Ketika Cinta Terbagi

Sahabat Muslimah Voa-Islam yang dirahmati Allah…

Poligami adalah salah satu sunnah Nabi yang sedang ramai diperbincangkan di masyarakat, yang perdebatannya sangat menyita energi. Ada beberapa alasan yang menjadikan pria berpoligami. Suami saya pernah bercerita punya teman yang bekerja di pertambangan daerah Kalimantan, mempunyai alasan yang sangat simple dalam menjalani poligami. Beliau berkata pada saya.

“Saya ingin menikah lagi dengan perempuan itu karena saya tertarik dan jatuh cinta pada perempuan itu, walaupun dia seorang single parent dengan tiga anak sekalipun. Daripada saya berzina saya lebih baik menikahi janda itu”.

Beribu tanya muncul dibenakku, kenapa laki-laki seusia dia, yang sudah berkepala lima, dengan keluarganya yang harmonis masih bisa jatuh cinta lagi? Berbeda lagi dengan teman-teman aktivis da’wah (teman suami). Mereka berpoligami karena merasa mempunyai tanggungjawab untuk membantu saudara muslimah yang belum mendapatkan jodoh. Karena ternyata begitu besarnya fitnah dikala seorang muslimah tidak memiliki bahu untuk bersandar.

Menurut (teman suami) yang aktif berdakwah menilai, poligami diperlukan untuk kebaikan dakwah dan tarbiyah. Ternyata poligami tengah banyak diperbincangkan dan dilaksanakan di dunia dakwah dan tarbiyah. Semoga Allah memberikan kekuatan dan keberkahan bagi mereka yang menjalankan sunnah ini. Allah SWT berfirman:

“Nikahilah wanita-wanita (lain) yang kalian senangi masing-masing dua, tiga, atau empat, kemudian jika kalian takut tidak akan dapat berlaku adil, kawinilah seorang saja atau kawinilah budak-budak yang kalian miliki. Yang demikian itu adalah lebih dekat pada tindakan tidak berbuat aniaya. (QS an-Nisa’ [4]: 3).

Dari ayat tersebut jelaslah bahwa pria dibolehkan untuk berpoligami tetapi dengan syarat bisa berlaku adil terhadap istri-istrinya. Dilanjutkan dalam ayat berikutnya di QS. An Nisa : 129:

“Sekali-kali kalian tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri kalian walaupun kalian sangat menginginkannya. Oleh karena itu, janganlah kalian terlalu cenderung (kepada salah seorang istri yang kalian cintai) hingga kalian membiarkan istri-istri kalian yang lain terkatung-katung”.

Di ayat ini Allah SWT menegaskan tentang sulitnya berlaku adil. Inilah yang menjadikan pro dan kontra di masyarakat. Poligami adalah Sunnah Nabi tetapi jaraknya sangat tipis dengan jurang kezaliman. Apabila tidak memiliki ilmu, keimanan dan kesabaran yang baik, maka pelaku poligami akan terperosok dalam kezaliman. Kezaliman terhadap istri-istrinya, anak-anaknya, keluarganya, kehormatan dirinya dan lebih-lebih kehormatan agamanya. Banyak para akhwat yang menjadi korban akibat keinginan pria untuk berpoligami karena para pria tidak mempersiapkan diri dan keluarganya dalam menempuh sunnah ini.

Bila poligami keluar dari tujuan syari’at yang memendam begitu banyak hikmah dan manfaat, akan memunculkan masalah baru yang tak kunjung habis. Mungkin suatu kejadian ada akhwat diberikan harapan palsu, harapan setinggi langit, dengan segala bujuk rayu, tipu daya para pria dengan dalih mengikuti Sunnah Nabi dan pada akhirnya para akhwatlah yang menanggung sakit hati karena semua yang dijanjikan tidak sesuai dengan kenyataan.

Sunnah Nabi bukan hanya poligami, masih banyak ibadah-ibadah sunnah lain yang terkadang tidak menjadi perhatian bagi para pria. Misalnya saja hubungan personal dengan Allah melalui tahajud yang sering dilalaikan oleh para pria. I’tikaf dan berkhalwat dengan Allah yang terkadang bisa dikalahkan oleh kesibukan pekerjaan atau urusan dunia. Apalagi kalau ditambah dengan satu atau beberapa istri, bagaimana ibadah ritual mereka dengan Allah.

Bukankah tujuan hidup kita adalah mencapai ridhoNya dan nikmat terbesar adalah saat kita dekat dengan Allah. Beribadah seakan-akan melihat Allah dan seakan berada dalam pelukan Allah dan bertemu Allah azza wa jalla adalah nikmat yang luar biasa. Rabi’ah Al-adawiyah, seorang wanita saja bisa mempunyai keteguhan hati untuk tidak melenakan dirinya dalam keindahan dunia dan hanya satu keinginannya dicintai Allah, dekat dengan Allah dan bertemu sang kekasih sejati yaitu Allah SWT dan menjaga hatinya agar tidak menodai cintanya kepada Allah SWT.

Apakah para pria sudah mempunyai hubungan baik dengan Allah dan kemudian membimbing istri-istrinya, anak-anaknya, keluarganya dan mengajarkan agama, tauhid serta membekali keluarganya untuk kehidupan dunia dan akhiratnya? Kalaupun itu sudah dilakukan, apakah suami sudah mempersiapkan ilmu, mental, perasaan istri, anak dan keluarganya untuk hidup berpoligami?

Banyak suami yang tidak melibatkan istri dan keluarga mereka. Suami main grusak-grusuk (bahasa Jawa artisa tergesa-gesa) sendiri dalam mencari akhwat untuk dijadikan yang kedua dan seterusnya dengan berbagai cara untuk meluluhkan sang pujaan hati. Bahkan tak jarang suami berbohong dengan mengatakan sudah mendapat restu dari istri sebelumnya. Setelah akhwat menerima dan sang istri mengetahui hal itu dan kemudian istri menentang keras poligami, alhasil para pria meninggalkan akhwat pilihannya tanpa pesan, tanpa kata, tanpa kata maaf. Padahal untuk menjadi yang kedua dan seterusnya adalah sebuah pilihan yang sangat sulit. Dia harus mendapatkan restu yang sangat sulit dari orangtua dan keluarganya.

Orang tua mana yang rela anak perempuannya menjadi yang kedua, mungkin juga anggapan miring juga oleh masyarakat sebagai pengganggu rumah tangga orang. Orang tua pasti merasa khawatir karena anak perempuannya mendapatkan suami yang tidak bisa menjaga anaknya seutuhnya, karena dia harus berbagi dengan orang lain dan berkewajiban untuk mengingatkan suami agar tidak lebih cenderung pada dirinya, karena biasanya para suami akan cenderung kepada istri mudanya. Seperti yang terjadi di masyarakat pada umumnya.

Ini harus menjadi perhatian antara para istri dan suami agar suami terhindar dari dosa karena berlaku tidak adil. Dia harus menjadi sosok wanita yang mandiri dan bahkan harus siap berdiri kokoh untuk hidup diatas kakinya sendiri. Mau tidak mau ini menjadi ujian bagi yang kedua. Dia harus menyadari dirinya sebagai yang kedua yang hanyalah pendatang baru dalam bangunan maghligai rumah tangga orang lain. Terlebih jika pernikahan yang dilakukan hanya secara syiri tanpa sepengetahuan istri sebelumnya. Dia harus menutupi pernikahannya rapat-rapat ibarat aib yang harus ditutupi. Hinakah menjadi yang kedua?

Apa makna dari keadilan dari poligami jika banyak perempuan yang dirugikan. Harta bisa dibagi secara adil tetapi hati cinta tidak ada ukurannya. Wanita memiliki perasaan yang sangat lembut dan pencemburu. Cemburu yang dimilikinya karena cinta yang mendalam terhadap suaminya. Bagi istri pertama harus menahan cemburu yang memuncak pada masa-masa pertama pernikahan suaminya. Malam-malam pertama, minggu-minggu pertama, istri pertama akan dihadapkan ujian berat terhadap perasaannya. Bagaimana dia bisa memejamkan matanya sedangkan suami yang dicintainya berada dalam pelukan wanita lain. Hanya Allah saja yang tahu deraian air mata yang mengalir dalam sepi, dalam pilu, dalam luka hati yang semakin perih.

Bagaimana dia bisa mengadukan perasaannya pada sang suami yang selama ini menjadi sandaran jiwanya, sementara itu dilakukannya untuk kebahagian suaminya. Apakah para suami rela memberikan syurga untuk istri dengan dibayar air mata dan luka hati sang istri tercinta. Tegakah para suami melihat air mata yang deras mengalir di atas peraduan yang pernah kalian ciptakan dengan keindahan cinta. Tegakah para suami membuat para wanita yang kalian cintai risau, gundah gulana, menahan cemburu hanya mengharapkan cinta dari sesosok suami dan pengabdian istri pada suami. Apakah para wanita tidak berhak untuk bahagia dengan segala impian cintanya. Hanya wanita-wanita pilihan, wanita-wanita penghuni syurga yang rela membagi kebahagiaan dan berbagi dengan wanita lain.

Para suami haruslah memposisikan diri pada posisi terbaik dan akhlaq termulia dikala poligami dilakukan. Bukan hanya memandang halal dan batil saja, namun haruslah memandang hati pasangan hidup yang selama ini telah dibentuknya. Oleh karena, bagi para wanita gantungkanlah cintamu pada Allah. Hanya cinta Allah yang abadi. Suami hanyalah titipan Allah, suami hanyalah manusia biasa. Cintanya bisa hancur karena keegoisan dan emosi sesaat, cintanya bisa terkhianati karena kekhilafan dan nafsu birahi.

Bangunlah komunikasi yang aktif demi tegaknya Amar ma’ruf Nani mungkar dalam keluarga. Hanya Allah saja yang selalu mencintai kita tanpa pamrih, tanpa meminta balas. Hanya Allah saja yang mencintai kita dalam keadaan apapun, dalam keadaan sakit, sehat, cantik, tua, muda bahkan mencintai walau kita berada pada titik yang paling rendah. Allah berlari saat kita tertatih berjalan. Dalam hadist Rasulullah SAW bersabda:

“Barangsiapa yang mendekat kepada-Ku satu hasta maka Aku akan mendekat kepadanya satu lengan, dan barang siapa mendekat kepada-Ku satu lengan maka Aku akan mendekat kepadanya dua lengan, dan jika ia menghadap kepada-Ku dengan berjalan maka Aku menemuinya dengan berlari”. (Hadits diriwayatkan oleh Bukhari-Muslim).

Semoga tulisan ini bermanfaat dan kita bisa lebih berhati-hati dalam membuat keputusan dalam hidup kita. Bila suami kita berpoligami semoga hati kita bisa tertata dengan rapi. Aamiin.

[ukhwatuna/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/09/02/32612/ketika-cinta-terbagi/

Gejolak Cemburu di Bilik Cinta Rosululloh

Sahabat Muslimah Voa Islam…

Rosululloh Sholallohu Alaihi Wasallam telah bersabda: “Sesungguhnya Allah cemburu, orang beriman cemburu, dan cemburuNya Allah jika seorang Mu’min melakukan apa yang Allah haramkan atasnya” (HR. Imam Ahmad, al-Bukhari dan Muslim).

Cemburu merupakan suatu rasa atau ekspresi yang akan selalu hadir mengiringi rasa cinta yang ada. Karena cinta hukumnya wajib bagi seorang muslim, maka secara otomatis rasa cemburu pun hukumnya mengikuti rasa cinta tersebut.

Adakah rasa cemburu pada istri Rosululloh?

Perlu kita fahami bersama bahwa para istri Rosululloh juga manusia biasa, namun karena mereka semua selalu berada di samping Rosululloh maka mereka semua amat sangat terjaga dari segala aib dan kesalahan. Sifat manusiawi para istri Rosululloh dalam memendam rasa cemburu diantara mereka tercermin dari beberapa hadits di bawah ini.

Aisyah berkata: “Seakan-akan di dunia ini tidak ada wanita kecuali Khadijah?”. Nabi menjawab, “Dia beriman kepadaku ketika semua manusia mengkufuriku, dia membenarkan aku ketika semua manusia mendustakanku, dia mendukungku dengan hartanya ketika manusia menahannya dariku, dan Allah memberi rezeki kepadaku berupa anak darinya ketika aku tidak mendapatkan anak dari istri-istriku yang lain” (HR Ahmad).

Ketika Nabi berada di rumah seorang istrinya, istri beliau yang lain mengirimkan sepiring makanan untuknya. Istrinyatersebut segera memukul tangan pelayan yang membawa piring makanan hingga terjatuh. Nabi pun mengumpulkan pecahan piring dan makanan yang berserakan seraya berkata, “Ibu kalian sedang cemburu”. Beliau lalu mengganti dengan piring yang masih utuh milik istri yang memecahkannya, sementara piring yang pecah disimpan. (HR Al Bukhari).

Dari dua hadits di atas sangatlah jelas bagaimana para istri Rosululloh mengekspresikan rasa cemburu diantara mereka. Rasa cemburu tetap ada di dada, rasa cemburu terbaca dalam perilaku, namun rasa cemburu tidak menjadi hiasan bibir ataupun terwujud dalam fisik. Kita tidak akan menemukan riwayat para istri Rosululloh saling mencemooh karena saling cemburu. Kita tidak akan menemukan riwayat para istri Rosululloh saling adu jotos karena berebutan pelukan Rosululloh.

Subhanalloh…

Islam memposisikan cemburu termasuk salah satu fitrah manusiawi. Namun Islam mengkondisikan rasa cemburu yang muncul supaya tetap bacakan dengan ilmu yang jelas dan dilandasi akhlaqul karimah.

Bagaimana Rosululloh menanggapi rasa cemburu para istrinya?

Nabi sebagai seorang suami memaklumi rasa cemburu para istrinya serta tidak menghukumnya selama dalam batas kewajaran. “Ibu kalian sedang cemburu”. Kalimat yang pendek namun jelas sebagai ekspresi serta respon Rosululloh disaat istrinya cemburu. Dengan kalimat yang sederhana itu cukuplah sebagai bukti bahwa Rosululloh memahami apa yang melatarbelakangi atas ekspresi yang dilakukan istrinya. Dengan kalimat yang sederhana itu pun memperjelas sebagai instruksi kepada istri yang lain supaya tidak memperpanjang masalah tersebut.

Namun apabila rasa cemburu tersebut sudah sudah melampaui batas atau menimbulkan dosa, mungkin karena mengarah pada saling menjelekkan ataupun menjadi saling menggunjing atau menggibah, maka Rosululloh pun mengambil posisi tegas namun lembut tanpa menjelekkan istrinya ataupun tanpa condong pada salah satunya.

Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, cukup bagimu Shafiyyah, dia itu begini dan begitu (pendek)”. Rasulullah berkata: “Sungguh engkau telah mengucapkan satu kata, yang seandainya dicampur dengan air laut, niscaya akan dapat mencemarinya” (HR Abu Dawud).

Ketika mendapatkan Shafiyyah menangis Nabi bertanya, “Apa yang membuatmu menangis?.” Shafiyyah menjawab, “Hafshah mencelaku dengan mengatakan aku putri Yahudi”. Nabi berkata menghiburnya, “Sesungguhnya engkau adalah putri seorang nabi, pamanmu adalah seorang nabi, dan engkau adalah istri seorang nabi. Lalu bagaimana dia membanggakan dirinya terhadapmu?”. Kemudian beliau menasihati, “Bertakwalah kepada Allah, wahai Hafshah” (HR An Nasa’i).

Subhanalloh…

Disinilah peran terpenting bagi suami dikala para istri saling cemburu. Mampu memposisikan diri pada posisi yang tepat. Mampu merekam serta memberikan respon terbaik, sehingga diantara istri tidak berlebihan dalam mengekspresikan rasa cemburu yang ada. Namun yang terpenting yaitu sikap yang meneduhkan hati serta membimbing istri berfikir positif atas segala kejadian yang ada.

Sebenarnya apa sih penyebab rasa cemburu itu?

Dikala rasa cemburu itu tetap pada koredor syar’i yang ada serta berjalan seiring dengan ilmu yang benar, sesungguhnya itu dimaklumi dalam tinjauan syar’i. Namun jika sudah menjadi cemburu buta, ini disebabkan karena lemahnya iman yang kalahnya syari’at dari nafsu yang ada. Dengan lemahnya iman dan kalahnya syari’at, maka syaitan pun mulai bermain dengan memberikan profokasi yang akan menjadikan hati tidak tenang dan menanamkan benih amarah.

Sahabat Muslimah Voa Islam…

Semoga kita bisa belajar dari kehidupan para istri Rosululloh dalam menyikapi rasa cemburu yang ada.

[ukhwatuna/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/08/30/32555/gejolak-cemburu-di-bilik-cinta-rosululloh/

Muslimah Cantik, Bermahkota Rasa Malu

Muslimah cantik, menjadikan malu sebagai mahkota kemuliaannya…” (SMS dari seorang sahabat)

Membaca SMS di atas, mungkin pada sebagian orang menganggap biasa saja, sekedar sebait kalimat puitis.

Namun ketika kita mau untuk merenunginya, sungguh terdapat makna yang begitu dalam. Ketika kita menyadari fitrah kita tercipta sebagai wanita, mahkluk terindah di dunia ini, kemudian Allah mengkaruniakan hidayah pada kita, maka inilah hal yang paling indah dalam hidup wanita.

Namun sayang, banyak sebagian dari kita—kaum wanita—yang tidak menyadari betapa berharganya dirinya. Sehingga banyak dari kaum wanita merendahkan dirinya dengan menanggalkan rasa malu, sementara Allah telah menjadikan rasa malu sebagai mahkota kemuliaannya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا ، وَإنَّ خُلُقَ الإسْلاَمِ الحَيَاء

“Sesungguhnya setiap agama itu memiliki akhlak dan akhlak Islam itu adalah rasa malu.”(HR. Ibnu Majah no. 4181. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan)

Sabda Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam yang lain,

الحَيَاءُ وَالإيمَانُ قُرِنَا جَمِيعًا ، فَإنْ رُفِعَ أحَدُهُمَا رُفِعَ الآخَر

“Malu dan iman itu bergandengan bersama, bila salah satunya di angkat maka yang lainpun akan terangkat.”(HR. Al Hakim dalam Mustadroknya 1/73. Al Hakim mengatakan sesuai syarat Bukhari Muslim, begitu pula Adz Dzahabi)

Begitu jelas Rasulullah shalallahu ‘alaihi wassalam memberikan teladan pada kita, bahwasanya rasa malu adalah identitas akhlaq Islam. Bahkan rasa malu tak terlepas dari iman dan sebaliknya. Terkhusus bagi seorang muslimah, rasa malu adalah mahkota kemuliaan bagi dirinya. Rasa malu yang ada pada dirinya adalah hal yang membuat dirinya terhormat dan dimuliakan.

Namun sayang, di zaman ini rasa malu pada wanita telah pudar, sehingga hakikat penciptaan wanita—yang seharusnya—menjadi perhiasan dunia dengan keshalihahannya, menjadi tak lagi bermakna. Di zaman ini wanita hanya dijadikan objek kesenangan nafsu. Hal seperti ini karena perilaku wanita itu sendiri yang seringkali berbangga diri dengan mengatasnamakan emansipasi, mereka meninggalkan rasa malu untuk bersaing dengan kaum pria.

Allah telah menetapkan fitrah wanita dan pria dengan perbedaan yang sangat signifikan. Tidak hanya secara fisik, tetapi juga dalam akal dan tingkah laku. Bahkan dalam Al Qur’an surat Al Baqarah ayat 228 yang artinya; ‘Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang sepatutnya’, Allah telah menetapkan hak bagi wanita sebagaimana mestinya. Tidak sekedar kewajiban yang dibebankan, namun hak wanita pun Allah sangat memperhatikan dengan menyesuaikan fitrah wanita itu sendiri. Sehingga ketika para wanita menyadari fitrahnya, maka dia akan paham bahwasanya rasa malu pun itu menjadi hak baginya. Setiap wanita, terlebih seorang muslimah, berhak menyandang rasa malu sebagai mahkota kemuliaannya.

Sayangnya, hanya sedikit wanita yang menyadari hal ini…

Di zaman ini justeru banyak wanita yang memilih mendapatkan mahkota ‘kehormatan’ dari ajang kontes-kontes yang mengekspos kecantikan para wanita. Tidak hanya sebatas kecantikan wajah, tapi juga kecantikan tubuh diobral demi sebuah mahkota ‘kehormatan’ yang terbuat dari emas permata. Para wanita berlomba-lomba mengikuti audisi putri-putri kecantikan, dari tingkat lokal sampai tingkat internasional. Hanya demi sebuah mahkota dari emas permata dan gelar ‘Miss Universe’ atau sejenisnya, mereka rela menelanjangi dirinya sekaligus menanggalkan rasa malu sebagai sebaik-baik mahkota di dirinya. Naudzubillah min dzaliik…

Apakah mereka tidak menyadari, kelak di hari tuanya ketika kecantikan fisik sudah memudar, atau bahkan ketika jasad telah menyatu dengan tanah, apakah yang bisa dibanggakan dari kecantikan itu? Ketika telah berada di alam kubur dan bertemu dengan malaikat yang akan bertanya tentang amal ibadah kita selama di dunia dengan penuh rasa malu karena telah menanggalkan mahkota kemuliaan yang hakiki semasa di dunia.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلاَتٌ مَائِلاَتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لاَ يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلاَ يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: [1] Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan [2] para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128) Di antara makna wanita yang berpakaian tetapi telanjang adalah wanita yang memakai pakaian tipis sehingga nampak bagian dalam tubuhnya. Wanita tersebut berpakaian, namun sebenarnya telanjang. (Lihat Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 17/191)

Dalam sebuah kisah, ‘Aisyah radhiyyallahu ‘anha pernah didatangi wanita-wanita dari Bani Tamim dengan pakaian tipis, kemudian beliau berkata,

إن كنتن مؤمنات فليس هذا بلباس المؤمنات وإن كنتن غير مؤمنات فتمتعينه

“Jika kalian wanita-wanita beriman, maka (ketahuilah) bahwa ini bukanlah pakaian wanita-wanita beriman, dan jika kalian bukan wanita beriman, maka silahkan nikmati pakaian itu.” (disebutkan dalam Ghoyatul Marom (198). Syaikh Al Albani mengatakan, “Aku belum meneliti ulang sanadnya”)

Betapa pun Allah ketika menetapkan hijab yang sempurna bagi kaum wanita, itu adalah sebuah penjagaan tersendiri dari Allah kepada kita—kaum wanita—terhadap mahkota yang ada pada diri kita. Namun kenapa ketika Allah sendiri telah memberikan perlindungan kepada kita, justeru kita sendiri yang berlepas diri dari penjagaan itu sehingga mahkota kemuliaan kita pun hilang di telan zaman?

فَبِأَيِّ آَلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar Rahman: 13)

Wahai, muslimah…

Peliharalah rasa malu itu pada diri kita, sebagai sebaik-baik perhiasan kita sebagai wanita yang mulia dan dimuliakan. Sungguh, rasa malu itu lebih berharga jika kau bandingkan dengan mahkota yang terbuat dari emas permata, namun untuk mendapatkan (mahkota emas permata itu), kau harus menelanjangi dirimu di depan public.

Wahai saudariku muslimah…

Kembalilah ke jalan Rabb-mu dengan sepenuh kemuliaan, dengan rasa malu dikarenakan keimananmu pada Rabb-mu…

[Ummu Hasan ‘Abdillah/muslimah/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/08/29/32547/muslimah-cantik-bermahkota-rasa-malu/

Muslimah… Haruskah Kau Menangis Karena Jomblo?

Oleh: Fahmi Rahmina

(Sarjana Hubungan Internasional Unpas, Anggota Majelis Syuro DKM Ulul Abshor Unpas)

Ada banyak sekali persoalan yang membuat kita galau, terutama soal jodoh. Apalagi bagi kaum hawa, jodoh seringkali menjadi persoalan yang sangat urgent. Ada yang sudah cukup umur tapi belum menemukan jodohnya. Ada yang sudah menemukan jodoh, tapi terkendala izin orangtua dan masalah finansial. Ada juga yang sibuk ‘mengkompetisikan’ lawan jenis sampai dia merasa menemukan jodoh yang paling tepat. Fenomena jodoh memang bermacam-macam.

Mengharapkan jodoh memang tidak salah.Dalam Islam, Alloh SWT mengakomodir perasaan cinta kepada lawan jenis dengan ikatan suci yaitu sebuah pernikahan.

Menjadi sesuatu yang menyengsarakan jiwa ketika seseorang terus menerus mengeluh dan mengadukan keresahannya pada Alloh, “Ya Alloh Siapakah Jodohku?”. Ia berharap Alloh akan segera memberikan jawaban-Nya dengan mengirimkan seorang jodoh. Belum lagi perasaan tidak enak ketika disebut seorang jomblo. Seringkali dikatakan “kok jomblo? Gak laku ya!” Atau “ikh ga gaul banget sih ga mau pacaran?”

…seseorang yang layak dicintai, bukan karena keindahan fisik yang akan luntur oleh waktu, akan tetapi keindahan akhlak yang akan bertahan dan menghantarkan pasangan untuk lebih dekat dengan Sang Pencipta Alloh SWT

Namun apakah seseorang yang belum menemukan jodoh itu harus menangis, bersedih hati bahkan mengutuk Alloh karena hal itu? Padahal Alloh sudah menjanjikan loh dalam QS 24:26 bahwa:

Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula) dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik…”

Daripada meratapi kesendirian, banyak banget hal yang bisa kamu lakukan sambil menyiapkan diri bertemu sang jodoh. Salah satunya dengan menjadikan diri sebagai seseorang yang layak dicintai, bukan karena keindahan fisik yang akan luntur oleh waktu, akan tetapi keindahan akhlak yang akan bertahan dan menghantarkan pasangan untuk lebih dekat dengan Sang Pencipta Alloh SWT. Nih ada beberapa tips menjadikanmu seseorang yang layak dicintai, diantaranya:

Perbaiki keimanan, seseorang yang memiliki iman yang kuat akan senantiasa berserah diri kepada Alloh dan bersabar. Seseorang yang layak dicintai adalah seseorang yang menghidupkan Alloh dalam jiwanya, membahana ke dalam seluruh sanubarinya, meluap dari setiap ucapannya, tercermin dalam perilakunya, sehingga iman menempati pilar kokoh yang membentengi prinsipnya. Iman mendasari hidupnya, termasuk dalam menemukan jodoh yang dilakukan atas dasar lillahi saja.

Bersifat dan bersikap mulia. Rendah hati, menepati janji dan dapat dipercaya, taat beribadah, berpikiran positif. Tentunya kita harus rendah hati bukan rendah diri. Menjauhi kesombongan dan menjauhi perasaan lebih dari orang lain.

 

Sibukkan diri meningkatkan potensi diri. Mumpung masih sendiri, ya pergunakan saja waktu untuk hal-hal yang lebih positif. Mengejar cita-cita yang belum tercapai, mengembangkan bakat yang masih terpendam. Atau bahkan mencoba hal-hal baru yang tentunya harus ada nilai ibadahnya ya. Karena belum tentu sesudah kita memiliki pasangan kita masih memiliki waktu untuk melakukan hal-hal itu.

Muhammad-kan dirimu, agar Alloh meng-Khadijah-kan jodohmu. Fathimah-kan dirimu, agar Alloh meng-Ali-kan pasanganmu

Nah, seperti itulah sahabat! tulisan ini jadi bahan renungan untuk penulisnya sendiri. Ketika kita berharap dipertemukan dengan jodoh yang mulia, maka berusahalah dari sekarang untuk memuliakan diri. Karena janji Alloh: orang baik akan dipertemukan dengan orang baik. Muhammad-kan dirimu, agar Alloh meng-Khadijahkan jodohmu. Fathimah-kan dirimu, agar Alloh meng-Alikan pasanganmu. Wallohu a’lam bishowwab.

Sumber:

Ahmad Rifa’i Rif’an, 2013. Ya Alloh Siapa Jodohku?

Uken Junaedi, 2005. Sempurnanya Seorang Wanita Yang Layak Dicintai. Media Hidayah Publisher. Bandung.

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/08/27/32478/muslimah-haruskah-kau-menangis-karena-jomblo/

Muslimah Sholihah itu Gimana Sih?

Sahabat Voa-Islam,

Terkadang kita mendengar kata Sholiha, dan tak jarang para akhwat berdoa, “Ya Allah… Jadikan aku wanita yang sholihah, yang baik dari yang terbaik. Dan karuniakan aku pendamping yang baik dalam mendapatkan sesuatu yang terbaik dariMu. Amiin”

Mungkin Sabahat Muslimah Voa Islam juga bisa berdoa demikian juga kan? Untuk kesekian kalinya kupanjatkan do’a itu dalam sujud panjangku. Aku berharap Allah selalu menjaga diriku, agar aku bisa menjadi muslimah yang taat, istiqomah dan terlindung dari segala fitnah dunia yang akan menyesatkan jalanku.

Menjadi wanita sholihah adalah sebuah pilihan yang memerlukan perjuangan dan keteguhan hati agar tidak berpaling dari jalanNya. Sebagaimana kita semua telah mengetahui bahwa wanita sholihah merupakan salah satu nikmat dunia.

Namun sering kita bertanya dalam hati, siapakah wanita sholihah itu dan bagaimanapula ciri-cirinya?

1. Menundukkan pandangan

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ Artinya: “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (An-Nur: 30)



Dalam kaidah syar’i disaat laki-laki yang diseru maka secara otomatis muslimah pun ikut didalamnya. Pun termasuk dalam perintah menundukkan pandangan ini.

Ghaddul bashar adalah menundukkan atau menjaga pandangan, sehingga pandangan tertuju ke tanah, tidak diangkat ke atas. Maksudnya adalah menghindarkan pandangan dari menikmati yang bukan mahram beserta perhiasan-perhiasannya. Subhanalloh… Ternyata menundukkan atau menjaga pandangan merupakan salah satu karakter bidadari. وَعِنْدَهُمْ قَاصِرَاتُ الطَّرْفِ عِينٌ
 Artinya: “Di sisi mereka ada bidadari-bidadari yang tidak liar pandangannya dan jelita matanya.” (Ash-Shaffat:48) Alasan dari hadits tersebut dijelaskan pada hadits yang lain. “Pandangan mata adalah panah beracun di antara panah-panah iblis. Barangsiapa meninggalkannya karena takut kepada-Ku maka Aku ganti dengan keimanan yang dirasakan manis dalam hatinya.” (HR. Hakim).



2. Menjaga lisan

“Lidah dan dua buah bibir. Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan.” (Al-Balad: 9-10). 
Lisan adalah raja atas semua anggota tubuh. Semua tunduk dan patuh kepadanya. Jika ia lurus, niscaya semua anggota tubuh ikut lurus.

Jika ia bengkok, maka bengkoklah semua anggota tubuh. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا أَصْبَحَ ابْنُ آدَمَ فَإِنَّ الْأَعْضَاءَ كُلَّهَا تُكَفِّرُ اللِّسَانَ فَتَقُوْلُ: اِتَّقِ اللهَ فِيْنَا فَإِنَّمَا نَحْنُ بِكَ فَإِنِ اسْتَقَمْتَ اسْتَقَمْنَا وَإِنِ اعْوَجَجْتَ اِعْوَجَجْنَا.


“Apabila anak cucu Adam masuk waktu pagi hari, maka seluruh anggota badan tunduk kepada lisan, seraya berkata, ‘Bertakwalah kepada Allah dalam menjaga hak-hak kami, karena kami mengikutimu, apabila kamu lurus, maka kami pun lurus, dan apabila kamu bengkok, maka kami pun bengkok’.” (HR. at-Tirmidzi dan Ahmad).

Tidak seorang pun dapat selamat dari tergelincirnya lisan kecuali orang yang mau mengendalikannya dengan tali kekang syariat, sehingga lisannya tidak mengucapkan kecuali sesuatu yang memberi manfaat di dunia dan akhirat. Ketika Aisyah berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, Gambaran bagaimanakah bahayanya dikala kurang pandai menjaga lisan. حَسْبُكَ مِنْ صَفِيَّةَ كَذَا وَكَذَا، تَعْنِيْ قَصِيْرَةً، فَقَالَ: لَقَدْ قُلْتِ كَلِمَةً لَوْ مُزِجَتْ بِمَاءِ الْبَحْرِ لَمَزَجَتْهُ. “Cukuplah bagi Anda bahwa Shafiyah itu orangnya begini, begini.”

Maksudnya tubuhnya pendek. Maka Nabi bersabda kepadanya, “Engkau telah mengucapkan suatu perkataan yang bila dicampur dengan air laut niscaya dia akan merubahnya.” (HR. Abu Dawud).
 ASTAGHFIRULLOH…

Begitu mengerikannya gambaran akibat dosa bila sahabat Muslimah kurang pandai menjaga lisan ini.


3. Menjaga perilaku

Barangsiapa yang bersungguh-sungguh menundukkan hawa nafsunya untuk bisa berhias diri dengan sifat-sifat keutamaan, serta menundukkannya untuk menyingkirkan akhlak-akhlak yang tercela niscaya dia akan mendapatkan banyak kebaikan dan akan tersingkir darinya kejelekan-kejelekan. Akhlak ada yang didapatkan secara bawaan dan ada pula yang dimiliki setelah melatih diri dan membiasakannya.

Mujahadah tidaklah cukup sekali atau dua kali, namun ia harus dilakukan sepanjang hayat hingga menjelang kematiannya. Allah tabaraka wa ta’ala berfirman yang artinya, “Sembahlah Rabbmu hingga datang kematian kepadamu.” (QS. Al Hijr: 99). Kesungguh-sungguhan akan banyak berguna di dalam upaya untuk mendapatkan hal ini.

Sebab kemuliaan akhlak tergolong hidayah yang akan diperoleh oleh seseorang dengan jalan bersungguh-sungguh dalam mendapatkannya. Allah ‘azza wa jalla berfirman yang artinya, “Orang-orang yang bersungguh-sungguh di jalan Kami maka akan Kami mudahkan untuknya jalan-jalan menuju keridhaan Kami. Dan sesungguhnya Allah pasti bersama orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al ‘Ankabut: 69).

Diantara karakter yang muncul dari buah dalam menjaga diri sebagai Muslimah adalah:

a. Wanita yang taat Wanita muslimah selalu menjaga ketaatan kepada suaminya, seiya sekata, sayang kepadanya, mengajaknya kepada kebaikan, menasihatinya, memelihara kesejahteraannya, tidak mengeraskan suara dan perkataan kepadanya, serta tidak menyakiti hatinya. Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. (Annisa:34) Adapun bagaimana kedudukan seorang suami dihadapan seorang istri telah digambarkan Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam. Dari Abu Huraira ra, Nabi SAW.

Bersabda : “ Sekiranya aku boleh menyuruh seseorang sujud kepada orang lain, tentu aku akan menyuruh seorang istri sujud kepada suaminya. “ ( HR. Tirmidzi ) Istri diwajibkan mentaati suaminya selama perintah-perintah itu benar atau Bukan dalam kemaksiyatan, maka istri wajib menta’atinya.

b. Senantiasa bertaubatnya Manusia tidak ada yang bisa lepas dari kesalahan maupun dosa, apa lagi kita sebagai muslimah yang telah menjadi fitrah kita diciptakan dari tulang rusuk yang bengkok. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: كُلُّ بَنِي آدَم خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِيْنَ التَّوَّابُوْنَ “Setiap anak Adam melakukan kesalahan dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah orang-orang yang bertaubat”. (Hasan. Riwayat Ahmad) Dengan senantiasa bertaubatbkepada Alloh inilah sebagai gerbang bagi Sahabat Muslimah untuk selalu bermuhasabah. Dan dengan muhasabah lah akan terjadi peningkatan dan koreksi atas apa yang telah kita lakukan. Sehingga kita menjadi muslimah yang semakin baik dan lebih baik lagi.

c. Menjadikan segala aktrifitas bernilai ibadah Salah satu ciri muslimah sejati yaitu dikala sang suami meninggalkannya tidak ada ras awas-was ataupun khawatir.

Hal itu terjadi karena sang suami yakin bahwa istri yang ditinggalkannya akan teguh menjaga kehormatan dirinya karena telah memahami betul bahayanya berhawat. Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam bersabda, artinya: “Tidaklah seorang wanita itu berkhalwat dengan seorang laki-laki, kecuali setan menjadi pihak ketiganya” (Riwayat Ahmad) Sang istri juga senantiasa menjaga amanahnya dan senantiasa memanfaatkan segala rizqi yang telah diberikannya bernilai ibadah. Ini terjadi karena Sahabat Muslimah memahami betul bahwa Ridho Alloh lah satu satunya tujuan dalam hidupnya.

d. Mendidik anak-anaknya dengan kasih sayang Wanita muslimah adalah wanita yang mendidik anak-anaknya untuk taat kepada Allah Subhaanahu wata’ala, mengajarkan kepada mereka aqidah yang benar, menanamkan ke dalam hati mereka perasaan cinta kepada Allah dan Rasul-Nya menjauhkan mereka dari segala jenis kemaksiatan dan perilaku tercela.

Allah berfirman, artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At Tahrim:6)

e. Mengatur waktu agar tidak terbuang sia-sia.

Wanita muslimah sholihah selalu menjaga waktunya agar tidak terbuang sia-sia,baik siang hari atau malamnya. Maka dia menjauhkan diri dari segala aktrifitas yang kurang bermanfaat.

4.Berpakaian/Berhijab


Wanita muslimah adalah yang menjaga hijabnya dengan rasa senang hati. Sehingga dia tidak keluar kecuali dalam keadaan berhijab rapi, mencari perlindungan Allah dan bersyukur kepadaNya atas kehormatan yang diberikan dengan adanya hukum hijab ini, dimana Allah Subhanahu wata’ala menginginkan kesucian baginya dengan hijab tersebut.

Allah berfirman: Artinya: “Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Ahzab:59) Berhijab bukan hanya secara fisik semata, tetapi lebih dari itu. Hijab hati adalah penting bagi muslimah agar terpancar inner beauty yang anggun.

Dengan menjaga hati, menjaga sikap dan perilaku agar tidak membuat orang lain sakit hati. Selalu berkhusnudzon dan memahami orang lain sebelum kita menuntut untuk dipahami oleh orang lain adalah hal yang harus kita biasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Semoga Alloh senantiasa menjadikan seluruh Sahabat Muslimah Voa Islam muslimah Sholihah…

Aamiin….

[ukwatuna/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/08/25/32448/muslimah-sholihah-itu-gimana-sih/

Voa-Islamic Parenting (21): Balita Genit, Salah Siapa?

Sahabat,

Kita pernah mendengar selentingan statement, ‘Agnes Monica cantik, berbakat, terkenal, go international, dan tajir. Tapi apakah kita mau anak-anak kita menjadi sosok seperti Agnes Monica yang gaya hidupnya serba bebas, baju pun sering setengah telanjang dan sama sekali tidak dituntun oleh iman dan Islam?’

Bunda, tulisan di atas saya dapatkan dari wall FB seorang teman. Kurang lebih isinya seperti itu meskipun aslinya jauh lebih tajam dan pedas. Tapi cukuplah kalimat di atas membuat kita berpikir dan melihat ke dalam, apa iya kita ingin anak-anak kita menjadi seperti Agnes Monika?

Kita semua bisa saja menggeleng dan sepakat bahwa bukan sosok seperti itu yang kita jadikan teladan dalam membina generasi. Namun kita sering lupa antara kata-kata dan perbuatan ada kalanya tak sejalan. Apalagi ketika kita melihat sosok balita lucu yang imut sedangbernyanyi dan menari, secara otomatis otak kapitalis kita langsung mencari lomba untuk menyalurkan ‘bakat’ tersebut.

“Bawaan orok”, selalu itu dalih kita.

“Dia memang membawa bakat seni dalam dirinya sejak kecil”, pembenaran yang lainnya.

“Dia tahu bahwa jika besar ingin menjadi artis dan entertainer”, alasan orang tua.

Dan segudang alasan dan pembenaran lain untuk menutupi nafsu orang tua akan pundi-pundi uang di depan mata dari anak balita. Betapa mirisnya melihat balita bertingkah seperti Syahrini yang genit dan bersuara mendesah-desah sensual. Kita pasti penasaran, nih orang tuanya seperti apa sih kok membiarkan anaknya jadi seperti ini?

Bunda, ternyata ibu dari balita genit ini berhijab. Ia bahkan ikut bergoyang-goyang di belakang kamera memandu anaknya dari depan panggung. Ketika diwawancara pun ia terlihat bangga dan membawa alasan bahwa itu memang maunya si anak. Benarkah anak usia 4 tahun sudah tahu apa maunya sendiri? Apa bukan karena didikan dan ambisi orang tua ia menjadi seperti ini?

Di bagian lain di panggung yang sama, ada anak usia tiga tahun yang sedang asyik bermain mandi bola, bermain boneka dan berbagai mainan anak-anak lainnya. Seolah-olah anak yang satu ini demikian menjiwai masa kanak-kanaknya dan tidak terpengaruh balita satunya yang tampil genit. Benarkah seperti itu?

Ternyata tayangan itu hanya ilusi yang seolah ingin membandingkan betapa naturalnya si balita yang bermain ala kanak-kanak itu dibandingkan balita satunya yang berdandan ala Syahrini. Pada faktanya keduanya sama saja yaitu menjadi ambisi orang tua untuk mengeruk rupiah sebanyak-banyaknya. Dalam tayangan yang lain bahkan diperlihatkan si anak yang pada tayangan sebelumnya sangak kanak-kanak ternyata pandai memakai make-up sendiri dan suka memakai sepatu high heel. Ibunya yang tidak berhijab karena seorang artis yang terkenal suka berpakaian seksi, ternyata memberi jawaban yang tidak jauh  beda dengan ibu yang berhijab tadi.

Bunda, apakah balita seperti ini yang kita harapkan sebagai pelanjut generasi? Yang kemudian remajanya tak jauh beda dengan sosok Agnes Monika? Naudzhubillah. Agnes Monika saja yang ketika kecil tak segenit itu, besarnya menjadi sosok yang menurut kacamata kita sangat tidak pantas untuk ditiru. Tak bisa dibayangkan akan jadi apa balita-balita genit itu ketika sejak orok saja sudah didukung dan diajari untuk bertingkah seperti itu.

Masyarakat yang permisif membuat balita yang harusnya dilindungi haknya untuk mendapat hal-hal baik dalam masa pentingnya, ikut arus kapitalisme ketika uang yang berbicara. Bukannya prihatin, ibu-ibu lainnya malah ingin anaknya bisa meniru si balita genit menjadi ATM berjalan alias penghasil uang. Alasan klise yang diberikan orang tua biasanya adalah ‘toh uangnya juga untuk keperluan si anak sendiri kok.’ Kalau begitu, buat apa ada orang tua yang seharusnya memenuhi kebutuhan si anak apalagi masih balita? Sungguh sangat egois masyarakat kita saat ini.

Pemerintah beserta LSM yang katanya melindungi anak. Dimana suara mereka ketika balita-balita ini dieksploitasi sedemikian rupa? Oh…alasannya adalah selama si anak merasa baik-baik saja dan tidak terpaksa maka mereka pun tak melakukan apa-apa. Mereka seolah-olah lupa bahwa ambisi orang tua mengakibatkan anak akan melakukan apa pun demi membuat orang tuanya bahagia. Ketika yang diajarkan adalah bergenit dan bercentil ria, tentu balita itu menganggap hal demikian baik karena orang tuanya bertepuk tangan dan terlihat bahagia. Mereka akan mengulangi proses itu sehingga akhirnya menjadi karakter yang kemudian dibawanya sampai ia besar.

Memang, perjalanan orang tak ada yang tahu. Bisa saja balita itu nantinya ketika remaja menjadi salihah seperti Chikita Meidi yang menjadi dokter dan berhijab. Ia tak mau lagi tampil di panggung hiburan. Dan ketika dewasa semoga bisa menjadi Peggy Melati Sukma yang dulunya sangat genit tapi kemudian meraih hidayah untuk berhijab sempurna dan tak mau mengumbar aurat sedikit pun. Genitnya hilang sama sekali.

Tapi…seberapa banyak orang-orang yang mengalami perubahan drastis seperti ini? Bilapun sudah ingin berubah, butuh kekuatan dan kemauan yang besar untuk bisa keluar dari lingkungan dunia artis yang penuh kemaksiatan. Apalagi bila dunia itu sudah mendarah daging karena sejak balita sudah menjadi bagian hidupnya. Alangkah jauh lebih mudah dan indah bila balita ini dikembalikan lagi pada kehidupannya sebagai kanak-kanak.

Oh…ia suka menyanyi dan menari. Biarkan secara alami. Menyanyi dan menari adalah prosesnya melatih kemampuan verbal dan psikomotornya. Tak perlu orang tua lebay menganggap bahwa ada bakat artis dalam diri anaknya sehingga dipanggillah produser untuk berani membayar mahal penampilannya. Karena anak adalah apa yang didapatnya dari orang tua dan lingkungan sekitar.

Orang tua yang menutup aurat dan rajin mengaji, tentu balitanya jauh dari sosok ganjen dan centil. Sebaliknya, ada balita usia 3 tahun yang mampu menirukan hapalan Qur’an ayahnya dengan sangat lancar. Atau ada Musa yang usia 5 tahun hapal 30 juz Qur’an. Di sini Bunda, kita bisa memilih kualitas balita seperti apa yang kita miliki melihat dari kualitas kita sebagai orang tua. Jangan lupa pula bahwa lingkungan juga berpengaruh besar pada perkembangan balita kita. Tetangga yang baik, pembiasaan yang baik setiap harinya dimulai dari orang tua dan orang-orang terdekat lainnya, lingkungan yang baik serta doa yang tak pernah putus untuk ananda tercinta adalah pembentuk kepribadiaannya agar menjadi anak yang salih dan salihah.

Wallahu alam. (riafariana/voa-islam.com)

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/08/24/32414/voaislamic-parenting-21-balita-genit-salah-siapa/

Hati-hati… Dua Fitnah Terbesar bagi Muslimah

Sahabat Muslimah Voa Islam…

Jika jalan hidup ini boleh memilih, pasti semua akan memilih jalan hidup yang tidak bersinggungan dengan masalah apapun. Namun realita yang terjadi justru sebaliknya. Ujian merupakan salah satu ukuran dan indikator dalam hidup kita. Bahkan Alloh dengan jelas tidak akan membiarkan kita begitu saja setelah mengaku beriman tanpa adanya ujian. Bahkan Rosululloh menjelaskan dalam haditsnya:

“Barang siapa yang akan diberi oleh Alloh suatu kebaikan maka Alloh akan memberikan ujian terlebih dahulu.”

Bahkan realita dalam hidup ini kita sebagai muslimah tidak lepas dari berbagai fitnah kehidupan yang begitu menggiurkan. Bahkan seolah-olah fitnah tersebutlah yang memenuhi dunia ini. 

Fitnah pertama yaitu pakaian. Mari kita lihat pakaian yang terpajang di pasar-pasar dan pusat perbelanjaan. Kita pasti mendapatkan kebanyakan dari pakain itu semua pasti untuk kaum hawa. Namun jika ditelisik lebih dalam lagi kebanyakan dari pakain tersebut tidak memenuhi syarat untuk menutupi aurot bagi Sahabat Muslimah. Padahal jelas ukuran dari Alloh akan pakain bagi Muslimah.

Alloh telah berfirman: “Katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, …”.(An-Nuur:31)

“Hai Nabi, Katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, Karena itu mereka tidak di ganggu. dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”.(Al-Ahzab:59).

Bahkan saat ini jika kita ingin mencari pakain yang benar-benar menutupi aurot harus teliti dan ekstra hati-hati. Karena dari sisi lain juga sangatlah minim dari produsen pakain muslimah yang memahami makna pakaian yang benar dalam menutup aurot. Kesulitan tersebut pun semakin sempurna jika hal tersebut diterapkan di masyarakat. Karena masyarakat kita memang mayoritas Muslim, namun disaat ada muslimah memakai jilbab besar apa lagi bercadar seolah olah asih dimata ummat ini. (Ini merupakan PR da’wah untuk kita semua).

Kebayang kan bagaimana repotnya Sahabat Muslimah dikala ingin menjaga iman ini dari sisi pakaian. 

Fitnah kedua yaitu menjaga lisan.Entah ini fitnah atau realita. Sebab disaat para ibu berkumpul, disitu seolah olah tidak lepas dari materi gunjing menggunjing. Menjaga lisan ini merupakan salah satu pekerjaan besar bagi seluruh muslimah. Apa lagi berkenaan dengan aib suami. Bagaimanapun pergaulan sahabat tidak akan seintim bergaulnya antara suami dan istri. Dari pergaulan tersebut maka istri lah yang paling memahami akan kelebihan dan kekurangan suaminya. 

Bagi sahabat muslimah haruslah mampu memberikan rasa aman bagi siapa saja yang berada di sekitarnya. Termasuk suami, anak, orang tua maupun mertua. Aib apapun yang diketahui haruslah sahabat Muslimah mampu menutup dan menguncinya rapat-rapat. Sehingga orang yang berada disekitarnya merasa aman dan nyama. Namun yang perlu diperhatikan sahabat Muslimah, diamnya di sisi bukan berarti berhentinya proses Amar ma’ruf Nani mungkar. Sebagaimana sabda nabi. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar radhiallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda;

“Yang disebut dengan muslim sejati adalah orang yang selamat orang muslim lainnya dari lisan dan tangannya. Dan orang yang berhijrah adalah orang yang berhijrah dari perkara yang dilarang oleh Allah .” (HR. Bukhari no. 10 dan Muslim no. 40 )

Janganlah sampai sahabat Muslimah terperosok pada dosa atau masalah karena kurang pandai dalam menjaga lisan. Dalam bahasa arab terdapat mutiara kata yang berarti. “Selamatnya seseorang tergantung pada menjaga lisannya”.

Marilah kita bersama menjaga pergaulan yang pandai dalam menjaga lisan.

[ukhwatuna/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/08/23/32407/hatihati-dua-fitnah-terbesar-bagi-muslimah/

Kopi Meningkatkan Kemampuan Ingatan

(voa-islam.com) – Anda biasa minum kopi panas di pagi hari? Jangan tinggalkan kebiasaan ini, karena menurut sebuah studi, afek kafein pada kopi dapat membantu meningkatkan kemampuan ingatan. Ini adalah kesimpulan dari penelitian yang dilakukan oleh Johns Hopkins University di Baltimore, AS, dipublikasi pada jurnal Nature Neuroscience.

Pada tulisan terdahulu, voa-islam pernah membahas efek dari kopi pahit bisa memperlambat dan melawan kepikunan. Atau bisa dikatakan, kopi bisa menjadi obat pikun, heee. Efek positif kafein pada kopi sebagai obat psychoactive yang dapat memelihara fungsi otak, menurut hasil penelitian terbaru pakar internasional dari University of Lisbon dan University of Coimbra, Portugal.

Para peneliti dari Johns Hopkins University, Amerika Serikat, menganalisa dampak kafein sebagai faktor penguatan memori ingatan. Hasilnya, kafein terbukti dapat menguatkan memori tertentu dalam 24 jam setelah dikonsumsi.

“Temuan ini menunjukkan kafein memiliki efek pada proses ingatan pada manusia. Proses ini membuat ingatan lebih permanen dan sulit untuk lupa,” ujar penulis studi Michael Yassa, asisten profesor neurobiologi dan perilaku di University of California, Irvine yang melakukan penelitian saat berada di Johns Hopkins.

Studi yang dibiayai oleh National Institute of Health dan National Science Foundation AS melibatkan 100 peserta peminum kafein namun dalam taraf sedang. Artinya mereka tidak meminum kopi, teh, atau minuman soda dalam jumlah besar.

“Kami memilih peserta yang minum kurang dari 500 miligram kafein seminggu. Kebanyakan bukan peminum kopi namun minum soda setidaknya sekali atau dua kali per minggu,” jelas Yassa.

Kandungan kafein dalam minuman sangat bervariasi. Yassa mengatakan, rata-rata satu cangkir kopi mengandung 160 miligram, namun ada juga yang mengandung hingga 330 miligram kafein. Menurut dia, paling tidak untuk memberikan efek penguatan memori, seseorang perlu mengonsumsi paling tidak 200 miligram kafein.

Dalam studi yang dipublikasi dalam jurnal Nature Neuroscience ini, para peneliti meminta para peserta untuk melihat gambar-gambar yang mudah ditemui sehari-hari pada layar komputer, seperti sepatu, kursi, bebek karet, dan lain-lain. Mereka meminta agar peserta menyebutkan, apakah benda-benda tersebut termasuk benda dalam atau luar ruangan.

“Kami tidak terlalu mementingkan jawaban mereka, namun ingin mengetahui mereka memperhatikan objeknya dan mengingatnya,” ujar Yassa.

Lima menit setelah peserta melihat gambar-gambar, setengah dari mereka diberikan 200 mg kafein dan setengah lagi diberikan plasebo. Satu hari setelahnya, mereka diminta untuk melihat gambar lagi yang diambil dari sisi berbeda, kemudian menjawab apakah objek tersebut baru, lama, atau mirip dengan objek yang kemarin mereka lihat.

Hasilnya, peserta yang diberikan kafein lebih baik dalam membedakan gambar dan mengidentifikasi objek adalah baru, lama, atau mirip.

“Ini artinya, kafein memiliki efek memperkuat ingatan dalam periode waktu yang lebih panjang, selain manfaat lain rasa awas, perhatian, dan waspada,” kata Yassa. [PurWD/dbs/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/08/22/32396/kopi-meningkatkan-kemampuan-ingatan/

Voa-Islamic Parenting (20): Jangan Ada ‘Bullying’ di Antara Kita

“Ketika masih kecil atau remaja dulu, apakah Ibu pernah mengalami ‘bullying’?”

Pertanyaan dari salah satu remaja itu membuat saya berhenti sejenak untuk mengingat kembali masa kecil dan remaja saya. Setelah beberapa saat, saya kemudian menjawab dengan tegas.

“Bila bullying bermakna bahwa saya disakiti secara fisik atau verbal, dan kemudian saya merasa menjadi pihak yang tersakiti, saya katakan tidak. Itu karena sejak kecil saya sudah tahu bahwa tidak ada seorang pun yang saya berikan kesempatan untuk menyakiti saya.”

Bunda, konsep diri yang saya miliki di atas itu tidak terlepas dari peran orang tua yang mendidik saya sejak dari rumah. Bapak dan ibu saya memberi dasar yang saya syukuri bisa membuat saya melewati masa kanak-kanak dan remaja dengan ‘aman’. Apakah itu artinya ibu dan bapak saya selalu melindungi dan ada di sisi saya setiap saat? Tidak. Sebaliknya, sejak kecil saya sudah dilatih mandiri plus bekal prinsip yang hingga kini masih saya ingat dengan baik yaitu ‘jangan pernah takut bila kamu merasa benar!”

Prinsip inilah yang ternyata menjadi bekal saya menjadi anak kecil yang pemberani. Kecil di sini dalam arti sebenarnya, karena hingga menjelang usia remaja, badan saya selalu masuk kategori paling kecil di antara teman sebaya. Sudah kurus, kering, paling pendek lagi. Tak jarang dalam permainan apapun keberadaan saya tak dianggap atau kalau orang Jawa bilang ‘pupuk bawang’. Saya selalu dijadikan pihak kalah-kalahan. Main petak umpet, selalu jadi yang ditutup mata kemudian disuruh mencari teman-temannya. Kalau pun saya protes karena terlalu lama jadi yang ditutup mata, saya pun diperbolehkan main jadi yang sembunyi. Tapi lagi, biasanya mereka tidak mencari saya. Karena ya ‘pupuk bawang’ tadi.

Bisa saja saya menangis dan lapor ke orang tua tentang perlakuan buruk teman-teman main saya. Tapi konsekuensinya saya tak boleh main dengan mereka lagi. Orang tua saya bukan tipe yang suka melabrak teman main anaknya yang biasa dilakukan oleh orang tua lain yang merasa anaknya ‘dibully’ atau diperlakukan tak adil oleh teman sebaya. Jadi, daripada tak boleh main dengan mereka saya memilih mencari trik lain. Ketika saya menjadi pihak yang harus sembunyi, biasanya saya memilih rumah saya sendiri untuk sembunyi. Asumsinya, bila saya tak dicari maka saya bisa langsung tidur saja karena permainan biasanya dilakukan malam hari sehabis Maghrib.

Dalam permainan yang lain juga sama. Main lompat tali, saya selalu jadi pihak yang pegang tali. Sekalinya diberi kesempatan main, saya mudah sekali gagal karena memang tubuhnya paling imut di antara mereka. Saya pun pegang tali lagi. Kalau sudah jengkel dan capek, saya protes. Kalau protes tak didengar, saya taruh tali itu dan pulang. Jarang sekali saya menangis atau mengadu ketika ada perlakuan teman yang menyakitkan hati. Itu di kampung.

Di sekolah beda lagi. Tubuh boleh kurus, kering, pendek tapi karena jarang menangis bila disakiti teman (bahkan cenderung melawan) maka saya didaulat menjadi ketua kelas. Di sini saya mulai menjadi pihak yang tidak saja anti dibully tapi malah bisa membela teman yang dibully. Sekitar kelas 5 atau 6 SD saya bahkan membela teman perempuan yang disakiti teman laki-laki hingga bibir saya sedikit sobek. Itu pun saya memilih tidak lapor orang tua dan berusaha mengobati sobekan itu semampunya, sendiri.

Bunda, saya berbagi pengalaman masa kecil saya ini bukan untuk pamer. Karena secara teori sudah banyak buku dan artikel yang beredar luas tentang bahaya bullying serta pencegahannya. Meskipun begitu, faktanya banyak bunda di luar sana yang masih bingung cara menyikap bullying yang terjadi pada si buah hati. Sikap yang kemudian menjadi sangat protektif biasanya langsung ditunjukkan oleh orang tua ketika mengetahui anaknya menjadi korban bullying.

Kita boleh berbeda pendapat dalam hal  ini. Tapi menurut saya, sikap protektif itu tidak menyelesaikan masalah pada korban bullying. Dukungan penuh orang tua dan keluarga, itu yang dibutuhkan si anak. Langkah-langkah praktis untuk mencegah atau melawan teman-teman yang membully itu lebih berguna daripada orang tua yang maju. Tentu saja langkah lain juga harus dilakukan. Diantaranya adalah dengan menghubungi guru apabila bullying terjadi di sekolah. Harus ada pendekatan dari guru ke murid yang ditengarai suka membully teman-temannya.

Orang dewasa di sekitar harus peduli dengan gejala bullying ini beserta dampaknya. Tak boleh ada yang cuek atau berlalu saja apabila menangkap basah perilaku bullying terjadi. Saya sendiri suka ‘turut campur’ dengan menegur anak-anak SD yang terlihat sedang mengolok-olok atau memukul temannya. Saya tegur mereka sambil memberi nasehat yang praktis semisal:

“Ayo, bercanda tak boleh menyakiti.”

“Main yang baik, sama teman harus menyayangi ya.”

Bahkan tak segan ketika ada anak yang sengaja menjatuhkan sepeda temannya, saya minta dia untuk mendirikan lagi sepeda tersebut. Saya tunggu sampai dia melakukan yang saya suruh sambil saya tekankan bahwa perbuatan itu tak boleh diulangi lagi.

Itu bila di sekolah, bagaimana bila di kampung atau sekitar rumah tempat bermain anak dengan teman-temannya? Dalam kondisi ini cenderung tak ada pihak ketiga sebagai penengah. Anak-anak yang suka membully biasanya memunyai latar belakang keluarga yang tak jauh beda. Jadi ketika bunda melakukan pendekatan ke orang tuanya, bukannya solusi tapi bisa jadi malah orang tua menjadi musuh dengan orang tua juga. Dalam hal ini, bekal penguatan mental dan kepribadian si anak harus ditekankan pada anak-anak kita sendiri.

Jadikan ia sosok yang percaya diri karena biasanya ‘tukang’ bully suka pada anak yang cenderung pendiam, penakut, cengeng, dan mau menuruti apa kata mereka. Anak yang percaya diri dan pemberani, ‘tukang’ bully akan mikir berkali-kali sebelum membullynya. Karena pasti si anak akan melakukan perlawanan. Titik inilah yang kadang lupa kita bekalkan ke anak kita. Mengalah dan menghindari kekerasan, seringnya itu yang ditanamkan. Ingat, prinsip ini tidak salah. Tapi akan salah ketika orang tua salah menempatkan.

Mengalah adalah tindakan salah ketika posisi dizolimi. Tindakan benar adalah dengan melawan. Pertama dengan kata-kata. Ajari anak untuk mengatakan bahwa dia tidak suka diolok, diejek, atau bagian fisiknya disakiti. Bila ini sudah dilakukan oleh anak kita tapi temannya masih tidak berubah juga, maka menghindari kekerasan adalah tindakan salah. Balas! Semampunya. Ketika diam tetap dibully atau disakiti. Protes dengan kata-kata juga tidak mengubah keadaan. Maka jalan terakhir adalah membalas atau melakukan perlawanan. Kalah menang urusan belakang. Percayalah Bunda, ‘tukang’ bully tak berani pada anak pemberani. Mulai detik ini, hapus lingkaran ‘bullying’ dimulai dari anak kita dan lingkungan terdekat dengan tidak menjadi pelaku ataupun korban. [riafariana/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/08/22/32363/voaislamic-parenting-20-jangan-ada-bullying-di-antara-kita/

Menjadi Muslimah Dambaan Hati

Sahabat Muslimah Voa Islam…

Alloh telah menciptakan ibu kita Hawa sebagai pendamping bagi Nabi Adam dikala rasa sepi mulai menyelimuti hati dalam kehidupannya di surga yang diungkapkan oleh Ibnu Abas antara waktu Ashar sampai maghrib. Awal penciptaan Muslimah pertama ini tersibak tujuan mulia atas diciptakannya. Alloh pun telah menandaskan bahwa muslimah berada di shof pertama sebagai ciptaanNya yang menjadi asbab hidup semakin indah karena wanita adalah mataa’un dan sebagai makhluq yang layak untuk dicintai. 

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). (QS. Ali Imran:14)

Namun masih banyak dari muslimah sendiri kurang memahami akan tujuan serta hikmah kenapa mereka diciptakan Alloh. Wanita yang bagaimanakah yang akan menjadi perhiasan dunia dan menjadi tempat berlabuh nya hati?

Muslimah yang mendalami ilmu tauhid

Di dalam kitabu tauhid jilid 1 yang di susun assyaikh Abdul Majid Azizi Azzondani menjelaskan bahwa salah satu indikasi seseorang yang jahil dari ilmu tauhid adalah orang yang kurang memahami akan hikmah dan manfaat kenama disini diciptakan Alloh. 

Kita lihat realita dalam kehidupan masyarakat pada umumnya dan bila kita telisik begitu besarnya angka perceraian yang terjadi. Kita akan mendapatkan semua masalah itu bermula karena kurangnya saling memahami kedudukan antara suami dan istri. Kurang memahami hikmah dan barokah dari terjalinnya tali pernikahan. 

Berarti munculnya permasalahan seorang suami sewenang-wenang terhadap istri maupun sebaliknya seorang istri kurang taat pada suami bermula dari salahnya memahami diri yang berlandaskan pada tauhid yang lurus.

Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran, (QS. Ar Ro’du:19)

Muslimah yang sholihah

Rosululloh Shollallohu Alaihi Wasallam telah bersabda: “Dunia adalah perhiasan dan perhiasan dunia yang terbaik adalah istri sholihah.” (HR. Muslim,Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad)

Dari hadits di atas Rosululloh dengan jelas menyatakan bahwa perhiasan dunia yang terbaik adalah wanita sholihah. 

Tahukah wahai Sahabat Muslimah…

Suatu perhiasan tentulah melalui proses penempaan dan polesan yang panjang polesannya pun tidak boleh yang sembarangan. Haruslah tahan dengan segala cuaca. Ini tidaklah mungkin bisa didapatkan dengan instan. Bila muslimah digambarkan bak mutiara, itupun akan bisa dirasakan indahnya bila didapatkan dengan kesabaran, bila diolah dengan benar serta bila posisikan pada posisi yang tepat.

Pun demikian dengan predikat muslimah sholihah. Ini bukanlah julukan yang diberikan pemimpin negri. Ini merupakan kedudukan mulia yang Alloh berikan kepada sahabat muslimah jika memenuhi ketetapan syar’i yang telah diridhoiNya.

Suatu perhiasan tentu menjadi sesuatu yang sangat disenang sang pemiliknya. Ia akan menjadi penyejuk mata, penenang hati, penyedap alur kehidupan, penghibur dikala gundah, yang akan mempesona dikala lunglai serta pemberi semangat dikala futur menerpa. Demikianlah sahabat muslimah dalam kehidupan. 

Inilah yang menjadikan sahabat muslimah menjadi dambaan siapa saja. Bukan hanya kaum Adam saja yang mendambakanya, bahkan tang tua pun sangan mendambakan anak perempuan yang sholihah. 

Semoga semua Sahabat Muslimah Voa Islam memiliki sepuluh karakter sholihah yang menjadi dambaan siapa saja dan bila telah berkeluarga semoga menjadi Istri Sholihah. [ukhwatuna/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/08/21/32362/menjadi-muslimah-dambaan-hati/