Voa-Islamic Parenting (34): Jika 3 Hal Ini Tidak Dilakukan, Orang Tua Wajib Menangis

Sahabat Muslimah yang Shalihah…

Semua sahabat Muslimah pastilah mendambakan anak-anaknya menjadi anak yang sholih dan sholihah. Yang bisa menjadi kurota a’yun (penyejuk mata) dan menjadi generasi robbani yang handal dan memiliki kemampuan melawan besarnya fitnah arus kehidupan.

Semua itu tidak bisa kita raih bila hanya melihat pertumbuhan buah hati tanpa adanya upaya yang dilakukan untuk mewujudkannya. Namun kita haruslah mendampingi buah hati dengan mengawal segala polah tingkahnya dan menyeleksi informasi yang masuk padanya. Inilah sebenarnya peran utama orang tua terutama seorang ibu terhadap buah hatinya.

Rosululloh telah bersabda:

رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ نِسَاءُ قُرَيْشٍ خَيْرُ نِسَاءٍ رَكِبْنَ الْإِبِلَ أَحْنَاهُ عَلَى طِفْلٍ وَأَرْعَاهُ عَلَى زَوْجٍ فِي ذَاتِ يَدِهِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sebaik-baik wanita Quraisy adalah wanita yang paling baik mengendarai unta, paling penyayang kepada anaknya dan paling memelihara hak suaminya yaitu terhadap harta yang dimilikinya”. (H.R Bukhori).

Salah satu ciri sebaik-baik ibu adalah yang memberikan kasih sayang kepada anaknya. Anak membutuhkan kasih sayang ibu sejak masih di dalam rahim sampai ia dewasa.

Sahabat Muslimah…

Apakah bukti kasih sayang orang tua terhadap anak? Apakah perhatian terhadap anak dengan menuruti semua kemauan dan memanjakannya dengan fasilitas kemewahan? Ternyata bukan!

Ada beberapa hal yang harus kita prioritaskan sebagai asupan buah hati yang akan menjadi nutrisi otaknya. Untuk orang tua, harusnya memperhatikan beberapa hal yang harus menjadi prioritas. Bahkan bila prioritas ini belum dipahami anak, pantaslah bagi orang tua untuk menangisinya.

Pertama: Mengenalkan Anak Kepada Sang Pencipta

افتحوا على صبيانهم اول كلمة بلا اله الا الله

Artinya: “Sampaikanlah kalimat pertama kepada anak-anak kalian dengan ucapan Laa Ilaaha illallah”. (H.R Albaihaki)

Para orang tua biasanya mengajarkan ucapan pertama kali kepada buah hati yaitu kata mama atau papa ada juga yang mengenalkan kata abah atau umi. Banyak yang kurang memahami bahwa apa yang mereka lakukan ini sesungguhnya kurang sesuai dengan syari’at Islam.

Rosululloh mengajarkan, hendaknya orang tua mengajarkan kalimat pertama yang terucap dari lisan anak yaitu kalimat “Laa Ilaaha illallah”. Bila buah hati kita belum mampu mengucapkannya maka orang tua haruslah tetap mengenalkan yang pertama yaitu kata yang menuju pada kalimat ini. Walaupun sebatas mengajarkan kata Alloh… Alloh… Alloh… Begitulah Islam mengajarkan dari awal kelahiran buah hati, maka disyariatkan untuk memperdengarkan kalimat Tauhid di telinga kanannya. Ini menunjukkan akan pentingnya pengenalan buah hati terhadap sang pencipta sejak dini.

Kedua: Menanamkan Akhlaqul Karimah

Sejak awal fase pertumbuhan anak baru bisa menangis. Dengan berjalannya waktu anak akan mampu ternyum ketika diajak berkomunikasi. Dari semua waktu atas bertambahnya usia maka orang tua dituntut untuk mampu mengarahkan serta mengajarkan etika berinteraksi dengan alam dan juga membiasakan dengan akhlak yang terpuji.

Rosululloh bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدَهُ نُحْلًا أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ

Artinya: Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Orang tua tidak bisa memberi pemberian kepada anaknya yang lebih utama daripada adab yang baik”. (H.R Ahmad)

Begitulah pesan Rosululloh. Sangat sederhana namun tersirat secara makna mengandung sesuatu yang sangat berharga dalam sebuah kehidupan. Kalimat adab yang baik ini mencakup seluruh aktivitas yang berkaitan dengan anak. Dari hal yang terkecil, yaitu bagaimana etika yang berhubungan dengan diri sendiri seperti makan dan minum serta sesuatu yang berhubungan dengan orang lain yaitu bagaimana anak ber tutur sapa, menghargai dan menghormati orang lain terutama terhadap orang tua.

Ketiga: Mengajarkan Kaifiyah Ibadah

Setelah anak mengenal sang pencipta dan juga tertanam akhlak yang mulia maka dengan bertambahnya usia, saatnyalah orang tua mengenalkan kepada buah hati apakah tujuan Alloh menciptakannya di dunia ini. Buah hati kita harus memahami bahwa tujuan Alloh menciptakannya hanyalah supaya beribadah kepada Alloh tanpa menyekutukan-Nya. Membimbing anak agar akrab akan ibadah harian seperti sholat lima waktu dan membaca alQur’an serta mempelajari ilmu yang Haq.

Kebanyakan orang tua lebih mengkhawatirkan masa depan anak akan kehidupa dunia dibanding memikirkan kelak kehidupan di akhirat. Mereka lebih khawatir apa yang bisa dimakan anak di masa depan daripada mengarahkan kepada anak atas siapa yang disembah selepas sepeninggal orang tua. Inilah yang menjadi perbedaan mendasar anatara sabat nabi Muhammad dengan kebanyakan manusia saat ini. Alloh berfirman:

أَمْ كُنتُمْ شُهَدَآءَ إِذْ حَضَرَ يَعْقُوبَ ٱلْمَوْتُ إِذْ قَالَ لِبَنِيهِ مَا تَعْبُدُونَ مِنۢ بَعْدِى قَالُوا۟ نَعْبُدُ إِلَٰهَكَ وَإِلَٰهَ ءَابَآئِكَ إِبْرَٰهِۦمَ وَإِسْمَٰعِيلَ وَإِسْحَٰقَ إِلَٰهًا وَٰحِدًا وَنَحْنُ لَهُۥ مُسْلِمُونَ

Artinya: “adakah kamu hadir ketika Ya’qub kedatangan (tanda-tanda) maut ketika ia berkata kepada anak-anaknya: “Apa yang kamu sembah sepeninggalku?” Mereka menjawab “Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyang mi, Ibrahim, Ismail dan Ishaq, (yaitu) Tuhan yang maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya. (QS Al-Baqoroh:133).

Begitulah kekhawatiran seorang nabi yang diceritakan dalam Alqur’an. Alloh menghadirkan cerita ini supaya kita ambil ilmu didalamnya. Bahwa masalah iman merupakan prioritas utama yang patut kita perhatikan dengan sungguh-sungguh. Bagaimana dengan kita? Apakah sudah menjadikan urusan ini sebagai prioritas saat menimbang beberapa hal saat memilihkan untuk buah hati kita?

Sahabat Muslimah…

Inilah tiga hal pokok yang harus kita tanamkan kepada buah hati kita. Pantaslah kita menangis bila tiga hal ini belum tertanam pada diri buah hati kita. Karena bila tiga hal ini belum dipahami buah hati, akan menjadikan buah hati yang seharusnya menjadi penyejuk pandangan, justru akan menjadi ujian di dunia dan memberatkan hisab bagi orang tua di akhirat kelak. [ukhwatuna/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2014/12/21/34598/voaislamic-parenting-34-jika-3-hal-ini-tidak-dilakukan-orang-tua-wajib-menangis/

Terbuka Kesempatan Andil Dakwah di Kajian Tauhid & Ruqyah Syar’iyah ‘Mewaspadai Sihir Kristenisasi’

BEKASI (voa-islam.com) – Dakwah tuntutan tauhid dan keimanan. Tidak sempurna tauhid seseorang, sesudah ia mengetahui dan mengamalkannya, sehingga ia ikut mendakwahkannya.

Pahala besar Allah janjikan untuk yang terlibat di dakwah. Apa yang dikeluarkannya terhitung fi sabilillah. Setiap kebaikan yang diperoleh umat dari kegiatan dakwah, ia mendapatkan jatah pahalanya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى، كَانَ لَهُ مِنَ الْأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ، لَا يَنْقُصُ ذَلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا

Siapa yang menyeru kepada petunjuk, ia mendapatkan pahala sebagaimana pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa dikurangi sedikitpun dari pahala mereka.” (HR. Muslim)

Kegiatan dakwah Voa Islam merambah event offline. Kajian Tauhid Ruqyah Syar’iyah ‘Mewaspadai Sihir Kristenisasi’ menjadi awalnya. Merespon masifnya gerakan kristenisasi dan beragam manuver gerakan pemurtadan.

Kekuatan magic (sihir) sering dipakai sebagai sarananya. Kewaspadaan umat harus meningkat. Menguatkan iman dan mencari solusi tepat yang syar’i harus dipopularkan menangkal serangan sihir dengan ragamnya.

Kajian ini diselenggarakan pada, Ahad, 21 Desember 2014, besok hari. Dimulai pukul 08.30 WIB sampai Dzuhur.

Masjid Baiturrahman, Perumahan Permata Hijau Permai (PHP), Kaliabang Tengah, Bekasi Utara dipilih sebagai tempatnya.

Bagi peserta yang dari Pulo Gadung cukup sekali naik Elf 45 dan turun di depan perumahan PHP.

Sedangkan yang dari Stasiun Bekasi, naik angkot 15A, turun di SPBU Kaliabang, jalan kaki ± 100 M ke arah timur (lokasi).

Bagi yang membawa mobil sendiri dari luar daerah Bekasi, bisa keluar dari tol Cakung, ambil arah ke Bekasi. Di pertigaan pertama sesudah pintu gerbang Harapan Indah (sesudah pabrik Aqua) ke kiri (arah Ujung Harapan). Sesudah SPBU kedua, ±100 M sampai di lokasi.

Ada tiga Usatidz yang akan mengisi materi di kajian Tauhid dan Ruqyah Syar’iyah tersebut:

1. Ust. Dr. Ahmad Annuuri, MA. (Doktor bidang qiroah Dai Indonesia Timur)

2. Ust. Syuhada’ Hanafi (Grand Master Quranic Healing Community)

Kemudian dilanjutkan terapi ruqyah bagi yang sudah mendaftar oleh Ust. Sahal Khan Al Mudhofary (KCR Jakarta Selatan).

Pendaftaran dengan ketik nama, tempat tanggal lahir, alamat, dan no telp; kirim SMS//WA ke 087781227881 (Ust. Badrul Tamam / voa-islam.com).

Kajian Tauhid dan Ruqyah Syar’iyah ini tanpa dipungut biaya (gratis).

Kami membuka kesempatan kepada para aghniya’ kaum muslimin untuk ikut berinfak dalam dakwah tauhid ini. Semoga amal baik dicatat sebagai pahala jihad; dan pemberat timbangan kebaikan di akhirat. [PurWDvoa-islam.com]

  • Infak dan Shodaqoh kegiatan dakwah bisa salurkan melalui:
  1. Bank Muamalat, Capem Juanda, Bekasi, No.Rek: 34.7000.6141 a/n: Badrul Tamam
  2. Bank Syariah Mandiri, Cabang Bekasi, No.Rek: 70.6591.4788 a/n: Badrul Tamam
  3. Bank Rakyat Indonesia, kc Jakarta Saharjo, No Rek. 042701006174508 a/n Badrul Tamam S.Pdi

* Konfirmasi Infak dan Shodaqoh ke 087781227881.

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2014/12/20/34594/terbuka-kesempatan-andil-dakwah-di-kajian-tauhid-ruqyah-syariyah-mewaspadai-sihir-kristenisasi/

Benarkah Program KB Penghapus Kedekatan Kita dengan Rosululloh di Akhirat?

Sahabat Muslimah yang Shalihah…

Program Keluarga Berencana (KB) di negara Indonesia dengan motto “Dua Anak Lebih Baik” selalu digaungkan oleh Pemerintah. Jerih payah Pemerintah ini mulai terlihat hasilnya. Ini terindikasi dari banyaknya sahabat muslimah yang menggunakan alat kontrasepsi.

Sesungguhnya Islam juga memiliki program keluarga berencana dengan motto yang tidak berbeda jauh dari Pemerintah. Bila BKKBN memberikan motto atas programnya dengan kalimat “Dua Anak Lebih Baik” Islam pun memiliki motto “Dua Anak Lebih, Baik”. Sama katanya, sama susunannya namun berbeda cara membacanya pun berbeda sekali maknanya. Tidak berhenti di situ, program KB Pemerintah juga berslogan “Keluarga kecil bahagia dan sejahtera”. Slogan inipun sebenarnya meniru dari program KB Islam yang berslogan “Keluarga besar bahagia dan sejahtera”.

Namun sepertinya masyarakat terbius dan terbuai dengan motto dan slogan Keluarga Berencana Pemerintah yang menyesatkan. Kenapa menyesatkan? Karena dari motto dan slogan ini bertentangan dengan kaidah Islam dalam berumah tangga. Bila keluarga kecil dianggap lebih bahagia dan sejahtera, sesungguhnya paradigma ini sangat salah. Karena sesungguhnya kebahagiaan dalam Islam tidak ada hubungannya sama sekali dengan jumlah keluarga. Namun semua itu sesungguhnya tergantung pada usaha dan dosa keluarga itu sendiri. Sesungguhnya sudah menjadi jaminan dari Alloh dalam suroh Attolaq ayat 2 dan 3:

وَمَن يَتَّقِ ٱللَّهَ يَجْعَل لَّهُۥ مَخْرَجًا وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ

“Dan barang siapa yang bertakwa kepada Alloh, niscaya Dia (Alloh) akan mengadakan baginya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka.” (Q.S At Tolaq: 2-3).

Sungguh jelaslah bahwa kebahagiaan dunia yang dirasakan manusia tidak ada hubungannya sama sekali dengan jumlah anak. Namun itu semua berhubungan denga KETAQWAAN. Maka bila kita ingin mendapatkan kebahagiaan dan kesejahteraan dengan meningkatkan ketaqwaan kepada Alloh Azza Wajalla. Pun Alloh telah mengungkapkan bahwa setiap makhluk Alloh pasti ada rizkinya. Berarti perhitungan Rizki dihadapkan Alloh dihitung setiap pribadi, bukan setiap keluarga. Kalau bantuan Pemerintah dari kompensasi dinaikkannya BBM ya… dihitung setiap keluarga. Itupun tidak semua mendapat.

Islam Menganjurkan Memiliki Banyak Anak

Islam sangat menganjurkan kepada kita sebagai ummat nabi Muhammad supaya memperbanyak anak. Rosululloh telah bersabda:

فَقَالَ رسول الله : تَزَوَّجُوا الْوَدُودَ الْوَلُودَ فَإِنِّي مُكَاثِرٌ بِكُمْ الْأُمَمَ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Nikahkanlah wanita-wanita yang penyayang dan subur (banyak keturunan), karena aku akan berbangga kepada umat yang lain dengan banyaknya kalian. (H.R Abu Dawud dan An Nasai).

Dalam memiliki calon istri Rosululloh memberikan dua kriteria yang sederhana dan jelas. Yaitu perempuan yang memiliki sifat kasih sayang dan yang subur. Kenapa yang subur? Ya… Supaya kelak mampu melahirkan banyak keturunan. Memiliki banyak keturunan merupakan investasi paling masuk akal atas nilai profitnya. Karena manfaat atas investasi ini tidak kenal waktu dan alam. Walaun nyawa telah terpisah dengan raga, kita masih mendapatkan kebaikan darinya.

Wahai muslimah…

Punya anak banyak apa tidak repot? Kalau masalah repot, sesuatu yang berat bila kita lakukan dengan senang hati semuanya akan menjadi ringan, namun sesuatu yang ringan jika kita tidak pandai mengaturnya maka akan terasa berat. Semua tergantung bagaimana kita menyikapinya.Tapi janji Alloh sangat menggiurkan sekali. Ketahuilah surga telah Alloh dijanjikan bagi setiap sahabat muslimah yang mampu mengasuh dan mendidik anak-anak perempuannya hingga dewasa dan menjadi anak-anak yang sholihah. Rasulullah bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ لَهُ ثَلَاثُ بَنَاتٍ أَوْ ثَلَاثُ أَخَوَاتٍ اتَّقَى اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَأَقَامَ عَلَيْهِنَّ كَانَ مَعِي فِي الْجَنَّةِ هَكَذَا وَأَشَارَ بِأَصَابِعِهِ الْأَرْبَعِ

Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam bersabda: Barang siapa memiliki tiga anak atau tiga saudara perempuan yang bertakwa kepada Allah ‘azza wajalla, dan ia memberi nafkah dan mendidik mereka, maka dia berada bersamaku di surga seperti ini (Rasulullah Shallallahu’alaihi wa Sallam menunjukkan dengan keempat jarinya).

Astaghfirullah…

Berarti jika kita tarik benang merah antara hadits ini dengan program KB Pemerintah sangatlah bertolak belakang. Secara tersirat sangatlah jelas dampak negatif para peserta program KB. mereka akan kehilangan kedudukan yang mulia di akhirat kelak, yaitu kedudukan dekat dengan Rosululloh sebagaimana dekatnya jari-jari tangan kita.

Subhanalloh…

Dari hadits ini sangatlah besar janji Alloh atas keutamaan memiliki tiga anak. Keutamaan ini bukanlah hal yang mustahil untuk kita raih. Marilah kita cetak generasi robbani sebanyak banyaknya. Semakin banyak kelahiran dari rahim Sahabat Muslimah, InsyaAlloh semakin banyak pula pembela Islam yang akan menegakkan Dien yang Haq ini dan memperbaiki kerusakan akhlak yang semakin merajalela. Wallahu’alam. [ukhwatuna/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2014/12/17/34537/benarkah-program-kb-penghapus-kedekatan-kita-dengan-rosululloh-di-akhirat/

Bedah Buku Imunisasi Ciptaan Allah, Solusi Imunisasi dalam Islam

Minggu pagi, 14 Desember 2015, di aula BPBPAV, dihadiri oleh orang-orang yang ingin mengikuti bedah buku Imunisasi Ciptaan Allah, solusi imunisasi dalam Islam. Banyak yang hadir tidak sendiri, melainkan bersama dengan pasangan dan buah hati masing-masing. Ruangan pun makin semarak dengan suara celoteh dan tangis anak kecil.

Ajakan hidup sehat terasa sejak masuk ke dalam ruangan setelah sebelumnya diberi kotak berisi snack. Jangan berharap ada lemper atau pastel yang biasanya menjadi menu favorit isi dalam kotak. Sebaliknya, buah jeruk dan pisang hadir sebagai gantinya ditemani oleh permen, kacang telur dan air mineral. Begitu juga dengan meja pembicara, piring saji yang ada penuh berisi buah beraneka ragam. Anjuran hidup sehat sebagai kekebalan alami tubuh menjadi inti dari bedah buku kali ini.

Buku tentang imunisasi dalam Islam yang ditulis oleh dr. Susilorini, M.Si.Med., SpPA ini disajikan dalam dua sesi. Sesi pertama diisi oleh penulis buku sendiri yang akrab dipanggil dokter Rini dengan fokus menyusui dan menyapih dalam perspektif Islam dan patologi molekuler. Sesi kedua diisi oleh Wahyu Widada, SKp., M.Ked. dengan fokus pada terap bekam meningkatkan sistem kekebalan tubuh.

Buku tentang imunisasi ini ditulis berangkat dari keprihatinan dokter Rini atas kontroversi imunisasi di tengah masyarakat. Diyakininya, bahwa Allah pasti telah memberikan imunisasi alami itu di dalam tubuh manusia. Tinggal bagaimana kita mentadabburi ayat-ayat Allah untuk mendapat petunjuk tersebut. Apalagi bila dikaitkan dengan QS. An-Nur ayat 54 yang artinya, Allah-lah yang menciptakan kamu dari keadaan lemah, kemudian Dia menjadikan kamu setelah keadaan lemah itu menjadi kuat, kemudian Dia menjadikan kamu setelah kuat itu lemah kembali dan beruban.

…Selain ASI, tahnik pun juga menjadi cara untuk meningkatkan kekebalan tubuh bayi…

Pada poin inilah bayi memang mempunyai tubuh dan organ yang masih lemah. Islam pun memberi petunjuk untuk menguatkan si bayi dengan cara pemberian ASI eksklusif selama dua tahun. Selain ASI, tahnik pun juga menjadi cara untuk meningkatkan kekebalan tubuh bayi.

Tahnik adalah upaya mengunyah kurma oleh ayah si bayi sebelum kemudian diusapkan pada mulut mungil tersebut. Mengunyah secara alami di sini selain untuk melembutkan kurma juga membiarkan bercampurnya saliva atau air ludah yang akan membantu penguatan imun pada tubuh si bayi. Tidak boleh metode ini diganti dengan blender, diuleg atau cara pelembutan buatan dengan alat lainnya. Benar-benar harus murni dikunyah.

Selain kedua hal di atas, bekam adalah metode pengobatan yang berfungsi sebagai immunostimulator dan detoksifikasi. Bahasa awamnya adalah peningkat sistem kekebalan tubuh dan mengeluarkan racun dari dalam tubuh. Tusukan atau sayatan kulit pada proses bekam mekanismenya hampir mirip dengan rangsangan oleh cahaya matahari. Tusukan dan rangsangan ini akan mengaktifkan produksi anti mikroba anti virus secara alami dalam tubuh. (riafariana/voa-islam.com)

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2014/12/15/34512/bedah-buku-imunisasi-ciptaan-allah-solusi-dalam-islam/

Ini 4 Metode Mendidik Anak yang Dikenal Dalam Islam

Sahabat Muslimah…

Memiliki anak yang bisa dibanggakan orang tua pastilah keinginan semua orang tua. Memiliki anak yang bisa menjadi sandaran dihari tua pun dambaan semua orang tua. Keinginan ini bisa dirasakan bukanlah seperti membuat mie instan. Namun tentunya membutuhkan proses panjang yang akan mendidik dan menempa buah hati kita akan menjadi seorang muslim Kamil yang mampu menghadapi hidup ini seterang cahaya keimanan.

Sesungguhnya Islam telah memancarkan cahaya dalam pendidikan. Pendidikan secara islami memiliki keistimewaan, yaitu menjadi bekal hidup sepanjang masa baik di dunia maupun diakherat. Metode pendidikan yang berlandaskan Alquran dan sunnah ini sangat penting. Pendidikan Islam harus ditanamkam sejak dini bahkan sejak anak masih dalam kandungan. Karena kehidupan ini harus selalu selaras dengan ilmu dan hukum Islam. Ada beberapa metode yang diperlukan dalam mendidik buah hati

Pertama: Pendidikan Dengan Observasi

Bentuk pendidikan secara observasi merupakan pendidikan yang mendasar, dimana orang tua selalau menyertai anak-anaknya dalam pembentukan aqidah dan akhlak yang terbentuk dalam diri anak. Orang tua disyari’atkan mengamati atas apa yang terjadi dengan anak-anaknya. Dengan mendampingi buah hati bukan hanya untuk memantau atau menjaga buah hati saja, namun sebenarnya dengan bersandingnya orang tua akan mengasah rasa kasih sayang yang terpancar dari orang tua. Karena orang tua melarang ataupun memerintah selalu dengan penuh kasih sayang dan kelembutan hati. Rosululloh bersabda:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا نَحَلَ وَالِدٌ وَلَدَهُ نُحْلًا أَفْضَلَ مِنْ أَدَبٍ حَسَنٍ

Artinya: Orang tua tidak bisa memberi pemberian kepada anaknya yang lebih utama daripada adab yang baik.(H.R. Ahmad)

Namun terkadang sikap pura-pura pun dibutuhkan dalam menghadapi berbagai perangai anak yang mungkin kurang disenangi orang tua. Terutama dikala anak memasuki usia satu setengah sampai tiga tahun, pada tahun ini anak biasanya cenderung untuk mencari perhatian dari orang tua maupun yang ada disekitarnya. Disaat demikian diperlukan sikap kepura-puraan, sebab apabila orang tua menanggapinya dengan keras anak akan cenderung lebih aktif lagi. Tapi sikap toleransi orang tua kepada anak juga dibutuhkan dalam kesempatan yang lain, kerena terlalu detail dalam menilai anak akan menimbulkan dampak negatif pada psikis maupun pendidikannya.

Kedua: Pendidikan dengan Pembiasaan

Pendidikan dengan cara pembiasaan sangat dibutuhkan, baik dalam segi pembiasaan ibadah maupun pembentukan akhlak. Karena dikala buah hati kita telah memiliki kebiasaan yang benar secara syar’i, maka suatu kebaikan akan otomatis menghiasi segala geraknya. Karena kebaikan itu telah menghunjam dengan bekas yang dalam bak ukiran di atas batu yang keras.

Ibnu mas’ud mengungkapkan: “Biasakanlah anak-anak untuk melakukan kebaikan, sebab kebaikan itu sebuah kebiasaan”.

Dengan demikian pendidikan dengan pembiasaan bukan hanya sebatas pada hal-hal yang bersifat ibadah, namun juga pada akhlaq dan kebiasaan hidup.

Ketiga: Pendidikan dengan Nasehat

Pendidikan dengan nasehat ini harus memperhatikan dua sisi yaitu mengarahkan kepada kebenaran dengan mengingkari kemungkaran. Dikala anak telah memahami keduanya, di sinilah sesungguhnya peran nasihat sangat dibutuhkan. Karena sesungguhnya daya nalar anak masih membutuhkan bimbingan supaya tepat dalam menyimpulkan apa yang dilihatnya. Dengan nasihat inilah orang tua mendorong anak untuk memperbaiki kesalahan dengan menjelaskan akan sebab akibatnya.
Rosululloh mengungkapkan “Agama adalah nasihat”.

Al Khaththabi mengatakan: Nasihat adalah sebuah kalimat yang luas cakupan maknanya. Maknanya adalah menghendaki kebaikan bagi orang yang diberi nasehat.

Ibnu Shalah: Nasihat adalah kata-kata yang mencakup aktivitas seorang yang memberi nasihat kepada yang diberi nasihat dalam bentuk iradah (tekad) dan perbuatan.

Keempat: Pendidikan dengan Tarhib wa Targhib

Pendidikan dengan tarhib (ancaman) dan targhib (motivasi) merupakan salah satu cara jitu yang dibutuhkan dalam mendidik anak. Metode ini bisa membantu menumbuhkan perangai bagus dan akhlakul karimah serta nilai-nilai sosial pada diri anak. Alloh pun dalam Al Qur’an menggunakan wa’dun wal wa’id (janji dan ancaman). Alloh memberikan janji berupa surga yang penuh dengan kenikmatan tanpa cela dan memberikan ancaman neraka yang penuh dengan siksaan.

Motode tarhib, menurut penelitian di era kekinian ditemukan ternyata metode ini sangat dibutuhkan. Karena jikalau anak terlalu dilonggarkan dalam melakukan tindakan, maka akibatnya ia akan menyusahkan kedua orang tuanya. Dan dengan adanya ancaman hukuman akan mampu memperbaiki perangai dan akhlaq pada diri anak. Sebagaimana yang diajarkan Rosululloh dalam mendidik anak-anak kecil supaya tertib dalam mengerjakan sholat. Rosululloh bersabda:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُرُوا الصَّبِيَّ بِالصَّلَاةِ إِذَا بَلَغَ سَبْعَ سِنِينَ وَإِذَا بَلَغَ عَشْرَ سِنِينَ فَاضْرِبُوهُ عَلَيْهَا

Artinya: Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Perintahkanlah anak kecil untuk melaksanakan shalat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun, dan apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun maka pukullah dia apabila tidak melaksanakannya. (HR Abu Dawud).

Bagi para orang tua, jangan terlalu sering memberikan ancaman kepada anak tanpa memberikan hukuman, sebab hal itu akan menjadikan diri anak tidak terlalu mengindahkan ancaman tersebut. Namun laksanakanlah ancaman tersebut agar anak merasa jera dan tidak mengulanginya lagi. Ini sangat penting, sebagai bukti kesungguhan kita.

Begitu juga metode targhib dalam awal-awal fase kehidupan anak, terkadang anak akan merasa berat dalam mengerjakan sebuah amalan, maka hal ini membutuhkan motivasi dari kedua orang tuanya sebagai pendorong untuk melakukannya sehingga anak merasa senang dan terasa ringan dalam menjalankannya, karena ada sebuah imbalan yang dijanjikan.
Berhati-hatilah kepada orang tua didalam menggunakan metode at tarhib wat targhib ini, jangan sampai menimbulkan rasa takut pada anak yang berlebihan karena akan menjadikan anak semakin minder. Tapi tanamkanlah rasa takut kepada Alloh dan siksa-siksa-Nya baik di dunia maupun di akherat kelak.

Sahabat Muslimah…

Inilah beberapa metode dalam mengasuh buah hati yang bisa dilakukan orang tua dalam menuju tercapainya generasi Islam yang sholih dan sholihah. Wallohu a’lam bisshowab. [ukhwatuna/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2014/12/12/34467/ini-4-metode-mendidik-anak-yang-dikenal-dalam-islam/

2 Persoalan yang Bikin Orang Tua Marah Tapi Tidak Durhaka, Apa Itu?

Sahabat VOA-Islam yang Shalih dan Shalihah…

Berbakti kepada orang tua adalah kewajiban yang tak boleh dielakan. Menghormati Abi dan Ummi merupakan keharusan yang wajib dipenuhi. Pasalnya, merekalah yang selama ini menjadi perantara setiap ilmu kebaikan dan rizki kepada kita, sehinggga kita bisa menjadi seperti sekarang ini.

Durhaka kepada orang tua adalah tindakan terlaknat yang membawa seseoran masuk kedalam kesuraman. Mengecewakan Abi dan Ummi merupakan prestasi buruk dalam hidup, karena membahagiakan mereka adalah kewajiban setiap putra dan putrinya.

Akan tetapi, dalam pandangan Islam, ada dua persoalan yang tidak termasuk durhaka kepada orang tua bila dilakukan, meskipun orang tua marah dan kecewa kepada sikap kita. Apakah dua persoalan itu?

Pertama: Memberikan Kesaksian Benar yang Memberatkan Orang Tua

Memberikan kesaksian benar yang memberatkan kedua orang tua, jika kedua rang tua itu memiliki tanggungan hak orang lain, bukan termasuk perilaku durhaka sama sekali, justru termasuk bentuk bakti kepada orang tua.

“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. Jika ia kaya ataupun miskin, maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu karena ingin menyimpang dari kebenaran. Dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, maka sesungguhnya Allah adalah Maha Mengetahui segala apa yang kamu kerjakan” (QS An Nisa[4]: 135).

Diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari, bahwasanya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam pernah bersabda kepada para sahabatnya,

انْصُرْ أَخَاكَ ظَالِمًا أَوْ مَظْلُومًا

Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi.

Kemudian ada seseorang bertanya tentang bagaimana cara menolong orang yang berbuat zalim? Beliau menjawab, “Kamu cegah dia dari berbuat zalim, maka sesungguhnya engkau telah menolongnya.”

Maka bukanlah sebuah sikap durhaka kepada orang tua, bila kita mendapati diantara kedua orang tua kita ternyata melakukan sebuah kedustaan sedangkan kita tahu, maka wajib bagi kita untuk meluruskan, dan bila kita diminta untuk bersaksi bahwa kedua orang tua jelas berbohong, maka wajib seoarang anak berkata dengan benar, meski harus menyalahkan tindakan kedua orang tuanya.

Karena dalam Islam, membela sebuah kebenaran itu adalah kewajiban, selain itu dengan kita berkata benar, mekipun kedua orang tua kita marah, maka hakikatnya kita sedang menolong mereka dari kebinasaan.

Hanya saja, bagaimanapun salah orang tua kita bila jelas data dan fakta, sebaiknya seorang anak tetap memakai akhlak dan kalimat yang santun dalam memberikan sebuah kesaksian. Sebagai tanda bukti bahwa kita masih menghormati mereka sebagai anak kepada orang tuanya.

 

Kedua: Meninggalkan Perintah Orang Tua demi Perintah Allah dan Rosul

Membela kebenaran adalah harga mati, kebanaran yang dimaksudkan adalah segala sesuatu yang datang dari wahyu Allah. Apabila hal ini terjadi pada kita, dimana orang tua lebih memilih pada kebatilan sedangkan kita berpihak pada kebenaran, maka wajib bagi kita untuk istiqomah dalam kebenaran.

Muslimah yang diperintah untuk mencopot jilbabnya, ikhwan yang dipaksa mencukur jenggotnya biar keliatan muda, pegawai yang dimarahi karena celananya mendadak cingkrang, atau dipaksa dipajang di depan para tamu di saat walimahan pernikahan.

Terlebih lagi bila orang tua memerintahkan untuk melakuan sebuah tindakan syirik atau mengajak pada pemahaman syirik untuk diyakini, maka hal seperti ini haram untuk diikuti. Di dalam kitab Al Quran, Allah -Ta’ala- menjelaskan hal ini dalam firman-Nya,

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حُسْنًا وَإِنْ جَاهَدَاكَ لِتُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ  [العنكبوت/8]

“Dan Kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Hanya kepada-Ku-lah kembalimu, lalu Aku kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. Al-Ankabut : 8 )

Allah -Azza wa Jalla- berfirman,

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَى وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ (14) وَإِنْ جَاهَدَاكَ عَلَى أَنْ تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفًا وَاتَّبِعْ سَبِيلَ مَنْ أَنَابَ إِلَيَّ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَ  [لقمان/14، 15]

“Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang tuanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu. Hanya kepada-Kulah kembalimu.  Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya. Dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepada-Ku. Kemudian hanya kepada-Kulah kembalimu, maka Aku akan beritakan kepadamu apa yang telah kalian kerjakan”.(QS. Luqman : 14-15)

Al-Imam Muhammad bin Ali Asy-Syaukaniy -rahimahullah- berkata:

“Jika ketaatan kepada kedua orang tua tidak boleh dalam kondisi seperti ini, padahal keduanya memaksa sang anak, maka tidak bolehnya taat kepada keduanya (yakni, dalam maksiat), karena hanya sekedar permintaan mereka, tanpa ada paksaan adalah lebih utama. Digolongkan dalam permintaan kesyirikan oleh keduanya, seluruh kemaksiatan kepada Allah –Subhanahu-. Jadi, tak ada ketaatan kepada kedua orang tua dalam perkara kemaksiatan kepada Allah sebagaimana hal itu telah shohih dari Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-“. [Lihat Fathul Qodir (5/430)]

Bagaiaman pun tingginya kedudukan orang tua kita, maka seorang anak dilarang keras dalam agama untuk menaati mereka dalam perkara maksiat. Yakni, jika mereka menyuruh kita berbuat maksiat dan dosa, baik dipaksa atau tidak, maka haram hukumnya menaati mereka menurut agama!

Hal yang seperti ini sama hukumnya dengan pimpinan negara atau panglima pasukan. Jika mereka memerintahkan kita berbuat maksiat, maka tak boleh kita taati, siapapun dia!

Dari Ali bin Abi Tholib -radhiyallahu anhu- berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بَعَثَ جَيْشًا وَأَمَّرَ عَلَيْهِمْ رَجُلاً فَأَوْقَدَ نَارًا وَقَالَ ادْخُلُوهَا. فَأَرَادَ نَاسٌ أَنْ يَدْخُلُوهَا وَقَالَ الآخَرُونَ إِنَّا قَدْ فَرَرْنَا مِنْهَا. فَذُكِرَ ذَلِكَ لِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ لِلَّذِينَ أَرَادُوا أَنْ يَدْخُلُوهَا « لَوْ دَخَلْتُمُوهَا لَمْ تَزَالُوا فِيهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ ». وَقَالَ لِلآخَرِينَ قَوْلاً حَسَنًا وَقَالَ « لاَ طَاعَةَ فِى مَعْصِيَةِ اللَّهِ إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِى الْمَعْرُوفِ ».

“Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- pernah mengirim pasukan dan mengangkat bagi mereka seorang pimpinan.Kemudian pimpinan itu menyalakan api seraya berkata, “Masukilah api itu!!”

Beberapa orang ingin masuk ke api itu. Yang lain lagi berkata, “Sesungguhnya kita itu lari dari api”.

Akhirnya, perkara itu dilaporkan kepada Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam-. Kemudian Rasulullah -Shallallahu alaihi wa sallam- bersabda kepada orang-orang yang mau memasuki api itu,

“Andaikan kalian memasukinya, maka kalian akan terus berada dalam api itu sampai hari kiamat”.

Beliau mengucapkan ucapan yang baik kepada kelompok yang lain, seraya bersabda, “Tak ada ketaatan kepada makhluk dalam rangka bermaksiat kepada Allah.Ketaatan itu hanyalah dalam perkara yang ma’ruf”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Shohih-nya (7257) dan Muslim dalam Shohih-nya (1840)]

Dari sini maka jelaslah sudah bahwa kewajiban seorang anak kepada orang tua untuk menghormati serta taat adalah sebuah hal yang harus ditunaikan.Akan tetapi, bila hal itu bertentangan dengan apa yang diperintahkan Allah maka haram untuk menjalankanya, meskipun di saat itu orang tua kita marah dan mencaci kita. Semoga Allah berikan keberkahan dalam hidup kita. Insya Allah. [bbs/protonema/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2014/12/10/34422/2-persoalan-yang-bikin-orang-tua-marah-tapi-tidak-durhaka-apa-itu/

Mamah Dedeh: Toleransi tak Perlu Sampai Pakai Atribut dan Ikut Rayakan Natal

JAKARTA (voa-islam.com) – Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama (Kemenag) Machasin menyebutkan muslim diperbolehkan memakai atribut natal selama tidak mengubah apa-apa, termasuk iman dan keyakinan sebagai seorang muslim.

Dikarenakan menurut Machasin, kondisi Indonesia termasuk perusahaan seperti pusat perbelanjaan atau televisi yang sudah bertradisi memerintahkan karyawannya memakai atribut natal.

“Kalau hanya untuk turut meramaikan boleh, tapi untuk merayakannya yang tidak boleh,” kata Machasin Senin (8/12).

Sementera itu, Ustazah Mamah Dedeh dengan tegas mengatakan haram atau dosa hukumnya bagi muslim memakai atribut natal. Izin dari Kemenag dianggapnya akan membuat publik bingung.

“Saya dengan tegas tidak setuju. Pernyataan tersebut bisa membuat masyarakat bingung. Jangan membuat bingung karena hukumnya jelas haram,” ujar Mamah Dedeh seperti dilansir Republika Online, Senin (8/12).

Mamah Dedeh mengatakan peraturan yang sudah jelas ada dalam Al-Quran tidak bisa diganggu gugat, dilanggar karena sebagai pegangan utuh bagi seorang muslim.

“Kalau memang agamanya Islam, ikuti aturan Islam, dan firman Allah Lakum Dinukum Waliyadin, bagimu agamamu dan bagiku agamaku, tidak boleh saling mencampuri walau hanya sekadar memakai atribut,” kata Mamah Dedeh.

Terlepas dari kondisi Indonesia yang sudah bertradisi dengan atribut natal, kamat Mamah juga hukumnya tetap haram bagi muslim.

“Yang namanya haram tetap dosa, toleransi saling menghargai tidak perlu sampai memakai atribut atau ikut merayakan natal,” kata dia.  

Sebelumnya Mamah Dedeh juga memberikan landasan dalil pelarangan serta dua pendapat ulama, ada yang membolehkan sekadar mengucapkan selamat, tetapi dari kedua pendapat itu sama sekali tidak memperbolehkan pemakaian atribut agama lain.

“Dalam Surah Al-Fath ayat 29 dan Surah Maryam tegas-tegas dilarang,” katanya. [syahid/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2014/12/09/34391/mamah-dedeh-toleransi-tak-perlu-sampai-pakai-atribut-dan-ikut-rayakan-natal/

Mengapa Tidak Boleh Membiarkan Bayi Terlalu Lama Menangis?

Sahabat VOA-Islam yang Dicintai Allah SWT…

Apa jadinya bila si bayi terus menangis? Apa yang harus dilakukan seorang bunda bila mendengar si bayi menangis? Kita biarkan atau kita bergegas menggendongnya? Apa arti dari tangis dan tawa si bayi? Dan seberapa dalam pengarus belaian sang bunda pada bayinya? Temukan dalam tulisan yang singkat dan mencerahkan ini insya Allah.

Dalam buku Dzaka’u Al Radhi yang ditulis oleh Dr Muhamad Al Nabuly disebutkan, penelitian-penelitian modern telah menemukan bahwa proses menyusui merupakan proses melatih kemauan. Bukan saja karena seorang bayi hendak minum susu kemudian menangis jika tidak menyusu, tetapi ia merupakan proses pelatihan untuk menyusu karena dia tidak lagi berada di dalam perut si bunda

Maksudnya apa? Penelitian-penelitian ini membantu memberikan kesimpulan, bahwa seorang bayi ketika menangis, dia menangis untuk mereflesikan perasaan gelisah,sakit,atau perasaan tidak nyaman, yaitu dia menangis karena kemauan.Begitu juga ketika dia tertawa,maka tawanya itu adalah kemauan yang merefleksikan situasi nyaman dan perasaan cukup.

Atas dasar ini, dibuat suatu penelitian lapangan sekitar tahun 1980 dan 1983, dengan menggunakan 81 anak sebagai sampel yang dibagi ke dalam tiga kelompok. Diantara hasil terpenting yang ditemukan melaui kajian ini ialah:

Pertama: Bahwa bayi senantiasa menggunakan tangisan sebagai bahasa interaksi dengan lingkungan dan untuk merefleksikan keadaan dirinya.Tangisan merupakan bahasa pertama yang digunakan oleh bayi untuk meminta respon orang lain.

Tangisan ini merupakan refelksi atas rasa sakit,lapar,haus,marah, bahkan rasa takut.Lambat laun, ibu dengan fitrahnya akan dapat membedakan jenis tangisan dan memberikan respon kepada anaknya.

30 tahun yang lalu, terdapat sebuah teori yang mengatakan: “Biarkan anak menangis karena tangisan dapat membantu anak untuk bernafas dan melepaskan perasaan emosionalnya”. Tetapi, ternyata teori ini tidak valid, karena membiarkan anak menangis justru akan dapat memberikan dampak negatif kepada perasaan anak yang dapat menimbulkan keresahan yang tidak menentu.

Menyebabkan ia tidak mempunyai kemampuan untuk mengungkapkan perasaan-perasaan positif. Dari sini jelas, kita disarankan agar para ibunda segera memberikan respon terhadap tangisan anaknya, dan membantu mereka untuk meringankan gangguan-gangguan negatif.

Kedua:Bahasa yang digunakan oleh anak untuk berinteraksi dengan lingkungan ialah bahasa tawa. Setelah anak mengunakan bahasa tangisan dan merasa berhasil mengungkapkan lapar,sakit,takut,marah bahkan jenuh, si bayi mengunakan reaksi positif dengan tawaseperti senang, nyaman dan bahagia.

Tawa pertama, biasanya dapat dilihat pada anak sejak hari ke-18.Ini merupakan tanda-tanda positif yang menujukan bahwa si anak menikmati beberapa hal berikut : 1) Tidak mengalami jenis-jenis penyakit mental pada keluarga. 2) Keadaan ketika hamil adalah sangat baik. 3) Ketika melahirkan semua pemeriksaan dilakukan secara sempurna dan sukses.

Jika terjadi sebaliknya, yaitu jika si anak mengalami keterlambatan tertawa, maka ini menunjukan adanya gangguan, baik itu ketika mengandung, melahirkan atau menunjukan adanya jenis penyakit genetik pada keluarga suami atau istri.

Dalam semua keadaan, sebab paling utama yang dapat melahirkan tawa pertama anak hanya satu. Ini berdasarkan penelitian-penelitian yang dilakukan, yaitu air susu ibu, tawa tidak hanya menunjukan kepada kita bahwa anak mampu mengungkapkan kepada kita bahwa anak mampu membedakan segala jenis perasaan.

Ketika para peneliti mendalami suatu penelitian mengenai faktor-faktor yang menghadirkan tawa pertama, ternyata mereka menemukan faktor kedua yang dapat melahirkan tawa anak, yaitu sikap seorang ibu terhadapanaknya.

Dimana setiap kerinduan seseorang ibu bertambah ketika menyusui kemudian tawa pertama anak mulai terlihat, maka kesadaran anak terhadap kerinduan dan perasaan ketika itu merupakan perasaan yang sangat penting yang mendorong jiwa seorang anak.

Faktor ketiga ialah belaian. Jika seorang bayi berinteraksi dengan lingkungan dengan bahasa tangisan dan tawa,maka bahasa pertama yang digunakan oleh orang dewasa untuk berinteraksi dengan bayi ialah belaian.

Di sinilah kita dapat menyadari betapa pentingnya arti menyusui, karena ia merupakan cara terbaik untuk melakukan belaian kepada buah hati seseorang dari sejak lahir. Seorang bayi sangat merindukan belaian yang merupakan cara terbaik dalam menumbuhkan pengetahuan dan perkembangan intelektual anak.

Sebuah kasus peristiwa misalnya: Ketika seekor kera dari induknya dan tidak dibenarkan menerima belaian induknya,maka ini akan berdampak kepada pertumbuhan mentalnya. Ketika anak kera tersebut disuruh menentukan pilihan antara induk yang terbuat dari kain kapas atau induk buatan dari bahan logam. Ini menunjukan betapa pentingnya arti belaian, termasuk bagi hewan.

Mungkin kita ingat bagaimana kebiasaan orang tua dulu, selalu membelai-belai dan memijat mijat si bayi tatkala mau dimandikan, ini adalah upaya agar si bayi mendapatkan kenyamanan sehingga tidak rewel saat dimandikan.

Kembali kami tekankan, proses menyusui adalah hal yang sangat penting, karena ia merupakan satu-satunya cara untuk membelai dan menumpahkan kasih sayang dan kehangatan. Di samping itu juga untuk memberi makan kepada anak.

Dan terakhir sekali kami tambahkan, bahwa cara-cara komunikasi, membelai dan merangsang bayi untuk tertawa memberi pengaruh besar terhadap pergerakan anak, seperti berjalan dan lebih cepat mengunkapkan kamilat-kalimat tertentu. [syahid/protonema/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2014/12/08/34343/mengapa-tidak-boleh-membiarkan-bayi-terlalu-lama-menangis/

Voa-Islamic Parenting (33): Ini 4 Kebutuhan Anak Yang Sebenarnya

Sahabat Muslimah VOA-Islam yang Shalihah…

Anak merupakan amanah besar dari Alloh bagi ke dua orang tua. Dari amanah tersebut akan menimbulkan kewajiban. Dikala orang tua mampu mengemban amanah tersebut, maka adanya anak menjadikan orangtua bak memiliki mesin pahala yang selalu produktif. Maka seharusnyalah orang tua memahami hal ini, sehingga mengasuh dan mendidik anak dengan sekuat tenaga. Alloh berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya para malaikat yang kasar lagi keras, yang tidak mendurhakai Alloh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang Alloh perintahkan. (Q.S At-Tahrim: 9).

Ayat diatas bukan sekedar perintah untuk menjaga diri dan keluarga agar terjaga dari siksa api neraka, namun juga berisi ancaman di akherat kelak bagi siapa yang melalaikan dan menyia-nyiakan keluarganya. Kita ketahui yang dimaksud keluarga yaitu suami, istri dan anak. Berarti dalam ayat ini sesungguhnya sangat besar dosanya bagi siapa yang melalaikan anak dan istri.

Terutama bagaimana orang tua yang kurang mampu untuk mendidik anaknya. Seolah-olah menjadi materi wajib saat ini dikala ada ibu-ibu berkumpul tidak lepas dari pembahasan bagaimana mereka merasa kuwalahan dalam mendidik anak mereka. Rosululloh bersabda:

كلكم راع وكلكم مسؤول عن رعيته و الرجل راع وهو مسؤول عن رعيته والمرأة راعية فى بيت زوجها وهي مسؤولة عن رعيتها

Artinya: setiap kamu adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggungan jawaban atas apa yang kamu pimpin, seorang laki-laki adalah pemimpin dan akan dimintai pertanggunagan jawaban atas apa yang ia pimpin, dan wanita (istri) adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan dimintai pertanggungan jawaban atas apa yang ia pimpin.

Setiap dari kita adalah pemimpin, suami pemimpin dalam keluarganya dan akan dimintai pertanggungan jawaban atas apa yang ia pimpin. Suami menjadi pemimpin atas semua anggota keluarga, sedang istri mengurus semua yang ada dirumah termasuk anak-anak mereka.

Bagaimanakah langkah kita ketika kita mendapat amanah Alloh dengan hadirnya anak ditengah-tengah keluarga. Dengan hadirnya anak ini menuntut diri kita untuk bisa menjaganya agar ia selamat di kehidupan dunia dan lebih-lebih pada kehidupan akherat. Karena pada dasarnya anak terlahir ke dunia di atas fitrohnya yang lurus. Rosululloh bersabda:

كل مولود يولد على الفطرة فأبواه يهودانه او يناصرانه او يماجسانه

Artinya: setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitroh( tunduk dan patuh kepada Alloh), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Nasrani ataupun Majusi.

Kedua orang tua memiliki peran penting bagi pendidikan anak-anaknya. Sebagai orang tua haruslah mampu menempatkan anak-anaknya agar bisa mendapatkan pendidikan yang menjadi kemaslahatan bagi kehidupan dunia dan akheratnya. Maka dalam mendidik anak haruslah kita persiapkan beberapa aspek yang akan mempengaruhi tumbuh kembang atas anak kita:

Pertama: Rumah

Rumah merupakan tempat berkumpulnya orang tua dan anak. Di rumahlah anak akan menghabiskan sebagian besar waktunya. Otomatis dirumahlah anak akan merekam sebagian besar pengalaman yang dialaminya. Kejadian apapun atas tingkah laku anggota keluarga akan mempengaruhi pertumbuhan anak secara intelektual maupun psikis. Karena di rumah merupakan kekuasaan bagi seorang ibu, maka benarlah ungkapan yang mengatakan bahwa “Ibu adalah madrasah pertama bagi anaknya”.

Kedua: Lingkungan

Lingkungan adalah unsur kedua yang akan mempengaruhi anak. Kita harus menyadari bahwa anak juga makhluk sosial. Maka kita harus mengenalkan anak dengan lingkungan yang ada di sekitarnya. Dikala kita salah memilih lingkungan rumah sudah kebayang bagaimana repotnya orang tua dikala mendidik anak. Bila anak di rumah diberi nasihat supaya tidak membeli makanan yang tidak jelas kehalalannya namun bila lingkungan di sekitarnya kebanyakan orang kafir yang tidak mengenal halal haram, tentunya ini akan menjadi beban tersendiri.

Sebagai orang tua tidaklah mungkin akan mengekang anak supaya selalu di rumah. Maka lingkungan merupakan suatu kebutuhan dalam proses kehidupan anak supaya mengenal norma dan nilai.

Ketiga: Media

Di jaman modern ini bermacam-macam media sudah akrab dengan anak kita. Terutama televisi dan gadget sudah semakin melekat dan menjadi hal yang sulit untuk dipisahkan dari kehidupan. Namun pada kenyataannya ternyata dengan hadirnya media ini justru tidak menjadikan akhlaq anak semakin baik tapi sebaliknya. Anak menjadi semakin jauh dari nilai-nilai positif. Sebagai orangtua kita harus mengetahui bahwa anak pada umur 0-3 tahun yang suka nonton TV atau menggunakan gadget berpotensi mengalami gangguan dalam proses penyambungan synaps syaraf otak. Hal ini terjadi karena anak pada usia ini belum mampu memproses informasi pada tayangan TV maupun mengambil manfaat dari gadget yang ia gunakan.

Di sinilah peran orang tua sangatlah penting sebagai pemilih apapun yang menjadi konsumsi anaknya. Karena dikala anak menerima sesuatu yang tidak baik sesungguhnya hal itu akan tertanam dalam otak anak kita. Disitulah akan masuk pada black memory. Fatalnya sampai saat ini tidak tidak ada obat yang bisa menghilangkan black memory ini. Sebaga gambaran bisa kita rasakan bahwa dari kecil kita sudah mendapatkan informasi bahwa tempat gelap adalah tempatnya hantu. Informasi yang salah ini akan terbawa sampai tua. Coba saya sahabat muslimah masuk ke ruangan yang gelap dan rasakan apa yang difikirkan. Kita sebagai orang tua haruslah melek (Jawa: buka mata) terhadap tayangan TV dan perkembangan gadget.

Keempat: Sekolah

Sekolah disini bukanlah hanya terbatas pada lembaga formal saja. Namun yang dimaksud sekolah disini adalah suatu tempat yang digunakan untuk menuntut ilmu. Fungsi sekolah ini sebenarnya untuk menolong orang tua dalam memenuhi hak pendidikan atas anak. Maka orang tua harus tepat dalam memilihkan sekolah untuk anaknya supaya nilai-nilai yang ditanamkan sekolah sejalan dengan nilai-nilai yang ingin ditanamkan orang tua terhadap anak. Nilai-nilai Islamlah yang harus menjadi target bila orang tua ingin menjadikan anak sebagai investasi dunia dan akhirat.

Sebagai orang tua kita harus meyakini bahwa dengan ilmu agama lah yang akan menjadikan anak mendapatkan kemudahan atas ilmu yang lain. Namun bila dibalik, ilmu agama dinomorduakan akan menjadikan petaka bagi anak kita. Karena bila ilmu yang tertanam tidak didasari agama, maka ilmu tersebut akan membahayakan anak kita sendiri.

Sahabat Muslimah…

Dampingi lah buah hati kita. Karena dikala kita lengah dari penjagaan terhadap anak, maka anak yang seharusnya menjadi penyejuk pandangan kita justru akan memberatkan kita dalam mempertanggungjawabkan amanah ini dihadapkan Alloh kelak. [ukhwatuna/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2014/12/07/34342/voaislamic-parenting-33-ini-4-kebutuhan-anak-yang-sebenarnya/

Perempuan Kantoran Lebih Mudah Depresi daripada Laki-laki

Perempuan kantoran atau yang bekerja di luar rumah lebih mudah mengalami depresi ketika ada tuntutan dari pekerjaannya. Begitu sebaliknya, pada laki-laki gejala depresi ini angkanya malah menurun. Hal ini dinyatakan oleh Tetyana Pudrovska, sosiolog dari Universitas Texas.

“Tuntutan pekerjaan ini meliputi kewenangan untuk menerima pegawai, memecatnya, atau menaikkan gaji. Perempuan pada posisi ini mengalami gejala depresi yang meningkat dibandingkan teman-teman perempuan lainnya yang pegawai biasa. Hal ini berlaku sebaliknya, laki-laki yang berada di posisi ini mengalami penurunan gejala depresi dibandingkan laki-laki yang tidak memunyai kekuasaan apapun,” jelas Pudrovska yang memimpin penelitian ini.

“Mereka ini adalah perempuan dengan pendidikan tinggi, gaji tinggi, jenis pekerjaan pun bergengsi, dan menduduki posisi tinggi pula di kantornya. Tapi sayangnya, kesehatan mental mereka memburuk yang diikuti dengan depresi dibandingkan teman perempuan yang memunyai status lebih rendah daripada mereka,” Pudrovska melengkapi penjelasannya.

Lalu, apa penyebab dari depresi pada perempuan bekerja terutama yang memunyai kewenangan tinggi ini?

Setelah dilakukan penelitian, penyebab kondisi ini adalah pandangan negatif masyarakat terhadap perempuan sendiri. Ada penolakan dari bawahan, teman kantor, bahkan atasan. Perempuan yang memunyai kewenangan atau kekuasaan seperti ini dianggap tidak mampu bersikap tegas dan kurang memunyai jiwa kepemimpinan. Tapi bila mereka bersikap tegas dan disiplin, mereka dianggap tidak feminin dan tidak mewakili karakter perempuan. Di posisi ini, perempuan mengalami dilema. Serba salah terhadap posisinya atas tuntutan masyarakat terhadap sosok perempuan sendiri.

…Perempuan terjebak dilema pada apa yang menurutnya keberhasilan: posisi tinggi pada karier namun rapuh di kejiwaan sehingga meningkatkan angka depresi….

Jangan salah, penelitian ini dilakukan pada laki-laki dan perempuan lulusan SMA di Wisconsin, Amerika. Negara yang dianggap sebagai pelopor gerakan feminisme yaitu memperjuangkan hak perempuan agar setara dengan laki-laki. Dan sekian puluh tahun gerakan itu berjalan, bukannya memperbaiki kondisi perempuan, tapi sebaliknya. Perempuan yang meramaikan bursa kerja di luar rumah, campur-baur dengan laki-laki, tidak makin mengangkat derajat perempuan ke posisi yang lebih baik. Perempuan terjebak dilema pada apa yang menurutnya keberhasilan: posisi tinggi pada karier namun rapuh di kejiwaan sehingga meningkatkan angka depresi. Inikah yang diinginkan perempuan?

Bersyukurlah kita sebagai muslimah yang mau diatur oleh hukum syariat. Betapa Mahatahu Allah yang memberikan perempuan kesempatan bekerja tapi hukumnya mubah. Mubah adalah boleh diambil dan boleh tidak, tergantung kondisi yang bersangkutan. Apakah dengan dia bekerja akan menambah manfaat pada dirinya dan umat atau sebaliknya. Satu hal lagi, izin atau ridho suami (bagi yang bersuami) mutlak diperlukan. Karena tanggung jawab mencari nafkah ada di pundak laki-laki, bukan perempuan.

…Apa yang diperjuangkan oleh para feminis, Islam sudah memunyai jawabannya….

Betapa indahnya, perempuan diletakkan sesuai dengan fitrahnya. Kondisi jiwanya yang lembut diletakkan dalam perlindungan laki-laki yang akan memenuhi nafkah dirinya. Ia tidak perlu pusing tentang hal ini. Fokusnya adalah bagaimana ia bisa nyaman berada di rumah untuk mendidik generasi hebat bagi masa depan. Tingkat stress dan depresi pada perempuan bisa ditekan.

Apa yang diperjuangkan oleh para feminis, Islam sudah memunyai jawabannya. Hak yang mereka minta baik dari segi sosial, politik, pendidikan, pekerjaan dan lain sebagainya, Islam telah memberikan dan menerapkannya sejak berabad yang lalu. Karena sungguh, perjuangan apapun bentuknya bila tidak memakai jalur yang diberikan oleh pencipta manusia sendiri yaitu Allah SWT., maka hasilnya adalah kerusakan. Wallahu alam. (riafariana)

Image: tabloidnova.com

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2014/12/05/34306/perempuan-kantoran-lebih-mudah-depresi-daripada-lakilaki/