Ini 3 Profesi Wanita yang Tidak Akan Tersaingi Oleh Pria

Sahabat Muslimah Voa-Islam yang Shalihah…

Telah lahir banyak wanita ke dunia ini. Dari sekian banyak wanita, tidak sedikit dari mereka yang memiliki potensi yang begitu besar. Dari potensi yang besar tersebut menjadikan banyak wanita yang kurang memahami akan jatidirinya, lmenjadi upa daratan, sehingga menuntut persamaan gander. Hal ini terjadi karena bedanya persepsi akan kemuliaan seorang wanita dalam kehidupan.

Padahal sesungguhnya Alloh telah memposisikan wanita pada berbagai macam kedudukan yang begitu mulia. Dengan pintu-pintu inilah Alloh menghantarkan para wanita mendapatkan kemuliaan dan keberhasilan dunia akhirat. Dengan pintu-pintu inilah wanita akan mendapatkan kemuliaan bukan hanya dihadapan penduduk bumi, namun kemuliaan tersebut diakui seluruh penduduk langit dan bumi. Adapun profesi yang akan membawa keberhasilan yang sesungguhnya bagi wanita yaitu:

Pertama, Berprofesi Sebagai Hamba Alloh

Alloh telah berfirman di suroh Adz Dzariyat : 56

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS Adz Dzariyat: 56)

Sebagaimana fitrah manusia diciptakan oleh Alloh memiliki profesi pokok yaitu sebagai hambaNya. Alloh pun telah menyiapkan tugas dan aturan yang sangat menjaga muslimah saat berprofesi sebagai hambaNya ini. Dengan aturan ini pulalah yang akan menjadikan ciri dan karakter muslimah bak mutiara yang begitu menarik pandangan dan mengusik hati bagi siapa yang melihatnya.

Aabiidaat… Ya… Itulah sebutan bagi seorang muslimah yang ahli ibadah. Apapun dalam aktif kesehariannya selalu bernilai ibadah. Yang menjadi fokus amaliyah ya bukan hanya pada tataran wajib saja, namun pada muamalah yang bersifat sunnah pun tak luput dari perhatiannya.

Subhanalloh… Aabidaat… Memang benar akan meluluhkan apa saja yang menerpanya. Seluruh kesenangan dunia disulap tetap terlihat indah dengan kekuatan iman dan taqwa. Terjalnya jalan saat menapaki sulitnya berselimut ketaatan disulap dengan hiasan sabar dan qona’ah.

Kedua, Berprofesi Sebagai Istri

Setelah seorang wanita itu menikah, maka profesinya akan bertambah menjadi istri bagi suaminya. Maka dia harus bisa menjadikan dirinya menjadi istri yang didambakan oleh suaminya. Dalam sebuah hadits dijelaskan bahwa kebahagiaan anak Adam ada tiga, salah satunya yaitu saat memiliki istri sholihah. Dari hadits ini kita tahu bahwa istri sholihah adalah dambaan setiap suami yang sholih.

Kita harus berusaha mampu mewujudkan sebagai istri sholihah dengan memenuhi kewajiban-kewajiban dan menepati hak-hak yang harus diberikan kepada suaminya. Alloh telah menjelaskan dalam suroh Annisa’:34

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

…Sebab itu maka wanita yang sholihah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)… (QS An-Nisa: 34)

Dan Rosululloh Sholallohu Alaihi Wasallam juga telah memberikan penjelasan atas karakter istri sholihah dalam riwayat Baihaki.

قِيلَ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ النِّسَاءِ خَيْرٌ قَالَ الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

Dikatakan kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam; siapakah wanita yang paling baik? Beliau menjawab: Yang paling menyenangkannya jika dilihat suaminya, dan mentaatinya jika ia memerintahkannya dan tidak menyelisihinya dalam diri dan hartanya dengan apa yang dibenci suaminya. (HR. Baihaki)

Bahkan didalam sebuah riwayat dijelaskan disaat seorang muslimah menjaga harta suami dan menjaga harga dirinya saat ditinggal suaminya itu merupakan pahala jihad bagi dirinya.

Subhanalloh…

Begitu tingginya profesi istri dihadapan Alloh. Maka Istri yang profesional akan berusaha sempurna dalam setiap amalnya dan selalu mencari ridho dari suaminya.

Ketiga, Berprofesi Sebagai Ibu

Setelah terlahir dari rahimnya sebagai hasil dari buah cintanya, maka bertambah pula profesi sahabat muslimah sebagai ibu. Banyak dari ibu beranggapan bahwa seorang wanita bisa dikatakan ibu bila dirinya telah mampu melahirkan dari buah cintanya. Namun sesungguhnya anggapan itu merupakan paradigma yang kurang tepat. Seorang ibu hakekatnya seorang wanita yang mampu memberikan pendidikan untuk buah hatinya dan juga memberikan kasih sayang.

Karena seorang ibu harus menjadi pendidik pertama bagi buah hatinya, maka calon ibu harus mempersiapkan diri untuk memiliki kemampuan supaya bisa membimbing buah hatinya dengan alur pendidikan yang Islami.

Selain pendidikan seorang ibu haruslah memiliki kasih sayang sebagai jembatan penghubung antara hati dirinya dengan buah hatinya. Namun yang dimaksud dengan kasih sayang disini bukanlah fasilitas duniawi semata. Namun kasih sayang yang sesungguhnya yaitu menumbuhkan akan tujuan hidup yang sebenarnya. Apapun yang wujud dalam kehidupan ini haruslah ada tujuan yang jelas. Apapun yang wujud dihadapan mata haruslah memiliki target disaat kita membelinya. Sehingga buah hati yang dimiliki tumbuh menjadi pribadi yang selalu tepat dalam memutuskan apapun dalam kehidupannya. Tidak ada yang sia-sia atas apapun yang menjadi prioritas hidupnya.

Begitu banyak buku yang telah beredar yang membahas tentang dibalik sekian banyak ulama’ besar Disitulah ada seorang ibu yang luuuar biasa.

Sahabat Muslimah Voa-Islam yang Dimuliakan Allah SWT…

Subhanalloh… Sesungguhnya Alloh telah memberikan tiga profesi yang mulai ini bagi sahabat Muslimah. Marilah kita manfaatkan tiga profesi ini dengan rasa tanggung jawab yang besar dan memanfaatkan profesi ini sebagai pintu menuju Surga yang begitu nyata. [ukhwatuna/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/09/24/33032/ini-3-profesi-wanita-yang-tidak-akan-tersaingi-oleh-pria/

Zainab Al-Ghazali: Berjuang Mendirikan Negara Islam

Sore itu, pertengahan Februari 1964, hujan mengguyur Kairo. Sebuah kecelakaan lalu lintas menghantar Zainab Al-Ghazali, pemimpin Jamaah Muslimat, masuk Rumah Sakit Heliopolis. Ia mengalami gegar otak dan retak tulang paha. Operasi pembedahan tulang paha dilakukan di RS Madhar ‘Asyur, Kairo.

Kecelakaan itu ternyata memang disengaja untuk menyingkirkan Zainab, yang dilakukan pemerintahan Presiden Gamal Abdul Nasser – mobil yang dikendarainya ditabrak dari belakang hingga terguling. Pasalnya, organisasi yang dipimpinnya tidak disukai pemerintah. Terbukti, dengan adanya surat keputusan pembubaran Jamaah Muslimat yang sengaja dikirim kepada Zainab ketika masih dirawat di RS. Itu merupakan tindak lanjut larangan terbit majalah wanita Muslimat, yang dipimpin Zainab. “Secara pribadi, Nasser membenci Anda, Hajah! Ia tidak suka mendengar nama Anda disebut,” kata utusan Nasser saat menyampaikan surat itu.

Pemerintah berniat menggabungkan Jamaah Muslimat – yang berdiri sejak 1936, untuk menyebarkan dakwah Islam kembali kepada ajaran kitab Allah dan sunah Rasulullah – dengan Front Persatuan Sosialis. “Demi Allah, hal ini tidak mungkin saya lakukan. Allah akan melumpuhkan tangan saya kalau saya menandatangani pernyataan yang tidak bertanggung jawab ini. Dengan demikian, berarti saya mengakui pemerintahan tiran Nasser, yang telah membunuh Abdul Qadir Audah dan rekan-rekannya. Sungguh, orang yang telah membantai kaum muslimin adalah musuh Allah dan musuh kaum muslimin. Biarlah Nasser membubarkan Jamaah Muslimat, karena buat kami hal tersebut adalah jalan yang paling terhormat!”

Pendapat itu disampaikan Zainab pada rapat kilat Dewan Pimpinan Jamaah Muslimat pada 15 September 1964 guna membicarakan surat Nasser. Akhirnya rapat memutuskan menolak ajakan Nasser dan menolak menyerahkan kekayaan serta harta benda Jamaah tersebut kepada organisasi lain yang tidak sehaluan. “Pemerintah boleh menyita harta benda kami, tapi tidak bisa menyita akidah kami. Risalah kami adalah risalah dakwah dan risalah para dai. Kami berdiri di bawah naungan La ilaha illallah wahdahu la syarika lahu, Muhammadan abduhu wa Rasuluh. Keyakinan ini menunjukkan, tiada Tuhan selain Allah, yang patut kita perjuangkan terus-menerus hingga berdirinya negara dengan umat Islam yang sadar akan agamanya dan berhukum dengan syariatnya serta berjuang demi syiarnya,” kata Zainab.

Setelah ada penguatan dari dewan pengurus, Zainab mendapat bujuk rayu dari utusan Nasser. Bila Jamaah Muslimat dibubarkan, ia dijanjikan mengantungi izin terbit kembali majalah Muslimat dan akan diberi bantuan 300 pound tiap bulan dari pemerintah. Pemerintah juga menjanjikan pengembalian kantor pusat Jamaah Muslimat dan memberikan bantuan 20.000 pound setiap bulan, dengan syarat kantor itu menjadi cabang kantor Front Persatuan Sosialis.

Setelah bujuk rayu tidak mempan, beberapa intel pemerintah menyamar sebagai anggota Ikhwanul Muslimin (IM), bertandang ke rumah Zainab. Mereka menakut-nakuti Zainab dengan cara menceritakan tragedi 1954, saat Nasser membubarkan IM dengan paksa melalui penangkapan, penyiksaan, dan pembunuhan tokoh-tokoh IM. Namun, Zainab bergeming.

Bukan Ikhwan

Zainab memang tidak asing lagi dengan Jamaah IM. Hubungannya dengan Jamaah IM telah berlangsung sejak 1937. Sekitar enam bulan sesudah pembentukan Jamaah Muslimat, terjadi pertemuan antara Zainab dan Hasan Al-Banna, pendiri dan sekaligus pemimpin IM. Peristiwa ini terjadi setelah Zainab memberi ceramah di hadapan anggota Jamaah Muslimat di gedung Iikhwan di Al-Atabah. Saat itu, Al-Banna sedang merencanakan pembentukan Jamaah wanita. Ia menjelaskan pentingnya upaya mempersatukan barisan dan sikap kaum muslimin. Al-Banna menyarankan peleburan Jamaah Muslimat ke dalam Ikhwan bagian kewanitaan.

Saat itu Zainab tidak langsung mengamini. Setelah gagasan Al-Banna dibawa ke muktamar Jamaah Muslimat, ternyata para peserta muktamar menolak gagasan itu. Meski demikian, Zainab tetap berhubungan baik. Sehari setelah pemerintah membubarkan IM, Zainab malah berbaiat di hadapan Al-Banna. “Saksikanlah, saya berbaiat di hadapan Anda untuk berjuang mendirikan negara Islam. Persembahan yang hendak saya sampaikan demi tercapainya cita-cita-cita ini adalah darah saya serta reputasi Jamaah Muslimat,” ungkap Zainab di hadapan Al-Banna.

Setelah pemerintah sosialis Mesir membubarkan IM, Zainab meneruskan perjuangan dan cita-cita Al-Banna. Ia merasa risi mendengar pekikan para yatim yang ditinggal pergi bapak mereka akibat siksaan rezim Nasser, juga cucuran air mata para janda yang ditinggal mati suami. Korban keganasan terus bertambah. Orang kelaparan kian banyak. Beban hidup makin meningkat dan membuat sengsara banyak rakyat. Keruan saja, Zainab serta merta berkeinginan untuk memberikan sesuatu yang bisa mengurangi derita dan sengsara mereka. Lewat organisasi yang dipimpinnya, ia memberikan banyak sumbangan, baik moril maupun materiil.

Karena kegiatan dakwahnya makin meningkat, rumah dan perpustakaan Zainab menjadi sasaran empuk penguasa. Seluruh perbendaharaan buku yang berumur lebih dari seratus tahun dirampas, tanpa sisa.

Nikmatnya Penjara

Zainab ditangkap dan digiring ke penjara. Di tempat pengap inilah ia menyaksikan beberapa tokoh dan anggota IM digantung. Sebagian lagi dilepaskan. Sebagian lainnya masih berdiri dengan muka menghadap dinding menunggu giliran disiksa. Mereka para peserta Majelis Tafsir dan Hadis dalam pertemuan rutin di rumah Zainab. Salah seorang pemuda yang sedang diikat di palang kayu berteriak, “Ibu! Allah akan mempertebal ketabahanmu!”

“Anak-anakku, itulah baiat kita. Hai Bani Yasir, surga menantikan kalian,” sambut Zainab.

Para algojo itu kemudian mengayunkan tangannya dan menempeleng pipi dan telinga Zainab. Saat siksaan itu datang, ia mendengar suara, “Ya Allah, tabahkanlah hati mereka. Ya Allah, lindungilah mereka dari tangan-tangan para durjana! Ya Allah, kalau tidak karena Engkau, kami tidak akan memperoleh hidayah, tidak bersedekah, dan tidak menunaikan salat. Tabahkanlah hati kami dalam menghadapi ujian ini!”

Bunyi pecut terdengar sambut-menyambut, berlomba satu dengan lainnya. Namun, suara keimanan terdengar lebih kuat dan jelas. Sesaat kemudian terdengar suara, seolah-olah datang dari langit, “La ilaha illallah wahdahu la syarika lah.”

Lalu Zainab berteriak lagi, “Sabarlah, anak-anakku. Itulah baiat kita. Sabarlah, karena kalian akan mendapatkan surga!”

Zainab kemudian dimasukkan ke dalam sel nomor 24. Sel itu penuh anjing. Ia memejamkan mata dan menyilangkan kedua tangannya ke dada, karena merasa benar-benar takut.

Sementara itu terdengar pintu sel ditutup dengan rantai dan digembok. Anjing-anjing itu berebutan menerkam tubuh Zainab. Rasanya tidak ada bagian tubuh yang luput dari gigitan anjing. Sementara kedua tangan tetap dibenamkan ke bawah ketiak, Zainab menyibukkan diri dengan membaca Asmaul Husna.

Ia terus berdoa memohon pertolongan-Nya. “Sibukanlah aku, ya Allah, dengan Dikau dari yang lainnya. Ya Allah, yang Maha Esa, tempat orang mengadukan halnya, keluarkanlah aku dari dunia palsu ini. Keluarkanlah aku dari kesibukan palsu ini semua. Sibukanlah aku dengan Dikau, bawalah aku ke sisi-Mu, limpahkanlah aku dengan ketenangan-Mu, kenakanlah kepadaku busana kecintaan-Mu, anugerahkanlah kepadaku syahadat karena Engkau, cinta karena Engkau, dan rida dengan Engkau. Tabahkanlah, ya Allah, aku dan semua kaum muwahidin(umat yang bertauhid kepada Allah – Red.)!”

Zainab membayangkan bajunya yang putih sudah kuyup berlumuran darah. Tapi, alangkah kagetnya ketika mengetahui bajunya tetap utuh dan tubuhnya tidak koyak secuil pun. “Mahasuci Engkau, ya Allah! Ternyata Engkau senantiasa bersamaku. Ya Allah, apakah seorang macam aku ini layak memperoleh anugerah-Mu dan kehormatan sebesar itu? Ya Allah, kepada-Mu semua puja dan puji,” doa Zainab.

Kemudian, para algojo penjara menggiring Zainab menelusuri lorong-lorong panjang yang gelap dan pengap. Ia dijebloskan ke dalam sel nomor tiga. Di dalam sel ini, ia menyaksikan para pemuda IM disiksa dan berdoa meminta pertolongan Allah. “Kapan terakhir kau ke rumah Zainab?” bentak algojo itu sembari melecuti pemuda-pemuda itu di hadapan Zainab.

Kalau menjawab “Tidak ingat”, mereka dipecut lagi, kemudian diperintahkan untuk memaki-maki Zainab. Tapi, mereka tidak mau mengaku. Padahal Zainab berharap, mereka mengakui saja, supaya para algojo tidak meneruskan penyiksaan.

Semua itu mereka lakukan untuk menakut-nakuti Zainab. Tokoh Jamaah Muslimat ini pun kembali berdoa berkali-kali sembari mencucurkan air mata.

Tidak bisa diingat lagi berapa sering siksaan bertubi-tubi terhadap Zainab. Dan setiap kali itu terjadi, doa selalu ia panjatkan. Tiba-tiba Zainab tertidur dan bermimpi berjumpa Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam. Dalam mimpi ia berada di padang pasir yang amat luas. Ia melihat barisan unta sedang berjalan. Pada salah satu punuk unta duduk seorang laki-laki yang wajahnya memancarkan cahaya terang. “Mungkinkah orang ini Nabi MuhammadShallallahu ‘alaihi wasallam?”

Tiba-tiba Zainab merasa seolah-olah laki-laki itu menjawab dan terus menegaskan bahwa dirinya adalah Rasulullah, “Engkau, Zainab, mengikuti jejak Rasulullah, hamba Allah dan rasul-Nya.” Zainab juga sempat dipanggil Rasulullah dalam mimpinya itu dengan panggilan nama kecilnya, “Zainab”.

Saat terbangun dari tidurnya ia merasa seolah-olah memiliki segalanya. Dan yang amat mengagumkan, ia tidak lagi merasakan pilu melihat dan mendengar rintihan para pemuda yang tengah disiksa, yang sengaja dipertontonkan kepadanya.

Tiba-tiba datang seseorang yang mengaku utusan Presiden Nasser. “Perkenankanlah saya dari Kantor Presiden Republik Mesir berusaha  menemukan kata sepakat dengan Ibu Zainab. Semua orang senang pada Ibu. Kami pun juga. Demi Allah, jika kita bersepakat, hari ini juga akan kami keluarkan Ibu dari penjara ini. Bahkan Ibu segera diangkat menjadi menteri sosial.”

“Apakah Hikmat Abu Zaid sebelum jadi menteri sosial juga Tuan pecuti terlebih dahulu dan Tuan masukkan sekamar dengan anjing-anjing?” tanya Zainab sambil menyebut menteri sosial di era Nasser yang tengah jaya itu.

“Sudahlah, yang sudah ya sudahlah. Penempatan Ibu dalam penjara benar-benar mengecewakan kami,” bujuk utusan Presiden Mesir itu.

“Apa yang kalian inginkan dari saya?” kata Zainab.

“Ikhwanul Muslimin telah menimpakan semua kesalahan kepada Ibu. Baik Hasan Al-Hudhaibi, Abdul Fattah Ismail, maupun Sayid Qutb (tokoh-tokoh IM),mengakui segala-galanya. Namun, kami curiga. Mereka tampaknya cuci tangan semata untuk menyelamatkan diri masing-masing dan melempar semua tanggung jawab ke pundak Ibu,” bujuk si utusan Mesir sambil berusaha mengadu domba.

Lagi-lagi, Zainab tidak mengakui akan mendirikan negara Islam dan tidak mau membubarkan serta bergabung dengan Front Persatuan Sosialis. “Sudah saya katakan, saya tidak ingin menjadi menteri, bahkan tidak pernah membayangkan jadi menteri. Tentang Jamaah Muslimat dan majalahnya, saya serahkan kepada Allah, karena itu milik-Nya.”

“Tapi, kenapa Anda berusaha  membangkitkan kembali Ikhwanul Muslimin? Kenapa?” gertak utusan Presiden Mesir itu.

“Paham kita berbeda secara mendasar. Abdel Nasser mengira telah berhasil membubarkan dan merampas harta benda Jamaah Muslimat. Sedang seluruh kaum muslimin berkeyakinan, panji-panji perjuangan mereka ada di tangan Allah. Dan, apa yang mereka yakini itu tidak mungkin bisa dibubarkan oleh manusia,” kata Zainab tandas.

“Ikhwanul Muslimin sama saja dengan Jamaah Muslimat. Ia tidak bisa bubar, dan dakwah Allah berjalan terus di jalan-Nya. Kedaulatan Nasser bisa lenyap, namun kalimat Allah akan tetap abadi. Apabila kematian telah tiba kelak, kita akan dihadapkan ke muka pengadilan Allah. Pada saat itulah orang-orang zalim akan sadar ke tempat mana mereka akan kembali. Agama Allah akan selalu tetap tegak, dan pada setiap waktu akan tampil generasi yang tegak pula mempertahankan kebenaran, membela agama Allah dan di jalan Allah.”

Maka, kembalilah pukulan dan siksaan dialami Zainab. Tapi, ia tidak menoleh kepada mereka. Ia menyibukkan diri dengan memperbanyak menyebut nama Allah. Bujuk rayu dan siksaan terus berganti, karena Zainab tidak mengakui akan mendirikan negara Islam dan membubarkan Jamaah Muslimat.

Setelah siksaan bermacam-macam tidak mempan, Zainab dihadapkan kepada Nasser. Ia melihat, Nasser menyandarkan badannya pada Abdel Hakim Amer, tangan kanan Nasser, sambil mengenakan kacamata hitam.

Nasser memberikan segelas air jeruk kepada Zainab. Zainab merasa ada sesuatu yang penting yang bakal terjadi.

Tiba-tiba, seorang bernama Syamsu Badran – seorang intel yang sangat kejam, kepercayaan Nasser – berucap dengan pongahnya, “Hai, Zainab, aku harap kau menjawab pertanyaanku dengan jujur. Seandainya Ikhwanul Muslimin berhasil duduk dalam pemerintahan, lalu kami ini dihadapkan pada kalian, tindakan apakah yang akan kalian ambil terhadap kami?”

“Tidak ada niatan kami untuk menduduki kursi pemerintahan. Kami penyandang panji  La ilaha illallah,” ungkap Zainab, lantang.

“Gantung dan siksa dia. Kami inginkan dia tetap hidup untuk diseret ke pengadilan, agar bisa ditonton serta dijadikan pelajaran oleh setiap rakyat negeri ini,” teriak Syamsu kepada para algojo.

Akibat siksaan yang begitu kejam, Zainab berkali-kali tidak sadarkan diri dan dirawat di rumah sakit. Setelah sembuh, ia dijebloskan kembali ke dalam penjara dan disiksa secara kejam agar mengakui segala perbuatannya.

Hari sidang pengadilan tiba. Pemerintah sengaja menyediakan pembela untuk Zainab dari pengacara Kristen, yang tidak sehaluan. Menjelang pengadilan, kembali Zainab mendapat teror. “Yang penting kamu tidak membantah apa pun yang tercantum dalam berita acara. Kalau kamu mengajukan permohonan ampun kepada pengadilan dengan alasan Al-Ikhwan telah mengecoh kamu dan menyatakan pula penyesalanmu atas segala perbuatanmu, pengadilan akan mengurangi hukumanmu…”

 

Pengadilan Sandiwara

Sehari menjelang pengadilannya, Zainab tidur dan bermimpi. Dalam mimpi, ia berdiri menghadap dinding. Tiba-tiba dinding penyekat itu lenyap. Lalu ia berdiri di tengah padang pasir luas, seluas bumi. Dari tempat itu, memancarlah cahaya menyinari segenap penjuru bumi. Ia kembali melihat Rasulullah berdiri di hadapannya yang menghadapkan mukanya ke kiblat.

“Dengarkanlah suara kebenaran itu, Zainab?” ucap Rasulullah.

Dari kejauhan terdengarlah suara lantang yang menembus langit dan bumi, “Kalian akan saksikan pagelaran pengadilan kebatilan yang berpedoman pada hukum amburadul. Kalian, para penyandang amanat dan pelopor kebenaran, akan mereka jatuhi hukuman yang zalim dan sewenang-wenang!”

Setelah suara itu lenyap, Zainab menoleh kepada Rasulullah. Rasul menunjuk ke sebelah kanan Zainab dan bersabda, “Dakilah gunung itu, Zainab. Di puncaknya kau akan jumpai Hasan Al-Hudhaibi. Sampaikanlah kata-kata itu kepadanya!”

Singkat cerita, setelah bermimpi dan berdialog panjang lebar dengan Rasulullah, Zainab kembali tenang dan berhasil menghalau rasa sakit serta duka yang amat pedih itu.

Tanggal 17 Mei 1966, Zainab diangkut ke pengadilan dan dimasukkan ke dalam kurungan besi. Pengadilan sandiwara itu pun digelar. Setelah melalui pengadilan yang alot, ia divonis dengan hukuman seumur hidup dengan kerja paksa, dan semua barang bukti dinyatakan disita untuk negara. “Seumur hidup dengan kerja paksa, demi negara Islam yang berhukum Al-Quran dan As-Sunah, insya Allah,” ungkap Zainab menerima hukuman itu.

Lima hari setelah jatuhnya keputusan pengadilan itu, tiba-tiba datanglah Sayid Qutb, salah seorang pemimpin IM, dai, dan ahli tafsir Al-Quran ternama di Mesir, yang hendak dihukum mati. Ia berharap, Zainab, yang masih dalam terali besi yang sempit itu, bisa menerima kenyataan yang bakal terjadi dengan tabah. Zainab pun gembira menerima motivasi dari Qutb.

Beberapa hari kemudian Zainab mendengar kabar, para pemimpin IM telah dihukum mati. Seiring dengan itu, ia mendengar kabar pula, suami Zainab meninggal dunia.

Setelah cukup lama di penjara militer, Zainab dipindahkan ke penjara Al-Qanathir, sebuah penjara sipil. Meski di penjara ini tanpa ada pecut dan cambuk, ia tetap merasakan siksaan batin yang luar biasa. Ia menyaksikan para perempuan bekas pelacur, pencuri, yang diperlakukan seperti binatang.

Di penjara ini pula, Zainab akhirnya mendengar berita kematian Nasser, berpindah dari mulut ke mulut disertai tangisan dan jeritan. Tapi, ia sendiri tidak menangis dan menjerit atas kematian “pahlawan segala pahlawan” bagi rakyat Mesir itu.

Sehari setelah kematian Nasser, seorang sipir membuka pintu sel Zainab dan memukul kepala Zainab. Esok harinya, pada 9 Agustus 1971, pagi-pagi benar seorang sipir berlari-lari mendatangi sel Zainab dan minta agar Zainab segera menghadap kepala penjara di kantornya. Ternyata, tanpa diduga, ia dikejutkan dengan berita keputusan pembebasan dirinya.

Ia duduk seorang diri di kantor itu, menantikan penyelesaian surat-suratnya. Hatinya seraya disayat-sayat dan air mata terus mengalir dengan derasnya ketika ia  melangkahkan kaki ke luar dari penjara.

Ternyata, mobil yang mengantarkan Zainab dibelokkan ke kantor dinas intelejen. Ia dimasukkan ke dalam sebuah kamar dari pukul 12 siang hingga sembilan malam. Setelah itu, ia diinterogasi.

“Apakah Anda akan kembali mengunjungi orang-orang Al-Ikhwan?” gertak seorang perwira intelejen.

Seorang perwira intelejen kemudian bicara panjang lebar yang intinya meminta Zainab tidak lagi berhubungan dan saling kunjung sesama Al-Ikhwan. “Apa yang kalian bicarakan kepada saya, saya tolak. Tolong saya kembalikan lagi ke penjara Al-Qanathir!” ucap Zainab.

“Baiklah, Hajah, saya ucapkan selamat kepada Anda. Anda bebas berdakwah dan menyusun organisasi bersenjata Al-Ikhwan,” ungkap perwira intelejen itu.

“Organisasi bersenjata adalah skenario yang kalian susun sendiri untuk lakon kalian. Sebenarnya sarana untuk mendirikan negara Islam adalah berdakwah, seperti yang dicontohkan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam dan sahabatnya. Itulah risalah dan misi semua kaum muslimin, baik Ikhwanul Muslimin maupun bukan,” ujar Zainab.

Wanita yang tegar ini pulang ke rumah pada pukul tiga dini hari, 10 Agustus 1971. Dan bersama kaum muslimin ia kembali berdakwah guna menegakkan amar makruf nahi munkar, sesuai yang diamanatkan Allah dan Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam. (may/voa-islam.com)

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/09/23/33025/zainab-alghazali-berjuang-mendirikan-negara-islam/

Voa-Islamic Parenting (25): Ketika Daycare Tak Mampu Mencetak Imam Syafi’I

Oleh Anastasia, Alumni Pendidikan Bahasa Jerman UPI Bandung

Sahabat Voa-islam,

Walaupun kisah pilu kekersaan yang terjadi di Baby Day Care Pertamina tela berlalu namun kasus tersebut terkuak menjadi pelajaran berharga seumur hidup bagi kaum ibu sekedar mengingatkan kasus ini bermula saat seorang balita yang berusia 14 bulan berinisial RAN diduga menjadi korban penganiayaan babysitter di Baby Daycare Highreach. Lisa, ibu RAN, melaporkan kasus tersebut ke Polres Metro Jakarta Pusat pada Senin lalu (2/9).

Lisa menjelaskan, dirinya menitipkan anak di Baby Daycare Highreach sejak Januari 2014. Namun, pada Jumat lalu (29/8), dia curiga karena melihat lebam yang tidak wajar di bagian pipi anaknya. Melalui salinan video rekaman closed circuit television (CCTV), Lisa akhirnya dapat melihat kekerasan yang dilakukan terhadap anaknya.

Tak bisa dipungkiri bisnis baby daycare menjamur di perkotaan sering banyaknya kaum ibu yang memilih untuk berkerja, kiranya  hal tersebut yang menjadi permasalahan akar mengapa kasus kekerasan di baby daycare bisa terjadi, seandainya para ibu sadar bahwa tugas utama seorang ibu adalah merawat, membesarkan dan pendidik anak mungkin rentetan kasus serupa bisa dicegah.

Ibu, Aristek Perdaban

Tepat jika Islam mengatakan surga ada dibawah telapak kaki ibu, karena memang jasa ibu sangat luar biasa, perkara membesarkan dan pendidik anak bukanlah hal mudah, kesadaraan akan perintah Allah menjadi point penting dalam hal ini, kenapa Allah memerintahkan pengasuhan dan pendidikan anak menjadi uruasan kaum ibu, karena Allah telah menciptakan fitrahnya seorang perempuan memiliki jiwa  pendidik, lemah lembut  dan mengkasihi, maka dari itu ibu akan lebih banyak mengoptimalkan perannya sebagai pendidik generasi yang mampu menghasilkan generasi cemerlang, dalam sejarah barat terbukti ketika seorang ibu mendidik anaknya di rumah dengan sepenuh hati  seperti Thomas Alva Edison penemu dari Amerika dan merupakan satu dari penemu terbesar sepanjang sejarah. Edison mulai bekerja pada usia yang sangat muda dan terus bekerja hingga akhir hayatnya. Dimasa kecilnya, Edison hanya bersekolah di sekolah yang resmi selama tiga bulan, karena divonis “bodoh” namun sang ibu tidak percaya selanjutnya semua pendidikannya diperoleh dari ibunya yang mengajar Edison di rumah. Ibu Edison mengajarkan Edison cara membaca, menulis, dan matematika. Dia juga sering memberi dan membacakan buku-buku bagi Edison, antara lain buku-buku yang berasal dari penulis seperti Edward Gibbon, William Shakespeare dan Charles Dickens. Memang dasyatnya kekuatan seorang ibu.  Bagaimana dengan islam siapa yang tak kenal Imam Syafi’I, bagaimana peran perempuan di belakang penguasaan Imam Syafi‘i terhadap fiqh. Ibu Imam Syafi’i adalah seorang wanita cerdas tinggi tapi miskin. Namun bisa dikatakan kesetiaannya berada di belakang sang anaklah yang menjadikan Imam Syafi’i menjadi ilmuwan sejati hingga saat ini. Sekalipun hidup dalam sebatang kara, hal itu tidak menghalangi sang ibu untuk menempatkan anaknya dalam kultur pendidikan agama yang terbaik di Mekkah.

Sang ibu sadar, ia tidak memiliki banyak uang, namun kecintaananya terhadap Allah dan buah hatinya, sang ibu berjuang meluluhkan hati sang guru untuk rela mengajar Imam Syafi’i meski tanpa bayaran. Hingga akhir ilmu beliau hidup sampai detik ini. Sadarlah kaum perempuan sesungguh kalianlah arsitek perdaban dunia ini, tentu tidak mungkin sosok iman Syafi’i  dan Thomas Alva Edison lahir dari rahim daycare atau dari dan para ibu yang lebih memilih bekerja di luar rumah.

Wallahu’Alam

 

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/09/21/32949/voaislamic-parenting-25-ketika-daycare-tak-mampu-mencetak-imam-syafii/

Buanglah Mantan Pada Tempatnya

Selesaikan dulu kisahmu dengan si dia sebelum engkau memulai kisah baru dengan yang lain. Karena kisah yang belum terselesaikan di masa lalu, rentan hadir untuk mengusik dan menjadi duri dalam daging bagi kisahmu yang terkini.

Sahabat Mulimah Voa-Islam yang shalihah…

Tiap manusia pasti memunyai masa lalu. Karena masa lalu inilah yang membentuk dirinya di masa kini. Yang membedakan satu pribadi dengan pribadi lainnya dengan masa lalunya ini adalah penyikapan. Ada yang terjebak di masa lalu dan enggan untuk keluar. Dia menjadikan masa lalu sebagai hal penting untuk dibawa ke masa depan. Apalagi bila masa lalunya ini belum tuntas alias masih bermasalah.

Dalam rumah tangga, masa lalu ini bisa berupa apa saja. Tapi yang paling rentan adalah si mantan. Entah mantan suami/istri, bisa jadi mantan pacar, atau bahkan mantan calon suami. Maksudnya masih dalam taaruf tapi tak bisa lanjut hingga ke pelaminan. Bila tak bijak menyikap masalah yang muncul di masa lalu dengan si mantan, bukan tak mungkin masalah ini menjadi ‘laten’ atau semisal duri dalam daging dalam rumah tangga seseorang.

Selesaikan dahulu apa pun itu yang masih mengganjal dengan si mantan. Jangan mencari pelarian tatkala hati masih rapuh. Satu-satunya obat yang bisa diandalkan dalam kondisi begini adalah dengan banyak dzikrullah, semakin mendekatkan diri pada Allah.

Selesaikan dahulu apa pun itu yang masih mengganjal dengan si mantan. Jangan mencari pelarian tatkala hati masih rapuh. Satu-satunya obat yang bisa diandalkan dalam kondisi begini adalah dengan banyak dzikrullah, semakin mendekatkan diri pada Allah. Insya Allah bila langkah ini yang diambil, maka masalah apa pun itu bentuknya bisa dituntaskan hingga ke akar. Sehingga saat kaki ingin melangkah membuka lembar baru maka bayang-bayang masa lalu itu sudah tak lagi mengganggu.

Sayangnya, tak semua menjadikan Allah sebagai muara pencarian jawaban. Tak sedikit yang menjadikan masalah dengan si mantan dengan mencari penggantinya secepat yang ia bisa. Bagi laki-laki dia akan segera mencari perempuan pengganti. Bahkan tak tanggung-tanggung, langsung dilamarnya perempuan pertama yang ia kenal dan mau dengan dirinya. Sakit hatinya dilarikan pada sosok baru yang tak tahu apa-apa tentang masa lalunya.

Begitu juga dengan perempuan. Ia akan berusaha mencari pengganti laki-laki yang telah menyakiti hatinya. Dia terima saja siapa pun yang datang sekadar menunjukkan bahwa ia pun masih bisa dicintai oleh laki-laki lain. Ketika niat awal sudah salah, maka yakinlah langkah kaki juga tak bisa terarah. Diperparah dengan permasalahan yang masih menggantung di masa lalu, seolah menumpuki secarik kertas dengan tulisan yang baru padahal yang lama belum sepenuhnya dihapus dengan bersih. Tumpang tindih.

Suami masih sering melamunkan mantan. Begitu sebaliknya, si istri pun masih sering merindukan seseorang yang tak lagi halal buatnya. Suami istri hanya status saja ketika jiwa masing-masing pelakunya tak lagi berjalan bersama. Satu sama lain terjebak dalam kerangkeng yang sama bernama masa lalu.

Bilapun salah satu pihak saja yang tergilas oleh kenangan, maka tentu saja pasangannya menjadi pihak yang dizolimi. Dan sungguh, bukan seperti ini pernikahan yang diharapkan tercapainya sakinah dalam berumah tangga.

Jadi apapun itu masalahnya dengan si mantan, usahakan sudah tuntas sebelum kaki mulai melangkah. Andai pun karena satu dan lain hal memang kondisi tak bisa diselesaikan dengan baik-baik, maka yakinilah bahwa semua itu memang yang terbaik. Tak pernah Allah salah meletakkan satu kejadian. Tinggal manusianya bisa atau tidak mengambil hikmah dari tiap peristiwa yang terjadi untuk dijadikan pelajaran.

Bagi kamu para istri, perasaan mellow itu jangan dimanja. Si mantan tidak layak lagi dihadirkan saat sudah ada imam yang siap menggenggam masa depan. Syukurilah yang ada saat ini karena sesungguhnya di luar sana banyak perempuan yang menginginkan tempat dimana kamu berasa sekarang.

Bagi kamu para suami, buang masa lalumu di tempat semestinya. Masa lalu tempatnya ya di belakang. Berjalan itu menatap lurus ke depan bersama dengan pasangan yang saat ini setia mendampingi. Apalagi bila ada si buah hati. Ia tak berhak mendapati ayahnya membagi hati dengan mantan yang sejatinya cuma kenangan. Karena hati adalah milik Allah, maka kembalikan ia padaNya. Mendekatlah pada-Nya, minta untuk diteguhkan dengan pasangan halal yang sekarang.

Bagi kamu para istri, perasaan mellow itu jangan dimanja. Si mantan tidak layak lagi dihadirkan saat sudah ada imam yang siap menggenggam masa depan. Syukurilah yang ada saat ini karena sesungguhnya di luar sana banyak perempuan yang menginginkan tempat dimana kamu berasa sekarang. Hadirkan dzikrullah ketika ketukan kenangan dari masa lalu itu hadir. Tutup semua pintunya rapat-rapat. Fokuskan diri pada sosok yang saat ini halal menemani hingga kalian bersama menua nanti, insya Allah.

[riafariana/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/09/20/32954/buanglah-mantan-pada-tempatnya/

Karena Berniqab, Kami Di Ancam ‘DO’ Dari Kampus

Bismillaahirrahmaanirrahiim,

Saat ini saya sudah memakai niqab sejak awal memasuki semester 5 bersamaan dengan beberapa teman dekat saya. Saya hanya akhwat biasa sama seperti teman-teman yang lain, saya dan ketiga teman saya yang telah berniqab lainnya sebelumnya juga pernah menaungi beberapa organisasi seperti BEMF dan LDF.

Ya, kami hanya akhwat biasa seperti teman-teman mahasiswi lainnya. Kami sudah sebulan memakai niqab dengan tujuan untuk mengikuti perintah Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 59 dan sunnah Rasulullaah yang telah mewajibkan para muslimah untuk menutupi aurat dan perhiasannya dengan pakaian takwa keseluruh tubuh. Ya, tidak ada tujuan lain selain tujuan yang ingin membuktikan cinta kami kepada Allah SWT dan Rasul-Nya dan AlhamduliLlaah Allah telah menyegerakan niat kami untuk segera berhijrah dengan memakai pakaian takwa yang merupakan “sebaik-baik pakaian”.

Ya, tidak ada tujuan lain selain tujuan yang ingin membuktikan cinta kami kepada Allah SWT dan Rasul-Nya dan AlhamduliLlaah Allah telah menyegerakan niat kami untuk segera berhijrah dengan memakai pakaian takwa yang merupakan “sebaik-baik pakaian”.

Ternyata setelah kami mengenakan niqab dan mulai memberanikan diri untuk berusaha istiqamah memakai niqab baik di luar rumah dan di kampus ternyata usaha melaksanakan perintah Allah itu tidak mudah.

Sebelum memutuskan untuk menggunakan niqab pun kami sudah memikirkan beberapa tantangan-tantangan yang akan menghadang perjalanan kami seiring usaha kami untuk istiqamah dengan “Niqab”.

Kami mendengar beberapa isu mengenai tanggapan masyarakat kampus mengenai keberadaan kami yang kini telah berpenampilan berbeda dengan mahasiswi lainnya, tapi sayangnya kami tidak mendengar isu-isu tersebut secara langsung dari orang-orang yang tidak menyukai kami (tabbayun). Diantaranya kami diisukan sebagai jama’ah aliran sesat, pengikut organisasi ISIS, dan ancaman untuk di DROP OUT (DO) dari kampus serta berbagai isu dan fitnah lainnya yang setiap hari tak hentinya selalu kami dengar perkembangannya.

Sekitar satu minggu setelah keberadaan kami dan niqab kami yang telah menyebar hingga ke kampus Unsri Palembang, ternyata juga terdengar oleh telinga dosen dan para petinggi di Dekanat serta Rektorat.

Dan tanpa sepengetahuan kami mereka telah mengadakan forum dengan BEMF, LDF, dan dengan pejabat Dekanat dan Mahasiswa untuk membahas masalah keberadaan kami yang telah diisukan dengan banyak fitnah.

Isu-isu mengenai ancaman DROP OUT pun sudah banyak diketahui oleh mahasiswa lainnya di kampus, dan hal tersebut tentu membuat bathin kami merasa tertekan. Namun, sudah sunnatuLlaah untuk memperjuangkan Dien-Nya memang tidak semudah apa yang kita bayangkan apalagi dalam kondisi
tinggal di negara sekuler.

Bahkan bukan hanya itu saja, di dalam kelas ada dosen yang dengan santainya mengolok-olok kami dan ayat-ayat Al-Qur’an semakin membuat hati ini semakin sakit. Padahal dosen-dosen yang lainnya tidak merasa terganggu dalam kegiatan belajar dan mengajar bersama kami, karena tujuan kami tetap sama seperti mahasiswa yang lainnya, yaitu menuntut ilmu. Kami tidak pernah membuat keributan apalagi membuat kerusakan pun dengan teman-teman kami di kelas begitu “welcome” dengan penampilan kami.

Sekitar dua minggu kami masih dengan niqab kami, pada hari kamis (saya lupa tanggalnya) di FKIP terjadi aksi “TOLAK RADIKALISASI ISIS pemecah belah NKRI” yang dipimpin langsung oleh Gubernur Mahasiswa FKIP bersama dengan anggota LDF dan BEMF yang berjumlah 18 orang laki-laki, aksi tersebut dilaksanakan tepatnya di depan Mushalah FKIP. Sungguh sangat terkesan “mendadak” karena ternyata hal tersebut juga sudah disetujui oleh pihak Dekanat, dan anehnya aksi tersebut dilakukan hanya di FKIP, tidak dilakukan di fakultas yang lainnya yang semakin menyudutkan keberadaan kami dengan niqab yang kami pakai.

Saya pribadi sangat menunggu-nunggu agar sekiranya pihak dekanat segera memanggil dan menanyakan kami tetapi sampai saya menulis cerita ini saya dan teman-teman lainnya belum juga mendapatkan panggilan dari dekan.

Cobaan yang kami alami bukan hanya sampai di situ, saya pernah mendengar isu mengenai ada salah satu orang tua di antara kami yang berniqab yang di datangi dan telah diberitahukan mengenai perbuatan kami yang mereka pikir telah menyimpang. Karena daerah asal saya berada di kota yang lebih jauh dari dua teman saya yang lainnya yang tinggal di Palembang bersama keluarga mereka, rasanya sangat tidak mungkin, jika orang tua saya tersebut yang di datangi secara langsung karena mngingat jarak dari Indralaya ke kota saya sekitar 5 jam perjalanan, jika memang pihak kampus atau pihak yang memusuhi kami ingin melaporkan hal tersebut kepada orang tua pasti orang tua teman saya yang tinggal di Palembang itulah yang lebih dulu.

Awalnya kami berjumlah empat orang. Namun, salah satu teman saya telah membuka niqabnya karena merasa belum sanggup untuk diterpa badai seperti yang saya sendiri alami hingga di saat saya menulis tulisan ini. Coba pembaca analisis dari kejadian teman saya yang melepas niqabnya tersebut padahal sebelumnya dia juga diisukan sebagai anggota ISIS, namun setelah ia membuka niqabnya isu tersebut tidak lagi menerpa dirinya jadi kesimpulannya masalah ini bukan terletak dengan tuduhan keterkaitan kami terhadap ISIS, namun yang jadi masalah adalah NIQAB!!!

Pembaca yang beriman, saya sendiri mengalami berbagai tekanan yang lebih besar daripada hanya sekedar olok-olokan atau ancaman DROP OUT dari kampus, tetapi yang sangat menyiksa bathin saya adalah ancaman dari orang tua dan keluarga saya sendiri. Jujur, memang saya sebelumnya belum mengatakan kepada orang tua saya untuk meminta izin memakai niqab, namun saya pribadi telah membicarakan perihal keinginan saya untuk memakai niqab, namun belum disetujui, tapi sebenarnya saya memang akan membicarakan mengenai saya yang telah memakai niqab kepada orang tua saya, namun saya ingin memastikan dan memperjuangkan dahulu bahwa saya benar-benar diperbolehkan kuliah dengan tetap memakai niqab.

Berita yang mengatakan “terdapat empat orang yang berniqab akan di-DROP OUT” terdengar hingga di lingkungan keluarga saya dan tempat ayah saya mencari nafkah. Sebenarnya saya memang akan membicarakan mengenai saya yang telah memakai Niqab kepada orang tua saya, namun saya ingin memastikan dan memperjuangkan dahulu bahwa saya benar benar diperbolehkan kuliah dengan tetap memakai Niqab.

Saya tidak pernah menyangka ternyata begitu teganya pihak yang telah menghubungi keluarga saya mengatakan bahwa saya akan di DROP OUT karena memakai niqab dan karena saya diduga terlibat dalam anggota ISIS, padahal pembaca yang cerdas lebih mampu membaca situasi bahwasannya ISIS itu berada di Suriah dan Irak yang letaknya sangat jauh dari Indonesia. Ya, mereka sangat tega melihat orang tua saya yang langsung shock setelah mendengar kabar yang sangat menggenaskan tersebut.

Orang tua mana yang tidak terguncang hatinya ketika tau bahwa anaknya dituduh aliran sesat dan teroris bahkan diancam dengan ancaman DROP OUT. Berbagai ancaman yang telah orang tua saya lemparkan kepada saya, seperti ancaman pengusiran, bahkan mereka sempat datang ke kostan saya dan memaksa saya untuk melepaskan niqab saya dan saat ini jilbab, khimar, dan niqab saya sudah dibuang oleh mereka, tetapi AlhamduliLlaah saya masih memiliki saudari-saudari seaqidah yang masih setia untuk membantu saya dan memberikan pakaian untuk saya sehingga saya masih bisa pergi kuliah seperti biasanya bahkan ancaman dari pihak keluarga saya yang tetap keras ingin saya melepas niqab bukan hanya sampai pada membuang semua pakaian takwa saya dan menyita laptop saya, juga ancaman pembunuhan serta usaha untuk mengeluarkan saya dari kostan kemudian saya akan dibawa pulang secara paksa ke kota saya untuk di “Ruqyah”.

Tetapi saya tetap hanya takut pada murka Allah, saya tidak ingin hina dihadapan Allah. Saya tidak ingin menyia-nyiakan hidayah yang telah Allah berikan kepada saya begitu saja hanya karena ketundukan dan ingin menuruti hawa nafsu manusia meskipun itu orang tua saya sendiri. Saya bukan tidak mencintai keluarga saya, namun apa yang saya lakukan ini semata-mata untuk membahagiakan kedua orang tua saya di kehidupan yang kekal kelak, yaitu di akhirat, dengan tetap berjalan diatas manhaj Rasulullaah dan menjadi bagian dari para pejuang Dien-Nya.

Saya bukan tidak tega melihat keluarga saya yang terus menerus hingga saat saya menulis tulisan ini menapatkan cemoohan dan hinaan oleh lingkungan tempat saya tinggal, tempat ayah saya bekerja, pun dengan sekolah tempat adik saya, nama saya sudah tersebar dan membuat adik saya sangat merasa malu.

Saat saya menulis tulisan ini, sebelumnya saya baru saja mendengar kabar bahwa teman saya yang sama seperti saya memakai niqab orangtuanya di hubungi oleh seseorang yang mengatakan bahwa dia akan di DROP OUT karena niqabnya. Tentu saja pula orang tua teman saya yang awalnya  mengizinkan dia untuk memakai niqab kemudian berbalik arah berusaha melepaskan niqabnya. Ya, begitulah Ujian yang tengah kami hadapi kini, berat sekali. Sangat berat, namun saya selalu teringat akan firman Allah SWT:

“Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk syurga padahal belum datang kepadamu cobaan seperti yang dialami orang-orang terdahulu sebelum kamu? Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang dengan berbagai cobaan, sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, “Kapankah datang pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)

“Allah tidak akan membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya, ia mendapat (pahala) dari (kebajikan) yang dikerjakannya dan dia mendapat (siksa) dari (kejahatan) yang diperbuatnya. (mereka berdo’a), “Yaa Tuhan kami, janganlah engkau hukum kami jika kami lupa atau kami melakukan kesalahan. Yaa Tuhan kami, janganlah engkau bebani kami dengan beban yang berat sebagaimana engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Yaa Tuhan kami, janganlah engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak kami sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah pelindung kami, maka tolonglah kami menghadapi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 286)

Ya… hanyalah Al-Qur’an yang saat ini dapat menghibur hati kami, hanyalah Allah sebagai sebaik-baik penolong dan sebaik-baik pelindung. Yang kami harapkan adalah Allah memberikan pertolongan dan menampakkan kekuasaan-Nya tepat pada waktunya. Karena kami yakin kami tidaklah sesat dan menyimpang. Semoga Allah segera menampakkan bahwa yang Haq itu adalah Haq dan yang Bathil adalah Bathil. Karena kita semua yang mengaku beriman kepada ALLAH  dan Rasul-Nya, yang telah setia mengucapkan dua kalimat syahadat haruslah setia kepada agama ini hingga kita di jemput hanya dalam keadaan sebagai Muslim. 

“… ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.” (QS. Al-Baqarah: 214)

Dan kami akan selalu tetap Istiqamah dengan NIQAB kami, karena Niqab kami adalah bagian dari hidup kami, dan Niqab kami adalah harga mati yang tidak bisa ditawar-tawar. Dan kami yakin kepada Allah SWT akan menolong kami dari arah yang tidak disangka-sangka.

“Sungguh, kami telah memberikan kepadamu KEMENANGAN YANG NYATA Agar Allah memberikan ampunan kepadamu (Muhammad) atas dosamu yang lalu dan yang akan datang, serta menyempurnakan nikmat-Nya atas mu dan menunjukkimu ke jalan yang lurus dan agar Allah menolongmu dengan pertolongan yang kuat (banyak). Dia lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang  mu’min untuk menambah keimanan atas keimanan mereka (yang telah ada). Dan milik Allah lah bala tentara langit dan bumi. Dan Allah maha mengetahui, Maha Bijaksana.” (QS. Al-Fath: 1-4)

“Dan Dia mengadzab orang-orang munafiq laki-laki dan perempuan dan juga orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang BERPRASANGKA BURUK terhadap Allah. Mereka akan medapat giliran (adzab yang buruk) dan Allah Murka kepada mereka dan mengutuk mereka, serta menyediakan neraka jahannam bagi mereka. Dan Neraka Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. Al-Fath: 6)

UNTUK MENEGAKKAN SATU SUNNAH HARUS MENGELUARKAN RIBUAN AIR MATA!!!

*Diceritakan oleh salah seorang mahasiswi berniqab di FKIP Unsri
Indralaya, Sumatera Selatan

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/09/19/32939/karena-berniqab-kami-di-ancam-do-dari-kampus/

Voa-islamic Parenting (24): Makna Pelukan Bagi Buah Hati

Sahabat Muslimah, Bunda Shalihah dan calon bunda yang merindukan datangnya sang buah hati….

Si Kecil baru saja bisa berjalan tertatih-tatih. Karena gembira, ia pun ingin segera mencapai tujuan yang diinginkan. Keseimbangan hilang, ia pun jatuh dan menangis. Tak perlu panik, Bunda. Tak usah reaktif dengan berteriak seolah dunia akan kiamat. Tak perlu juga menunjukkan wajah cemas, ketakutan, atau bahkan histeris.

Jatuh adalah proses alami manusia untuk tumbuh. Datangi Si Kecil dengan tenang, berjongkoklah dan berikan pelukan terbaik yang Bunda bisa. Yaaa…pelukan. Tak perlu mengomel panjang lebar dan menyalahkan jalan karena membuat Si Kecil menangis sebagaimana banyak dilakukan ibu-ibu lainnya. Berikan kata-kata positif di telinga si kecil sembari terus memeluknya. Pelukan ini Bunda, memberi efek luar biasa pada pertumbuhan Si Kecil ke depan.

Pelukan bisa membuat Si Kecil merasa aman dan terlindungi. Ia merasa dicintai dan disayang. Rasa ini menguatkan jiwanya sebagai bekal kelak ketika ia dewasa. Ia akan tumbuh menjadi sosok yang percaya diri dan menyenangkan bagi lingkungan. Meskipun pelukan tak lagi diberikan ketika ia beranjak besar sebagaimana kebiasaan orang tua di Indonesia, hal ini tak lagi menjadi masalah. Kebutuhan emosional Si Kecil telah terpenuhi dengan baik di masa kanaknya.

Begitu sebaliknya. Bila Si Kecil jarang atau bahkan tidak pernah mendapat pelukan dari Bunda sebagai orang terdekatnya, maka biasanya ia akan tumbuh menjadi pribadi yang labil. Ia akan cenderung kesulitan untuk beradaptasi, merasa tak percaya diri, bahkan cenderung emosian atau mudah marah. ‘Luka’ ini akan terus dibawanya sampai kapan pun hingga ia menyadari bahwa ‘luka’ ini harus diobati. Bila tidak, maka anak yang kurang mendapat pelukan dari bundanya ini akan terus hidup dalam kebimbangan, kekacauan bahkan penuh masalah.

Bila tidak disertai keimanan yang kuat, bukan tidak mungkin Si Kecil akan tumbuh menjadi sosok yang haus kasih sayang. Ia akan mencari ‘hal’ yang pernah hilang di masa kecilnya ini pada lawan jenis dengan pola gaul bebas. Naudzubillah. Tentu ini bukan hal yang kita harapkan terjadi pada si buah hati. Karena itu, senyampang Si Kecil masih balita berikan pelukan sebagai hadiah terindah dari Bunda. Pelukan ini  bisa sebagai ‘reward’ ketika ia melakukan hal yang positif. Bisa juga sebagai ‘penghiburan’ ketika ia merasa sedih, cemas dan ketakutan.

Bagaimana bila Si Kecil saat ini sudah duduk di bangku SD, SMP atau bahkan SMA? Ia bukan lagi Si Kecil yang dengan mudah dipeluk oleh ibunya. Masa lalu memang tak bisa diulang, Bunda. Tapi sebesar apa pun ia selama masih tinggal seatap dengan ibunya, selalu ada jalan keluar untuk ‘menambal’ apa yang dulu pernah ia dapatkan.

Bagi kita dengan adat ketimuran yang cenderung ‘kagok’ dengan kedekatan secara fisik seperti pelukan, bisa dimulai dengan memberikan buah hati dengan perhatian. Tidak perlu langsung berubah secara drastis dengan memeluknya ketika sebelumnya hal ini tidak pernah dilakukan. Bunda bisa memulainya dengan mengubah sikap. Sosok ibu yang dulu sering marah-marah bila dekat dengan anaknya, hal ini bisa mulai dikurangi. Nada tinggi suara yang otomatis keluar bila berdekatan dengan anak yang beranjak dewasa, mulai direndahkan sekian oktaf. Bangunlah suasana tenang, aman dan nyaman dalam keluarga. Ini semua kuncinya ada pada sosok ibu sebagai pengendali suasana keluarga.

Komunikasi. Mulailah membiasakan diri dengan mau mendengarkan cerita buah hati yang tidak kecil lagi. Bila ini sudah bisa terjalin, berilah pelukan di momen istimewa semisal ketika usai menerima raport. Baik atau buruk hasilnya, yakinkah bahwa mereka tetap istimewa di hati orang tua. Berawal dari sini, gejala kenakalan remaja yang biasanya muncul, dengan izin Allah bisa diminimalkan. Anak akan memunyai rasa percaya terhadap orang tua sehingga tak perlu mencari perhatian dengan bertingkah aneh-aneh di luar sana.

Lihatlah Bunda, pelukan ini bisa mengatasi banyak hal terutama masalah psikologi pada buah hati bahkan diri kita sendiri. Mulai sekarang, jangan pelit memeluk mereka, putra-putri kita baik yang masih kecil, remaja atau bahkan beranjak dewasa. Percayalah, satu ketika nanti dalam perjalanan kehidupan buah hati yang masih panjang, mereka akan berterima kasih pada orang tuanya. Pelukan orang tua memberi kekuatan dalam dirinya. Dalam pelukan, mengalir rasa kedekatan yang penuh kehangatan, aman dan nyaman untuk melangkah sebagai sosok yang cukup mendapat kasih sayang dari rumah. Bekal ini cukup untuk mengantarkan buah hati menjadi orang yang sukses dunia dan akhirat, insya Allah. [riafariana/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/09/15/32855/voaislamic-parenting-24-makna-pelukan-bagi-buah-hati/

Voa-Islamic Parenting (23): Sejak Pandangan Pertama, Barokah itu Telah Hadir

Sahabat Voa-Islam yang Mengharap Ridho Allah SWT…

Tatkala ucapan janji dalam akad nikah telah terikrar, maka senyum pun terbingar dengan indahnya, hati senang tiada tara, air mata kebahagiaan pun menetes dengan redupnya, karena asa yang diimpikan untuk berjalan dalam syariah suci telah terjalani.

Sang ikhwan berdiri sebagai suami yang gagah rupawan, dengan membawa banyak harap yang telah tertanam dalam benakdiri, dengan tersenyum malu dia pun menghampiri sang istri yang kini telah dipersuntingnya. Maka coba tanyakan padanya, apakah dadanya gemuruh bak ombak besar di laut, karena hendak mendatangi bidadarinya saat ini? Maka pancaran merona kebahagian pun terlihat nyata. Itulah kebahagian yang sangat luar biasa, hanya mereka yang sanggup menahan kesucian dan nafsunya yang akan merasakan perasaan itu. Bukan mereka yang mengumbar nafsu dengan pacaran, tidak akan mungkin bisa merasakan‘sensasi’ itu.

Barokallah laka! Menghantarkan sang suami kelak menjadi suami selembut dan berkasih sayang bak Nabi Muhammad SAW sang Rosululloh, menjadikan dia ayah sebijak Luqmanul Hakim, menjadikan, kakek setegar Nabi Ibrahim AS yang kelak anak cucunya menjadi penerus para anbiya insya Allah.

Sedangkan sang istri yang berparas cantik bak ratu Bilqis pun, terhias dengan menawan, busana muslimah nan syar’i tergambar apik, wajahnya tertunduk malu, terlintas dalam benak dada, menaruh harap, karena telah datang suami yang kelak akan menjadi Qowwam dalam keluarganya. Yang sanggup mendekap saat terdinginkan keadaan, yang siap menopang saat terlesukan suasana, dan menjaga serta membimbing kala terkalutkan rasa. Sungguh dengan selalu taat dalam kemakrufan kepada suami tercinta, adalah kunci dari kebahagian mahligai untuk selamanya.

Maka tatkala kedua pasutri (pasangan suami-istri) masuk dalam kamar cinta pengantin, mereka sungguh saat itu mawar qolbu memekar dengan harumnya, gemetar rasa gambarkan kebahagian, tiada terkata indahnya saat itu. Tatkala sang suami memandang dengan rasa kehalalan untuk pertama kali, sang istri membalas dengan pandangan cinta penuh dengan pesona, teriring senyum cerah sembari bersalaman dengan suami, dan dicium lah telapak tangan sebagai bukti kehalalan. Sontak suami pun mengecup kecing tanda kasih saying yang terungkapkan, merekapun berdekap dengan dekapan cinta dan kemesraan, dalam suasana indah tersebut mereka berkata (dalam hati) “Indahnya hari ini (dan seterusnya) setelah kian lama aku menahan rasa ini, kini tiba kebahagian dalam keberkahan dalam biangkai halal untuk luapkan keinginan fitroh manusiawi”.. (aduh….jadi iri banget tahu kalau di bayangkan),

Barokallah laka! Membentuk sang istri secerdas Aisyah ra, setegar ibunda Siti Hajar, kuat dalam godaan bak Maryam dan penopang dakwah suami bagai ibunda Khadijah ra. Insya Allah.

Barokallah laka! Menghantarkan sang suami kelak menjadi suami selembut dan berkasih sayang bak Nabi Muhammad SAW sang Rosululloh, menjadikan dia ayah sebijak Luqmanul Hakim, menjadikan, kakek setegar Nabi Ibrahim AS yang kelak anak cucunya menjadi penerus para anbiya insya Allah.

Barokallah laka! Membentuk sang istri secerdas Aisyah ra, setegar ibunda Siti Hajar, kuat dalam godaan bak Maryam dan penopang dakwah suami bagai bunda Khadijah ra. Insya Allah.

Benarlah apa yang di wahyukan Allah SWT dalam Al Quran surat An Nuurr ayat 26:

Wanita yang kotor adalah untuk lelaki yang kotor, dn laki laki yang kotor hanyalah untuk wanita yang kotor, wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik dan laki laki yang baik hanyalah untuk wanita yang baik” (QS An-Nuur: 26).

 

Hanyalah Untuk Mereka yang Kuat Bertahan

Apa yang tergambarkan di atas, adalah sebuah potret kebahagiaan pengantin, di mana mereka berhasil menjaga hasrat mereka di saat masih perjaka dan gadis. Gak ada rumus pacaran, gak ada jadwal ngapel (berkunjung –red), gak kenal jalan berdua, apa lagi sampai nonton bioskop bareng setelah kajian, aduh…nggak deh.. Semua itu harus kita jauhi, karena keberkahan dalam sebuah pernikahan itu harus diawali dengan keberkahan dalam pencarian. Cara mencari jodohnya harus halal,gak main asal-asalan.

Dan yang lebih dasyat lagi, bagi mereka yang mencoba bermain kotor saat mencari jodoh, maka tak mungkinmereka akan merasakan keindahan dipandangan pertama sebagimana  para ikhwan dan akhwat yang berhasil menjaga nafsunya.

Sunguh indah dan indah tak tergamparkan, kecuali mereka yang benar-benar menjaga kesuciannya. Dan sangatlah rugi dan begitu rugi jikalau mereka telah mencuri start untuk menculik kenikmatan sesaat, selain karena tak merasakan kebahagian sejati, dia juga diancam dengan siksa neraka yang telah disiapkan karena telah mendekati zina, dan itu adalah haram semata.Maka indahnya dan barokahnya pandangan pertama hanya dihadiahkan bagi mereka yang berhasil menjaga kesucian syariah tanpa pelanggaran. Inilah barokallahlaka!

 

Everyone Wants to Succeed

Bila kita berbicara tentang pernikahan, tentulah setiap pasangan pengantin akan berkata “Kami ingin keluarga kami sakinah mawadah warrahmah sampai tua nanti”, iya bukan? Bagi siapa saja hal itu adalah maklum dan pantaskarena setiap orang ingin kesuksesan. Everyone wants to Succeed!

Lalu pernahkan Anda ditanya oleh seseorang, apakah anda sudah sukses hari ini? Atau sudahkah keluarga anda bahagia? Atau apakah anda merasa keluarga anda sakinah? Atau pertayaan lainnya yang serupa.

Maka ketauhilah, pertanyaan itu semua adalah menjadi pemetik api kesuksesan yang akan menghantarkan keluarga kita menuju impian yang kita cita-citakan.Seorang pakar konsultan keluarga pernah berkata, titik inti untuk menjadikan keluarga kita menjadi bahagia serta sungguh-sunguh dalam mengejar asa bersama, demi terwujudnya sebuah keluarga yang sakinah mawadah dan rahmah itu terletak pada kesungguhan kita dalam memegang janji suci yang kita ikrarkan.Allah berfirman:

“Diantara orang orang mumin itu ada orang yang Benar, menepatiapa yang mereka janjikan kepada allah, maka di antara mereka ada yang gugur, dan diantara mereka ada juga yang menunggu-nunggu, dan mereka sedikitpun tidak berubah ( QS Al Ahzab:23).

Ayat ini memang membahas tentang kondisi para mujahid dalam membela agama Allah dalam memegang janji suci, tapi saya ingin mengajak antum semua untuk berbicara lebih umum saja.

Bahwasanya ada orang yang jujur (shidqun) dalam memegang janjidan diantaranya adalah adanya para suami yang selalu faham akan janji yang mereka ucapkan demi kebahagian keluarga.Berpegang pada janji itu membutuhkan sebuah power fuul karena tak mudah untuk eksis dalam sebuah kebenaran apalagi membina sebuah mahligai sakinah.

Arnold Scwarzenegger, salah seorang aktor hollywood pernah berkata: “Sebuah kekuatan tidak lahir dari sebuah kekuatan. Perjuangan anda sesungguhnya mengembangkan kekuatan yang ada dalam diri anda, ketika anda menghadapi kesulitan dan memutuskan untuk terus maju tanpa menyerah, itulah yang disebut sebuah kekuatan”

Menjalankan roda sakinah butuh sebuah perencanaan yang matang, maka berpegang pada shidqun adalah kunci dari keberhasilan.

 

Saat Tatapan Mata Keberkahan Begitu Menggoda

Bak raja sehari, itulah ungkapan yang mashur di nusantara ini bagi para pengantin. Kebahagian yang tersiar di hari itu membuat banyak mata berbingar karena dua sejoli menyatu dalam mahligai halal keberkahan.

Ada dzikrulah dengan sholat dua rokaat tanda syukur keberkahan, ada adegan kasih sayang saling menyuap dengan buah dan air susu. Serta ada rayuan sang pangeran yang mulai berani menggoda, serta ada sang ratu yang kian memanja

Mata memandang, senyuman menggoda, ada lirikan tajam dan suara dehem yang berisyarat, hantarkan dua sejoli yang halal dalam tatapan mata tertajam panah hasrat yang lama tersimpan. Tawa kecil mulai terdengar, ada cubitan cinta tanda malu yang tak terkira, karena dua sejoli yang beriman belum pernah merasabagaimana indahnya duduk berdua, saat pundak harus tersenggol, dan jari tangan saling mengikat, dan kaki saling menginjak nakal.

Ada dzikrulah dengan sholat dua rokaat tanda syukur keberkahan, ada adegan kasih sayang saling menyuap dengan buah dan air susu. Serta ada rayuan sang pangeran yang mulai berani menggoda, serta ada sang ratu yang kian memanja.

Semua adalah keberkahan yang tiada terkira di awal jumpa. sungguh indah sebuah pernikahan yang sesuai sunah dan jalan yang halal. [Protonema/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/09/12/32809/voaislamic-parenting-23-sejak-pandangan-pertama-barokah-itu-telah-hadir/

Pernyataan Sikap AILA (Aliansi Cinta Keluarga) Tentang RUU KKG

Zionis Yahudi Khawatir Hamas Lanjutkan Perang Jika Perundingan Kairo Gagal

Al Jazeera: Jabhat Al-Nusrah Bebaskan 45 Pasukan Perdaiaman PBB Asal Fiji

Busway Karatan Sebagian Kecil Korupsi Jokowi, Benarkah Ada Yang Lebih Besar?

Pertemuan Tidak Membuahkan Hasil, Warga Kampung Deret Laporkan Jokowi ke KPK

Pernyataan Sikap AILA (Aliansi Cinta Keluarga) Tentang RUU KKG

Ketika Kematian Menjadi Tamu Anda

Horee.. Ahok Gagal Jadi Gubernur DKI.. Eits Dengar Dulu Penjelasan Kemendagri

Produk Telkom: Bostoko Semakin Handal dan Tangguh

Green Kurban: Inovasi Program ‘Kurban Plus Penghijauan’

Ini Komitmen Koalisi Merah Putih Untuk Masa Depan Pribumi Anti Neoliberal

Lasinta Ari Nendra Wibawa Pemenang Lomba Cipta Puisi ‘Bebaskan Palestina’

Rafsanjani Nyatakan Negaranya (Iran) Siap Bekerjasama dengan AS Memerangi ISlamic State (ISIS)

[Foto] Daulah Islamiyyah (ISIS) Dirikan Yayasan untuk Rawat Orang-orang Lanjut Usia

HAMAS Serukan Perlawanan di Tepi Barat

Ahrar Al-Sham Umumkan Pemimpin Baru Setelah Terbunuhnya Hassan Aboud

Fadli Zon: Ahok Politisi Kutu Loncat, Bukan Kader Terbaik

Rilis Iwan CH Pangka Soal SP3 Kasus Perkosa ‘Buayawan’ Liberal Sitok Srengenge

Hanibal Berbagi Pengalaman Dalam Diskusi ‘Standard Peliputan Kasus Terorisme’

Konsep Legalnya Nikah Beda Agama Hanya Berlaku di Negara Sekuler

Masuk Islam, Haruskah Mengganti Nama?

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/09/11/32802/pernyataan-sikap-aila-aliansi-cinta-keluarga-tentang-ruu-kkg/

Kala Hati Merindu Belahan Jiwa

“Sendiri dalam ketakwaan itu lebih baik daripada bersama dalam kemaksiatan. Karena sesungguhnya kita tak pernah benar-benar sendiri, selalu ada Allah yang menemani.”

Sahabat Muslimah Voa-Islam…

Kata-kata di atas itu semoga menjadi pengingat ketika kita lupa. Lupa karena hati gersang, iman sedang turun atau bahkan tergoda untuk berpasangan dalam kemaksiatan.

Hidup ‘sendiri’ memang sungguh tidak nyaman. Sendiri di sini maksudnya belum memunyai pasangan yang sah, belahan jiwa yang akan mendampingi diri meraih ridho-Nya. Tak ada teman untuk berbagi, berkeluh-kesah, curhat, atau ‘sekadar’ teman ngobrol. Ada kerinduan yang kadangkala hadir tanpa diundang. Apalagi bila melihat teman-teman menggandeng suaminya atau bahkan menggendong buah hati dalam dekapan. Hati perempuan mana yang tak merasakan fitrah untuk berada pada posisi yang sama.

Wajar. Karena naluri untuk mencintai baik kepada pasangan ataupun anak keturunan itu sudah ‘built in’ alias anugrah dari Sang Mahacinta. Sehingga serapat apapun kita menyimpannya, tak sepeduli apapun kita untuk memikirkannya, ketukan itu nyata ada. Padahal di saat yang sama, Allah masih menyimpan ‘dia’ yang akan menjadi pasangan hidup kita. Allah bukan sedang membenci atau menghukum kita, hanya karena belahan jiwa belum ada. Sebaliknya, Allah sedang menempa kualitas diri kita, sejauh mana bisa tetap bersabar dan bersyukur disaat hati seolah-olah sempit. Bukankah Allah sesuai persangkaan hamba-Nya?.

Allah bukan sedang membenci atau menghukum kita, hanya karena belahan jiwa belum ada. Sebaliknya, Allah sedang menempa kualitas diri kita, sejauh mana bisa tetap bersabar dan bersyukur disaat hati seolah-olah sempit. Bukankah Allah sesuai persangkaan hamba-Nya?

Dititik inilah, kondisi hati paling rawan untuk berpaling. Ya…berpaling dari ketakwaan yang selama ini digenggam. Muncul anggapan seolah-olah jodoh itu jauh karena kita tak mengikuti trend kebanyakan. Pacaran, tabarruj (berhias untuk non-mahrom), ber-khalwat (berduaan dengan lawan jenis non-mahrom) dan ber-ikhtilat (campur baur antara laki-laki dan perempuan tanpa alasan yang syar’i) mulai dijadikan ajang coba-coba.

Telah banyak kisah nyata yang mengabarkan bahwa si A, yang dulu berhijab dengan baik sekarang mulai berubah. Sedikit demi sedikit, hijabnya berubah bentuk hingga akhirnya ditanggalkan sama sekali. Naudzubillah. Lelah hatinya menunggu. Imannya tergerus oleh kegelisahan akan rindunya pada pernikahan, yang tak kunjung datang. Akhirnya ia pun ‘menggugat’ Allah. Ia tak lagi mau taat pada-Nya karena toh ‘sekadar’ suami saja ia beranggapan Allah tak mengabulkannya. Astaghfirullah.

Sahabat Muslimah…

Ujian manusia itu bisa beragam warna. Ibarat sekolah, mustahil tak ada ujian untuk menentukan kualitas dan pemahaman peserta didik. Dan kehidupan ini adalah madrasah terbesar manusia untuk menghadapi jenis ujian, apapun itu bentuknya. Ada yang diuji masalah jodoh yang tak kunjung datang. Ada juga yang diuji sudah ada jodoh tapi tak sesuai harapan. Yang lainnya lagi, diuji anak yang sangat membangkang atau orang tua yang selalu turut campur urusan rumah tangga anaknya. Bisa jadi masalah ekonomi datang menghantam, dipecat tanpa pesangon dengan tiba-tiba. Atau mungkin saja, penyakit yang tak sembuh-sembuh bahkan nyawa pun harus kembali pada-Nya dengan cepat.

Inilah hidup. Toh tak semua melulu berbentuk kesedihan. Ia datang silih berganti dengan kebahagiaan. Mungkin ada yang belum menemukan belahan jiwa, tapi ia berprestasi di kuliah. Belum bisa menikah dengan segera, tapi Allah menganugerahinya keluarga besar yang selalu harmonis. Masih merindu sosok imam yang akan menuntunnya ke surga, ia masih bisa menumpahkan rindu itu dipertiga malam dengan tahajudnya. Ia masih bisa berbuat banyak untuk umat disegala bidang yang ia bisa.

Bersabar itu memang tak berbatas. Bila ia memunyai batas, maka bukan bersabar lagi namanya. Begitu juga dengan penantian ini, ia harus dibekali dengan kesabaran yang luar biasa.

Bersabar itu memang tak berbatas. Bila ia memunyai batas, maka bukan bersabar lagi namanya. Begitu juga dengan penantian ini, ia harus dibekali dengan kesabaran yang luar biasa. Bila merasa kesabaran itu sudah mulai menipis, maka harus segera di-recharge. HP saja bisa lowbat kalau dipakai terus-menerus, apalagi ini kualitas iman. Maka benarlah kalau tombo ati (penawar hati) itu ada 5: baca Quran dan maknanya, lakukan salat malam, berkumpul dengan orang-orang salih, perbanyak puasa dan dzikir di kala malam.

Sungguh, rasakan manisnya iman saat kita berada dalam kesempitan. Meskipun ketika berada dalam kelapangan, manisnya iman itu seharusnya juga tetap ada. Tak perlu tergoda rayuan duniawi, dengan cara berpacaran atau menanggalkan rasa malu sebagai ciri khas muslimah. Apalagi sampai menanggalkan keimanan hanya karena pasangan, naudzubillah. Toh, tak ada yang kekal di dunia ini. Begitu juga nikmat dan bahagianya pernikahan, selalu ada pasang surutnya.

Sembari bersabar menunggu belahan jiwa datang, mengapa tak fokus untuk mempelajari dinullah ini? Semakin kita paham Islam dengan baik dan benar, semakin kuat pula kita memegang tali agama Allah. Dan semakin kuat memegang tali agama Allah, semakin terasa ‘ringan dan kecil’ penantian ini, insya Allah. Rasakan indahnya ‘kesendirian’ ini karena sesungguhnya kita tak pernah benar-benar sendiri. Ada Allah dengan segenap cinta-Nya yang terus menemani bahkan tanpa kita sadari. Wallahu alam. [riafariana/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/09/10/32781/kala-hati-merindu-belahan-jiwa/

Pernikahan Beda Agama Melanggar Konstitusi

JAKARTA (voa-islam.com) – Pengajuan Uji Materil (Judicial Review) di Mahkamah Konstitusi terhadap Pasal 2 ayat (1) UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan menimbulkan polemik ditengah-tengah masyarakat; Apabila dikaji berdasarkan sejarah pembentukan hukum di Indonesia, setidaknya hukum dibentuk berdasarkan pertimbangan keadilan (gerechtigkeit) disamping kepastian hukum (rechtssicherheit) dan kemanfaatan (zweckmassigkeit).

Indonesia yang notabene sangat heterogen dan multikultural dalam membentuk formulasi hukum positif agak berbeda dengan negara-negara lain yang cenderung lebih homogen. Tentu ada penggalian yang mendalam berdasarkan aspek historis dan filosofis oleh para pendiri bangsa ini agar terwujud keadilan yang nyata bagi seluruh golongan, suku, ras, agama yang ada di Indonesia.

Pun demikian halnya dengan pembentukan undang-undang perkawinan yang beberapa pasalnya saat ini mengalami uji materil, yakni Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang tentang Perkawinan yang menyatakan “Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agama dan kepercayaannya itu”.

Ryan Muthiara Wasti, Direktur Pusat Advokasi Hukum dan Hak Asasi Manusia (PAHAM) Jakarta mengatakan Pasal 2 ayat (1) UU Perkawinan ini merupakan wujud kompromi sekaligus penghormatan terhadap nilai-nilai agama-agama yang diakui di Indonesia.

Negara dalam pasal ini berlaku arif dengan tidak melakukan intervensi dan menyerahkannya pada hukum agama masing-masing individu yang bersangkutan. Maka, tidak dapat dikatakan bahwa UU Perkawinan hanya mengakomodir kepentingan masyarakat mayoritas yaitu umat Islam, tetapi sudah melihat secara keseluruhan dari agama dan keyakinan yang ada di Indonesia pada masa itu.

Artinya pada pendiri negara meyakini bahwa Indonesia tidak akan terlepas dari sebuah pemahaman dasar atas religiusitas.

 

Disamping itu Ryan yang juga Staf Pengajar di salah satu Fakultas Hukum ini menegaskan keberadaan agama tidak dapat dipisahkan dari kehidupan berbangsa karena merupakan sebuah keniscayaan dari berdirinya sebuah negara yang berlandaskan pada sebuah ideologi yaitu Pancasila dimana Sila pertama menyebutkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Artinya pada pendiri negara meyakini bahwa Indonesia tidak akan terlepas dari sebuah pemahaman dasar atas religiusitas.

Oleh karena itu, legalisasi nikah beda agama adalah suatu hal yang tidak sesuai dan bertentangan dengan nilai-nilai dasar kehidupan masyarakat Indonesia. Legalisasi Pernikahan beda Agama adalah sesat pikir yang dapat mengaburkan makna dari pada nilai-nilai yang termaktub di dalam Pancasila sebagai Dasar Negara tegas Ryan. (NN) –

Informasi lebih lanjut, hubungi

P A H A M INDONESIA

Jl. TB. Simatupang, Komplek Depsos RI No.19 Pasar Rebo, Jakarta Timur 13671.

Indonesia Telp Fax : +6221 – 8408232

Website PAHAM Indonesia : www.pahamindonesia.org

e-mail PAHAM Indonesia : info@pahamindonesia.org

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/09/09/32763/pernikahan-beda-agama-melanggar-konstitusi/