BERJALAN 30 MENIT SETIAP HARI MENURUNKAN TEKANAN DARAH

Menurut para peneliti dari universitas Illinois, Amerika serikat, bahwa berjalan kaki selama 30 menit setiap hari dapat membantu menurunkan tekanan darah pada pembuluh arteri sampai batas yang normal. Para peneliti bahkan merekomendasikan bahwa tidak perlu melakakukan olahraga keras dan berat untuk mendapatkan manfaat kesehatan. Tapi, cukup dengan membiasakan berolahraga untuk menjaga kesehatan tubuh dengan meninggalkan segala hal yang dapat meningkatkan tekanan darah.
Para peneliti menyebutkan bahwa 40 juta orang dalam wilayah Amerika Serikat terkena peningkatan tekanan darah pada pembuluh arteri sistolik atau distolik yang tekananya melibihi 90/140 mmHg dan 40% diantara mereka adalah warga amerika keturunan afrika.
Penelitian ini dilakukan selam 6 bulan kepada 40 orang warga amerika keturunan afrika yang terkena peningkatan tekanan tekanan darah pada kisaran umur 35-59 tahun. Para peneliti menerapkan kepada mereka kepada mereka untuk berjalan kaki setidaknya 30 menit atau 1,5 mil2 (1 mil = 1,6 km) setiap hari. Yang apabila dikondisikan dengan kegiatan mereka sehari-hari bisa mencapai 10.000 langkah atau 3,5-4 mil setiap hari.
Para dokter juga menganjurkan mereka yang terkena penyakit tekanan darah untuk berjalan kaki dan banyak gerak dalam kegiatan sehari-hari, seperti lebih memilih menggunakan tangga daripada lift, memarkir mobil di tempat agak jauh dari tempat kerja dan rumah, serta mengurangi konsumsi garam. Para dokter memperingatkan bahwa membiarkan begitu saja kondisi tekanan darah ini tanpa pengobatan akan beresiko pada gangguan penglihatan, serangan jantung,stroke,atau bisa juga gagal ginjal.
Selain itu, sekelompok peneliti melakukan percobaan kepada 15 orang ibu-ibu yang memiliki tekanan darah tinggi. Hasilnya, ibu-ibu yang berjalan kaki sejauh 3 km atau sekitar 1,9 mil setiap harinya mengalami penurunan tekanan darah sistolik sekitar 11 poin selama 24 pekan.
Berjalan kaki juga dapat menurunkan kadar lemak dalam tubuh. Berjalan kaki sejauh satu mil membantu pembakaran 60 kalori. Bila seseorang ‘menambah’ kecepatan dan langkahnya saat berjalan kaki pada 30 menit sejauh 25 mil maka tubuh akan mampu membakar 200 kalori3(www.aljazeera.net diakses 5/4/2003).

Article source: http://tabloidbekam.wordpress.com/2012/05/21/berjalan-30-menit-setiap-hari-menurunkan-tekanan-darah/

Indonesia Hari Ini

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Indonesia hari ini memang berbeda, jika dibandingkan dengan 20 tahun yang lalu, masa dimana saya menghabiskan masa kanak-kanak di sebuah desa terpencil dengan literatur masyarakatnya yang lemah lembut hingga akhirnya keluarga pindah ke kota kecil ikut dengan ayah yang kala itu selalu berpindah tempat untuk dinas kenegaraan, sekolah saya pun selalu berpindah-pindah, SD saja di habiskan di 3 sekolah yang berbeda.

Catatan ringan kali ini bukan untuk cerita masa kecil, remaja atau sekarang melainkan ingin menyapa negeri yang begitu saya banggakan, yaa….dialah Indonesia,  dia  bukanlah suku , ras atau golongan tertentu, terlalu sempit jika bicara Indonesia pada satu golongan saja.

Beberapa minggu lagi insya Allah saya akan merampungkan program Master bidang studi Islam di tempat yang begitu jauh dari Tanah air, sesekali saya membuka berita untuk sekadar melepas lelah dan rindu akan bumi pertiwi. Maklum saja sudah hampir 8 tahun saya berada di tanah Arab.

Entah kenapa, berita yang disajikan selalu membuat dahi ini mengerut 5 cm dan membosankan, atau mungkin  ini polesan media agar dapat menghasilkan uang dari hasil beritanya, sehingga warna yang ditampilkan hanyalah yang bernilai jual ‘Bad Thing is Good News’,  saya yakin sebenarnya masih banyak sisi lain dari negeri kita yang patut dibanggakan.

Percaya tidak percaya, memang  fenomena demi fenomena itu hadir menghiasi hari-hari kita, diskursus para elit, kisruh pilkada, tawuran antar warga, krisis moral, miskin toleransi, pemekaran daerah, kerja amburadul, mental tukang peras dan freeman, inilah kelemahan bangsa kita yang amat memalukan di mata dunia.

Kadang saya berpikir apakah negeri ini harus hancur lebur terlebih dahulu, hancur lebur sama seperti saat dijajah oleh hegemoni barat puluhan tahun silam, lapisan masyarakat dari berbagai unsur di seluruh negeri bersatu mengusir penjajah atas nama Indonesia tercinta, adapun konteks kekinian yaitu mengusir kemalasan dan kebodohan.

Terlalu panjang jika harus bercerita negeri kita, negeri yang sudah mulai kehilangan jati diri dengan keramahtamahannya, lemah lembut dan lain-lain, paling tidak saya jadi teringat ucapan nenek yang berpesan sebelum saya menimba ilmu di luar negeri, “nak……usahakan, jagalah hati orang, jaga….jangan sampai kita menyakiti hati orang sedikit pun” begitu redaksinya kurang lebih sambil berkata dengan penuh penghayatan kepada saya.

Teringat  juga  konteks dari pesan Rasulullah akan pentingnya menjaga hati orang lain, dimana beliau mengajarkan betapa pentingnya kebajikan walaupun sedikit dan jangan meremehkannya, seperti wajah ceria kita saat bertemu dengan saudara, rekan, kerabat, handai taulan dan  orang lain yang belum kita kenal.

Begitu mulianya Islam memanusiakan manusia dengan segala ajarannya yang lurus, tapi sayang dari kita seolah berbalik arah dan banting setir kembali ke zaman primitif modern dengan maraknya aksi kekerasan, perpecahan, kemiskinan yang merajalela ditambah kebodohan.

Saya hanya bisa memandang langit untuk saat ini dan berdoa akan Indonesia yang lebih baik dan bermakna, melihat tanah air dari luar menjadikan teringat akan perangai yang lemah lembut dari Almarhumah ibunda,  lama sudah saya tak menyapanya, paling tidak saya  sudah bisa menangkap pesan  tersirat darinya yang tidak jauh berbeda seperti pesan nenek.. Semoga.

Salam dari Maroko negeri di penghujung Afrika,

Pelajar yang merindukan tanah air.

Topik:
Keyword:

Article source: http://feedproxy.google.com/~r/dakwatunacom_suplemen/~3/vMYozVPRh9Y/

7 Wasiat Rasulullah Kepada Abu Dzar Al-Ghifari

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Puji syukur kehadirat Allah yang telah menurunkan utusan-Nya Nabi Muhammad SAW yang telah memberikan petunjuk dan jalan paling terang kepada umat manusia di bumi ini, yaitu agama Islam. Pada diri Nabi Muhammad SAW dapat kita temukan suri tauladan terbaik bagi seluruh manusia. Tutur katanya, perilakunya, kebijaksanaannya, semua tingkah lakunya di dunia ini membawa kebaikan dan contoh yang baik bagi setiap manusia di bumi ini.

Berkat kesabaran dan kasih sayang beliaulah kita sampai saat ini dapat menjadi seorang muslim seutuhnya yang bebas memeluk agama Islam secara merdeka. Perjuangan beliau dalam menyebarkan ajaran Islam yang suci dan indah ini sudah tidak dapat diragukan lagi. Caci maki, kekerasan fisik dan psikis sering dialami beliau karena keikhlasan beliau dalam menyampaikan kebaikan. Cinta beliau kepada Allah dan para umat Islam membuat beliau lupa akan semua rasa perih dan sakit yang beliau terima dan rasakan.

Sebelum kepergiannya, beliau telah meninggalkan begitu banyak suri tauladan yang baik yang dapat kita jadikan pedoman hidup agar dapat menjadi seorang muslim yang kaffah dan seutuhnya. Salah satunya adalah ketujuh pesan beliau kepada salah seorang sahabat, Abu Dzar Al-Ghifari. Ketujuh wasiat tersebut adalah:

1. Mencintai orang miskin

Beliau memerintahkan kita seluruh umat Islam agar senantiasa untuk mencintai orang miskin. Orang-orang miskin yang beliau maksudkan adalah orang-orang yang hidupnya tidak berkecukupan dan tidak mempunyai harta untuk mencukupi kehidupannya, dan mereka tidak mau meminta-minta untuk mencukupi kebutuhan mereka.

Wasiat ini berlaku umum untuk seluruh umat Islam. Yang dimaksud dengan mencintai adalah lebih kepada sikap dan perlakuan kita terhadap orang-orang miskin. Kita dituntut untuk berlaku tawadhu, duduk bersama mereka, menolong mereka, serta turut bersabar bersama mereka. Menolong dan berbagi dengan mereka, adalah salah satu bukti paling nyata dan kongkret dari rasa cinta kita terhadap orang miskin. Berbagi dan menolong terhadap sesama tentu saja akan mendatangkan Ridha-Nya dan kasih sayang-Nya, seperti apa yang disabdakan oleh Rasulullah SAW

Barangsiapa menghilangkan kesusahan dunia dari seorang mukmin, Allah akan menghilangkan darinya satu kesusahan di hari Kiamat. Dan barangsiapa yang memudahkan kesulitan orang-orang yang dililit utang, Allah akan memudahkan atasnya di dunia dan di akhirat.

Ingin ditolong Allah pada hari akhir nanti? Maka bergiatlah untuk menolong sesama, terutama menolong orang-orang miskin, agar senantiasa mendapatkan pertolongan dan kasih sayang-Nya. Sesama hidupnya, Rasulullah SAW pun selalu mencintai orang-orang miskin dan dekat dengan mereka. Rasulullah pun selalu menghimbau dan mengajak para sahabatnya agar selalu mencintai mereka yang mengalami kekurangan dari segi ekonomi.

Dalam suatu riwayat Ibnu ‘Umar disebutkan pada satu hari bahwa salah seorang dari kaum Muhajirin yang miskin menceritakan kepada Rasulullah, betapa beruntungnya mereka yang memiliki kekayaan harta, karena dapat beribadah dan beramal lebih banyak melalui harta mereka. Mendengar hal itu, Rasulullah pun bersabda: “Wahai orang-orang yang miskin, aku akan memberikan kabar gembira kepada kalian, bahwa orang mukmin yang miskin akan lebih dahulu masuk surga daripada orang mukmin yang kaya, dengan tenggang waktu setengah hari, itu sama dengan lima ratus tahun. Bukankah Allah berfirman: Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu”.

Lalu, bagaimana bisa seorang yang miskin akan lebih dahulu masuk surga? Padahal bisa dibilang orang yang memiliki hartalah yang lebih banyak beramal dan bersedekah. Rasulullah pun menjawab, orang-orang yang memiliki harta akan menyusul orang-orang miskin untuk memasuki surga, karena mereka harus melalui proses pertanggungjawaban dan perhitungan dari harta-harta yang mereka miliki dan mereka pakai selama mereka hidup di dunia ini. Maka, sungguh begitu banyak ladang amal yang telah Allah sediakan di muka bumi ini, salah satunya yaitu mengasihi dan menyayangi orang-orang miskin.

2. Melihat pada orang yang lebih rendah dalam hal materi dan penghidupan

Jauh dari syukur, itulah sifat dasar dari manusia, oleh karena itu Rasulullah memerintahkan umat Islam untuk melihat kepada orang yang lebih rendah dalam hal materi dan penghidupan, agar kita senantiasa berterimakasih dan bersyukur atas segala sesuatu yang telah Allah berikan kepada kita. Sebagaimana sabda Rasulullah: “Lihatlah kepada orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian lebih patut, agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepadamu” (HR. Bukhari)

Melalui hadits ini Rasulullah mengingatkan kita agar tidak melihat kepada orang-orang yang hidupnya berada di atas kita, orang-orang yang hidupnya bergelimang harta dan memiliki kekayaan yang melimpah, karena demi Allah, keindahan dan kenikmatan benar-benar menyilaukan dan memukau bagi siapa saja yang lupa untuk berterima kasih dan beriman kepada Allah SWT. Dengan melihat kepada orang yang berada di bawah kita, kita akan merasa berterima kasih dan menyadari begitu banyak nikmat yang telah diberikan-Nya sampai saat ini. Nikmat dan karunia sekecil apapun, jika disyukuri maka akan terasa begitu indah.

Namun, dalam hal beribadah justru sebaliknya, kita dianjurkan untuk melihat kepada mereka yang berada di atas kita, mereka yang ibadah dan akhlaknya lebih baik dari kita. Mengapa demikian? Hal ini akan memotivasi kita dan membuat kita senantiasa untuk berlomba-lomba dalam hal kebaikan dan meraih Ridha-Nya. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah SAW: “Dan untuk yang demikian itu, hendaknya orang berlomba-lomba” (QS. Al-Muthaffifin [83]: 26)

3. Menyambung silaturahim

Silaturahim adalah ibadah yang mulia dan memberikan banyak berkah bagi siapa pun yang melakukannya. Silaturahim merupakan fitrah dan kebutuhan manusia, karena seperti apa yang telah kita dapat dari pelajaran IPS semasa di sekolah, manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri, dan senantiasa berinteraksi dan bersosialisasi dengan sesama manusia. Maka, silaturahim merupakan salah satu ibadah yang paling dianjurkan dan diwajibkan dalam Islam. Seperti peringatan dan ancaman-Nya dalam firman “Maka, apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan? Mereka itulah orang-orang yang dilaknati Allah dan ditulikan-Nya telinga mereka, dan dibutakan-Nya penglihatan mereka.” (QS. Muhammad [47]: 22-23)

Maka, di zaman modern yang semakin memudahkan kita untuk berkomunikasi, rasanya tidak ada lagi alasan untuk tidak menyambung silaturahim kepada sesama saudara. Karena, menyambung tali silaturahim memiliki banyak manfaat, rahmat dan kebaikan dari Allah senantiasa tercurah kepada mereka yang senantiasa menyambung tali silaturahim, silaturahim juga merupakan sebab pentingnya seseorang masuk surga dan dijauhkan dari api neraka. Selain itu, silaturahim juga merupakan tanda ketaatan dan amalan yang mendekatkan seorang hamba kepada Tuhannya, Allah SWT.

4. Memperbanyak ucapan “La Haula Walaa Quwwata Illa Billah”

La haula walaa quwwata illa billah (tidak ada daya dan upaya kecuali dari pertolongan Allah), sebuah kalimat yang mengingatkan kita bahwa sudah semestinya sebagai hamba yang lemah kita senantiasa dan meyakini bahwa segala sesuatu yang kita lakukan terjadi karena kehendak dan kuasa-Nya. Segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini, baik yang besar maupun kecil, semuanya terjadi karena kehendak-Nya, maka tidaklah pantas kita sebagai manusia merasa sombong dan takabur. Kalimat ini juga mengingatkan kita bahwa hanya Allah lah satu-satunya tempat kembali dan meminta, tiada daya dan kekuatan yang dapat menandingi atau menyamai kekuatan serta kehendak-Nya.

Ketika seorang hamba mengucapkan kalimat La haula walaa quwwata illa billah dengan sepenuh hati, berarti bahwa hamba tersebut telah mengakui ketidakberdayaan dan kelemahannya di hadapan Allah SWT, tiada kesombongan sedikit pun terbesit bagi mereka yang telah mengucapkan kalimat ini dengan sepenuh hati dan jiwa.

5. Berani berkata benar meskipun pahit

Berkata benar, terkadang memang terasa sulit, terlebih jika kebenaran tersebut adalah kebenaran yang terasa pahit untuk diucapkan dan disampaikan. Berbagai alasan pun melatarbelakangi hal ini, mulai dari rasa sungkan, atau rasa segan karena yang sedang kita hadapi adalah orang yang memiliki derajat atau kedudukan lebih tinggi. Hal ini, tentu saja bertentangan dengan apa yang Rasulullah sabdakan: “Jihad yang paling utama ialah mengatakan kalimat yang haq (benar) kepada penguasa yang zhalim”.

Berbagai cara dapat dilakukan untuk menyampaikan kebenaran kepada atasan, pemimpin atau penguasa yang bathil. Cara yang dilakukan secara perlahan dan baik-baik tentu akan lebih “ampuh” dibandingkan dengan cara kekerasan dan “kengototan” kita dalam menyampaikan kebenaran. Penyampaian secara persuasif akan jauh lebih efektif, karena Islam memberikan petunjuk tentang bagaimana cara menyampaikan nasihat. Sebagaimana Rasulullah SAW bersabda: “Barangsiapa yang ingin menasihati penguasa, janganlah ia menampakkan dengan terang-terangan. Hendaklah ia pegang tangannya lalu menyendiri dengannya. Kalau penguasa itu mau mendengar nasihat itu, maka itu yang terbaik. Dan bila si penguasa itu enggan (tidak mau menerima), maka sungguh ia telah menjalankan kewajiban amanah yang dibebankan kepadanya”.

6. Tidak takut celaan ketika berdakwah di jalan Allah

Berbagai cobaan dan siksaan yang menimpa Rasulullah ketika berdakwah tentu tidak diragukan lagi kebenarannya. Cobaan dan siksaan yang begitu perih dan pedih dialami oleh Rasulullah dan para sahabat-Nya dalam menyampaikan ajaran-ajaran Islam, namun hal itu tidak sedikit pun membuat mereka gentar dan takut, karena mereka percaya dengan janji Allah yang begitu manis dan indah.

Dakwah, sedari dulu, memang bukan hal yang mudah dan pasti akan mengalami banyak hambatan dan cobaan. Hambatan, rintangan, dan perlawanan tentu akan datang dari mereka yang tidak menyukai melihat Islam berjaya. Hambatan dan rintangan yang berat ini bukan tidak mungkin akan menyurutkan langkah kita dalam berdakwah, namun Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk tetap bersikap berani dan pantang menyerah dalam menyampaikan kebaikan (QS. Al-Ahzaab [33]: 39).

Allah begitu mencintai siapa pun yang mengutarakan kebenaran dari ajaran-Nya, seperti yang Allah sampaikan dalam surat Al-Maidah [5]: 54. Jaminan mendapatkan surga pun telah dijanjikan-Nya bagi siapa pun yang berdakwah di jalan-Nya. Dakwah memanglah tidak mudah, maka dakwah harus dilakukan semata untuk mendapatkan Ridha-Nya agar kita tidak dengan mudah berhenti dan keluar dari barisan dakwah yang begitu mulia ini.

7. Tidak meminta-minta

Meminta-minta adalah perbuatan yang sama sekali tidak mencerminkan sikap dan jiwa dari seorang muslim yang baik. Meminta-minta adalah haram hukumnya dalam Islam, karena Islam mengajarkan setiap umatnya untuk senantiasa berusaha dan berjuang untuk mendapatkan apa yang diinginkan. Hidup memanglah tidak mudah dan membutuhkan perjuangan yang besar untuk dapat tetap bertahan, oleh karena itu Islam mengharamkan hal ini dan mendidik setiap umatnya agar dapat menjadi manusia yang tangguh dan tidak bermental “peminta-minta”.

Meminta-minta diperbolehkan jika untuk keperluan yang berkenaan dengan keperluan dan kepentingan umum umat Islam, seperti untuk pembangunan sarana peribadatan, pendidikan bantuan untuk fakir-miskin dan anak-anak yatim. Namun, semua hal tersebut pun harus dilakukan sesuai dengan prosedural yang berlaku, tidak dapat dilakukan secara sembarangan dan tanpa aturan.

Mental seorang muslim adalah mental seorang muslim yang tangguh dan tidak mudah menyerah serta rela berjuang keras untuk mendapatkan dan mencapai impiannya, bukan dari meminta-minta dan sekedar berpangku tangan.

Demikian lah ke tujuh wasiat Rasulullah yang disampaikan kepada Abu Dzar Al-Ghifari, semoga apa yang disampaikan dapat bermanfaat. Semoga apa yang kita lakukan di dunia ini semuanya berdasar pada akhlak-akhlak Rasulullah SAW, agar di hari akhir dan di akhirat kelak, kita termasuk hamba-Nya yang mendapatkan syafaat dari Rasulullah SAW. Amin ya Rabbal Alamin.

Allahualam bisshawab.

* Diadaptasi dari buku karya Abdullah Gymnastiar dengan beberapa perubahan (penambahan dan pengurangan) oleh penulis.

Keyword: , ,

Article source: http://feedproxy.google.com/~r/dakwatunacom_suplemen/~3/jRI4v7umzDQ/

Konser LADY GAGA Harus di-GAGA(L)-kan!!

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Beritanya hampir mengalahkan evakuasi korban pesawat Sukhoi, dimana-mana dibahas, di portal berita dunia maya pun selalu menghiasi beranda utama. Bahkan secara khusus, sebuah talk show pengacara di stasiun TV berita ternama mengangkat tema ini. Ya, Lady Gaga, artis Amerika ini, terancam tidak dapat melaksanakan konsernya di Indonesia, karena tidak mendapatkan izin dari Mabes Polri. Padahal tiket konser ini sudah terjual habis berbulan-bulan yang lalu. Banyak organisasi masyarakat yang menolak konser ini, 3 juni 2012 mendatang. Penolakan itu di antaranya datang dari FPI, FUI, Majelis Ulama Indonesia (MUI), FPKS RI dan masih banyak lagi kalangan masyarakat dan organisasi keagamaan yang menolaknya.

Penolakan dari berbagai elemen masyarakat ini harus menjadi penegas untuk melarang konser artis Amerika ini. Mabes Polri harus berani untuk menolak dan melarang konser ini berlangsung. Mengapa kita harus mendukung pelarangan konser ini di Indonesia? Artis yang terkenal sebagai little monster ini dalam setiap konsernya selalu berpakaian seronok, buka-bukaan dan mengumbar aurat. Tidak hanya Indonesia, artis ini juga tegas ditolak di Malaysia, bahkan di Eropa artis ini juga dicekal karena adanya penolakan dari organisasi Kristen yang meyakini tarian yang dilakukannya adalah tarian ritual pemujaan terhadap setan. Secara langsung menteri Agama RI, Suryadharma Ali mengatakan “dalam konsernya, Lady Gaga terlihat seperti memuja setan. Lirik-liriknya juga seperti anti agama” (kompas.com). Konser LADY GAGA Harus di-GAGA(L)-kan!! Kita tidak ingin melihat artis seperti Lady Gaga merusak moral dan akhlak para pemuda dan masyarakat Indonesia. Kita tahu banyak penggemar Lady Gaga di Indonesia adalah para remaja dan pemuda yang masih labil dan sangat mungkin mereka akan meniru apa yang mereka saksikan di atas panggung. Sehingga budaya ketimuran yang santun, sopan dan agamis ini terancam pudar karena 1 artis ini.

Konser LADY GAGA Harus di-GAGA(L)-kan!!Kita tidak ingin ada konflik horizontal antara anak bangsa sendiri, karena banyaknya organisasi massa garis keras yang menolak konser ini, sehingga karena alasan keamanan ini, Mabes Polri tidak perlu ragu untuk melarang konser ini di Indonesia. Konser LADY GAGA Harus di-GAGA(L)-kan!! Karena pasti akan melanggar UU Pornografi yang ada di Indonesia, sehingga jangan sampai banyaknya kemudharatan ini, membuat Mabes Polri masih ragu. Sekali lagi Indonesia bukanlah negara yang menentang kebebasan. Negara ini adalah negara demokrasi terbesar yang sangat menghargai kebebasan berekspresi, namun kebebasan ini haruslah bertanggung jawab. Jangan sampai karena kebebasan ini, moral dan akhlak anak bangsa ini hancur. Oleh karena itu pemerintah harus mengaturnya, dalam konteks ini Mabes Polri harus tegas, bulat dan tidak ragu untuk menggagalkan Konser lady Gaga ini.

Topik:
Keyword: , ,

Article source: http://feedproxy.google.com/~r/dakwatunacom_suplemen/~3/qlKT5Hx5hsQ/

Aku Menemukan Tarbiyah (Bagian ke-1)

Ilustrasi (inet)

Jogja Memang Istimewa

dakwatuna.com - Aku sempat kaget dan lari terbirit-birit entah arah mana yang aku kejar, namun aku tetap berlari dan berlari. Aku ingin menghilang dari semua sandiwara di kolong langit biru ini. Aku ingin masuk ke dalam tempat yang terindah dimana sebelumnya tempat itu tidak ada duanya di dunia ini.

Kemudian, hari itu tiba. Hari dimana aku mengenakan jas almamater yang aku sendiri-pun bingung menafsirkan warna jas itu. Jas yang selalu ditunggu-tunggu oleh anak-anak SMA kala itu. Tanpa berpikir panjang aku pun akhirnya tetap mengenakan jas itu dan melangkah ke kampus hijau, kenapa hijau? Karena sejauh mataku memandang, aku hanya melihat daun-daun berwarna hijau yang saling bersautan tanpa ada rasa iri. Mereka menyatu. Menyatu dalam kegembiraan yang dipenuhi dengan kesyukuran. Indah memang dan aku pun terhenyak, “mungkin inilah kehidupan, semuanya saling berkomunikasi”.

Selangkah ke depan, aku menemukan sebuah tempat. Tempat yang membuatku seperti sekarang. Tempat yang hampir semua orang tersenyum di dalamnya. Tidak ada kata negatif dalam tempat tersebut. Tempat itu banyak memberikan inspirasi, bukan karena orang-orangnya tetapi karena prinsip-prinsip yang dipegangnya. Aku di sini diajarkan untuk memanusiakan manusia, manusia ya manusia, dia makhluk yang sangat sempurna dengan ketidaksempurnaannya dan kemudian yang ada di sana hanyalah orang-orang yang selalu bermunajat kepada Sang Khaliq.

lalu aku bertanya pada diriku sendiri, kapan aku bisa seperti mereka –

ya mungkin biarkanlah waktu yang menjawab saja dan biarkanlah rumput di halaman tempat itu tetap bergoyang –

Hitungan waktu sudah terlampau lama dan ternyata tanpa disadari aku sendiri sudah masuk dalam bagian pengurus tempat itu. “Memang inilah skenario Allah yang terindah”, ucapku dalam hati.

Sebuah kata yang tak pernah kulupakan dari seorang temanku yang sekarang aku sendiri pun sudah tak tahu tentang kabarnya dia. Dia pernah mengucapkan, “rizmun, kalo Antum pengen tahu lebih banyak, jalani saja dulu. Nanti Antum juga akan tahu sendiri”. Dan ternyata waktu sudah menjawab atas semua pertanyaan-pertanyaanku kala itu. Jogja memang tempatnya orang-orang hebat kawanku, namun dengan siapa kita berada di kota pelajar tersebut menentukan kepribadian kita  ingat itu!!! –

Rumput yang bergoyang pun sudah tersipu malu menatap wajahku… dia berbisik, “ada yang berbeda dengannya”. Aku pun lantas menjawab bahwa aku telah menemukan tarbiyah di Jogja.

Aku pun sadar segala-gala nya tidak ada di tarbiyah, tapi tarbiyah menentukan segala-galanya.

#episode 1

– Bersambung…

Topik:
Keyword:

Article source: http://feedproxy.google.com/~r/dakwatunacom_suplemen/~3/6V8XNsD9pfU/

Meraih Kasih Sayang Allah SWT dengan Sabar

Ilustrasi (cipto.net)

dakwatuna.com – Bermula dari sebuah kisah…..

Suatu ketika di pagi yang cerah, fajar mulai menyingsingkan sinarnya ke seluruh alam. Dan pancaran sinar sang fajar juga turut menembus dasar laut yang dalam. Tiba-tiba terdengar suara tangisan yang sangat mengiris dari dasar laut itu. Ternyata ada seekor anak kerang yang sedang terisak menangis sedih karena tubuhnya kesakitan, pasir-pasir yang ada di dasar laut memasuki tubuhnya yang kecil dan berlendir. Anak kerang itu terus menerus menangis dan memanggil-manggil ibunya, “ibu… ibu… tolong aku ibu, aku tak sanggup lagi menahan sakit ini. Pasir-pasir ini telah membuat rasa sakit di tubuhku yang kecil ini” isak sang anak kerang pada ibunya. “Aku tak tahan lagi ibu” isaknya lagi. Sang ibu kerang yang berada di samping anak tak kuasa melihat apa yang dirasakan anaknya itu. Ibu kerang sangat ingin menolong anaknya, tapi itu tidak mungkin. Karena apa yang dirasakan sang anak kerang adalah bagian dari perjalanan hidup yang harus dihadapi oleh bangsa kerang. Itulah ketetapan Allah SWT atas mereka. Maka sang ibu hanya bisa memberikan semangat dengan kata-kata lembutnya agar sang anak bisa tetap bertahan. “Wahai anakku sayang bersabarlah. Jangan kamu bersedih karena pasir-pasir itu memasuki tubuhmu yang kecil. Bertahan dan bersabarlah sayang. Ini adalah ketetapan Allah atas hidup yang kita jalani. Tahanlah rasa sakit itu dengan lendir-lendir di tubuhmu. Kelak nanti pasir-pasir itu akan menjadi sesuatu yang bernilai darimu. Bersabarlah sayang, bersabarlah anakku” ibu kerang terus memberikan kata-kata penyemangat sehingga sang anak tidak lagi bersedih walaupun rasa sakit masih belum beranjak pergi. Lama waktu berlalu, sang anak kerang kemudian terus tumbuh menjadi besar. Tak pernah lagi terdengar isakan tangis darinya. Di hari-hari pertumbuhannya ia selalu menyunggingkan senyum, begitu pun ibu kerang. Hari berganti hari, anak kerang semakin tumbuh besar. Ternyata pasir-pasir yang masuk ke dalam tubuh kerang saat ia masih kecil kini telah menjadi mutiara yang sangat indah. Seiring pertumbuhan kerang, pasir-pasir itu pun tumbuh menjadi mutiara yang sangat cantik dan memberikan manfaat bagi kehidupan manusia.

Itu lah sepenggal kisah yang indah. Mutiara yang dihasilkan sang kerang adalah buah dari KESABARANnya dalam menjalani KETETAPAN yang telah Allah SWT takdirkan bagi hidupnya. Seandainya kerang kecil itu terus mengeluh mungkin dia akan berputus asa dan tidak mampu menerima ketetapan Tuhan atas dirinya. Dan ibu kerang selalu memberikan semangat agar anak kerang tetap bisa bertahan.

Selayaknya sebagai seorang hamba, kita pun diwajibkan untuk senantiasa bersabar dalam menjalankan ketetapan Allah SWT atas hidup kita.  Allah SWT berfirman: “Maka bersabarlah kamu untuk menerima ketetapan TuhanMu.” (QS. Al Insan: 24)

Sabar adalah kata yang tak asing lagi didengar oleh telinga kita. Sabar berarti menahan diri. Sebagai seorang muslim kita diwajibkan bersabar atas tiga hal. Pertama, sabar dalam menaati Allah; Kedua, sabar dari hal-hal menggoda yang dilarang oleh Allah; Ketiga, sabar dalam menghadapi takdir Allah yang menyakitkan. Allah SWT dalam firman-firman-Nya banyak menyebutkan kata sabar, agar kita sebagai makhluk-Nya yang lemah tidak mudah berputus asa jika menghadapi masalah atau ujian. Karena masalah atau ujian yang Allah berikan adalah cara Allah untuk mengikatkan derajat keimanan dan ketaqwaan kita pada-Nya. Allah SWT berfirman: “Dan sesungguhnya Kami akan benar-benar menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu.” (QS. Muhammad: 31)

Dalam ayat di atas Allah telah menyiratkan bahwa Dia telah memberikan suatu ketetapan hidup bagi hamba-hambaNya berupa ujian. Dan Allah akan melihat dan menilai bagaimana hamba-hambaNya dapat menghadapi ujian itu dengan kesabaran, keikhlasan dan sikap tawakal, setelah ia berikhtiar dalam menghadapi ujian tersebut. Maka bagi mereka yang dapat bersabar dan ikhlas menjalani ketetapan Allah itu, Allah akan membalas dengan kenikmatan yang dapat dinikmati, mungkin berupa kesenangan di dunia maupun di akhirat nanti. Itulah kabar gembira yang dimaksud dalam firmanNya. Allah SWT berfirman: “Dan sungguh akan kami beri cobaan kepada kalian, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah: 155)

Berita gembira bagi mereka yang sabar dalam menghadapi cobaan yang Allah tetapkan atas diri mereka. Mereka yang menyemai sabar dalam hatinya. Mereka yang senantiasa ikhlas atas apa yang mereka jalani dalam hidup ini. Walau terkadang apa yang mereka jalani dan hadapi tidak sesuai dengan apa yang mereka harapkan dan jauh dari dugaan. Dari itu mereka selalu bertawakal, berserah diri kepada Allah atas apa yang telah Allah tetapkan bagi mereka.

Sabar pada hakikatnya juga merupakan sebuah rezeki yang Allah SWT anugerahkan kepada setiap hamba-Nya. Hal ini sesuai dengan apa yang disabdakan oleh Nabi Muhammad SAW, “Tidak ada suatu rezeki atau karunia yang Allah SWT berikan kepada seorang hamba yang lebih luas baginya daripada sabar.” (HR. Al-Hakim). Sungguh beruntung hamba-hamba Allah yang mendapatkan karunia yang begitu luas berupa sabar. Karena Allah Maha Pengasih, Maha Penyayang, Maha Pemberi maka menjadi hak progresif bagi-Nya untuk memberikan karunia berupa sabar kepada hamba-hamba pilihan yang dikasihi.

Dan bagi diri yang merasa aktivis dakwah, adakah sabar telah subur tersemai dalam hari? Wahai diri, sudahkah kau tabur benih sabar dalam hati? Sabar ketika kerja dakwah dinilai tidak maksimal. Sabar ketika jiwa dan raga merasa lelah setelah seharian bermandi peluh dalam menjalani amanah-amanah dakwah. Sabar ketika teman yang lain enggan bergerak bersama. Sabar saat keluarga belum bisa memahami aktivitas dakwah kita. Sabar saat sulit membagi waktu antara dakwah dan keluarga, antara dakwah dan jadwal kuliah. Dan sabar-sabar lainnya di saat setiap ujian dan cobaan senantiasa menghampiri. Adakah sabar itu telah tertanam subur pada hati?

Saudaraku, betapa pun sulit dan sakitnya ujian yang Allah berikan kepada kita, yakinlah bahwa ujian itu akan memberikan kebahagiaan jika kita sabar dan ikhlas dalam menghadapinya. Yakinlah bahwa ada kekuasaan Allah atas apa yang terjadi pada diri kita. Teruslah berikhtiar, berdoa dan tawakal padaNya. “Hai orang-orang yang beriman, mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) shalat, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah: 153)

Jangan ragu meminta kepada Allah. Kalau pun kita tidak meminta, sesungguhnya Allah adalah Maha Pemberi kepada hamba-hambaNya. Karena sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Maka, raihlah kasih sayang Allah dengan sabar. Wallahu’alam Bishawab.

Keyword: , ,

Article source: http://feedproxy.google.com/~r/dakwatunacom_suplemen/~3/h5v5FGasxfY/

Konser LADY GAGA Harus di GAGA(L)-kan!!

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Beritanya hampir mengalahkan evakuasi korban pesawat Sukhoi, dimana-mana di bahas, di Portal Berita di Dunia mayapun selalu menghiasi beranda utama. Bahkan secara khusus, sebuah talk show pengacara di Stasiun TV berita ternama mengangkat tema ini. Ya, Lady Gaga, artis Amerika ini, terancam tidak dapat melaksanakan konsernya di Indonesia, karena tidak mendapatkan izin dari Mabes Polri. Padahal tiket konser ini sudah terjual habis berbulan-bulan yang lalu. Banyak Organisasi masyarakat yang menolak konser ini, 3 juni 2012 mendatang. Penolakan itu di antaranya datang dari FPI, FUI, Majelis Ulama Indonesia (MUI), FPKS RI dan masih banyak lagi kalangan masyarakat dan organisasi keagamaan yang menolaknya.

Penolakan dari berbagai elemen masyarakat ini harus menjadi penegas untuk melarang konser artis Amerika ini. Mabes Polri harus berani untuk menolak dan melarang konser ini berlangsung. Mengapa kita harus mendukung pelarangan konser ini di Indonesia? Artis yang terkenal sebagai little monster ini dalam setiap konsernya selalu berpakaian seronok, buka-bukaan dan mengumbar aurat. Tidak hanya Indonesia, artis ini juga tegas ditolak di Malaysia, bahkan di Eropa artis ini juga di cekal karena adanya penolakan dari organisasi Kristen yang meyakini tarian yang dilakukannya adalah tarian ritual pemujaan terhadap setan. Secara langsung menteri Agama RI, Suryadharma Ali mengatakan “dalam konsernya, Lady Gaga terlihat seperti memuja setan. Lirik-liriknya juga seperti anti agama” (kompas.com). Konser LADY GAGA Harus di GAGA(L)-kan!! Kita tidak ingin melihat artis seperti Lady Gaga merusak moral dan akhlak para pemuda dan masyarakat Indonesia. Kita tahu banyak penggemar Lady Gaga di Indonesia adalah para remaja dan pemuda yang masih labil dan sangat mungkin mereka akan meniru apa yang mereka saksikan di atas panggung. Sehingga budaya ketimuran yang santun, sopan dan agamis ini terancam pudar karena 1 artis ini.

Konser LADY GAGA Harus di GAGA(L)-kan!!Kita tidak ingin ada konflik horizontal antara anak bangsa sendiri, karena banyaknya Organisasi Massa garis keras yang menolak konser ini, sehingga karena alasan keamanan ini, Mabes Polri tidak perlu ragu untuk melarang konser ini di Indonesia. Konser LADY GAGA Harus di GAGA(L)-kan!! Karena pasti akan melanggar UU Pornografi yang ada di Indonesia, sehingga jangan sampai banyaknya kemudharatan ini, membuat Mabes Polri masih ragu. Sekali lagi Indonesia bukanlah negara yang menentang kebebasan. Negara ini adalah negara demokrasi terbesar yang sangat menghargai kebebasan berekspresi, namun kebebasan ini haruslah bertanggung jawab. Jangan sampai karena kebebasan ini, moral dan akhlak anak bangsa ini hancur. Oleh karena itu pemerintah harus mengaturnya, dalam konteks ini Mabes Polri harus tegas, bulat dan tidak ragu untuk menggagalkan Konser lady Gaga ini.

Topik:
Keyword: , ,

Article source: http://feedproxy.google.com/~r/dakwatunacom_suplemen/~3/qlKT5Hx5hsQ/

Bersama Kesejukan Embun Tarbiyah

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com – Embun itu, ketika engkau melihatnya, akan terlihat bening, ketika engkau merasakannya, akan terasa sejuk dan segar. Embun di pagi itu, selalu dan terus menyejukkan dedaunan dan rerumputan di pagi hari, dan membawa suasana segar, bagi siapa pun yang merasakannya. Embun itu, pada akhirnya akan selalu memberikan kesegaran bagi yang percaya akan manfaat embun.

Begitulah tarbiyah ini ada, ibarat embun, tarbiyah akan menyegarkan kembali hati-hati kita yang mulai kering, akan menyegarkan kembali jiwa-jiwa kita yang mulai melapuk, kering karena iman kita yang compang-camping, melapuk karena jiwa ini terlampau banyak dosa. Bagi yang yakin akan kekuatan dari tarbiyah, maka tarbiyah ibarat embun pagi yang akan menyegarkan dedaunan, sehingga dedaunan terlihat segar, siap menantang teriknya matahari,  siap untuk menatap dunia. Begitulah tarbiyah ini, dia akan selalu memberikan kesegaran kepada hati-hati yang kering, kepada jiwa-jiwa yang lapuk, sehingga hati kembali segar, seperti dedaunan pagi hari, sehingga jiwa kembali kokoh, setegar pepohonan pagi.

Embun pagi, ia mengajari kita, tentang harmoni, karena ia meneteskan kesegaran itu kesemuanya, bukan hanya daun, bukan hanya rumput, tetapi semuanya. Dedaunan, rerumputan, pepohonan pagi, serangga-serangga kecil, semuanya merasakan kesejukan embun pagi. Semuanya merasakan kesegarannya, semua merasakan kelembutan sentuhan tetesannya. Semua menikmatinya. Embun pagi. Tarbiyah. Seharusnya juga demikian. Tarbiyah mengajarkan, bukan hanya dia, bukan hanya mereka, bukan hanya ini, bukan hanya itu, tetapi semuanya. Tetapi menyeluruh. Karena tarbiyah ada untuk menjadi kebermanfaatan bagi semua, bukan hanya untuk saya, bukan hanya untuk dia, bukan hanya untuk mereka, bukan hanya untuk golongan A, bukan hanya untuk golongan C. Semuanya. Ya. Semuanya. Karena tarbiyah ada adalah untuk rahmat bagi seluruh alam.

Dan kalaupun tarbiyah hari ini sedang menuju kearah yang lebih luas, menegara, atau kalau bahasanya Pak Cah adalah menyongsong mihwar dauli, maka sekali lagi ketika kita pun harus bersikap menegara dengan membangun mentalitas negarawan, dan tentu kita harus belajar kepada embun pagi itu. Tentang ketulusannya, tentang kelembutannya meneteskan air kepada dedaunan, kepada rerumputan, kepada pepohonan, kepada alam. Sehingga alam pagi itu terlihat segar. Lalu kemudian kita terhangatkan oleh munculnya mentari pagi, dan tetap merasakan kesejukan embun pagi. Karena yang terpenting ketika kita akan menyongsong tahapan baru dalam tarbiyah, dalam dakwah, adalah tentang mentalitas kita. Mentalitas kita harus seperti embun pagi. Menyejukkan alam, menyegarkan lingkungan, dan juga lembut, dan juga antusias untuk senantiasa memberikan kesejukan kepada alam.

Mentalitas negarawan, mental inilah yang harus kita bangun ketika hari ini kita memimpikan satu tahapan dakwah yang meluas, menyesuaikan dengan mihwar atau tahapan yang ada, inilah konsekuensi yang harus dilakukan. Ya, tentang kedewasaan sikap kita, tentang mumpuninya kapasitas yang kita miliki dalam ranah kontribusi, tentang kearifan kita dalam berpijak dan menentukan segala keputusan, tentang sepuluh rukun yang seharusnya kita tanamkan dalam setiap aktivitas kita.

Tsiqah. Percaya saja. Bahwa bersama kesejukan embun tarbiyah adalah solusinya. Bersama kesejukan, lalu menikmati kelembutan belaian dan sentuhan embun tarbiyah adalah bagian dari solusi, untuk menyegarkan kembali lingkungan kita, menyejukkan kembali negara ini, memberikan nuansa surgawi kepada lingkungan kita, kepada masyarakat kita, kepada alam ini.

Tsiqah saja. Karena visi embun yang begitu agung, yaitu menyegarkan dedaunan yang mulai layu, menyejukkan pagi yang habis pekat, dan memberikan harmoni bagi alam. Begitu juga visi tarbiyah ini, yang ingin menyegarkan dengan harum wewangian surgawi, menyejukkan alam dengan kesturi-kesturi nirwana. Ah, indahnya. Nikmatnya. Bersama kesejukan embun tarbiyah, engkau akan diajari, bagaimana seharusnya kita bersikap, bagaimana seharusnya kita menjadi dewasa, bagaimana seharusnya kita menjadi kebermanfaatan sepenuhnya bagi negara ini, bagi umat ini. Dan yakinlah, bersama kesejukan embun tarbiyah, engkau akan menjadi harmoni. Yakinlah. Dan tetaplah bersama sejuknya embun tarbiyah.

Topik:
Keyword: , , , ,

Article source: http://feedproxy.google.com/~r/dakwatunacom_suplemen/~3/1wiwxLMilWM/

Refleksi Kader Tarbiyah: Mengingat Siapa Kita Dahulu?

Ilustrasi (inet)

dakwatuna.com - Muhasabah adalah sarana untuk menghisab diri di dunia. Generasi sahabat biasa melakukan muhasabah diri di waktu-waktu yang mereka punya, di kala bangun tidur, di kala mau tidur, setelah shalat, setelah makan dan kesempatan lainnya. Salah satu cara sahabat melakukan muhasabah ialah merasakan kenikmatan Islam dengan mengingat diri mereka yang dahulu berada di kejahiliyahan. Umar bin Khattab RA pernah tersenyum-senyum sendiri di saat sedang melakukan muhasabah karena Umar bin Khattab pernah memakan patung Tuhannya dulu di masa kejahiliyahan. Umar bin Khattab RA tersenyum karena begitu jahilnya dia dahulu sebelum masuk Islam, kita sendiri bisa bayangkan betapa “lucunya” sebuah “Tuhan” bisa dibuat dan bisa dimakan oleh diri kita sendiri, begitulah Umar bin Khattab RA dia yang membuat Tuhan dari tepung gandum, di saat dia lapar dia sendiri yang memakan “Tuhannya”.

Generasi sahabat melakukan muhasabah dengan mengingat kejahiliyahan ialah dengan maksud betapa luar biasa nikmat, karunia, rahmat yang Allah berikan kepada mereka yaitu Islam. Islam telah menunjukkan kesadaran yang mendalam bagi sahabat Umar bin Khattab RA akan Tuhan semesta alam ialah Allah SWT. Islam pula yang telah menjadikan generasi sahabat yang tak hanya Umar bin Khattab menjadi generasi terbaik sepanjang masa yang tidak ada penggantinya.

Saudaraku, tulisan di atas adalah pengantar untuk mengajak diri kita bersama, kader tarbiyah sebagai aktivis dakwah untuk merefleksikan diri tentang “siapa diri kita dahulu”? Sebenarnya tulisan ini adalah hasil pengamatan dari fenomena berjalannya dakwah di kampus oleh kader tarbiyah.

Banyak yang lupa akan dirinya ketika “kita” telah menjadi tokoh di lingkungan. Banyak pula yang lupa akan dirinya ketika “kita” sudah punya wawasan dan kemampuan berpikir yang luas akan hal Islam, politik, dakwah, ekonomi, pergerakan, fenomena umat, dan lainnya. Banyak pula yang lupa ketika “kita” sudah mengetahui kebaikan dan kekurangan jamaah ini. Banyak pula yang lupa di saat “kita” sudah punya kapasitas keilmuan, komunikasi, financial, dan kapasitas diri yang lain. Banyak pula yang lupa ketika “kita” telah banyak mendapatkan keuntungan yang banyak sekali di saat “kita” berada dalam barisan ini.

Lupa apanya? Lupa dari mana kita dibesarkan. Lupa dari mana kondisi dan lingkungan apa kita banyak belajar. Lupa siapa yang menyambut diri kita dengan ukhuwah, lupa siapa menempatkan diri kita melebihi orang lain. Bertanya kepada diri kita, kenapa saya bisa terkenal? Kenapa saya bisa tahu banyak hal tentang Islam, politik, dakwah, ekonomi, berwawasan? Kenapa saya bisa mendapatkan amanah, kenapa saya bisa tampil bicara di depan publik? Kenapa saya bisa mengetahui ukhuwah dan memiliki kenalan, memiliki saudara yang banyak?

Siapa dahulu kita? Seorang yang tidak kenal apa itu Islam, seorang yang tidak tahu apa itu pergerakan. Siapa dahulu kita? Seorang yang tidak tau persaudaraan itu seperti apa, seorang yang tidak terkenal, seorang yang tidak apa itu dakwah, bagaimana caranya? Seorang yang tidak bisa memimpin, seorang yang tidak berani tampil di publik, seorang yang tidak berkapasitas.

Begitu banyak di antara “kita” yang telah menjadi “mereka”. Mereka berseberangan dengan kita di saat mereka sudah mendapatkan keterkenalan, ketika mereka sudah mendapat keuntungan yang amat banyak pada diri mereka, tetapi hanya karena kecewa akan suatu hal, mereka berseberangan bahkan memusuhi kita. Mereka membongkar aib-aib kita, mereka mencaci-caci kita, memberi tahu ke public strategi-strategi dakwah, opini-opini gelap, lalu mereka buat barisan yang isinya hanya bentuk kekecewaan terhadap barisan ini. Apa yang mereka kecewakan? Mereka kecewa ketika di antara kita ada yang melakukan kesalahan, mereka kecewa ketika mereka harus mengalah dalam hal jabatan, seolah-olah jamaah menyingkirkannya, seolah-olah jamaah tidak memperdayakannya, mereka kecewa ketika teladan mereka tidak sesuai idealitas mereka, mereka kecewa hanya karena di antara kita kurang memperhatikannya. Mereka hina dan pojokkan ustadz, mereka tidak mau menggunakan ilmu yang disampaikan oleh ustadz yang ada kaitannya dengan barisan “kita”, padahal ulama mereka adalah ulama kita dan ulama kita adalah ulama mereka, yang menyedihkan mereka bangga menggunakan pendapat-pendapat orang yang bukan berasal dari Islam. Memang kita berdakwah untuk jabatan? Memang kita berdakwah karena ingin perhatian orang? Memang kita berdakwah karena ustadz?

Sedih rasanya, melihat mereka yang dahulu satu lingkaran bersama kita saat ini menjadi berseberangan bahkan tidak berdakwah. Sedih rasanya, melihat mereka yang dahulu bersama kita berdakwah sudah tidak berdakwah. Sedih rasanya, karena mereka yang harus kita hadapi.

Ingat ini barisan manusia bukan barisan malaikat tetapi barisan ini adalah barisan manusia yang punya azzam yang sangat kuat menjadi barisan yang malaikat pun menangis, yang malaikat pun memohonkan ampunan dan berdoa, malaikat pun malu kepada barisan ini. Memang bisa jadi “kita dan mereka” menjadi besar karena dirinya sendiri, memang semuanya berasal dari Allah, tetapi lingkaran ini, barisan ini dimana kita dan mereka juga dibesarkan.

Orang yang ada di dalam barisan ini belum tentu adalah kita dan orang yang ada di luar kita bisa jadi mereka adalah kita. Orang yang banyak kecewa pastilah dia akan kecewa lagi, begitu pula dengan barisan yang berisikan orang-orang yang pernah kecewa, tidak berarti di dalam barisan itu tidak ada kekecewaan, bahkan bisa pasti di dalam barisan itu mereka juga akan menemukan sebuah kekecewaan.

Kecewa karena dunia mengantarkan diri ini jauh dari agama, dan tak ada kecewa karena akhirat.

Siapa kita dahulu?

Wallahu a’lam.

Topik:
Keyword: , , , ,

Article source: http://www.dakwatuna.com/2012/05/20207/refleksi-kader-tarbiyah-mengingat-siapa-kita-dahulu/

Pengantin-Pengantin Al-Quds

Cover buku “Pengantin-Pengantin Al-Quds”.

Judul Buku : Pengantin-Pengantin Al Quds
Penulis : Sakti Wibowo dkk
Cetakan : I, 2011
Penerbit : Proumedia – Yogyakarta
Tebal : 182 Halaman
ISBN : 978-602-8-941-020

Pengantin tanpa Malam Pertama

dakwatuna.com – Lebih dari 60 tahun, Israel (illegal) resmi menjajah Palestina, negeri suci warisan para nabi. Tanah wakaf kaum muslimin yang menjadi saksi peristiwa Isra’ Mi’raj itu, hingga kini masih saja dikangkangi oleh bangsa kera tak berperikemanusiaan itu. Tak tanggung-tanggung., Yahudi yang berwatak Zionis itu seakan berkehendak membumihanguskan Palestina dan warganya, tanpa ampun.

Mereka tidak pandang bulu dalam membasmi warga Palestina. Bukan hanya militan, melainkan warga sipil yang tak berdosa sekalipun ikut dijadikan sasaran. Mulai dari anak-anak, ibu mengandung, dewasa, hingga orang yang sudah jompo sekalipun, semuanya disamakan. Asal labelnya Palestina, maka perlakuannya sama: Bunuh!

Dunia internasional yang dikomandoi oleh Amerika pun diam. Dalih Hak Asasi Manusia yang selama ini mereka kumandangkan nyaris tak bergema. Mereka bisu. Tidak berkutik. Bahkan mereka didapati membantu Israel dalam pembantaian ini. Sungguh biadab! Bahkan, Sidang Umum PBB yang sempat disinyalir bakal menjadi peluang untuk merdekanya Palestina ini, NIHIL! Hingga detik ini, Palestina yang kita cintai masih merana, dijajah oleh iblis-iblis berwajah manusia.

Kondisi memprihatinkan inilah yang diangkat oleh 20 Cerpenis dari seluruh Indonesia, dalam sebuah buku Barokah bertajuk Pengantin-Pengantin Al Quds. Buku setebal 182 halaman ini mengajak kita untuk mempelajari sejarah konflik Palestina – Israel. Keberagaman penulis dari berbagai latar pendidikan dan daerah yang berbeda membuat buku ini semakin sempurna. Sajian renyahnya sangat mudah dinikmati, sekalipun ketika kita membacanya sembari menyeruput kopi hangat di pagi hari.

Buku ini memuat 19 cerpen dan 1 puisi pamungkas berjudul Cemburu pada Palestina. Setelah menikmati sajian penuh gizi di dalamnya, sangatlah layak jika kemudian kita benar-benar mencemburui Palestina.

Di negeri kita, banyak sekali pertumpahan darah. Mulai dari tawuran pelajar, perkelahian suku, perang suporter sepak bola, dan seterusnya. Bandingkan dengan Palestina? Di sana semua warga merindu mati. Bukan sekedar mati, melainkan mati dengan nilai tertinggi sebagai Pahlawan. Mereka menumpahkan darah untuk tanah air, kehormatan dan agama mereka. Sangat mulia, bukan?

Dalam hal lain, kita disajikan sebuah fenomena memiriskan, Indonesia yang kita cintai dipenuhi dengan raport merah seputar hubungan seksual. Hamil sebelum nikah, pergaulan bebas yang berujung pada pengguguran janin, perceraian hingga aneka macam perselingkuhan dengan berbagai macam jenisnya. Sementara di negeri yang pernah dimerdekakan oleh Umar bin Khaththab itu, menikah merupakan sebuah prestasi suci. Bahkan, kerap kali kita jumpai pernikahan tanpa malam pertama. Setelah akad, suami dan istri harus meregang nyawa lantaran bombardir dan serangan mendadak dari Zionis laknatullah. Dan mereka pun, insya Allah berbulan madu di surgaNya.

Simak saja penuturan salah satu penulis, Neng Lisojung, dalam buku ini, “Wanita berhijab itu memelukku. Dia akhirnya bercerita, menyebut satu nama: Muhammad Asad, seorang pejuang perlawanan Palestina dari Bataliyon al Quds, sayap militer Jihad Islami. Hari ini harusnya hari bahagianya bersama Asad. Kemarin pagi mereka baru saja menikah. Tapi menjelang persuaan malam pertama, agen-agen Shin Bet menyeruak masuk mendobrak jendela. Dan terjadilah malam duka. Keluarganya dibantai terlebih dahulu, sebelum dirinya diperkosa oleh seorang anggota Shin Bet terlaknat itu di hadapan suaminya. Setelah penistaan itu, Asad ditembaki namun jasadnya dibawa entah ke mana.”

Penulis yang kini tinggal di Bekasi ini pun melanjutkan kisahnya, “Hujan air mata pun tak terbendung lagi. Inilah puncak saat sesak ditumpahkan. Isakan kepedihan dicurahkan. Larut dalam suasana yang begitu amat menyesakkan nafas. Bukan aku dan wanita berhijab hitam ini saja yang mengalami kejadian pahit itu. Mungkin sudah puluhan atau ratusan kali terjadi pengantin yang menangisi kematian suaminya.”

Memilukan bukan? Apa yang kita rasakan jika hal itu terjadi pada keluarga kita? Ibu kita? Saudara kita? Atau, anak kandung kita? Dan, masihkah kita berkata lantang, “Mengapa harus repot mengurus Palestina? Sementara negeri ini tengah berada dalam keterpurukan tak berujung?” Naïf jika itu yang terjadi pada kita yang mengaku sebagai makhluk bernama manusia.

Akhirnya, buku ini sangat layak untuk dijadikan alternatif bacaan penggugah semangat perjuangan. Di samping cerpen-cerpen yang sarat dengan muatan perjuangan membela tanah air dan agama, royalti dari penjualan buku ini sepenuhnya akan disumbangkan ke Palestina melalui Sahabat Al Aqsha. Sehingga kita bisa mendapatkan dua keutamaan ketika membeli dan membaca buku ini: ilmu dan pahala beramal.

Semoga, negeri ini tak hanya cemburu, melainkan segera bangkit dengan mencontoh semangat seluruh warga Palestina yang tak pernah gentar dengan peluru dan bom, demi mempertahankan bangsa dan juga agama. Semoga.

Topik:
Keyword: , , , ,

Article source: http://www.dakwatuna.com/2012/05/20535/pengantin-pengantin-al-quds/