berkata “janganlah kalian katakan demikian, karena sesunguhnya Rasulluloh telah melarang”.

Kemudian para sahabatnya bertanya “Lalu bagaimana? Apa yang harus diucapkan?” Maka Uqail pun menjawab “Ucapkanlah Baarokallahlaka wa baarokallah alaika wa jama’a bainakuma fii khair” yang artinya (semoga allah karuniakan barokah kepadamu dan semoga allah melimpahkan barokah atasmu dan semoga ia himpun kalian berdua dalam kebaikan”.

Hadist yang di riwayatkan oleh beberapa sahabat Nabi seperti Abu Hurairoh, Ibunda Aisyah dan Hasan ini sangatlah terkenal dalam kitab fiqih, karena minimal ada beberapa ulama hadist yang mengabadikan hadist tersebut diantaranya, Imam Bukhari, Imam Abu Dawud dan Imam Nasa’i.

Sehingga tidak perlu diragukan lagi, bahwa ucapan untuk mempelai berdua sang pengantin baru adalah ucapan yang diajarkan oleh Rasulluloh, bukan yang lainnya yang justru akan terjebak dalam tasabuh ucapan kaum kafir.

Maka ucapkanlah “بَارَكَ اللهُ لَكَ وَبَارَكَ عَلَيْكَ وَجَمَعَ بَيْنَكُمَا فِيْ خَيْرٍ.” (semoga allah karuniakan barokah kepadamu dan semoga allah melimpahkan barokah atasmu dan semoga ia himpun kalian berdua dalam kebaikan”)

Rahasia di Balik Do’a untuk Pengantin Baru

Bohong bila kiranya do’a yang kita ucapkan itu tidak bermakna. Ketauhilah setiap do’a yang di ajarkan oleh Rasululloh itu mempunyai hikmah dan kekuatan yang luar biasa. Apalagi do’a itu di ucapkan oleh para ulama atau orang orang sholeh yang mendo’akan kita serta manusia-manusia yang mudah dikabulkan do’anya. Subhanallah betapa bahagia hati kita, karena ada pengharapan untuk dikabulkan dengan banyaknya do’a.

Do’a yang diajarkan oleh Rasulluoh itu mempunyai susunan kalimat yang luar biasa. Di mana dalam do’a itu disebutkan kalimat Laka dan Alaika. Dua kata ini memang bila diartikan secara Indonesia mempunyai kata dan arti yang sama. Akan tetapi, dalam kode etikmakna bahasa Arabmenyimpan makna yang dalam sekali.

Kalimat “Baarokallah Laka” memberikan siratan bahwa barokah yang kita harapkan ada pada hal yang kita sukai, sesuatu yang membuat kita bahagia dan apapun yang bisa kita rasakan kemudahanya. Seperti rizki yang lancar, badan yang selalu sehat, anak yang normal serta kehidupan yang aman dan nyama, serta kebaikan-kebaikan yang lainnya. Ini arti penting “Laka” setelah kalimat “Barokah” dalam do’a pertama.

Adapun kalimat “Baarokallah Alaika” mempunyai tafsir yang berbeda dengan kalimat sebelumnya. Dimana “Alaika” memberikan arti kepada sesuatu yang identik kepada yang tidak disukai. Dalam arti kata semoga Alloh memberikan keberkahan kepadamu kepada segala hal meski hal itu terasa pahit dan tak engkau sukai.

Kalimat “Barokallah Alaika” memberikan pengharapan kepada setiap pengantin agar tetap mendapatkan keberkahan dalam setiap lini kehidupanya, meskipun saat itu dia sedang dilanda kesusahan, kesempitan,sakit dan sebagainya. Yang mencerminkan sesuatu yang berat dalam kehidupan, akan tetapi meskipun pahit dirasa, mereka tetap bisa menjalani dengan kesabaran dan keimanan sehingga keberkahan ada padanya.

Sebagaimana di dalam surat Al Baqoroh ayat ke 286, dimana untuk menunjukan antara amalan yang baik dan amalan yang nista, di dalam ayat tersebut cukup juga menggunakan “Laha makabat Wa Alaiha maktasabat” yaitu dengan isyarat Laha dan Alaiha, hal ini mirip dengan kata Lakadan Alaika dalam do’a untuk pengantin baru.

Dan setiap para pengantin baru berharap dari setiap kondisi yang menghampirinya baik keadaan senang, gembira atau kesulitan serta derita yang ada, semua terkumpul dalam kebaikan semata, yaitu teranugrahkan keimanan yang selalu menghujam dalam diri dan keluarga, kesabaran yang lekat dalam setiap ujian, juga syukur yang tiada henti dari nikmat yang selalu di berikan.

Kesuksesan keluarga terletak dalam barokah kehidupanya, hati-hati dalam melangkah sehingga terbebas dan terselamatkan dari setiap yang haram dan subhat. Keberhasilan mahligai rumah tangga manakala berhasil menjaga ketaqwaan diri untuk senantiasa berfastabiqul khoirot dalam asa dan waktu.

Dengan bermodalkan iman dan kesabaran, maka barokah itu akan hadir dan menghampiri dari setiap keluarga kita. Maka keberkahan itulah yang akan selalu dinanti setiap pasangan pengantin baru.

Keberkahan adalah anugrah dari Allah, yang akan diturunkan kepada mereka yang dirahmati Allah. Maka jadikan keluarga kita untuk selalu berjalan dalam syariah yang telah di gariskan, sehingga keluarga akan merasakan ada kekuatan yang didasari oleh cinta menuju cinta sejati, yaitu ketaatn kita kepada Allah, sehingga Allah menurunkan nikmat itu pada kita.

[Protonema/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/09/03/32588/voaislamic-parenting-22-baarakallahu-laka-kekuatan-cinta-dalam-doa-untuk-pengantin-baru/

Ketika Cinta Terbagi

Sahabat Muslimah Voa-Islam yang dirahmati Allah…

Poligami adalah salah satu sunnah Nabi yang sedang ramai diperbincangkan di masyarakat, yang perdebatannya sangat menyita energi. Ada beberapa alasan yang menjadikan pria berpoligami. Suami saya pernah bercerita punya teman yang bekerja di pertambangan daerah Kalimantan, mempunyai alasan yang sangat simple dalam menjalani poligami. Beliau berkata pada saya.

“Saya ingin menikah lagi dengan perempuan itu karena saya tertarik dan jatuh cinta pada perempuan itu, walaupun dia seorang single parent dengan tiga anak sekalipun. Daripada saya berzina saya lebih baik menikahi janda itu”.

Beribu tanya muncul dibenakku, kenapa laki-laki seusia dia, yang sudah berkepala lima, dengan keluarganya yang harmonis masih bisa jatuh cinta lagi? Berbeda lagi dengan teman-teman aktivis da’wah (teman suami). Mereka berpoligami karena merasa mempunyai tanggungjawab untuk membantu saudara muslimah yang belum mendapatkan jodoh. Karena ternyata begitu besarnya fitnah dikala seorang muslimah tidak memiliki bahu untuk bersandar.

Menurut (teman suami) yang aktif berdakwah menilai, poligami diperlukan untuk kebaikan dakwah dan tarbiyah. Ternyata poligami tengah banyak diperbincangkan dan dilaksanakan di dunia dakwah dan tarbiyah. Semoga Allah memberikan kekuatan dan keberkahan bagi mereka yang menjalankan sunnah ini. Allah SWT berfirman:

“Nikahilah wanita-wanita (lain) yang kalian senangi masing-masing dua, tiga, atau empat, kemudian jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, kawinilah seorang saja atau kawinilah budak-budak yang kalian miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat pada tindakan tidak berbuat aniaya. (QS an-Nisa’ [4]: 3).

Dari ayat tersebut jelaslah bahwa pria dibolehkan untuk berpoligami tetapi dengan syarat bisa berlaku adil terhadap istri-istrinya. Dilanjutkan dalam ayat berikutnya di QS. An Nisa : 129:

“Sekali-kali kalian tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri kalian walaupun kalian sangat menginginkannya. Oleh karena itu, janganlah kalian terlalu cenderung (kepada salah seorang istri yang kalian cintai) hingga kalian membiarkan istri-istri kalian yang lain terkatung-katung”.

Di ayat ini Allah SWT menegaskan tentang sulitnya berlaku adil. Inilah yang menjadikan pro dan kontra di masyarakat. Poligami adalah Sunnah Nabi tetapi jaraknya sangat tipis dengan jurang kezaliman. Apabila tidak memiliki ilmu, keimanan dan kesabaran yang baik, maka pelaku poligami akan terperosok dalam kezaliman. Kezaliman terhadap istri-istrinya, anak-anaknya, keluarganya, kehormatan dirinya dan lebih-lebih kehormatan agamanya. Banyak para akhwat yang menjadi korban akibat keinginan pria untuk berpoligami karena para pria tidak mempersiapkan diri dan keluarganya dalam menempuh sunnah ini.

Bila poligami keluar dari tujuan syari’at yang memendam begitu banyak hikmah dan manfaat, akan memunculkan masalah baru yang tak kunjung habis. Mungkin suatu kejadian ada akhwat diberikan harapan palsu, harapan setinggi langit, dengan segala bujuk rayu, tipu daya para pria dengan dalih mengikuti Sunnah Nabi dan pada akhirnya para akhwatlah yang menanggung sakit hati karena semua yang dijanjikan tidak sesuai dengan kenyataan.

Sunnah Nabi bukan hanya poligami, masih banyak ibadah-ibadah sunnah lain yang terkadang tidak menjadi perhatian bagi para pria. Misalnya saja hubungan personal dengan Allah melalui tahajud yang sering dilalaikan oleh para pria. I’tikaf dan berkhalwat dengan Allah yang terkadang bisa dikalahkan oleh kesibukan pekerjaan atau urusan dunia. Apalagi kalau ditambah dengan satu atau beberapa istri, bagaimana ibadah ritual mereka dengan Allah.

Bukankah tujuan hidup kita adalah mencapai ridhoNya dan nikmat terbesar adalah saat kita dekat dengan Allah. Beribadah seakan-akan melihat Allah dan seakan berada dalam pelukan Allah dan bertemu Allah azza wa jalla adalah nikmat yang luar biasa. Rabi’ah Al-adawiyah, seorang wanita saja bisa mempunyai keteguhan hati untuk tidak melenakan dirinya dalam keindahan dunia dan hanya satu keinginannya dicintai Allah, dekat dengan Allah dan bertemu sang kekasih sejati yaitu Allah SWT dan menjaga hatinya agar tidak menodai cintanya kepada Allah SWT.

Apakah para pria sudah mempunyai hubungan baik dengan Allah dan kemudian membimbing istri-istrinya, anak-anaknya, keluarganya dan mengajarkan agama, tauhid serta membekali keluarganya untuk kehidupan dunia dan akhiratnya? Kalaupun itu sudah dilakukan, apakah suami sudah mempersiapkan ilmu, mental, perasaan istri, anak dan keluarganya untuk hidup berpoligami?

Banyak suami yang tidak melibatkan istri dan keluarga mereka. Suami main grusak-grusuk (bahasa Jawa artisa tergesa-gesa) sendiri dalam mencari akhwat untuk dijadikan yang kedua dan seterusnya dengan berbagai cara untuk meluluhkan sang pujaan hati. Bahkan tak jarang suami berbohong dengan mengatakan sudah mendapat restu dari istri sebelumnya. Setelah akhwat menerima dan sang istri mengetahui hal itu dan kemudian istri menentang keras poligami, alhasil para pria meninggalkan akhwat pilihannya tanpa pesan, tanpa kata, tanpa kata maaf. Padahal untuk menjadi yang kedua dan seterusnya adalah sebuah pilihan yang sangat sulit. Dia harus mendapatkan restu yang sangat sulit dari orangtua dan keluarganya.

Orang tua mana yang rela anak perempuannya menjadi yang kedua, mungkin juga anggapan miring juga oleh masyarakat sebagai pengganggu rumah tangga orang. Orang tua pasti merasa khawatir karena anak perempuannya mendapatkan suami yang tidak bisa menjaga anaknya seutuhnya, karena dia harus berbagi dengan orang lain dan berkewajiban untuk mengingatkan suami agar tidak lebih cenderung pada dirinya, karena biasanya para suami akan cenderung kepada istri mudanya. Seperti yang terjadi di masyarakat pada umumnya.

Ini harus menjadi perhatian antara para istri dan suami agar suami terhindar dari dosa karena berlaku tidak adil. Dia harus menjadi sosok wanita yang mandiri dan bahkan harus siap berdiri kokoh untuk hidup diatas kakinya sendiri. Mau tidak mau ini menjadi ujian bagi yang kedua. Dia harus menyadari dirinya sebagai yang kedua yang hanyalah pendatang baru dalam bangunan maghligai rumah tangga orang lain. Terlebih jika pernikahan yang dilakukan hanya secara syiri tanpa sepengetahuan istri sebelumnya. Dia harus menutupi pernikahannya rapat-rapat ibarat aib yang harus ditutupi. Hinakah menjadi yang kedua?

Apa makna dari keadilan dari poligami jika banyak perempuan yang dirugikan. Harta bisa dibagi secara adil tetapi hati cinta tidak ada ukurannya. Wanita memiliki perasaan yang sangat lembut dan pencemburu. Cemburu yang dimilikinya karena cinta yang mendalam terhadap suaminya. Bagi istri pertama harus menahan cemburu yang memuncak pada masa-masa pertama pernikahan suaminya. Malam-malam pertama, minggu-minggu pertama, istri pertama akan dihadapkan ujian berat terhadap perasaannya. Bagaimana dia bisa memejamkan matanya sedangkan suami yang dicintainya berada dalam pelukan wanita lain. Hanya Allah saja yang tahu deraian air mata yang mengalir dalam sepi, dalam pilu, dalam luka hati yang semakin perih.

Bagaimana dia bisa mengadukan perasaannya pada sang suami yang selama ini menjadi sandaran jiwanya, sementara itu dilakukannya untuk kebahagian suaminya. Apakah para suami rela memberikan syurga untuk istri dengan dibayar air mata dan luka hati sang istri tercinta. Tegakah para suami melihat air mata yang deras mengalir di atas peraduan yang pernah kalian ciptakan dengan keindahan cinta. Tegakah para suami membuat para wanita yang kalian cintai risau, gundah gulana, menahan cemburu hanya mengharapkan cinta dari sesosok suami dan pengabdian istri pada suami. Apakah para wanita tidak berhak untuk bahagia dengan segala impian cintanya. Hanya wanita-wanita pilihan, wanita-wanita penghuni syurga yang rela membagi kebahagiaan dan berbagi dengan wanita lain.

Para suami haruslah memposisikan diri pada posisi terbaik dan akhlaq termulia dikala poligami dilakukan. Bukan hanya memandang halal dan batil saja, namun haruslah memandang hati pasangan hidup yang selama ini telah dibentuknya. Oleh karena, bagi para wanita gantungkanlah cintamu pada Allah. Hanya cinta Allah yang abadi. Suami hanyalah titipan Allah, suami hanyalah manusia biasa. Cintanya bisa hancur karena keegoisan dan emosi sesaat, cintanya bisa terkhianati karena kekhilafan dan nafsu birahi.

Bangunlah komunikasi yang aktif demi tegaknya Amar ma’ruf Nani mungkar dalam keluarga. Hanya Allah saja yang selalu mencintai kita tanpa pamrih, tanpa meminta balas. Hanya Allah saja yang mencintai kita dalam keadaan apapun, dalam keadaan sakit, sehat, cantik, tua, muda bahkan mencintai walau kita berada pada titik yang paling rendah. Allah berlari saat kita tertatih berjalan. Dalam hadist Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu lengan, dan barang siapa mendekat kepada-Ku satu lengan maka Aku akan mendekat kepadanya dua lengan, dan jika ia menghadap kepada-Ku dengan berjalan maka Aku menemuinya dengan berlari”. (Hadits diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim).

Semoga tulisan ini bermanfaat dan kita bisa lebih berhati-hati dalam membuat keputusan dalam hidup kita. Bila suami kita berpoligami semoga hati kita bisa tertata dengan rapi. Aamiin.

[ukhwatuna/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/09/02/32612/ketika-cinta-terbagi/