Stigma Ngawur: Antara Bu Menteri Bertato, Ukhti Jilbab Bercadar dan Muslim Berjenggot

Oleh: Ria Fariana

Akhir-akhir ini Indonesia disibukkan dengan kontroversi pilihan menteri oleh Presiden Jokowi. Namanya kontroversi, pasti ada yang pro dan kontra. Saya pribadi memilih mengamati dan tak hendak memperkeruh kondisi negeri. Tapi bukan berarti saya tak mempunyai sikap sendiri berkaitan dengan hal ini.

Di antara kontroversi tersebut, bukan sosok menterinya yang menurut saya menarik untuk dibahas. Sikap masyarakat kita yang katanya mayoritas muslim inilah yang layak untuk dicermati. Betapa mudah kita melontarkan kata-kata menghina meskipun taruhlah perbuatan itu salah. Belum lagi membawa-bawa nama Islam yang sebetulnya dalam hal ini sekadar menjadi kambing hitam. Hanya karena ada pejabat yang memakai hijab dan korup, kemudian dijadikan contoh buruk dan dibandingkan dengan yang tak berhijab tapi tidak korup.

Perbandingan yang sangat tidak adil dalam hal ini sangat terlihat. Hidup itu bukan seperti ujian dengan pilihan ganda, apalagi yang diberikan pilihannya cuma dua dan bisa jadi salah semua. Toh, dalam ujian sendiri, bentuk tes yang bagus adalah yang bersifat terbuka atau essay. Dari sini saja logika contoh atau perbandingan ini sudah tidak logis.

inilah masyarakat kita, sangat suka membandingkan sesuatu yang tidak sebanding atau tak bisa dibandingkan

Inilah masyarakat kita, sangat suka membandingkan sesuatu yang tidak sebanding atau tak bisa dibandingkan. Apalagi ketika yang dibandingkan dengan pembandingnya sama-sama tak bisa diambil sebagai pilihan yang baik. Maka, sesungguhnya dalam hal ini kita memunyai standar baku sebagai seorang muslim. Sudah, ukur saja segala sesuatunya dengan standar Islam: Qur’an dan hadits.

Masalahnya, bagaimana Qur’an dan hadits akan dipakai sebagai standar bila akar dan pondasinya saja tidak memakai Islam? Nah, di sinilah tidak adilnya kita ketika pondasi tidak memakai Islam tapi bila ada buruknya bangunan maka Islam yang disalahkan. Sama tidak adilnya ketika banyak sekali yang mengatakan bahwa kita tidak boleh menghakimi atau ‘menjudge’ seseorang dari penampilannya saja. Tapi lupakah kita bahwa mereka yang memakai hijab lebar bahkan cadar, berjenggot dan bercelana cingkrang sering sekali mengalami diskriminasi hanya karena penampilan?

Mulai dari julukan teroris, tidak sesuai dengan budaya Indonesia (budaya yang mana?), udik, kuno, hingga disuruh pindah ke Arab, semua lengkap ditudingkan ke orang-orang yang berusaha menjalankan Islam kaafah.

Mulai dari julukan teroris, tidak sesuai dengan budaya Indonesia (budaya yang mana?), udik, kuno, hingga disuruh pindah ke Arab, semua lengkap ditudingkan ke orang-orang yang berusaha menjalankan Islam kaafah. Pernahkah ada pembelaan bagi mereka ini dengan kata-kata ‘yang penting kinerjanya?’ Jangankan kinerja, sedangkan kesempatan pertama saja tak pernah diberikan. Betapa banyak saudara-saudara muslim kita yang ditolak bekerja dan berprestasi hanya karena belum apa-apa dicurigai. Lalu, siapa yang membela mereka ini?

Mereka dinilai, dihakimi dan ‘dijudge’ dari penampilan semata. Tetapi hal ini menjadi tak berlaku ketika ada kritik diberikan untuk pejabat negara. Sebutan ‘haters’ menjadi sangat sering dihadiahkan bagi mereka yang berusaha untuk memberi masukan kepada pemimpin negeri. Di sini kita belum membincangkan kinerja karena memang porsinya belum sampai ke sana.

Saya pribadi tak berniat untuk berbicara buruk tentang mereka yang mungkin saja perilakunya tak elok. Karena sifat manusia itu dinamis. Hari ini ia berbuat salah, esok hari bisa saja ia menjadi orang yang salih. Begitu juga kebalikannya. Jadi alangkah indahnya bila kritik yang ada itu disampaikan dengan cara elegan dan kata-kata yang santun. Begitu juga dengan yang dikritik maupun pihak pendukungnya, bisa menerima kritik dengan lapang dada dan tidak memandang pihak pemberi kritik sebagai musuh. Karena terbuka sekali peluang Bu Menteri akan menjadi sosok muslimah yang baik tanpa rokok dan tattonya. Insya Allah.

Di bawah ini sebagai renungan tentang kondisi kita saat ini sebagaimana diisyaratkan oleh Sayidina Ali bin Abu Thalib r.a.

“Aku kawatir terhadap suatu masa yg rodanya dapat menggilas keimanan

Keyakinan hanya tinggal pemikiran, yg tidak berbekas dalam perbuatan.

Banyak orang baik tapi tidak berakal, ada orang berakal tapi tidak beriman.

Ada lidah fasih tapi berhati lalai. Ada yg khusyuk tapi sibuk dalam kesendirian.

Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis. Ada ahli maksiat, rendah hati bagaikan sufi.

Ada yg banyak tertawa hingga hatinya berkarat. Ada yang banyak menangis karena kufur nikmat.

Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat. Ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut.

Ada yang berlisan bijak tapi tidak memberi teladan. Ada pezina yg tampil jadi figur.

Ada orang punya ilmu tapi tak paham. Ada yang paham tapi tidak menjalankan.

Ada yang pintar tapi membodohi. Ada yg bodoh tapi tidak tau diri.

Ada orang beragama tapi tidak berakhlak. Ada yang berakhlak tapi tdk ber-Tuhan.

Lalu, di antara semua itu, dimana aku berada?”

(Ali bin Abi Thalib)

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/10/30/33670/stigma-ngawur-antara-bu-menteri-bertato-ukhti-jilbab-bercadar-dan-muslim-berjenggot/

Solusi Islam Terhadap Transgender, Belajar dari Kisah Nabi Luth

Oleh Anastasia

Alumni Pendidikan Bahasa Jerman UPI Bandung

Kisah dalam Al Quran sepertinya akan mengulang kembali sejarah, di mana Allah sang penguasa begitu perkasa memperingatkan kaum yang melampaui batas kisah tersebut tersusun rapi dalam Al Quran sebagai pelajaran bagi kaum yang akan datang seperti kisah kaum Nabi Luth.

Nabi Luth hidup semasa dengan Ibrahim dan diutus sebagai rasul atas salah satu kaum tetangga Ibrahim sebagaimana diutarakan oleh Al Quran, kaum yang hendak di utus oleh Luth mempraktikkan perilaku menyimpang yang belum dikenal dunia saat itu, yaitu sodomi (homoseksual).

Ketika Nabi Luth menyeru mereka untuk menghentikan penyimpangan tersebut dan menyampaikan peringatan Allah, mereka mengabaikannya, mengingkari kenabiannya, dan meneruskan penyimpangan mereka.

Pada akhirnya kaum ini dimusnahkan dengan bencana yang mengerikan. Namun Apa boleh buat ketika manusia sejengkal demi sejemgkal mulai melupakan segenap risalah para nabinya umat Muhamad pun seolah ingin membuktikan kembali betapa besarnya amarah Allah terhadap kemaksiatan hambanya, contohnya Indonesia sebagai negeri dengan populasi kaum muslim yang cukup besar tapi tak mampu membendung besarnya kerusakan moral yang saat ini tengah terjadi di masyarakat, awalnya kita tabu dengan sosok waria (wanita pria).

Akan tetapi temuan fakta mencengangkan Di Indonesia, data statistik menunjukkan 8-10 juta populasi pria Indonesia pada suatu waktu terlibat pengalaman homoseksual. (Kompas Cyber Media, 2003.1 ).

Seperti yang di klaim oleh  Dr. Dede Oetomo, yang merupakan  ”presiden” gay Indonesia dan

Hasil survei YPKN menunjukkan, ada 4.000 hingga 5.000 penyuka sesama jenis di Jakarta. Sedangkan Gaya Nusantara memperkirakan, 260.000 dari enam juta penduduk Jawa Timur adalah homo.

Angka-angka itu belum termasuk kaum homo di kota-kota besar, secara nasional jumlahnya mencapai sekitar 1% dari total penduduk Indonesia.

Yang telah 18 tahun mengarungi hidup bersama dengan pasangan homonya. Dede juga merintis publikasi Majalah GAYa NUSANTARA. Dari hasil jeri payahnya Dede mendapat anugerah Felipe de Souza Award dari International Gay and Lesbian Human Rights Commision (IGLHRC), pada tahun 1998 dan Utopian Award. (Gatra, 2003. 2).

Baru-baru ini di layar kaca kita melihat sosok Renaldy Racham atau yang sekarang Dena Racham (waria) yang tengah “naik daun” adanya sorotan media membawa pesan tersendiri kalau dulunya waria adalah orang pinggiran yang tidak diakui keberadaannya, namun sekarang sosok “Dena” seolah menapik angapan tersebut, media berperan aktif  dalam pengaktualisasian mereka memberikan tempat bahwa waria pun mampu “berkarya” menjadi sosok, cerdas, elegan, dan perpendidikan atau kita masih ingat dengan Solena Chaniago waria yang sudah melanglangbuana ke negeri paman sam, keberadaannya begitu disorot media, atau kasus pembunuhan Mayang Prasetyo yang sempat penggembarkan negeri kanguru, menambah deretan panjang daftar waria berkelas.

Kerja panjang menuju generasi mulia

Melihat banyak permasalahan bangsa ini menjadi PR berat bagi umat islam, bahwa seseungguhnya melahirkan generasi yang mulia tidaklah instan, tapi membutuhkan proses yang panjang, tidak mungkin lahir seoarang anak yang sholeh tanpa peran orangtua yang mau mendidiknya sepenuh hati, namun kita tahu islam telah melahirkan generasi mulia para ulama yang lahir dari seorang ibu yang taat kepada Allah.

Ibu yang mengasuhnya seseuai perintah Allah, dalam islam mendidik anak antara laki-laki dan perempuan tidaklah sama walaupun keduanya adalah penghuni bumi tapi Allah telah menciptakan dua jenis manusia laki-laki dan perempuan, ketika Allah Ta`ala telah menakdirkan dan memutuskan bahwa laki-laki tidak seperti perempuan dalam ciptaan, keadaan dan bentuknya, maka laki-laki memiliki kekuatan fisik, sedangkan perempuan menurut ciptaan, watak dan fisiknya lebih lemah dibandingkan laki-laki, karena ia harus berurusan dengan masalah haid, kehamilan, melahirkan, menyusui bayi, mengurus keperluan bayi yang disusuinya, serta masalah pendidikan anak-anaknya selaku generasi penerus.

Karena inilah, perempuan diciptakan dari tulang rusuk nabi Adam `alaihissalam. Ia merupakan bagian darinya, yang selalu mengikutinya sekaligus sebagai kesenangan baginya. Sedangkan laki-laki dipercaya untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, menjaganya dan memberi nafkah kepadanya, sehingga seorang ibu akan mengarahkan dan  mendidik anaknya sesuai dengan fitrah tujuan penciptaan Tuhannya, jikaulau anak itu laki-laki maka didiklah dia menjadi seorang imam yang bertanggung jawab dan jika ananya perempuan didiklah dia supaya menjadi seorang isteri sholehah dan calon ibu yang akan melahirkan generasi cemerlang yang terhindar dari segala bentuk penyimpang moral. Keduanya mempunyai posisi yang sama dihadapaan Allah Swt.

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik” (QS. an-Nahl: 97). Wallahu’Alam 

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/10/27/33620/solusi-islam-terhadap-transgender-belajar-dari-kisah-nabi-luth/

Voa-Islamic Parenting (30): Merancang Walimahan yang Syar’i dan Barokah

Sahabat VOA-Islam yang Shalih dan Shalihah…

Masyarakat Indonesia, khusus para penggemar dunia selebritis dan dunia hiburan, beberapa hari yang lalu, dihebohkan oleh peristiwa pernikahan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina. Heboh karena prosesi pernikahannya, mulai dari persiapan, lamaran, akad nikah, serta malam resepsinya disiarkan langsung oleh Trans Tv. Sehingga menurut Nielsen, acara itu dapat menaikan rating Trans Tv darishare 19,5% sampai 11,9 persen. Hal itu bisa terjadi karena ada banyak masyarakat yang melihat artis idolanya itu melangsungkan pernikahan. Meskipun, berakhir dengan mendapatkan teguran dari KPI, karena acara siaran langsung itu dinilai kurang sepantasnya untuk di siarkan.

Bukan hanya itu, pembahasan di media sosial seperti Facebook dan Twetter, juga hangat membicarakan mengenai pernikahan, baik mengomentarai gaya pernikahan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina atau membahas konsep resepsi yang diinginkan.

Bahkan tidak ketinggalan, para ikhwan dan akhwat aktivis Islam yang aktif di media social, banyak yang ikut membahas dari segi Islam dan hikmahnya. Pendek kata, pernikahan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina “berhasil” mencuri mata masyarakat Indonesia secara umum.

Walimahan Pernikahan adalah Sebuah Syariah

Berbicara tentang pernikahan, memang tak bisa kita meninggalkan sebuah tema yang seakan akan kurang pas bila kita tak membahasnya. Apa itu? Walimahan. Yupz, ini dalah sebuah syariah Islam yang disunnahkan oleh Nabi untuk umatnya yang telah melangsungkan pernikahannya.

Imam Ahmad dan Imam Thabari serta Ibnu Asakir meriwayatkan sebuah hadist, bahwa Rasululloh SAW pernah bersabda: “Untuk satu pengantin (sepasang pengantin) harus diadakan walimahan”.

Dari sini, para ulama memberikan penjabaran bahwa walimah pernikahan adalah bagian dari syariah Islam yang harus dihidupkan. Maka seyogyanya pasangan pengantin muslim berusaha dalam pernikahanya, tidak melupakan acara walimahan, meskipun hanya dengan dengan seekor kambing. Demikian Imam Bukhori meriwayatkan sebuah hadits yang mengkisahkan pernikahan Abdurrahman bin Auf dengan seorang wanita Anshar.

Bahkan syariah Islam membolehkan dalam walimahan yang diselenggarakan, menghidangkan makanan pada tamu tanpa ada daging.Hal ini sebagaimana dituliskan oleh Imam Bukhori, Imam Abu Dawud, Ibnu Majah dan Imam Ahmad.

Dari Anas Ibnu Malik RA, “Dalam walimah tersebut tidak terhidang roti maupun daging.saya hanya di suruh oleh beliau Roasululloh untuk mengambil alas makan dari lembaran kulit yang di samak rapi,lalu saya hamparkan,kemudian saya meletakan kurma, keju, dan minyak samin di atas makan itu (lalu para tamu makan hinggga mereka kenyang)”.

Artinya sebisa mungkin dalam sebuah pernikahan,pasangan pengantin benar-benar mengusahakan adanya acara walimahan, sebagai rasa syukur dan ungkapan kebahagian. Dan apabila ternyata tak mampu juga untuk menyelenggarakanya, maka umat Islam yang kaya dan mampu serta muslim lainnya, yang lagi lapang rejeki disyariatkan untuk menyumbang mempelai pengantin, supaya bisa melaksanakan walimahan pernikahanya meski hanya dengan sederhana.

Anas Ibnu Malik RA berkata,maka pada harinya Rasululloh telah resmi menjadi pengantin, kemudian beliau bersabda: “Barang siapa mempunyai sesuatu sumbangkanlah, maka hendaklah di sumbangkan” beliau menghamparkan alas makan dari lembaran kulit yang telah di samak rapi, ada orang yang menyumbang keju, ada yang menyumbang kurma, ada yang menyumbang minyak samin,mereka bersama sama membuat makanan habis”.

Sungguh acara walimahan di dalam Islam adalah sebuah upacara syukur kita pada Allah dan sangat sederhana, simple sehingga tidak merepotkan dan ribet, apalagi memberatkan. Subhanallah keberkahan bagi mereka yang mengikuti sunah Nabi.

Di sisi lain, umat Islam akhir zaman ini sudah banyak berkiblat kepada budaya Arab. Terlebih dalam acaa resepsi pernikahan, mereka sudah jauh dari ajaran Islam. Mereka tidak segan-segan mengeluarkan kocek serta tabungan, untuk berpesta pora dalam malam resepsi pernikahnya. Ratusan juta rupiah uang dihamburkan dengan sesuatu yang mubadzir, sehingga sangat tidak efisien, belum lagi gaya dan acara pesta pernkahan ala kafirin barat. Naudzublilah.

Adapun memberikan hadiah dalam acara resepsi pernikahan bukanlah sebuah kewajiban, karena hal itu disyariatkan bagi mempelai pengantin yang tak mampu untuk mengadakan acara walimah, sehingga kaum muslimin yang ada wajib membantu mengadakanya. Akan tetapi, mubah dan halal bila kita ingin memberikan hadiah kepada saudara kita yang menikah meski mereka adalah seseorang yang dalam kondisi mampu dan kaya.

Hanya saja, di tengah masyarakat kita sekarang ini telah muncul sebuah “BUDAYA YANG SALAH KAPRAH”.Dalam masalah memberi hadiah pada pengantin, dimana ada sebuah perspektif yang sangat salah dan fatal, dimana memberi sumbangan pada walimahan seakan-akan adalah hal yang wajib sehingga mereka rela menghutang atau lebih baik tidak datang dari pada cuma sekedar makan saja tanpa memberi hadiah

Selanjutnya, saat mereka memberikan hadiah itu dicatat dan diniatkan sebagai tabungan atau deposito, yang kelak nanti suatu saat, dia berharap orang yang disumbang akan kembali menyumbang, dengan hadiah dan sumbangan yang setimpal. Bahkan yang lebih ngeri lagi, seseorang yang datang ke sebuah acara resepsi pernikahan tanpa membawa kado,sumbangan atau amplop undangan dipandang sebagai hal yang tak layak dan buruk, serta dianggap aib. Padahal pemahaman seperti ini, bukanlah ajaran dari Islam dan melenceng dari sunnah yang ada.

Siapa Saja yang Harus Diundang?

Dalam syariah Islam, saat mengadakan walimahan pernikahan maka pengantin berdua seharusnya menghadirkan umat Islam yang ada untuk dihadirkan, semampunya. Baik keluarga besar, teman dekat, handataulan serta umat Islam secara umum semampu kita. Akan tetapi sebaiknya tidak melupakan dua hal dalam mengundang tamu walimahan.

Pertama : Undanglah Orang Shalih dan Bertaqwa untuk Hadir dalam Walihaman.

Imam Abu Dawud, Turmidzi, Hakim serta Imam Ahmad mencatat sebuah riwayat yang dikisahkan oleh sahabat Nabi. Dari Abu Aaid Al Khudribahwa Rosululoh bersabda: “Usahakanlah makanamu hanya dimakan oleh orang bertakwa”.

Ulama meberikan penjelasan bahwa dalam sebuah walimaha pernikahan, diturutsertakan kaum sholeh dan bertakwa untuk hadir dalam acara tersebut,karena kita membutuhkan doa mereka dan memuliakan mereka adalah sebuah upaya kebaikan, karena seorang pengantin membutuhkan doa yang barokah. Sudah sepantasnyalah para mempelai pengantin mengundang kaum muslimin yang sholeh.

Kedua: Jangan Lupakan Orang Miskin  dan Hanya Mengundang yang Kaya saja

Rasululoh bersabda: “Sejelek-jeleknya makanan adalah hidangan walimah yang orang kaya di undang menghadirinya, tetapi orang orang miskin tidak diundang. Barang siapa tidak memenuhi undangan walimahan sungguh dia telah menduharkai Allah dan Rasul-Nya,” demikian Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Huroiroh.

Dengan hadirnya orang miskin dalam acara kita, ada keberkahan, ada amal yang mulai untuk saling berbagi, mengajarkan kepedulian dalam sebuah kehidupan, menghilangkan rasa egois yang ada, dan adanya kedermawanan serta doa yang tuluspun akan keluar dari mereka para orang miskin yang diundang.

Maka jangan sekali-kali kalian melupakan akan hal ini, sunguh berkah dan indah karena doa mereka bisa jadi lebih ikhlas dan lebih mudah untuk dikabulkan oleh Allah, dibanding orang kaya yang ada.meski mereka hadir tanpa membawasesuatu yang tak ternilai di dunia, tetapi mereka hadir dengan doa. Ingatlah doa adalah sesuatu yang dibutuhkan unruk manusia untuk mengapai keberkahan.

Sedikit Kritik soal “Kartu Undangan Pengantin”

Sudah kita fahami bersama, di saat seseorang akan melakukan resepsi pernikahan, mereka akan menyebar kartu undangan kepada para tamu yang hendak mereka undang dalam acara pernikahan.

Dengan majunya zaman, berbagai undanganpun dibuat dengan apik dengan desain grafis yang keren, mulai harga yang murah hingga undangan yang wow luar biasa mahalnya. Bahkan apa yang kita inginkan maka pasti bisa terwujud selama modal dana tersedia tentunya.

Ada beberapa hal yang harus di perhatikan, sehingga antum selaku aktivis Islam sesunguhnya tak layak untuk melakukannya, karena sangat tidak etis dan melanggar syariat dan sungguh naudzubilah.

Pertama: Janganlah Kau Pasang Foto Pra-Wedding dalam Undangan Walimahan

Mungkin ini sudah biasa dan wajar, saat ini hampir semua foto undangan pernikahan ditempel foto mesra calon nganten berduadengan berbagai gaya dan fose. Masyarakat sudah mengamini hal ini sebagai budaya yang wajar, padahal secara pandangan agama, memasang foto pra-wedding di kartu undangan adalah bentuk sebuah pelanggaran syariatkarena mereka belumlah halal untukmelakukan itu, meski sekedar foto. Demikian syariat mengatur.

Anehnya, sekarang banyak aktifis Islam yang latah ikut ikutan memasang foto dalam kartu undangannya, meski dengan gaya dan fose yang terkesan “islami”. Sungguh ini sebuah kesalahan yang tidak bisa disepelekan.

Lalu bagaimana bila ternyata sudah aqad nikah dan halal, apakah boleh memasang foto dalam kartu undangan? Bila ternyata si mempelai sudah menikahpun dan halal, tetap tidak boleh dan kita tetap saja harus menjauhi hal itu, karena dengan memasang foto mempelai ngantin berdua,sesunguhnya hal itu akan banyak menyebarkan fitnah dan syahwat. Dan itu bagian dari memamerkan kecantikan istri kepada halayak umum, dan itu dilarang di dalam agama.Maka jalan aman adalah tanpa memasang foto pengantin berdua dalam kartu undangan.

Kedua: Jangan Berlebihan dalamMembuat Undangan yang Terlalu Mahal

Inti dari undnagan adalah pemberitahuan serta permohonan agar para tamu berkenan hadir, maka sebaiknya unadangan nganten tak perlulah terlalu mahal, yang menghabiskan biaya yang begitu banyak. Pasalnya, undangan ngaten itu kebanyakan di buang di tempat sampah dan tak terpakai. Lebih baik undangan cukup sederhana, bagus dan dananya dialihkan pada sesuatu yang lebih bermanfaat.

Ketiga: Jangan Kau Sertakan Ayat Allah dalam Undangan Pernikahan

Sebaiknya undangan penganten tidak usah menyertakan ayat Al Quran atau hadits Nabi dengan penulisan arab. Khawatir terjadi pelecehan ayat Allah secara tidak sadar. Pasalnya, banyak sekali orang yang tidak perhatian akan hal itu,main sobek dan buang saja serta di injak. Padahal di dalamnya ada tulisan ayat Allah.Kalau toh harus memakai ayat Allah cukuplah ditulis terjemahan saja. Karena hal itu akan lebih baik dan pas dalam terapan banyak orang.

Keempat: Desain Undangan yang Lebih Kreatif agar Bermanfaat

Perkembangan zaman dan munculnya kretivitas yang ada, harus memenuculkan ide bagaimana agar undangan tidak mubazir,karena dibuang dengan percuma. Mungkin sebaiknya undangan itu dibuat kalender atau dalam bentuk tasagar lebih manfaat, dan orangpun akan lebih terkesan dan menghargai.atas kreativitas kita.

Wajib Mendatangi Undangan Walimahan Meski Sedang Puasa

Rasululloh bersabda, “Bila salah seorang dari kalian diundang untuk menghadiri jamuan makan, hendaklah ia memenuhi undangan tersebut. Jika tidak sedang puasa, hendaklah ia ikut makan bila sedang berpuasa hendaklah ia mendoakan” (HR Muslim, An Nasai,Ahmad,Baihaqi).

Akan tetapi, haram bagi kita menghadirinya bila ternyata dalam acara walimahn terdapat kemaksiatan, dan carilah jalan terbaik untuk menghindari kemaksiatan yang ada.

Jadikan Masjid Sebagai Tempat Ikrar Janji Suci Sang Pengantin dan Walimahan

Rasululoh bersabda, “Umukanlah pernikahan ini,adakanlah di dalam masjid, dan meriahkanlah dengan pukulan rebana” (HR Ahmad dan Tirmidzi).

Masjid adalah tempat untuk bersujud kaum muslimin, tapi masjid juga untuk keperluan kaum muslimin, diantaranya adalah untuk walimah. Maka dengan ditempatkan di masjid berharap keberkahan di dalamnya.

Waktu Walimah

Dari Anas bin Malik berkata, “Di kala Nabi menikahi Shafiyah binti Huyyai, beliau menjadikan pembebasan diri Shafiyah sebagai mahar,beliau mengadakan walimah selama tiga hari” (HR Abu Ya’la)

Ini adalah selang waktu berkunjung kepada mempelai untuk mendoakan termasuk juga berkunjung ke kediaman mereka.#Bersambung# [syahid/Protonema/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/10/24/33549/voaislamic-parenting-30-merancang-walimahan-yang-syari-dan-barokah/

Wahai Para Ukhti, Cinta Sejati Ternyata Tak Cuma Sekali

Sahabat Muslimah VOA-Islam yang Shalihah…

Cinta tidak cuma sekali, tapi bisa dua kali, tiga kali, empat kali atau berkali-kali. Sering kita mendengar kata-kata sok romantis berisi: kita hidup sekali, mati sekali, dan memunyai cinta sejati pun juga sekali.

Ya…kita memang dibesarkan dalam lingkungan yang gemar sekali hidup bertaburkan roman picisan ala putri dalam dongeng. Novel-novel pun juga berisi tentang kisah cinta sejati yang seolah-olah cuma dia yang ditakdirkan untuk hidup bersama. Rasanya cuma dia yang bisa mencintai dan dicintai dengan begitu dalam dan tulus. Tak mungkin ada seseorang yang  bisa menggantikannya, baik untuk dicintai maupun mencintai dengan sepenuh hati. Bila sosok ini pergi atau mati, maka cinta sejati itu ikut terkubur bersama jasad sang kekasih hati.

Benarkah begitu adanya? Ternyata semua teori tentang roman sehidup semati itu tak berlaku dalam Islam. Paling tidak Ummu Salamah membuktikannya sendiri. Bukan hanya satu cinta sejati yang hadir dalam hidupnya, tapi dua!

Ummu Salamah menikah dengan Abdullah bin Abdul As’ad atau yang biasa dipanggil dengan Abu Salamah adalah laki-laki yang memberinya keturunan. Dia adalah ayah dari anak yang dilahirkan oleh Umm Salamah. Mereka berdua adalah generasi awal yang menerima Islam dan berhijrah ke Abyssinia atau Ethiopia. Meskipun pada kesempatan hijrah berikutnya ke Madinah mereka terpaksa harus berpisah, tapi itu tak mengurangi rasa cinta yang begitu kuat dan dalam pada diri kedua insan ini untuk kembali bersatu. Hingga akhirnya maut juga yang memisahkan keduanya ketika Abu Salamah meninggal akibat luka yang didapatnya di medan jihad.

Di pembaringannya menjelang sakratul maut, Ummu Salamah dengan berurai airmata berkata pada suaminya, “Ketika seorang suami meninggal dan masuk surga, kemudian istrinya pun meninggal tanpa pernah menikah lagi, Allah akan menyatukan keduanya di surga. Aku berjanji aku tak akan pernah menikah lagi setelahmu!”

Dengan tenang, Abu Salamah bertanya, “Istriku, maukah kamu memenuhi permintaanku, apapun itu adanya?”

Mendengar itu, sebagai istri yang patuh pada suami Ummu Salamah menjawab tanpa ragu, “Tentu saja!”

Abu Salamah memandang istrinya dengan penuh cinta dan berkata, “ Berjanjilah padaku, saat aku mati nanti kamu akan menikah lagi.”

Jelas Ummu Salamah kaget dengan perkataan yang tak diduganya ini. Belum pulih dari keterkejutannya, Abu Salamah telah memanjatkan doa dan memohon pada Allah dengan kata-kata indah ini, “Ya Allah, anugerahilah Umm Salamah suami yang jauh lebih baik daripada saya.”

Tak lama kemudian, maut benar-benar menjemput Abu Salamah. Selama masa iddah, Ummu Salamah tak kuasa menghentikan perasaan duka yang teramat dalam karena kehilangan suami yang dicinta. Betapa kenangan akan kelembutannya, kebaikannya, keberanian dan kesabarannya semakin membuat Ummu Salamah susah melupakan Abu Salamah.

Terlebih ketika Ummu Salamah menimang bayi yang baru dilahirkannya, hatinya makin pilu ketika menyadari bahwa laki-laki yang dicintainya itu tak memunyai kesempatan untuk membesarkan buah cinta mereka. Mana ada laki-laki selain suaminya itu yang akan mau menikah dengan dirinya dan mencintai anak yang bukan anak kandungnya sendiri? Ingatannya melayang kepada ucapan Abu Salamah menjelang kematiannya. “Siapakah laki-laki yang lebih baik dari Abu Salamah?” batinnya pilu.

Jawaban dari pertanyaan ini datang tak lama kemudian yaitu setelah masa iddahnya selesai seiring dengan lahirnya Zainab. Laki-laki yang lebih baik daripada Abu Salamah, atau suaminya itu adalah Rasulullah SAW. Laki-laki mulia ini datang pada Ummu Salamah dengan niat ingin melamarnya.

Setengah tak percaya, Ummu Salamah menjawab, “Aku adalah perempuan yang sudah tua dan memunyai anak dari suamiku terdahulu. Lagipula aku ini adalah perempuan pencemburu.”

Dengan perangainya yang lemah lembut, Rasulullah SAW pun menjawab, “Aku ini lebih tua daripada kamu. Allah yang akan menghilangkan cemburu dari hatimu. Dan aku akan membesarkan serta mencintai anak-anakmu sebagaimana aku memperlakukan anak-anakku sendiri.”

Keraguan di hati Ummu Salamah serta rasa duka yang tersisa sejak kepergian suaminya terdahulu langsung sirna. Yang ada sekarang hanyalah perasaan tenang dan damai karena ternyata laki-laki mulia ini yang melamarnya untuk menikahinya.

Doa Abu Salamah telah dikabulkan oleh Allah dan sekali lagi Umm Salamah bisa merasakan indahnya cinta sejati untuk yang kedua kali. Masya Allah!

Ukhti yang dirahmati oleh Allah, di luar sana banyak sekali laki-laki dan perempuan yang jatuh cinta kemudian terpuruk ketika sang kekasih meninggalkannya. Kepergian itu entah berupa kematian, perceraian, atau mungkin berupa ujian tertentu yang tak pernah disangka-sangka sebelumnya. Luka yang dirasakan seolah begitu besar dan tak tertanggungkan. Bahkan tak jarang, mereka merasa tak akan mungkin bisa jatuh cinta lagi sebagaimana mereka jatuh cinta sebelumnya.

Allah yang meletakkan cinta di hati kita untuk seseorang maka Allah pula yang akan dengan mudah mengobati luka itu. Allah yang akan menggantinya dengan cinta suci lainnya – cinta suci dari seseorang yang keberadaannya tidak untuk menggantikan dia yang telah pergi

Yakinlah, konsep dan pengetahuan kita tentang cinta sangatlah terbatas. Ada Allah Yang Mahapencinta memunyai kuasa di atas segalanya.

Nabi bersabda:

“Sungguh, hati anak-anak Adam itu ada di antara dua jari Yang Mahapengasih sebagai satu kesatuan. Dia mempersatukannya kapan pun dikehendakiNya.” (HR. Muslim 2654).

Allah yang meletakkan cinta di hati kita untuk seseorang maka Allah pula yang akan dengan mudah mengobati luka itu. Allah yang akan menggantinya dengan cinta suci lainnya – cinta suci dari seseorang yang keberadaannya tidak untuk menggantikan dia yang telah pergi. Tapi cinta suci yang hadir dan memesona hati kita dengan caranya sendiri yang berbeda. Karena sesungguhnya tak ada cinta yang benar-benar sama, yang ada hanyalah cinta sejati yang bisa saja mengetuk hati kita tak cuma sekali. Maka janganlah bersedih ketika cinta yang lalu pergi dan mungkin saja menoreh luka di hati. Akan datang cinta lain yang jauh lebih baik dan mampu membawamu ke surgaNya. Insya Allah. # Bersambung # (disadur dari tulisan Zainab bint Yunus)

[riafariana/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/10/22/33528/wahai-para-ukhti-cinta-sejati-ternyata-tak-cuma-sekali/

Oh No! Indonesia Menjadi Destinasi Wisata Seks Dunia!

SUARA PEMBACA:

Lilis Holisah, Pendidik Generasi di HSG SD Khoiru Ummah Ma’had al-Abqary Serang – Banten

Sahabat Voa-Islam

Indonesia menjadi salah satu destinasi wisata seks dunia. Cukup mengagetkan dan mengerikan mengingatkan mayoritas penduduknya adalah muslim, dimana dalam ajaran Islam, seks diluar pernikahan adalah sesuatu yang diharamkan. Namun inilah realitas yang ada di depan mata.

Menurut Kepala polisi Federal Australia, Chris Sheehan mengungkapkan pelaku pedofilia bule mendekati para pengemis untuk memuaskan nafsu seksnya. Para pengemis ini berasal dari desa, mereka pergi ke kota karena himpitan ekonomi. Lebih lanjut Chris mengungkapkan bahwa himpitan ekonomi menjadi pintu utama bagi para penderita pedofil untuk mendekati korbannya.

Chris melanjutkan, kebanyakan pengemis ini berasal dari Karangasem dan daerah sekitar pegunungan. Biasanya, lanjut Chris mereka pergi ke kota untuk menjadi pengemis, penjual pernak-pernik atau pemijat di sebuah spa. Selanjutnya, anak-anak tersebut disuruh melakukan kegiatan seksual dengan imbalan rupiah. Seperti, Lina (12 tahun) sseorang pengemis yang mengaku bertemu dengan pelaku pedofilia beberapa tahun lalu. Lina mengaku himpitan ekonomi menjadi alasan utama dirinya pergi ke kota. Seorang ‘bule’ datang dan menjanjikannya pekerjaan setelah ia lulus sekolah dasar. Jelas Lina yang dilansir dari laman Smh.com.au, Ahad (12/10). Kendati, saat ditanya jenis pekerjaan yang dijalani, Lina menolak untuk menjawab. Yang pasti kehidupan Lina berubah saat dirinya bertemu bule tersebut di sekitar jalan Kuta.

Kapitalisme Biang Keladi

Kehidupan saat ini yang serba sempit banyak yang akhirnya membuat manusia berpikir pragmatis. Karena tidak tahan menghadapi himpitan ekonomi, orang-orang yang lemah imannya akan melakukan apapun demi melanjutkan kehidupan, tidak peduli lagi halal atau haram.

Kapitalisme sebagai sebuah ideologi yang diadopsi oleh banyak negeri di dunia telah melahirkan jurang kesenjangan antara si miskin dan si kaya yang sangat dalam. Kesenjangan ekonomi yang sangat nyata ini melahirkan angka kemaksyiatan yang tinggi. Pelaku perampokan, pencurian, korupsi, bandar narkoba, perzinaan, pembunuhan, dan lainnya adalah buah dari penerapan ideologi kapitalisme. Bahkan anak-anak menjadi korban dari pelaku pedofilia. Sungguh mengerikan.

Kapitalisme hanya bertumpu pada pertumbuhan ekonomi, dengan pengerukan kekayaan alam yang diserahkan pengelolaannya kepada asing. Sehingga harta hanya beredar kepada orang-orang yang kaya saja. Yang miskin semakin miskin, yang kaya semakin kaya. Kapitalisme menyerahkan kekayaan umum kepada swasta, padahal sejatinya kekayaan umum adalah milik rakyat, alhasil rakyat dimiskinkan oleh sistem. Kapitalisme tidak fokus pada distribusi kekayaan. Bagaimana agar kekayaan itu merata, dapat dirasakan oleh rakyat umum, kapitalisme tidak mempedulikan hal tersebut. Maka jadilah kesenjangan ekonomi kian lebar diantara rakyat.

Kesenjangan ekonomi tersebut lah yang pada akhirnya memicu tindak kriminalitas dan kemaksyiatan lainnya. Menjajakan diri menjadi pekerja seks komersil adalah hal biasa dalam alam kapitalisme. Begitupun ketika kemiskinan menyeret orang untuk menjadi pengemis dan pekerjaan lainnya yang dianggap bisa menyambung hidup tanpa peduli lagi harga diri dan martabat dirinya, adalah suatu kewajaran dalam kehidupan kapitalisme. Mereka akhirnya menjadi korban dan budak nafsu bejat pelaku pedofilia pun tidak peduli lagi, asalkan kondisi ekonomi bisa lebih baik.

Islam Berantas Pedofilia

Pelaku pedofilia yang marak akhir-akhir ini memang banyak dari kalangan ekspatriat (bule). Mereka mengincar anak-anak jalanan, pengemis yang bisa dengan mudah ditipu dengan sejumlah rupiah.

Persoalan ini membutuhkan solusi komprehensif agar bisa menyelesaikan kasus maraknya pedofilia ini secara tuntas.

Negara berkewajiban menyediakan lapangan kerja yang luas bagi para kepala keluarga, sehingga persoalan ekonomi, pemenuhan kebutuhan keluarga terselesaikan. Negara juga menjamin kebutuhan pokok masyarakat, pendidikan, kesehatan. Dengan jaminan tersebut para ibu-ibu akan fokus terhadap pendidikan anak, memantau dan menjaga anak-anaknya, tidak lagi disibukkan mencari penghasilan untuk membantu ekonomi keluarga yang menguras tenaga, pikiran dan waktu serta mengabaikan peran domestiknya. Anak-anak pun terjaga, terlindungi dalam pengasuhan keluarga serta tidak juga menjadi sibuk membantu ekonomi keluarga yang rentan menjadi anak jalanan dan rentan menjadi korban pedofilia.

Negara semestinya tidak membiarkan merajalelanya anak-anak terlantar seperti anak-anak jalanan yang rentan menjadi korban fedofilia. Negara memiliki kekuatan yang bisa memaksa siapa saja yang mampu untuk mengurus anak-anak tersebut. Jika tidak ada yang mampu, Negara berkewajiban menyediakan tempat khusus yang aman dan nyaman serta pengasuh yang bertanggung jawab untuk mengurus anak-anak tersebut.

Negara memiliki kewajiban menjaga suasana iman di tengah-tengah masyarakat. Negara berkewajiban membina warga Negara agar senantiasa bertaqwa dan memahami hukum-hukum agama. Pembinaan bisa dilakukan di sekolah, di masjid, ataupun di perumahan-perumahan. Pembinaan ini bisa mencetak para ulama yang akan membantu Negara dalam menyebarkan dakwah.

Pembinaan ini akan mencetak individu-individu dan masyarakat yang bertaqwa. Dengan modal ketaqwaan inilah, seorang individu akan tercegah untuk melakukan tindak kejahatan dan masyarakat mejalankan fungsi sosialnya untuk mencegah munculnya kejahatan.

Negara juga memiliki kewenangan untuk mengatur arus informasi di masyarakat. Informasi yang beredar di masyarakat harus dalam pengawasan Negara, meski media dalam negeri diberikan kebebasan untuk menyebarkan berita, tetapi media dalam negeri terikat aturan untuk memberikan pendidikan bagi masyarakat, menjaga aqidah dan kemuliaan akhlak serta menyebarkan kebaikan di masyarakat. Sementara media luar negeri atau arus informasi yang datangnya dari luar, Negara akan memantau seluruh informasi yang akan masuk. Konten yang mengandung pemikiran dan hadharah (peradaban) yang bertentangan dengan aqidah dan nilai-nilai Islam akan dilarang masuk. Dengan mekanisme ini, konten pornografi, homoseksual, budaya kekerasan akan tercegah masuk ke dalam negeri.

Negara juga memiliki kewenangan untuk mengatur kurikulum sekolah. Kurikulum yang diberlakukan adalah kurikulum yang bertujuan membentuk kepribadian Islam bagi siswa. Sementara kurikulum yang bertentangan dengan aqidah akan dilarang diajarkan. Kurikulum berbasis aqidah ini diberlakukan di semua sekolah, baik sekolah negeri maupun sekolah swasta. Sementara sekolah asing dilarang keberadaannya di dalam wilayah Negara. Dengan demikian pendidikan akan menghasilkan out put berkualitas khoiru ummah skala generasi, dan ulul albab dalam skala individu.

Negara memiliki kewajiban untuk mengatur pergaulan antara laki-laki dan perempuan berdasarkan hukum-hukum yang datang dari Sang Pencipta (Hukum Islam). Aturan ini bertujuan untuk mengelola naluri seksual laki-laki dan perempuan serta mengarahkannya untuk mencapai tujuan penciptaan naluri ini yaitu melahirkan generasi penerus yang berkualitas. Karena itu, pernikahan dipermudah, bahkan negara wajib membantu para pemuda yang ingin menikah namun belum mampu secara materi.

Sebaliknya, kemunculan naluri seksual dalam kehidupan umum dicegah. Laki-laki dan perempuan diperintahkan untuk menutup aurat, menahan pandangan, menjauhi ikhtilat (interaksi laki-laki dan perempuan) yang diharamkan, dan seterusnya. Dengan metode ini, aurat tidak dipertontonkan dan seks tidak diumbar sembarangan. Terbiasanya orang melihat aurat perempuan dan melakukan seks bebas, akan membuat sebagian orang kehilangan hasrat seksnya dan mereka membutuhkan sesuatu yang lain untuk membangkitkannya. Muncullah kemudian penyimpangan seksual seperti pedofilia. Inilah yang dihindarkan dengan penerapan aturan pergaulan sosial dalam Islam.

Jika berbagai upaya pencegahan yang sudah dilakukan oleh Negara belum juga berhasil mencegah munculnya pelaku pedofilia, Negara harus menerapkan hukum sanksi bagi siapa saja yang melanggar. Negara harus menjatuhkan hukuman tegas terhadap para pelaku pedofilia. Pemerkosa dicambuk 100 kali bila belum menikah, dan dirajam bila sudah menikah. Penyodomi dibunuh. Termasuk juga melukai kemaluan anak kecil dengan persetubuhan dikenai denda 1/3 dari 100 ekor unta, atau sekitar 750 juta rupiah, selain hukuman zina (Abdurrahman Al Maliki, 1990, hal 214-238).

Negara berkewajiban memfasilitasi rehabilitasi dan memberikan penanganan secara khusus bagi anak korban fedofilia sampai tuntas. Sehingga trauma pada anak akan hilang dan mereka dijauhkan dari kemungkinan menjadi pelaku fedofilia baru nantinya.

Negara melarang masuknya berbagai faham yang bertentangan dengan aqidah Islam seperti liberalisme, sekulerisme, homoseksualisme dan sejenisnya dari manapun. Termasuk dari media massa, buku-buku, bahkan dari orang asing yang masuk sebagai turis atau pedagang. Bila mereka melanggar, maka akan dikenakan sanksi terhadap pelakunya berdasarkan hukum Islam.

Penerapan hukum secara utuh dan total oleh Negara, akan menyelesaikan masalah pedofilia secara tuntas. Anak-anak akan tumbuh menjadi generasi terbaik yang dilahirkan untuk umat manusia yang akan memimpin peradaban mulia dan gemilang. Mereka akan tumbuh dengan aman dan memiliki pemikiran yang sehat tanpa ada trauma dan dendam kesumat. Mereka akan tumbuh menjadi calon-calon pejuang, pemimpin masa depan untuk peradaban gemilang.

Semua itu hanya akan terwujud ketika seluruh aturan Islam diterapkan oleh Negara, Negara yang dimaksud adalah Khilafah Islamiyah alaa minhajin Nubuwwah.

Wa Allahu ‘alam.

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/10/19/33462/oh-no-indonesia-menjadi-destinasi-wisata-seks-dunia/

Voa-Islamic Parenting (29): 5 Kesalahan Ini Harus Ditinggalkan Oleh Para Ibu Dalam Mendidik Anak

Sahabat Muslimah VOA-Islam yang Shalihah…

Kita harus menyadari bahwa dipundak kita lah sebagai tumpuan awal dalam mendidik anak-anak suami kita. Kita harus menyadari bahwa kitalah yang pertama berinteraksi dengan anak yang kita lahirkan. Karena interaksi kita sesungguhnya sudah terjadi sejak terjadinya pembuahan. Saat itu emosi dan keadaan jiwa kita sebenarnya sudah mempengaruhi tumbuh kembang buah hati.

Kedekatan ini semakin tidak mungkin dihindari disaat anak mulai tumbuh kembang. Saat itulah buah hati mulai melihat segala aktifitas kita. Namun ternyata, dalam mendidik buah hati ini masih banyak pola didik yang luput dari perhatian Sahabat Muslimah atau bahkan salah dalam menentukannya. Beberapa pola didik yang kurang tepat namun sering terjadi dalam kehidupan kita yaitu:

Pertama, Tidak Bertahap

Sering dari Sahabat Muslimah merasa kewalahan disaat mendidik anak. Mungkin disebabkan kurangnya kesabaran atau lemahnya dalam memberikan argumentasi, saat menanggapi pertanyaan anak yang seolah-olah tidak mengenal tanda titik. Dan sebagian besar dari orang tua menggunakan jurus pamungkas, yaitu memaksa anak ini memahami apa yang difikirkan orang itu. Sebenarnya, bila ini terjadi justru memperparah keadaan. Mungkin kita pernah mendengar kalimat:

“Dik… Mainan itu mahal…” atau mungkin bila seorang ibu yang Islami akan mengungkapkan ” Ya Alloh Dik…. Mainan itu harganya mahal lho…”.

Mungkin sekilas kalimat ini tidak salah. Namun kita harus memahami bahwa uang itu urusan orang tua, bukan urusan anak. Mungkin kalau anak sudah mengenal bahasa gaul akan mengatakan “Maksud lhoooh… Emang gue pikiran”.

Maka dalam mendidik anak, kita harus menggunakan pola cerna dan sudut pandang dari anak. Kita harus memiliki kemampuan membaca ini. Sesungguhnya pendidikan adalah tindakan praktis. Dan tindakan praktis ini memerlukan kekuatan mental. Adapun kekuatan mental sangat memerlukan kemapanan dalam mengatur kesabaran yang jauh dari emosi dan marah. Karena sesungguhnya Alloh telah mengingatkan kita untuk lebih mengedepankan kesabaran dan membuang jauh-jauh emosi.

وَلَمَن صَبَرَ وَغَفَرَ إِنَّ ذَٰلِكَ لَمِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan (QS Asy Syuro:43)

Sesungguhnya, emosilah yang menjadikan kita akan lemah dalam memahami anak. Emosilah yang akhirnya mengakibatkan kurangnya kesabaran saat menghadapi buah hati. Kurangnya kesabaran ini, sebagai cikal bakal dari sebab lemahnya orang tua untuk memaklumi keadaan anak. Kita harus memahami bahwa pola perkembangan anak haruslah bertahap mengikuti kemampuan anak itu sendiri, utamanya dalam meniru dan mencerna segala yang ada disekitarnya.

Kedua, Tidak Memperhatikan Perbedaan

Walaupun anak itu berasal dari satu ibu dan satu bapak, namun janganlah berharap anak akan sama. Pengalaman kami sendiri yang baru memiliki enam anak, sangat merasakan perbedaan tersebut. Dari kebiasaan bangun tidur, lauk kesukaan, cara menghafal bahkan cara membangunkan diwaktu pagi pun berbeda-beda. Dari perbedaan ini, pastilah memerlukan sikap yang berbeda pula.

Maka merupakan kesalahan besar bila ada anggapan bahwa semua pola didik sesuai untuk semua anak. Apa lagi bila berkaitan dengan hukuman. Sebagian anak ada yang acuh terhadap kesalahan yang ia lakukan, namun sebagian yang lain mungkin sudah memahami kesalahan disaat kita lirik, atau bahkan ada anak yang belum memahami akan kesalahannya bila belum mendapatkan hukuman. Maka Sahabat Muslimah harus mampu memahami potensi anak dan berinteraksi dengan cara yang sesuai dengan potensi anak tersebut.

Ketiga, Tidak Memberi Perhatian yang Sama

“Memahami atas perbedaan yang dimiliki anak bukan berarti tidak memberi perhatian terhadap anak sama rata”. Inilah pola didik yang keliru dan merusak pendidikan. Disaat kita membahas tentang perhatian yang tidak sama, maka kita harus mengingat nasehat Rosululloh Sholallohu Alai Wasallam “Bersikap adillah kepada semua anak kalian”. Beliau mengulang ungkapan ini sampai tiga kali.

Perhatian yang dimaksud dalam Islam dalam mendidik yaitu sesuatu yang berhubungan dengan perhatian dan kasih sayang. Namun kesamaan perhatian tidaklah mungkin sama dalam hal yang berhubungan dengan wujud. Karena antara anak laki-laki dan perempuan pasti ada perbedaan. Perhatian kita dalam memperingatkan antara anak laki-laki dan perempuan dalam menjaga aurot sangat berbeda jauh.

Maka Sahabat Muslimah harus memahami bahwa dalam mendidik anak harus kita jauhkan rasa berbeda dalalm hati terhadap anak yang satu dengan anak lainnya. Walaupun kita sadari potensi anak itu berbeda. Kontinuitas dalam mendidik anak yang cerdas, dengan anak yang belum memahami pastilah berbeda pula. Maka adil dalam perhatian ini, harus kita sesuaikan dengan keadaan anak itu sendiri, namun tidak sampai mempengaruhi rasa kasih sayang yang terekspresi dalam perilaku.

Diriwayatkan oleh Baihaqi dari Anas R.A, seorang laki-laki duduk bersama Rosululloh Sholallohu Alaihi Wasallam, kemudian datang seorang anak laki-laki kepada orang tersebut, dia memeluknya dan mendudukkannya di atas pangkuannya. Kemudian datang seorang anak perempuan lalu dia mengambilnya dan mendudukkan di sebelahnya. Rasulullah kemudian bersabda “Kamu telah bersikap tidak adil terhadap keduanya”. Rasululloh menganggap apa yang dilakukan laki-laki tersebut tidak adil karena perbedaan perilaku yang dilakukan sebagai ekspresi kasih sayang terhadap buah hatinya.

Keempat. Menegur dan Mencela

Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi hukum dan kedudukan. Benar dan salah terungkap dengan jelas dalam kehidupan. Kebenaran harus dijunjung setinggi-tingginya dan kesalahan harus difahami sebagai sesuatu yang sangat membahayakan. Ini semua harus tercermin dengan tegas saat kita mendidik buah hati.

Sekarang berkembang pola didik yang melarang menegur anak dengan alasan karena saat itu anak sedang proses memahami lingkungan. Sebagian lagi ada pola didik yang mengharuskan mengawali kata maaf saat menegur anak.

Sahabat Muslimah…

Perlu kita tandaskan disini bahwa tegas bukan berarti galak dan lembut bukan berarti penuh toleransi. Perlu kita ingat, dalam penelitian terungkap bahwa lebih dari 70% ketidaknyamanan yang dialami manusia saat ini, berakibat dari ketidakmampuannya untuk mengatakan TIDAK. walaupun sebenarnya dirinya tidak suka. Basa-basi itu berbeda jauh dengan akhlaq yang santun.

Kalau kita menengok bahasa terindah di kolong langit yaitu bahas Al-Qur’an, Alloh telah mengajarkan dalam menyampaikan hukum begitu jelas, tanpa basa-basi namun tetap sejuk kita rasakan.

Maka menegur itu sangat penting, akan tetapi mencela harus kita buang kelaut. Maka disaat kita menegur, harus kita lihat mental anak serta situasi saat itu. Jangan sampai saat kita menegur namun terbaca dihadapan anak sebuah celaan. Sebagai ukuran yaitu perubahan. Ya… Perubahan. Disaat sudah muncul ekspresi maupun tindakan sebagai bentuk pemahaman atas kesalahan yang dilakukan, maka DILARANG MENEGUR KEMBALI, karena bila itu dilakukan akan terbaca sebagai celaan dihadapan anak. Bila ini terjadi bisa menimbulkan trauma yang berakibat pada rusaknya mental anak.

Kelima, Jarang Memuji dan Sering Menghukum

Kita punya anak pasti juga sudah memiliki gambaran terhadap anak itu sendiri. Karena orang tua pasti memiliki tujuan dalam mendidik anak. Namun dari idealis sebagai harapan orang tua terhadap anak, jarang dibarengi dengan pujian, kecupan, pelukan ataupun senyuman. Sebagian besar orang tua akan segera bertindak dengan memberikan hukuman terhadap anak yang melakukan kesalahan, namun bersikap wajar disaat anak melakukan sesuatu yang terpuji. Bahkan kita mendapatkan angka yang mencengangkan saat mengkaji tentang bagaimana orang tua memberikan hukuman terhadap anak. Dari semua ummahat yang kita bina, ternyata empat puluh tiga persen dari mereka dalam memperingatkan anak sampai pernah mengusir dari rumah (Eit… Jangan salah faham ya… Ini terjadi sebelum para ummahat tersebut mengikuti kajian lhoh…). Astaghfirulloh… Semoga ini tidak terjadi terhadap Sahat Muslimah.

Memberi hukuman sangatlah penting. Namun bentuk hukuman apapun harus dikomunikasikan dengan anak terlebih dahulu, sehingga anak memahami bahwa hukuman itu ada sebagai konsekuensi atas kesalahan yang dilakukan. Di sisi lain, kita harus mengemas hukuman tersebut haruslah sesuatu yang bernilai pendidikan pula. Mungkin dengan mencuci piring, menulis karang atau membaca Al-Qur’an satu halaman.

Sahabat Muslimah…

Lima hal inilah yang sering terjadi dalam rumah tangga saat mendidik buah hati. Semoga Alloh senantiasa memberikan kemampuan untuk mendidik putra-putri kita sehingga berkembang menjadi pribadi muslim yang hebat. Semoga Alloh memberikan istiqomah tetap dalam kesabaran dan kecerdasan kepada kita dalam mendidik putra-putri kita. Aamiin… [ukhwatuna/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/10/16/33427/voaislamic-parenting-29-5-kesalahan-ini-harus-ditinggalkan-oleh-para-ibu-dalam-mendidik-anak/

Voa-Islamic Parenting (28): 5 Langkah Keluarga Mencapai Surga-Nya

Sahabat VOA-Islam yang Shalih dan Shalihah…

Ini pastilah menjadi dambaan bagi semua pasangan suami istri. Kita semua pastilah mendambakan rumah yang damai dan terpancar di dalamnya nuansa Islam yang terwujud dengan jelas. Kita semua pasti mengidamkan suasana rumah yang jauh dari konflik maupun kesalah fahaman antara suami istri maupun antara orang tua dengan anak.

Namun realita yang terjadi, ternyata amat sangat sulit bila kita akan mencari rumah tangga yang tidak pernah ada konflik didalamnya. Realita yang terjadi ternyata banyak rumah tangga yang memiliki konflik, sebenarnya bermula dsri permasalahan yang sangat sepele.

Sebenarnya bagaimanakah Islam menyikapi potensi konflik rumah tangga supaya tidak menjangkit? Bagaimanakah Islam membimbing kita untuk mewujudkan surga di pelupuk mata?

Pertama, Menikah atas Dasar Islam

Islam memahami bahwa pertimbangan terjalinnya hubungan yang dilanjutkan ke jenjang pernikahan karena empat hal. Karena harta, status sosial, indahnya paras ataupun karena agama.

تنكح المرأة لأربع : لمالها ولحسبها ولجمالها ولدينها فاظفر بذات الدين تربت يداك

“Wanita itu dinikahi karena empat hal: karena hartanya, statusnya, kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah yang beragama, maka kamu akan peroleh keuntungan”

Islam menuntun kita supaya lebih mempertimbangkan agama. Karena sesungguhnya dengan pintu agama lah yang akan mempengaruhi seluruh gerak langkah seorang hamba. Karena sesungguhnya dengan lurusnya pemahaman agama seorang suami ataupun istri akan berpengaruh pada seluruh akhlaq dalam hidup. Dengan akhlaq lah yang akan menjadikan pahitnya hidup menjadi semanis madu. Dengan akhlaq lah yang menjadikan beratnya ujian tak terasa. Sehingga ketenangan rumah tangga akan selalu terjaga karena disaat mendapatkan kemudahan dalam rizki menjadikannya banyak bersyukur dan bila mendapatkan ujian dalam hidup menjadikannya sebagai jalan untuk bersabar.

Namun bila pertimbangan yang diutamakan harta, wah… Semua harta pasti ada hitungannya kan? Bila kurang pandai memenejnya akan datang masa bangkrutnya. Bila didasarkan pada status sosial, itupun akan begitu mudah hilang dikala pribadi orang tersebut tidak baik. Apa lagi bila didasarkan pada indahnya paras, wah… lebih parah lagi, karena kulit kita akan kelihatan kenyal dan tidak berkeriput pasti ada masanya. Namun bila pilihan didasarkan pada akhlaq justru sebaliknya. Harta akan berdatangan karena sesungguhnya terbukanya harta akan beriringan dengan jujurnya seseorang. Status sosial pun akan mengiringi kita karena kejelasan sikap kita. Dan indahnya paras otomatis akan hadir karena baiknya akhlaq akan memancarkan kesejukan lahir maupun batin.

Subhanalloh…

Maka beruntunglah bagi mereka yang menjadikan agama sebagai pintu pertimbangan menancapkan kasih sayang dan rasa cinta dalam mengarungi bahtera rumah tangga. Karena dengan agama kita akan selalu terjaga dari segala masalah dan kesalahan.

Kedua, Menyamakan Tujuan

Sebenarnya apa sih tujuan kita berumah tangga? Mungkin pertanyaan ini akan menari-nari di hati maupun pikiran Sahabat Muslimah. Terlebih bila saat ada masalah maupun baru galau (bahas gaul).

Sebagian ummat ini mungkin salah dalam mancanangkan tujuan berumah tangga. Ada yang bertujuan sebatas sebagai penghalalan dalam menyalurkan syahwat, ada yang bertujuan karena ingin memperbanyak anak, ada yang membuktikan bahwa dirinya memang layak menjadi Imam dan ada pula yang bertujuan semata ingin merubah statusnya saja.

Sesungguhnya tujuan pernikahan yang tepat yaitu karena ingin mewujudkan sakinah, mawadah wa Rohmah dalam hidup ini. Adapun beberapa tujuan di atas hanyalah sebatas hikmah dibalik pernikahan itu sendiri.

 

مِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa sakinah adalah rasa condong terhadap pasangan yang menjadikannya tenang, mawaddah adalah rasa cinta sedangkan ar rahmah adalah kasih sayang. Jadi pengertian umum dari kalimat sakinah, mawadah wa rahmah adalah suasana yang muncul dalam keluarga yang dibuktikan hadirnya rasa damai, tenang dan tentram dalam cinta dengan penuh kasih sayang.

Subhanalloh…

Bila Sahabat Muslimah membayangkan bila ada sebuah keluarga yang memiliki ciri sebagaimana yang diungkapkan oleh Ibnu Katsir, kebayangkan… Bagaimana indahnya rumah tangga kita. Rasa dan suasana ini akan hadir bila Sahabat muslimah dengan sang pangeran satu arah, satu tujuan dan satu landasan dalam mengarungi rumah tangga. Ya… Haruslah satu arah semata ingin menyempurnakan ketaatan kepada Alloh, satu tujuan semata ingin menggapai ridhoNya dan satu landasan yaitu Al Qur’an dan sunnah sebagai pijakan dikala susah dan senang.

Ketiga, Pengertian dan Saling Melengkapi

Banyak dari kita yang memaknai saling pengertian berarti saling memahami pasangannya. Sesungguhnya ini baik tapi belum tentu benar. Yang dimaksud saling pengertian yaitu memiliki kesadaran saling membaca dan merasakan pasangannya sehingga tidak ada yang terjebak dalam dosa. Adapun saling melengkapi yaitu selalu siap siaga dalam keadaan apapun untuk selalu saling membantu dan memudahkan, bukannya saling menuntut atau mempersulit. Sebagaimana disaat seorang sahabat bertanya kepada Aisyah “Bagaimanakah akhlaq Rosululloh?” Aisyah pun menjawab “Rosululloh adalah laki-laki yang segera melipat lengan bajunya dikala berada dirumah”. Rosululloh melipat lengan bajunya bukan karena supaya kelihatan lebih maco dihadapan istrinya, namun itu dilakukan Rosululloh karena ingin membantu apa yang menyibukkan istrinya di rumah. Alloh telah berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ

“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan bebatuan” (QS. At Tahrim: 6)

Inilah sebenarnya tujuan utama kenapa pasangan suami istri harus saling pengertian dan saling melengkapi. Karena hakekatnya pasangan hidup haruslah saling tolong menolong bagaikan Ali Radhiyalloh dan istrinya yang bergiliran menjaga anaknya dikala sholat tahajud.

Keempat, Memahami Hak dan Kewajiban

Disinilah bila pasangan suami istri kurang memahaminya bisa menjadi pintu awal dari problema rumah tangga. Sesungguhnya atas wujud dhohir antara suami istri memiliki kesamaan atas hak dan kewajiban. Namun yang terjadi dalam kehidupan, seolah-olah yang menjadi objek atas tuntutan dalam hidup ini hanyalah wanita. Namun sesungguhnya itu salah besar. Seorang suami memiliki hak mendapatkan pelayanan sebaik-baiknya dari istri, pun demikian sebaliknya. Seorang suami memiliki hak menuntut istrinya untuk selalu terlihat cantik dihadapanya, sesungguhnya seorang istri pun memiliki hak untuk itu juga.

Namun yang membedakan antara suami dan istri adalah pada fungsi dan kedudukan. Secara agama fungsi suami atas istri sebagai pelengkap dalam urusan Addin, karena bagi wanita, pernikahan adalah setengah dari agamanya. Hal itu terjadi karena banyak urusan Addin yang tidak mungkin bisa dilakukan seorang muslimah sendirian. Secara kedudukan suami adalah sebagai pemimpin wanita, namun sesungguhnya keduanya memiliki keseimbangan hak dengan takaran kecerdasan yang menimbulkan sikap yang tepat dan nyaman (ma’ruf).

وَلَهُنَّ مِثْلُ الَّذِي عَلَيْهِنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلِلرِّجَالِ عَلَيْهِنَّ دَرَجَةٌ وَاللَّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. Akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

Imam ath-Thobari rahimahullahu ta’ala menyebutkan hal yang senada, bahkan beliau menjelaskan makna sebagian hak yang dimaksud dalam ayat tersebut dengan mengatakan: “Sebagian ahli tafsir yang lain mengatakan maknanya ialah mereka (para istri) memiliki hak atas berhiasnya suami sebagaimana para suami memiliki hak atas berhiasnya istri-istri mereka menurut selera pasangan masing-masing.”.

Oleh sebab itu Ibnu Abbas mengatakan, “Sungguh aku pun berhias untuk istriku sebagaimana ia berhias untukku, dan aku tidak suka menuntut seluruh hak-hakku dari istriku sehingga mengharuskan aku untuk memenuhi seluruh hak-haknya juga, yang demikian itu sebab Alloh subhanahu wata’ala berfirman… (kemudian beliau menyebutkan firmn Alloh di atas), maknanya berhias yang tidak sampai berbuat dosa.”

Kelima, Menjaga Kebersamaan

Disinilah yang akan menjadi hiasan keluarga bak surga dunia. Munculnya rasa saling keterikatan dan ketergantungan antar pasangan hidup. Saling terikat, karena apapun yang ia lakukan dalam urusan keduniaan selalu menggunakan pertimbangan ridhonAlloh sebagai pondasi dasar, namun itu semua dibungkus dengan hiasan apapun yang disenangi oleh pasangan hidupnya. Saling tergantung karena munculnya keterbukaan dan bagi tugas dalam urusan dunia.

Bayangkan seandainya hal ini kurang disadari, bila ada seorang suami memikirkan bawang merah kan nggak lucu…, atau sebaliknya seorang istri justru yang memikirkan urusan pekerjakan suaminya, kebayang bagaimana riweh nya kan… Maka keindahan dan kenyamanan bahtera rumah tangga ini terwujud karena minimnya potensi konflik yang ada karena tidak adanya tumbang tindih atas eksekutor segala keperluan hidup ini. Hal ini terwujud karena salingnya memahami.

Namun kebersamaan ini justru muncul dalam keindahan ubudiyah dan munajad. Inilah yang sering dilupakan pasangan suami istri saat ini. Dengan kebersamaan dan saling mengingatkan dalam urusan ubudiyah ini sebagai pijakan awal sebelum saling mengingatkan dalam urusan keduniaan. Bila saling kebersamaan dalam urusan ubudiyah bisa berjalan dengan baik, secara otomatis dalam urusan dunia akan melenggang tanpa hambatan dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

( رحم الله رجلاً قام من الليل فصلى وأيقظ امرأته فإن أبت نضح في وجهها الماء ، رحم الله امرأة قامت من الليل فصلت وأيقظت زوجها فإن أبى نضحت في وجهه الماء ) رواه أبو داود بإسناد صحيح

“Semoga Allah merahmati seorang suami yang bangun di malam hari, lalu ia shalat dan membangunkan isterinya. Jika isterinya tidak mau bangun ia percikkan air di wajahnya. Semoga Allah merahmati seorang isteri yang bangun di malam hari lalu shalat, dan membangunkan suaminya, jika tidak mau bangun ia percikkan air di wajahnya.” ( HR Abu Daud dengan sanad shahih.)

Subhanalloh…

Disaat hubungan suami istri dihadapan Alloh bisa dinikmati dengan kenyamanan dan kenikmatan, insyaAlloh barokah akan selalu menghiasi rumah tangga tersebut. Melimpahnya rezeki dan kenyamanan hidup insyaAlloh pun akan mengikutinya. Inilah sesungguhnya “SURGA DIPELUPUK MATA” [ukhwatuna/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/10/10/33324/voaislamic-parenting-28-5-langkah-keluarga-mencapai-surganya/

Menyamar Menjadi Reporter Bercadar di Australia; Penghinaan Terhadap Islam

Menyamar Menjadi Reporter Bercadar di Australia; Penghinaan Terhadap Islam

Ternyata Bentrok Antara Polisi dan FPI Sudah Disetting Oleh Pihak Polisi?

BOS TOKO Aman dan Banyak Benefitnya

Elit-Elit Syiah Libanon Serukan Persatuan Lawan Mujahidin JN

Serangan Koalisi 50 Negara Barat dan Arab Membuat Bersatunya JN – ISIS

Korban Tentara AS Pertama dalam Perang Koalisi Internasional Melawan Islamic State (ISIS)

MetroTV Menyebut Koalisi Merah Putih Sebagai Barang Haram dan Najis

Mega dan PDIP Takut Jokowi Dilengserkan Koalisi Merah Putih?

Eks Menteri Pertahanan AS: Butuh 30 Tahun Untuk Perangi Islamc State

Tentara India dan Pakistan Terlibat Baku Tembak, 9 Tewas

Jadi Tersangka, Sitok Srengenge Terancam 9 Tahun Penjara

Orang Tua Tahanan IS Rilis Foto dan Surat Peter ‘Abdul-Rahman’ Kassig Saat di Penahanan

Balas Serangan Koalisi AS di Irak dan Suriah, Mujahidin India Serukan Serang Orang Kafir

Romo Beny Susetyo Memutarkan Balikan Fakta, dan KMP Itu Penjahat?

6 Fraksi Setuju Lengserkan Ahok

Daulah Islamiyyah (ISIS) Laksanakan Penyembelihan Hewan Kurban Distribusikan ke Muslimin Mosul

Ahok : FPI Harus Dibubarkan, Bertindak Anarkis dan Organisasi Tidak Berizin

Daulah Islamiyyah (ISIS) Muncul di Libya

Bukan Haram Pemilihan Ketua MPR Dengan Cara Voting!!

Negara-negara Baru Bergabung Lancarkan Serangan Udara Bidik Islamic State (ISIS) di Irak

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/10/07/33261/menyamar-menjadi-reporter-bercadar-di-australia-penghinaan-terhadap-islam/

Voa-Islamic Parenting (27): Mukjizat Doa untuk Anak Agar Terlindung dari Setan

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Salah satu tradisi orang salih yang mulai banyak terlupakan, mendoakan perlindungan untuk anak, dari godaan setan dan gangguan jin. Berikut beberapa orang soleh yang disebutkan dalam dalil, yang berdoa kepada Allah, memohon perlindungan dari gangguan setan untuk anak keturunannya,

Pertama, Istri Imran (Neneknya Nabi Isa)

إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي مُحَرَّرًا فَتَقَبَّلْ مِنِّي إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ ( ) فَلَمَّا وَضَعَتْهَا قَالَتْ رَبِّ إِنِّي وَضَعْتُهَا أُنْثَى وَاللَّهُ أَعْلَمُ بِمَا وَضَعَتْ وَلَيْسَ الذَّكَرُ كَالْأُنْثَى وَإِنِّي سَمَّيْتُهَا مَرْيَمَ وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ

“(Ingatlah), ketika isteri ‘Imran berkata: “Ya Tuhanku, Sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). karena itu terimalah (nazar) itu dari padaku. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui”.”Tatkala isteri ‘Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: “Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamainya Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk., ” (QS. Ali Imran: 35 – 36)

Allah kabulkan doa wanita salihah ini, dan Allah memberikan perlindungan kepada keturunannya dari gangguan jin dan godaan setan. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ بَنِي آدَمَ مَوْلُودٌ إِلَّا يَمَسُّهُ الشَّيْطَانُ حِينَ يُولَدُ، فَيَسْتَهِلُّ صَارِخًا مِنْ مَسِّ الشَّيْطَانِ، غَيْرَ مَرْيَمَ وَابْنِهَا » ثُمَّ يَقُولُ أَبُو هُرَيْرَةَ: {وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ }

“Setiap anak manusia pasti diganggu setan ketika dia dilahirkan, sehingga dia teriak menangis, karena disentuh setan. Kecuali Maryam dan putranya.” Kemudian Abu Hurairah membaca surat Ali Imran: 36. (HR. Bukhari 3431).

Kedua, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam,

Dari Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memohonkan perlindungan untuk Hasan dan Husain, (beliau membaca)

أُعِيْذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّة

“Aku memohon perlindungan dengan kalimat Allah yang sempurna untuk kalian berdua, dari gangguan setan dan binatang berbisa, dan dari pandangan mata (ain) yang membuat sakit.” (HR. Bukhari 3371 Abu Daud 4737).

Ketiga, Nabi Ibrahim ‘alahis shalatu was salam

Dalam hadis Ibnu Abbas di atas, setelah Rasulullah mengajarkan doa tersebut, beliau bersabda,

كان أبوكم يعوذ بهما إسماعيل وإسحاق

“Ayah kalian (Ibrahim) memohon perlindungan untuk Ismail dan Ishaq dengan kalimat doa tersebut.” (HR. Abu Daud 4737). Dari Muhammad bin Ali dari ayahnya, bahwa Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam memohonkan perlindungan untuk Hasan dan Husain, beliau membaca,

أُعِيْذُكُمَا بِكَلِمَاتِ اللَّهِ التَّامَّةِ، مِنْ كُلِّ شَيْطَانٍ وَهَامَّةٍ، وَمِنْ كُلِّ عَيْنٍ لاَمَّة

“Aku memohon perlindungan dengan kalimat Allah yang sempurna untuk kalian berdua, dari gangguan setan dan binatang berbisa, dan dari pandangan mata (ain) yang membuat sakit.”

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

عَوِّذُوا بِهَا أَبْنَاءَكُمْ، فَإِنَّ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَامُ، كَانَ يُعَوِّذُ بِهَا ابْنَيْهِ إِسْمَاعِيلَ وَإِسْحَاقَ

”Jadikanlah kalimat ini untuk memohon perlindungan dari gangguan setan bagi anak kalian. Karena Ibrahim ‘alaihis salam, beliau memohon perlindungan untuk Ismail dan Ishaq dengan kalimat doa tersebut.” (HR. Abdur Razaq dalam Mushannaf, no. 7987).

Sebagai umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang baik, selayaknya kita perlu melestarikan kebiasaan tersebut.

Allahu a’lam

[ammiNB/muslimah/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/09/30/28017/voaislamic-parenting-27-mukjizat-doa-untuk-anak-agar-terlindung-dari-setan/

Karpet Merah di Surga Bagi Muslimah

Sahabat Muslimah VOA-Islam….

Tersentak hati ini saat membaca sebuah hadits yang menandaskan bila seorang muslimah mampu istiqomah mengamalkan empat hal, Alloh akan membebaskannya untuk masuk surga dari pintu mana saja yang ia sukai. 

“Apabila seorang wanita (istri) itu telah melakukan shalat lima waktu , puasa bulan Ramadhan, menjaga harga dirinya dan mentaati perintah suaminya, maka ia diundang di akhirat supaya masuk surga berdasarkan pintunya mana yang ia suka (sesuai pilihannya).”  (HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Thabrani)

Subhanalloh…

Empat hal ini bila menjadi kebiasaan seorang muslimah ternyata akan membangun karakter yang begitu indah, akhlaq mulia akan menjadi hiasan dirinya, tertatanya kehidupan dan manajemen waktu yang rapi mendampingi seluruh aktivitasnya serta kesehatan yang selalu prima menjadikan dirinya selalu energik dan semua itu terbungkus rapi berselimut ketaatan kepada Rob-nya. Tak terbayangkan bagaimana wujud dhohir bila muslimah benar-menar menjaga empat amalan tersebut dalam kehidupannya.

Pertama, Sholat Lima Waktu

Sholat menjadi syarat pertama sebagai gerbang demi mendapatkan kemudahan yang mulia ini. Kita telah memahami sholat merupakan tiang agama. Namun ummat ini jarang mengkaji sebenarnya apa sih efek positif yang menjadi target utama atas ibadah yang menduduki peringkat pertama dalam hisab akhirat ini?

إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنكَرِ

…Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar… (QS Al Ankabut:45)

Ternyata sholat sebenarnya erat hubungannya dengan emosi dan akhlaq. Siapa yang tidak melirik bila ada seorang muslimah yang begitu stabil emosinya dan tertata akhlaqnya. Apapun yang keluar dari lisannya merupakan untaian kalimat yang indah dan penuh makna dan ilmu. Apapun yang menjadi gerak langkahnya menimbulkan kebaikan dan tergambar jelas akan tujuan kebaikan. Itulah menjadi dampak positif akan sholat yang dilaksanakan dengan sepenuh hati. Itupun menjadi karakter yang selalu tercermin disaat sendirian maupun ada orang. Saat di dalam rumah maupun di luar rumah.

Astaghfirulloh…

Begitu banyak muslimah yang setiap pagi kurang stabil emosinya. Setiap pagi seolah-olah bak Tarzan teriak ini dsn itu karena kurang mampunya menguasai diri. Berapa banyak dari muslimah yang berubah drastis akhlaqnya saat di dalam dan di luar rumah? Danberapa banyak dari muslimah yang kurang tertata saat merangkai untaian kalimat?

Sahabat Muslimah VOA-Islam…

Seharusnya kita memaknai sholat lima waktu ini bukan sebatas melaksanakan rutinitas ubudiyah semata, namun seharusnya kita jadikan sholat sebagai penuntun bagi kita untuk menjaga agenda harian kita supaya tetap tertata dan kita jadikan sholat sebagai waktu refresing dan rikhlah untuk hati kita supaya hati ini tetap menjadi peka dan terasah bashirohnya.

Kedua, Puasa di bulan Ramadhan

Tidak ada yang meragukan akan kemuliaan bulan Ramadhan, pun demikian tidak ada pula yang meragukan akan kemuliaan bagi siapa yang mampu berpuasa dengan penuh di bulan Ramadhan. Tidakkah kita berfikir apa sih hikmah dari puasa Ramadhan?

Banyak yang menyebut bulan Ramadhan adalah bulan tarbiyah. Bulan dimana semua kebaikan dilipat gandakan, bulan dimana membaca Al Qur’an tanpa ada batasnya dan bulan dimana syaitan dibelenggu.

Namun pada kenyataannya sesungguhnya di bulan Ramadhan memang bulan ujian yang penuh godaan bagi kaum hawa. Seandainya sahabat muslimah tidak memiliki tujuan dan target yang kuat dalam menggapai kemuliaan di bulan Ramadhan, terbayangkan kan… Bagaimana tidak bermaknanya bulan yang penuh barokah itu. Hanya muslimah pilihan dan yang kuat azamnya saja yang mampu memanfaatkan dan mengoptimalkan ibadah di bulan yang penuh barokah. 

Sesungguhnya puasa Ramadhan bagi sahabat muslimah bagaikan maket sebagai alat ukur untuk mengetahui keteguhan hati atas godaan hidup dan sebagai ukuran bagaimana kemampuan bagi sahabat muslimah untuk memilih sesuatu yang terpenting bagi dirinya demi kedekatannya kepada Ilahi Rabbi.

Ketiga, Menjaga Dirinya 

Wanita memang makhluq yang teramat sangat yunix (unik). Saking yunixnya wanita, disaat kurang pandai menjaga diri berpuluh, beratus bahkan beribu masalah telah menghadang dihadapan mata. Wanita memang makhluq penghias dunia. Kita lihat saja. Dari wujud dhohir dan segala sesuatu yang memenuhi hajad wanita memenuhi dunia ini. Dari wujud dhohir dan segala pernik tentang wanita bila kita nilai dengan ukuran syari’at bisa kebayang, banyakkah yang akan menuju surga?

Apapun tentang wanita akan selalu menarik untuk dibahas. Dari pakaian, rambut, sepatu bahkan kancing baju saja menjadi menarik untuk dibahas bila di sangkutkan dengan wanita. Inilah yang menjadikan sahabat muslimah mendapatkan kedudukan sangat mulia dihadapan Alloh bila apapun yang ada pada dirinya menjadi menarik untuk diperhatikan secara syar’i.

Sesungguhnya muslimah yang pandai menjaga diri bukanlah muslimah yang polos dan apa adanya. Namun sesungguhnya muslimah yang pandai menjaga diri adalah muslimah yang selalu asik untuk memperhatikan segala pernik yang berhubungan dengan dirinya menggunakan kaca mata syari’at. 

Segala polah tingkah akan selalu diperhatikan. Dari tutur sapa, cara berjalan, bagaimana menggerakkan bahunya, bahkan kapan dirinya akan melirik kan matapun tidak luput dari perhatian. Apalagi masalah pakaian, bau badan dan kecantikan, tidak perlu dipertanyakan lagi.

Bukan hanya itu bagaimana seorang muslimah berhubungan dengan orang lainpun akan sangat selektif sekali. Dirinya tidak akan berbicara dengan sembarang orang, tidak akan keluar rumah tanpa ada pendampingnya. 

Subhanalloh…

Begitu mulianya akhlaq seorang muslimah yang pandai menjaga diri. Kebayang kan? Bagaimana wujud dhohir muslimah yang pandai menjaga diri. Sang suami ataupun walinya tidak akan ada rasa was-was maupun khawatir disaat meninggalkannya. Karena kepandaian dirinya akan menjaga kehormatan diri dan kemuliaan imannya tidak diragukan lagi.

Keempat, Mentaati Perintah Suaminya

Kita harus sadar sesadar sadarnya bahwa Alloh telah menciptakan kita dari tulang rusuk yang bengkok. Kita pun harus sadar sesadar sadarnya bahwa kita membutuhkan Imam untuk membimbing kita. Kita juga harus sadar sesadar sadarnya bahwa wanita membutuhkan waktu lebih lama untuk merasukkan ke hati saat mendapatkan nasehat. 

Sering kita bahas bagaimana dosanya seorang anak yang mengatakan ah kepada orang tuanya. Namun tidakkah kita pernah berfikir sesungguhnya ketaatan seorang wanita disaat sudah menikah adalah kepada suaminya. Tidakkah kita berfikir bagaimanakah hukumnya disaat ada istri mengatakan ah kepada suaminya?

Sering kita mengajak suami untuk memahami bagaimana perasaan orang tuanya, namun seringkah kita menjaga perasaan suami kita saat bertutur sapa maupun saat berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan ada sebagian pasangan suami istri yang menganggap bahwa suami istri itu haruslah mampu menghilangkan rasa malu dan sungkan diantara mereka.

Cinta dan saling terbuka bukan berarti menyibak aib, bukan pula menampakkan kekurangan dan bukan pula menganggap wajar keburukan akhlaq. Namun harusnya hadirnya cinta dan saling keterbukaan adalah sebagai gerbang untuk saling mengasihi dan saling memahami. Sebagai gerbang untuk saling menjaga dan melengkapi.

Maka seharusnya seorang istri haruslah mampu menjadi kaca spion bagi suaminya. Dia ikut ke manapun suaminya melangkah, dia setia menemani suaminya dengan selalu waspada dengan sudut pandang yang berbeda. Namun arah pandangan dan pola cerna tetap akan mengikuti sang Imam yang akan membawanya mengarungi bahtera rumah tangga.

Sehingga tidaklah mungkin muncul suatu kejadian maupun suatu akhlaq yang tercela keluar dari seorang istri sholihah. Saking indahnya akhlaq sahabat muslimah tergambar jelas sebagaimana yang disabdakan nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam.

“Maukah kalian aku beritahu tentang istri-istri kalian di dalam surga?” Mereka menjawab: “Tentu saja wahai Rasulullaah!” Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Wanita yang penyayang lagi subur. Apabila ia marah, atau diperlakukan buruk atau suaminya marah kepadanya, ia berkata: “Ini tanganku di atas tanganmu, mataku tidak akan bisa terpejam hingga engkau ridha.”

(HR. Ath Thabarani dalam Al Ausath dan Ash Shaghir. Lihat Ash Shahihah hadits no. 3380)

Subhanalloh…

Sahabat muslimah sangat memahami dan pandai betul memposisikan dirinya dalam rumah tangga. Dirinya bukanlah sebagai Imam, namun sebagai pendamping Imam yang akan selalu meberikan bisikan kepada imamnya dan banyak memberikan pertanyaan yang kritis bagaikan Aisyah saat mendengarkan penjelasan tentang telanjangnya orang saat dibangkitkan di mahsyar. Dirinya adalah sebagai pendamping Imam yang akan selalu menjadi penyejuk hati dan siap sedia memberikan kehangatan bak Khodijah memberikan pelukan hangat kepada baginda Rosul saat datangnya wahyu pertama.

Sahabat Muslimah…

Tergambarkan bagaimana sosok muslimah yang menjaga empat hal di atas. Dia akan memiliki karakter dan emosi yang terjaga, dia akan taha akan ujian kehidupan. Tidak ada satu kebutuhan pun atas dirinya yang terlewatkan dari perhatiannya. Dan dia pandai memposisikan diri dalam rumah tangga. Mungkin inilah bidadari dunia yang selalu menjaga diri dan keluarganya dari siksa api neraka.

Semoga kita semua senantiasa mendapatkan kemampuan dari Alloh untuk menjalankan keempat hal di atas. Dan semoga seluruh sahabat muslimah mendapatkan kemampuan dari Alloh untuk istiqomah memegang syari’at yang memuliakan kita ini. [ukhwatuna/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/10/03/33161/karpet-merah-di-surga-bagi-muslimah/