Anak Bunuh Diri, Tanggung Jawab Siapa?

Sahabat VOA-Islam yang Dirahmati Allah SWT…

Orang tua mana yang tidak sedih menghadapi kenyataan pahit bahwa putranya meninggalkannya untuk selamanya karena gantung diri. Hati yang teramat pedih dirasakan orang tua ketika harus menghadapi kenyataan yang tak diinginkan, yang sejatinya menorehkan luka yang teramat pedih.

Kasus bunuh diri yang diduga dilakukan Arangga (14), seorang pelajar SMP yang tinggal di kawasan Pancoran, Jakarta Selatan, membuat prihatin banyak pihak. Pada usia belia, Arangga alias Angga memilih jalan yang tragis dengan mengakhiri hidupnya melalui cara menggantung diri di dalam lemari.

Remaja ini diduga mengakhiri hidupnya karena kurang kasih sayang dan perhatian dari kedua orangtuanya. Sejak orang tua yang bercerai hingga ia harus dititipkan di nenek dan tantenya. Rangga yang pendiam ini berprestasi di sekolahnya. Begitu pendiamnya hingga ia mampu menyembunyikan duka dalam hatinya, dan tidak pernah mengeluh ada masalah baik di sekolah maupun di rumah.

Kasus bunuh diri pada usia remaja ini sebelumnya sudah sering terjadi. pemicu bunuh diri pada usia ini bisa bemacam-macam. Bisa karena teman, lingkungan, bahkan dari media. Usia remaja merupakan saat transisi dari anak menuju dewasa. Pada saat ini, anak berusaha mencari jati dirinya. Akibatnya, muncul kegelisahan yang luar biasa. Remaja itu umur galau, cenderung lebay memaknai sesuatu.

 

Anak dan Keluarga

Anak akan melihat lingkungan sekitarnya, di mana pun ia berada. Apalagi jika lingkungan di sekitarnya menampilkan kondisi yang tidak baik. Anak akan mudah menyerap dan meniru perilaku orang-orang disekitarnya. Hubungan yang tidak harmonis dalam keluarga akan menutup akses keterbukaan anak dalam menghadapi masalah psikologisnya.

Orang tua yang lengkap saja masih terjadi hal negatif pada anak, apalagi jika orang tuanya bercerai. Jika dalam kasus orangtua bercerai, dan si anak tinggal jauh dari kedua orangtuanya bisa menimbulkan rasa diasingkan, tidak ada yang peduli dengannya. Tapi ada beberapa kasus perceraian yang penyelesaiannya dilakukan dengan baik. Sehingga anak itu tidak kehilangan kedua orangtuanya. Tetap hak anak itu ada, dan dia bisa mendapatkannya baik dari ayahnya atau ibunya

Ironinya, banyak orangtua yang tidak melek dengan perilaku anaknya. Kurangnya pengawasan dan kepekaaan dari orangtua menjadi salah satu faktor penyebab perilaku anak tidak terbendung. Biasanya anak-anak yang lebih banyak terjerumus itu justru yang kesepian. Mereka juga tidak terlalu banyak punya teman, karena biasanya punya kesulitan dalam berhubungan sosial. Kesalahan yang sering dilakukan orangtua, yaitu memberi kebebasan pada anaknya dalam berprilaku tapi tidak dibekali arahan dan pemahaman manfaat dan madharat-nya. Seharusnya orangtua harus cerdas menuntun dan masuk dalam dunia mereka.

 

Peran Semua Pihak

Dari adanya kasus-kasus pada anak semestinya menjadi perhatian bagi orangtua bahwa anak-anak  adalah sasaran utama dari bentuk-bentuk hal negatif, termasuk kejahatan media. Canggihnya sarana media dewasa ini bisa dimanfaatkan untuk hal-hal yang baik atau buruk. Di sinilah peran orangtua yang harus  ikut mengawasi dan memberikan batasan-batasan penggunaan media online, seperti handphone, tablet, komputer, dan sebagainya. Gunakan sarana teknologi untuk membangun komunikasi efektif, serta sebagai sarana belajar ilmu yang bermanfaat.

Hal yang tak kalah pentingnya adalah setiap orangtua harus memberikan pemahaman kepada anak-anaknya tentang standar halal dan haram dalam berprilaku. Bentengi iman anak-anak dengan mendampinginya memberikan tsaqofah agama kepada mereka.  

Komunikasi yang baik dengan anak akan menumbuhkan kesan pada anak merasa diperhatikan, dan akhirnya anak akan lebih terbuka mengkomunikasikan segala masalah anak kepada orangtua atau keluarga. Dengan keterbukan anak kepada orang tuanya, akan dapat menggali sejauh mana kehidupan mereka dan mengetahui masalah-masalah yang dirasakan anak-anak.

Tidak hanya orangtua, tetapi sekolah, lingkungan tempat di mana anak bergaul dengan sesamanya, sangat berperan perilaku anak. Untuk itu diperlukan solusi yang komprehensif, dan memberlakukan sistem yang integral untuk mengatur kehidupan anak-anak kita. Dalam hal ini tidak bisa hanya diserahkan pada peran orangtua, sekolah/guru, dan lingkungan. Semua pangkalnya adalah pada sistem kebijakan negara yang diterapkan.

Kasus bunuh diri anak adalah salah satu korban dari sistem, menyelamatkan remaja tidak akan berjalan jika negara sebagai pengayom rakyat tidak mengambil perannya. Ketika Islam diterapkan, pasti mampu membangun generasi yang berkepribadian shalih yang jauh dari salah pergaulan, karena setiap perilakunya bersandar pada standar halal-haram. Apa yang terjadi kini dengan maraknya kasus-kasus yang berdampak negatif tidak lain dan tidak bukan karena menjauhkan agama dari kehidupan (sekular), dan akibat liberalisme yang diusung oleh manusia dan akhirnya menghancurkan umat manusia. Wallahu A’lam Bish-shawab.

Penulis: Henny Ummu Ghiyas Faris 

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2015/01/26/35279/anak-bunuh-diri-tanggung-jawab-siapa/

Wahai Wanita! Janganlah Kau Remehkan Kebaikan

Sahabat Muslimah VOA-Islam yang Shalihah…

Dalam hidup ini kita telah ditakdirkan menjadi makhluk pribadi dan makhluk sosial. Selain kita harus memenuhi hajat hidup pribadi, kita juga pastilah berhubungan dengan orang lain. Dalam proses membangun komunikasi dengan orang lain ini kita pun dituntun Rosululloh bukan hanya sebatas membangun komunikasi, namun sampai tingkat saling menimbulkan rasa aman dan tentram antar sesama. Sehingga dari seluruh aktivitas dan pembicaraan yang keluar dari lisan ini tidak boleh menyakiti hati saudara seiman.

Untuk menumbuhkan rasa sayang antar saudara seiman kita haruslah melakukan suatu amalan yang menjadikan saudara kita tersebut teringat dan bahagia. Salah satu amaliyah yang indah tersebut kita disunahkan saling memberi hadiah atau saling bersodaqoh.

Namun sudah menjadi tabiat kita sebagai wanita yang lebih mendahulukan hati dari pada fikiran. Sehingga sering dari kita menunda begitu banyak kebaikan yang seharusnya mampu kita lakukan karena sebab merasa apa yang akan diberikan kepada saudara seiman tersebut dianggap kurang pantas. Akibat dari riwehanya (Sunda) hati tersebut, sering kali ukuran pantas dan tidak pantas seolah lebih kita kedepankan. Sehingga banyak keinginan baik yang kita lakukan tidak jadi terealisasi.

Apakah hal seperti itu sudah menjadi fitrah wanita atau tidak? Namun faktanya kejadian tersebut pun pernah dialami istri Nabi Aisyah Radhiyallohu ‘Anha. Suatu hari Rosululloh memerintahkan kepad Aisyah untuk memberikan satu kaki kambing kepada tetangganya yang diperbanyak kuahnya. Sebagai seorang istri yang sholihah, Aisyah melaksanakan apa yang diperintahkan suaminya. Namun dibalik ketaatan Aisyah saat melaksanakan apa yang diperintahkan Nabi Muhammad terlihat rasa enggan. Kemudian Rosululloh mengingatkan Aisyah.

“Wahai Aisyah… Lihatlah ke atas gunung itu. Gunung bisa menjulang setinggi itu karena terbuat dari kerikil yang banyak.”

Dengan kecerdasannya, Aisyah mendengar nasihat dari Rosululloh telah memahami apa yang dimaksud atas nasihat tersebut. Aisyah pun memahami atas nasihat tersebut, bahwa Rosululloh mengingatkannya untuk tidak meremehkan suatu kebaikan. Sebagai istri yang sholihah maka Aisyah pun beristighfar dan meminta maaf kepada suaminya. Subhanalloh…

Sahabat muslimah…

Bahkan Rosululloh telah berpesan khusus untuk wanita dalam permasalahan ini.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا نِسَاءَ الْمُؤْمِنَاتِ لَا تَحْقِرَنَّ إِحْدَاكُنَّ لِجَارَتِهَا وَلَوْ كُرَاعُ شَاةٍ مُحْرَقٌ

Artinya: Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: Wahai kaum wanita mukmin, janganlah seorang diantara kalian menyepelekan hadiah untuk tetangganya walau hanya dengan kaki kambing yang dimasak (dipanggang). (H.R. Ahmad)

Marilah kita memposisikan hati ini pada tempat yang tepat. Sehingga keinginan diri untuk saling memberi antar saudara seiman tidak tersandera karena ingin menyempurnakan amal ini. Marilah kita menjadikan hati kita yang teramat sangat lembut dan teliti ini sebagai pendorong bagi kita untuk lebih merasakan apa yang dirasakan saudara kita. Sehingga disaat Alloh melimpahkan rizki, kita akan selalu ingat dengan saudara seiman maupun tetangga.

Janganlah kita merasa remeh atas kemampuan kita untuk memberi kepada saudara kita, dan saudara memberikan sesuatu kepada kita. Apapun wujudnya, kita dituntut untuk bersikap dengan sikap terbaik. Rosululloh telah bersabda:

قال رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَلَا تَزْهَدْ فِي الْمَعْرُوفِ وَلَوْ مُنْبَسِطٌ وَجْهُكَ إِلَى أَخِيكَ وَأَنْتَ تُكَلِّمُهُ

Rasulullah bersabda “Janganlah kamu menganggap remeh suatu kebaikan walaupun kamu hanya tersenyum kepada saudaramu ketika kamu sedang berbicara dengannya” (H.R Ahmad)

Sahabat muslimah…

Semoga kita menjadi pribadi yang pandai bersyukur dengan melatih diri untuk jeli mencari kebaikan dalam segala hal. Semoga kita menjadi pribadi yang pandai bersyukur dengan memperbanyak shodaqoh walaupun kemampuan kita belum seperti yang diharapkan. Wallohua’lam. [ukhwatuna/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2015/01/23/35226/wahai-wanita-janganlah-kau-remehkan-kebaikan/

DPR Sudah Sahkan Anggaran Jilbab Polwan Rp 1,2 Triliun, Lalu Kenapa Jilbab Masih Dilarang Polri?

JAKARTA (voa-islam.com) - Pihak kepolisian terus menerus mengulur waktu tentang kebolehan jilbab bagi polisi wanita. Meski DPR telah lama menyetujui anggaran Rp 1,2 triliun untuk jilbab polwan, sampai saat ini tidak ada kejelasan tentang kapan polwan boleh berjilbab.

Demo dan protes terus menerus telah disampaikan tokoh-tokoh Islam di tanah air, tapi pihak kepolisian tidak peduli. Mantan Kapolri Jenderal Sutarman sebelum dilengserkan pernah berjanji bahwa pada tahun 2015 akan segera mengesahkan Peraturan Kapolri (Perkap) tentang jilbab.

“Nanti itu (jilbab) pengesahan dan pengadaan tahun 2015 sudah selesai,” kata Sutarman. Sutarman memperkirakan Perkap jilbab akan rampung sekitar bulan Agustus atau September 2015. Saat ini, kata Sutarman, perkap jilbab polwan sudah sampai perencanaan dan pengadaan anggaran.

Sutarman pun akhirnya lengser tanpa ada kejelasan nasib jilbab polwan. Pengganti sementaranya, Jenderal Badrodin Haiti, juga tidak kunjung membuat peraturan yang jelas tentang jilbab.

Gara-gara tidak adanya peraturan yang jelas dari Kapolri, kini Polda Riau membuat larangan keras polwan berjilbab. Di sana telah keluar telegram bernomor ST/68/1/2015 yang ditandatangani Kepala Polda Riau, Brigadir Jenderal Polisi Dolly Hermawan, pada 19 Januari 2015 lalu.

kini Polda Riau membuat larangan keras polwan berjilbab. Di sana telah keluar telegram bernomor ST/68/1/2015 yang ditandatangani Kepala Polda Riau, Brigadir Jenderal Polisi Dolly Hermawan, pada 19 Januari 2015 lalu.

Dalam telegram itu dituliskan, masih banyak ditemukan pengguna seragam polisi, terutama wanita polisi dan perempuan PNS, yang tidak sesuai ketentuan yang telah ditetapkan. “Penggunaan jilbab bagi wanita polisi tidak dibenarkan karena belum ada regulasinya. Larangan tersebut merujuk pada berbagai peraturan dan surat keputusan terkait di lingkungan Kepolisian Indonesia,”tulis telegram itu.

Tentu saja telegram ini membuat kehebohan di masyarakat. Karena Polri kini menjadi satu-satunya lembaga di Indonesia yang melarang jilbab di Indonesia. Istana Negara saja membolehkan penghuninya berjilbab. Seperti jilbab yang sehari-hari dikenakan Mufidah Kalla, Jusuf Kalla.

Dan ini juga ironis. Karena di negara-negara Eropa dan Amerika yang sekuler, polisi berjilbab tidak dilarang.”Di Amerika, di New York, mudah saja kita menemukan polwan berjilbab.Kok malah di Indonesia yang mayoritas Islam justru jilbab polwan masih jadi perdebatan,” kata Imam Shamsi Ali, dai Indonesia terkenal yang kini menjadi penduduk New York.

Jika Plt Kapolri Jenderal Badrodin Haiti tidak segera mengeluarkan Peraturan Kapolri tentang bolehnya jilbab bagi Polisi Wanita, kiamatlah polisi di Indonesia. Julukan ‘polisi korup, tukang peras rakyat dan anti Islam’ sulit dihindari. Wallahu azizun hakim. [izzadina/sharia]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2015/01/22/35186/dpr-sudah-sahkan-anggaran-jilbab-polwan-rp-12-triliun-lalu-kenapa-masih-dilarang-polri/

Ini Pesan Rosululloh SAW Agar Wanita Terhindar dari Siksa Neraka

Sahabat Muslimah VOA-Islam yang Shalih dan Shalihah…

Kehidupan dunia hanyalah sementara. Walaupun demikian, kehidupan di dunia menjadi penentu atas bahagia maupun sengsaranya manusia pada kehidupan kelak di akhirat. Alloh telah menciptakan surga dan neraka sebagai balasan bagi hamba-hambanya sesuai dengan amal yang dikerjakan ketika hidup di dunia.

Memang, menjadi penghuni surga maupun neraka bagi manusia telah ditakdirkan oleh Alloh. Sebenarnya manusia telah dianugerahi akal supaya berpikir dan diturunkan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup serta diutusnya Rasul sebagai sarana untuk menyampaikan aturan-aturan untuk ditaati. Di sisi lain Alloh telah memberikan resep supaya takdir kita selalu dalam kebaikan. Resep tersebut adalah DO’A. Namun saat ini banyak manusia melalaikannya.

Sahabat muslimah…

Banyak dari hadits nabi yang menjelaskan bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah wanita. Karena wanita memang tercipta dari tulang rusuk yang bengkok. Kalau sekiranya tidak ada yang berusaha meluruskannya maka kecenderungan wanita akan tumbuh dalam kebengkokan.

Namun jangan pesimis dulu wahai sahabat muslimah….

Di dalam Islam pastilah ada jalan keluar atau solusi selama nyawa belum di kerongkongan. Walaupun dosa setinggi gunung Uhud, maghfiroh Alloh jauh lebih tinggi. Walaupun dosa sebanyak butiran pasir dipantai, namun maghfiroh Alloh jauh tak berbilang. Walaupun wanita diciptakan dari tulang rusuk, namun pastilah ada cara untuk meluruskannya.

Sering yang menjadi inti permasalahan pada pribadi wanita hanyalah dua hal. Yaitu permasalahan hati dan harta. Berapa banyak dari sahabat muslimah yang meyakini atas kebenaran nasihat suaminya, namun masih membutuhkan waktu untuk menerimanya dan bahkan tidak jarang harus dilalui dengan ngambek atau cemberut dulu. Berapa banyak godaan atas wanita dikala masuk ke pasar atau super market. Tentulah godaan wanita lebih banyak. Dikala wanita kurang pandai menjaga harta dan mensyukuri atas nikmat Alloh, maka sesungguhnya itu awal dari bencana bagi wanita itu sendiri.

Sahabat muslimah…

Maka Rosululloh telah mengingatkan kepada seluruh wanita supaya memperbanyak Sodaqoh dan memperbanyak istigfar supaya terhindar dari siksa neraka. Memperbanyak shodaqoh supaya lebih pandai bersyukur dan terbiasa melihat golongan dari Hamba-Nya yang kurang mampu. Memperbanyak istigfar supaya kesalahan atas ekspresi maupun respon serta salahnya dalam berakhlaq tidak berulang atau bahkan menjadi kebiasaan. Rosululloh bersabda:

عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ وَأَكْثِرْنَ الِاسْتِغْفَارَ فَإِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ

Dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau bersabda: Wahai kaum wanita! Bersedekahlah kamu dan perbanyakkanlah istighfar. Karena, aku melihat kaum wanitalah yang paling banyak menjadi penghuni Neraka.(H.R Muslim).

Rasulullah menghimbau kepada wanita khususnya untuk gemar bersodaqoh, sebagai penyeimbang atas dosa yang yang kita perbuat supaya kita bisa selamat dari siksa neraka. Sodaqoh akan terasa berat jika tidak membekali diri dengan keyakinan yang benar. Yaitu dengan meyakini bahwa setiap apa yang kita miliki adalah titipan Alloh dan juga meyakini bahwa sesuatu yang kita shodaqohkan dengan benar dan ikhlas itulah yang akan bisa kita petik hasilnya diakherat kelak dan Alloh akan melipat gandakan hingga tujuh ratus kali lipat, subhanallah …..

Sahabat Muslimah…

Mari kita renungi dan kita bayangkan Rasulullah SAW adalah seorang yang maksum yaitu terjaga dan selamat dari siksa neraka serta dijamin masuk surga yang tertinggi derajatnya, namun beliau selalu beristigfar tidak kurang dari tujuh puluh kali dalam sehari.

Bagaimana dengan kita sahabat muslimah?

Berapa kali kita Beristigfar dalam sehari?

Kita adalah seorang wanita dan kebanyakan ahli neraka adalah wanita. Yakinlah, kalimat istighfar yang terucap dari bibir dengan menyertakan hati insyaAlloh akan mampu menggugurkan dosa-dosa yang kita perbuat atau sebagai penebus maghfiroh dari Alloh SWT sehingga kita bisa aman dari siksa-Nya.

عَنْ أَبِي ذَرٍّ قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اتَّقِ اللَّهِ حَيْثُمَا كُنْتَ وَأَتْبِعْ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ

Dari Abu Dzar ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda kepadaku: Bertakwalah kamu kepada Allah dimana saja kamu berada dan ikutilah setiap keburukan dengan kebaikan yang dapat menghapuskannya, serta pergauilah manusia dengan akhlak yang baik.(H.R At Tirmidzi).

Tidaklah ada dari kita yang terbebas dari dosa, kecuali bila kita mendapatkan Syahid. Maka Patutlah kita harus selalu berlomba untuk berbuat kebaikan dan selalu memperbanyak istigfar.

Sahabat muslimah…

Alloh SWT maha pengampun dan akan mengampuni kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Tiada manusia yang terlepas dari salah dan lupa, dan manusia yang baik bukanlah mereka yang tidak pernah berbuat salah, namun mereka yang mampu bertobat atas kesalahannya dan mengharap maghfiroh dengan banyak shodaqoh dan juga beristighfar. Wallahu a’lam bisshowab. [ukhwatuna/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2015/01/20/35132/ini-pesan-rosululloh-saw-agar-wanita-terhindar-dari-siksa-neraka/

Patri Iman Dalam Hati Sampai Mati

Oleh: Minuk Kusmiati

Perkara paling sukar dari menjalankan ketaatan bukan terletak pada pelaksanaan ibadahnya seperti shalat, puasa, zakat, sedekah sampai haji bahkan umrah. Namun, sulitnya taat terletak pada menjaga iman dan taatnya sampai datang kematian. Karena sejatinya taat itu adalah proses berkepanjangan tanpa jeda.

Tiliklah kisah Bal’am bin Baura’ yang hidup pada masa Nabi Musa ‘alaihissalam. Hidup dengan iman pada awalnya, namun mati secara tragis menjadi murtad pada akhir hayatnya. Naudzubillah.

Dan lihatlah kisah Arrajal yang hidup beriman pada awalnya bersama Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, namun mati dalam kemurtadan karena mengikuti nabi palsu Musailamah Al-Kadzab. Semoga Allah mematri iman kita dalam hati.

Kita berlindung kepada Allah agar jangan sampai seperti Abdullah bin Abdurrahim yang mati naas dalam murtadnya karena cinta butanya kepada seorang wanita Nashrani. Padahal amatlah disayang, Abdullah bin Abdirrahim adalah seorang penghafal Qur’an dan seorang mujahid.

Beberapa contoh di atas seolah-olah menegaskan kepada kita bahwa tiada satu pun yang dapat menjamin akan seperti apa iman kita kelak saat maut menjemput. Tidak ada yang bisa memastikan kuatnya iman kita saat ini akan sama keadaannya saat ruh kita kembali ke Penciptanya. Barangkali itulah kenapa, dalam penghambaan kita kepada Dzat yang Mahasuci, kita senantiasa diperintahkan untuk istiqomah. Ya, istiqomah dalam zikir, do’a, ibadah, bermunajat, mengkaji Qur’an, menghafalnya, bermajlis ilmu, berkumpul dengan orang shalih dan selainnya. Usaha demikian ini -Insya Allah- iman dan taqwa dalam hati selalu terpatri sampai mati. Itulah yang Allah perintahkan, “Dan sembahlah Rabbmu sampai datangnya kematian.” (Q.S Al-Hijr:99).

Ibadah yang kita kita tegakkan, dzikir yang selalu kita lantunkan, sedekah yang kita keluarkan; semua itu tidak dilakukan kecuali hanya sampai habis jatah hidup kita di dunia ini. Alangkah bahagianya apabila yang menjadi penutup hayat kita adalah suatu amalan yang terpuji, karena “Sesungguhnya amalan itu (tergantung) dengan penutupnya.” (HR. Bukhari dan selainnya).

Baik buruknya hidup kita tergantung pada amalan terakhir kita. Hendaknya kita konsisten menjaga iman yang selalu mengakar kuat dalam sanubari supaya kita pun mati dalam keadaan yang Allah kehendaki, “ dan janganlah kalian mati melainkan dalam keadaan muslim (berserah diri).” (Q.S Ali ‘Imran: 102)

Al-Qur’an juga telah mengajarkan kepada kita doa yang indah untuk dimunajatkan kepada-Nya, “Ya Rabb kami, janganlah engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali ‘Imran: 8)

. . . Ibadah yang kita kita tegakkan, dzikir yang selalu kita lantunkan, sedekah yang kita keluarkan; semua itu tidak dilakukan kecuali hanya sampai habis jatah hidup kita di dunia ini . . .

Sungguh, tiada hal yang indah kecuali Allah menetapkan hati kita untuk taat pada agama mulia ini.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوْبِ، ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِيْنِكَ

Yaa Muqallibal Quluub, tsabbit qolbi ‘ala diinik. Wahai Dzat yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami di atas agama-Mu.” (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi).

اللَّهُمَّ مُصَرِّفَ الْقُلُوبِ صَرِّفْ قُلُوبَنَا عَلَى طَاعَتِكَ

Allahumma Musharrifal Quluub, sharrif Quluubanaa ‘alaa thaa’atik. Ya Allah yang mengarahkan hati, arahkanlah hati kami untuk taat kepadamu.” (HR. Muslim). [PurWD/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2015/01/19/35108/patri-iman-dalam-hati-sampai-mati/

Aku Takut Tak Bisa Menjadi Ibu yang Baik

Seorang teman lama, akhir-akhir ini sering berkunjung ke rumah. Ia, seorang ibu dengan tiga anak yang masih kecil-kecil baru saja bercerai dari suami. Banting tulang menjadi pembuat sekaligus penjual kue basah dilakoninya demi mengganjal perut ketiga anak, dirinya sendiri serta ibu kandung yang tinggal dengannya. Kami sering berbincang terutama untuk saling menguatkan. Karena saya tahu, tak mudah menjadi ibu tunggal dengan status janda cerai.

Di sela kami ngobrol, dia mengutarakan kekhawatirannya.

“Mbak, aku takut gak bisa menjadi ibu yang baik bagi anak-anakku. Bisa nggak ya aku mendidik mereka jadi anak yang salih dan salihah sendirian?”

Ya…saya sangat bisa memahami kekhawatirannya. Mendidik anak di zaman fitnah ini, merupakan tugas yang tak mudah bagi orang tua apalagi single parent. Bila memakai logika, kekuatan kita sebagai manusia biasa sangat jauh untuk bisa menciptakan generasi Rabbani. Generasi yang mencintai Allah dan RasulNya lebih dari segalanya. Generasi yang akan membanggakan orang tua dengan akhlak mulia ketika di dunia. Ketika meninggalkan dunia fana pun, doanya terus terlantun sebagai amal yang tak terputus hingga hari penghisaban tiba.

Harus bagaimana saya menjawab ketakutan saudara seiman ini? Sedangkan saya sendiri masih tertatih membenahi diri. Tapi apa iya saya biarkan dia gamang dalam kesendiriannya?

“Mintalah sama Allah. Tanpa kekuatan dariNya, mustahil kita kuat menghadapi semua sendirian. Bawa selalu anak-anakmu dalam doa. Menangislah dalam salatmu ketika kamu merasa lelah, tak berdaya, butuh kekuatan dan segalanya. Setelahnya, insya Allah kamu jadi lebih kuat dan tegar.”

Yaa…cuma bergantung pada Allah yang bisa membuat seorang mukmin menjadi kuat. Perjalanan hidup seseorang ada kalanya hampir menghabiskan sisa kekuatan yang ada pada diri seorang hamba. Lalu pada siapa lagi kita memohon kekuatan bila bukan pada yang Mahakuat?

…Yaa…cuma bergantung pada Allah yang bisa membuat seorang mukmin menjadi kuat…

Produksi roti dilakukannya mulai jam 5 sore hingga 11 malam. Setelahnya ia istirahat hingga jam 2 dini hari sebelum kemudian berangkat ke pasar untuk mengirim kue-kue basah tersebut hingga menjelang subuh. Usai salat Subuh, ia mengirim ke kantin beberapa sekolah yang menerima kuenya. Baru setelahnya ia bisa beristirahat sebentar sebelum kembali ke pasar dan ke kantin untuk mengambil uang setorannya.

Itu semua dilakoninya tetap dengan hijab yang tertutup rapat. Beberapa bahkan sudah kekecilan dan robek, mungkin sejak gadis belum pernah membeli jilbab/abaya baru. Begitu juga dengan kerudungnya. Ketika kutanyakan, ia mengaku bahwa ia butuh abaya dan kerudung bekas yang masih layak pakai agar bisa menutup auratnya dengan lebih sempurna. Syukurlah ada beberapa yang bisa kuberikan padanya meskipun agak terlalu besar dibandingkan ukuran tubuhnya. Ya…hanya itu yang bisa kulakukan untuknya.

Ia pun berkisah bahwa sebelum tidur, anaknya sering minta ibunya untuk mendongeng. Di tengah lelah dan kantuk yang menyerang, ia tak menolak permintaan sang anak. Kisah dongeng seringkali tak jelas endingnya karena otaknya sudah tak bisa diajak kompromi untuk menata kata.

“Jadi, Mas dan Mbak itu harus tetap ngaji meskipun sandal ibu rusak dan ibu belum bisa membeli gantinya.”

Jelas saja, anaknya yang berusia 8 dan 7 tahun itu tertawa-tawa mendengar kata-kata ibunya yang nggak nyambung. Ungkapan hati ketika otak bawah sadar yang berbicara. Harapan seorang ibu tentang anaknya agar menjadi sosok yang salih dan salihah. Anak ketiga masih bayi yang berusia 5 bulan.

Ketika ia pamit pulang, tak ada yang bisa kutawarkan lagi kecuali membuka pintu hati dan rumah lebar-lebar untuknya.

“Datanglah kapan pun kamu ingin curhat dan berbagi cerita denganku. Karena hanya dengan itulah kita bisa saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran. Dan hanya itulah yang bisa kulakukan sebagai saudara dalam iman dan Islam, insya Allah.”

Wallahu alam. (riafariana/voa-islam.com)

Ilustrasi: aisyahkecil.wordpress.com

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2015/01/19/35110/aku-takut-tak-bisa-menjadi-ibu-yang-baik/

Astaghfirullah, Ini 3 Hal yang Bisa Menyebabkan Wanita Merasakan Siksa Neraka

Sahabat Muslimah VOA-Islam yang Shalihah…

Siapa yang tidak mendambakan akan kenikmatan surga yang telah dijanjikan Alloh, banyak jalan untuk bisa meraih kenikmatan yang berupa surga bagi wanita muslimah. Namun hati ini terasa miris ketika membaca banyak hadits Rosulullah yang menjelaskan bahwa ketika Alloh memperlihatkan neraka kepada Rasululloh, ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita.

Ya wanita…. Dalam hati ini bertanya-tanya. Apa sih yang menyebabkan banyak wanita terjerumus ke dalam siksa neraka? Padahal jika diamati kebanyakan perkumpulan pengajian baik di kota maupun di desa ternyata kebanyakan wanita. Kenapa semua ini bisa terjadi?

Sahabat Muslimah….

Setelah kita rekreasi melewati lorong waktu dengan menyelami beberapa kitab yang telah ditorehkan para ulama, ternyata ada beberapa hal yang menjadi penyebab terperosoknya wanita ke dalam neraka.

Pertama: Menyebarkan Rahasia

Seolah sudah menjadi naluri bagi wanita untuk saling bertukar kabar kepada temannya ketika bertemu. Dimana ada wanita seakan suasana sunyi kan menjauh. Bahkan ada yang berkata, dua atau tiga wanita mampu membuat suasana bak pasar yang pindah lokasi. Kebanyakan wanita akan merasa kurang puas jika hanya bertukar kabar keadaan dirinya saja, maka iapun akan segera memberikan kabar tentang orang lain yang pernah ia lihat maupun didengarnya. Sesungguhnya inilah pintu pertama yang menjadikan kebanyakan wanita merasakan pedihnya siksa nerakan. Lidah memang organ yang tak bertulang, namun dikala kita kurang mampu untuk mengendalikannya bisa menjadi bencana besar dalam diri. Rasulullah bersabda:

…ثُمَّ عُرِضَتْ عَلَيَّ النَّارُ فَلَمَّا وَجَدْتُ سَفْعَهَا تَأَخَّرْتُ عَنْهَا وَأَكْثَرُ مَنْ رَأَيْتُ فِيهَا النِّسَاءُ اللَّاتِي إِنْ اؤْتُمِنَّ أَفْشَيْنَ

Lalu diperlihatkan neraka kepadaku, begitu saya mendapatkan panasnya, saya mundur darinya. Yang paling banyak saya lihat disana adalah para wanita, karena jika diberi amanat mereka menyebarkannya…. (H.R Ahmad).

Dari hadits diatas dapat kita simpulkan, begitu sulitnya selamat dari mengemban sebuah amanat yaitu menyimpan rahasia bagi seorang wanita sehingga menyebabkan ia menjadi penghuni neraka. Naaudzubillahi mindzaalik.

Kedua: Mengingkari Kebaikan Suami

Setelah seorang wanita dinikahkan oleh walinya, maka tanggung jawab yang sebelumnya menjadi tanggungan orang tua, maka setelah menikah tanggung jawab berpindah kepada suaminya. Terutama masalah nafkah yang akan memenuhi kebutuhan kesehariannya adalah kewajiban sang suami. Tidak ada batasan nilai banyaknya nafkah yang harus diberikan kepada istri, semua sesuai dengan kemampuan perindividu suami.

Namun ukurannya yaitu hati, hati seorang suami yang baik haruslah berusaha memenuhi seluruh kebutuhan istrinya dan berusaha untuk selalu membahagiakannya. Seorang suami yang dulunya bukan apa-apa kita namun dengan menikahi wanita maka ia wajib menanggung segala kebutuhannya. Maka sudah seyogyanya seorang istri berterima kasih terhadap apa yang sudah diberikan suami kepadanya. Apalagi seorang muslimah mampu berselendangkan qonaah dalam hidupnya, tentunya ia akan mampu menerima setiap pemberian suami dengan senang hati.

Walaupun terkadang pemberian suami belum mampu mencukupi semua kebutuhan rumah tangga. Seorang istri harus menyadari bahwa rizki manusia ada pasang surutnya. Maka kewajiban bagi seorang istri bukan ikut mencari nafkah bagi keluarganya namun ia wajib membantunya dengan untaian do’a yang ia panjatkan kepada Alloh.

Namun sungguh mencengangkan, ternyata banyak dari kaum hawa yang kurang mampu berterima kasih bahkan cenderung mengingkari pemberian suaminya sehingga menjadi penyebab ia berhak mendapatkan neraka diakherat kelak. Rasulullah bersabda:

….فَقَالَ يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ تَصَدَّقْنَ فَإِنِّي أُرِيتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ فَقُلْنَ وَبِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِير

Artinya: Wahai para wanita! Hendaklah kalian bersedekahlah, sebab diperlihatkan kepadaku bahwa kalian adalah yang paling banyak menghuni neraka. Kami bertanya, Apa sebabnya wahai Rasulullah? beliau menjawab: Kalian banyak melaknat dan banyak mengingkari pemberian suami. (H.R Bukhori).

Ketiga: Membuka Aurat

Wanita adalah aurat. Bukan hanya dari bentuk tubuhnya namun suara juga termasuk aurat yang harus dijaga. Menutup aurat adalah Fardhu ‘ain hukumnya, sebagaimana hukum sholat lima waktu yang tidak bisa ditinggalkan sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan Alloh dalam Al qur’an maupun al hadits. Di dalam sebuah hadits dijelaskan.

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَا أَرَاهُمَا بَعْدُ نِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مَائِلَاتٌ مُمِيلَاتٌ عَلَى رُءُوسِهِنَّ مِثْلُ أَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَرَيْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا

Artinya: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Ada dua golongan dari penghuni neraka yang aku belum pernah melihatnya; wanita yang berpakaian tapi telanjang, mereka berlenggak lenggok dan bergoyang, rambut kepala mereka seperti punuk unta yang miring, mereka tidak akan melihat surga atau mendapatkan baunya…(H.R Ahmad).

Astaghfirullah…

Begitu banyak dari muslimah saat ini yang masih memiliki ciri sebagaimana yang telah diungkapkan Rosululloh. Berpakaian dengan bahan yang tipis atau membentuk lekuk tubuhnya, dikala berjalan melenggak-lenggok. Dan sekarang baru in cara berjilbab dengan menyanggul rambutnya di atas. Sehingga nampak seperti punuk onta atau gunung Merapi.

Sahabat Muslimah…

Marilah kita menyempurnakan akhlaq. Baik akhlaq dalam menjaga lisan ini, akhlaq kepada suami, maupun akhlaq dalam menutup aurat. Mungkin diawal mungkin terasa berat. Namun yakinlah sesungguhnya dibalik kesulitan pasti terdapat kemudahan. Wallohua’lam. [ukhwatuna/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2015/01/16/35070/astaghfirullah-ini-3-hal-yang-bisa-menyebabkan-wanita-merasakan-siksa-neraka/

VOA-Islamic Parenting (36): Abi, Please Ngertiin Bunda

Sahabat VOA-Islam yang Shalih dan Shalihah…

Setiap keluarga mempunyai alur cerita yang unik, masing-masing dari kehidupan merasakan berbagai aneka rasa yang terbaur menjadi satu. Berumah tangga memang tak semudah yang kita pikirkan, akan tetapi juga tak sesulit apa yang kita kira.

Pria dan wanita adalah makhluk Allah yang berbeda, bukan hanya berbeda lawan jenis, akan tetapi secara psikologi dan mental pun mempunyai ciri khas yang lain.Pria lebih cuek dan acuh tak acuh, tapi sabar dan akalnya pun main dalam bertanggung jawab. Wanita lebih peka dan sensitive tapi lemah dalam beberapa situasi.

Sehingga dalam beberapa kondisi, pria terlihat seperti acuh dan wanita terlihat seperti terdholimi. Namun semua itu akan sirna dan terpadu menjadi kesatuan yang harmoni bila di ikat dengan ilmu dan iman dalam mahligai rumah tangga islami. Selamat membaca:

Kali ini kami hadirkan curhatan seorang istri yang berjuang keras untuk keluarganya. Dan arti sebuah ibu rumah tangga, semoga pembaca bisa mengambil hikmah dari coretan curhatan seorang istri.serta para suami sadar bahwa kecuekan bukan sebuah solusi.

Keputusan saya untuk keluar dari zona aman sebagai karyawan, kemudian beralih menjadi ibu rumah tangga dan sepenuhnya mengurus anak serta merta memang bukan keputusan yang mudah. Banyak yang terpaksa harus saya korbankan dan tentunya harus rela kehilangan rupiah yang biasanya memenuhi dompet tiap akhir bulan. Kuliah yang masih di tengah jalan yang tadinya biaya sendiri-terpaksa harus dibiayai suami. Untuk yang satu ini,saya memang tidak mau berhenti.

Menjadi seorang istri dan ibu dari tiga orang anak bukanlah perkara mudah, banyak hal yang di luar harapan yang mewarnai kehidupan saya kini, lelah, dengan semua pekerjaan rumah yang rasa-rasanya tidak pernah ada habisnya.

Satu pekerjaan selesai, pekerjaan lain sudah antre untuk di kerjakan. Ya, kalau saya robot yang tidak pernah lelah dan capek, mungkin waktu 24 jam habis hanya untuk mengerjakan seluruh pekerjaan rumah.Tapi, saya kan hanya manusia biasa yang punya keterbatasan tenaga, jadi wajar bila saya selalu kelelahan dengan urusan beserta isinya.

Karena belum mampu menggunakan jasa asisten rumah tangga, maka semua urursan rumah ada pada kendali saya. Jika sudah lelah banget dengan pekerjaan rumah, biasanya saya jadi tidak isa mengatur emosi. Anak-anak kadang menjadi lampiasan marah yang tidak terbendung, setelahnya saya akan menyesal dan menangis.

Suami, kan harus jadi partner istridi rumah, bukan hanya utuk urusan mendidik anak, tapi semua urusan rumah pun harusnya saling membantu. Tapi sepertinya si abi (panggilan si suami) sering banget nggak peka.Mengerjakan semua pekerjaan rumah, tuh, capeknya wooow banget.j Jika di banding kerja di pabrik sepertinya hanya separuhnya.

Saya selalu ingin si abi membantu saya tanpa meminta.Agar anak-anak nantinya mengerti bahwa urursan pekerjaan rumah seperti mencuci pakaian, mencuci piring, menyapu, membersihkan lantai,menggosok baju sampai urusan masak bukan hanya tugas dan kewajiban bunda, tapi seluruh anggota keluarga. Jadi kelak ketika mereka dewasa, mereka akan terbiasa dengan pekerjaan rumah itu.

Saya selalu inginkan abi peka, melihat tumpukan pekerjaan rumah, ia dengan sigap dapat membantu. Tapi nyatanya, selalu dan selalu diminta dulu, baru deh dibantu. Kalau begitu saya jadi seperti Pak Tarno yang selalu bilang “ tolong di bantu ya”.

Sering saya marah-marah sama si abi jika dia sudah benar-benar kelewatan nggak pekanya. Masak melihat sampah yang menumpuk di pojok dapur malah cuek. Saya harus selalu memintanya agar ia mengangkat keranjang sampah dan membuang isinya.

Jika sudah kelewat lelah saya marah, barulah ia ngeh kalau istrinya super duper capek dan perlu bantuankemudian ia mau mengerjakan sedikit pekerjaan rumah.

Menjalani rutinitas yang monoton seperti ini memang sangat menguras tenaga, pikiran, dan emosi. Terkadag saya membatin, “gue sarjana tapi cuma begini doang”.Tapi setelah saya menyadari ada kemuliaan tersendiri menjadi seorang ibu rumah tangga, saya pun istrigfar.

Menjadi seorang ibu rumah tangga sejati yang fokus mengurus anak-anak dan suami memang bukan pekerjaan ringan. Tapi saya sadar, itu semua akan berbuah pahala jika di akukan dengan benar dan penuh keikhlasan.

Jargon “ibu sekolah pertama untuk anak” menjadi motivasi bagi saya ketika jenuh dengan rutinitas monoton ini. Melihat mereka tumbuh menjadi anak-anak yang sehat, cerdas dan pintar adalah kebanggaan.

Itulah sebabnya saya bertahan untuk tidak bekerja kembali. Walaupun banyak tawaran bekerja dari teman-teman, saya masih ingin menjadi ibu rumah tangga dengan warna warninya. Warna yang selalu melingkari diri saya, semuanya harus mampu saya jalani.

Allah, memberikan kemuliaan tersendiri bagi seorang ibu. Karena begitu beratnya beban, maka Allah menempelkan level tertinggi bagi seorang ibu. Jika Allah memberikan keluasan rejeki, ingin sekali punya asisten rumah tangga yang bisa membantu saya dalam mengurus rumah.

Dengan begitu, saya tidak lagi mengharapkan abi membantu urusan rumah. Dan saya tidak terlalu capek mengharapkan abi mengerti kelelahan yang sangat ini, biarlah ia focus bekerja mencari rezeki, dan artinya saya tidak lagi perlu bilang “ABI, PLEASE NGERTIIN BUNDA”.

Disadur dari divamate buku” Dear suamiku” @suci_risalah [syahid/protonema/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2015/01/13/35008/voaislamic-parenting-36-abi-please-ngertiin-bunda/

Ini Alasan Mengapa Pentingnya Mengatur Waktu Bagi Muslimah

Sahabat Muslimah yang Dirahmatai Allah SWT…

Waktu adalah sesuatu yang sangat berharga dalam hidup. Jika kita kurang mampu memanfaatkan waktu, kita akan menjadi muslimah yang sangat merugi. Waktu tidak bisa kita produksi dan tidak bisa kita beli. Karena pentingnya waktu, Alloh bersumpah dengan waktu dalam surat Al ‘Ashr:
Demi waktu. Sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi kecuali yang beriman dan beramal sholih serta saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.(Q.S Al’Ashr:1-3).

Sahabat Muslimah…

Waktu memang sangatlah penting dalam kehidupan kita. Dalam kondisi normal, seharusnya seseorang setelah menata keimanan dengan benar didalam hati maka ia akan mengapresiasikan iman tersebut dengan amalan-amalan sholih baik berupa ibadah yang telah ditetapkan oleh Alloh maupun aktifitas lain demi menggapai ridho-Nya. Seperti halnya sahabat muslimah yang mengerjakan aktifitas rumah tangga, dalam setiap aktivitas tersebut haruslah diniatkan dalam ketaatan. Jika semua diniatkan untuk mencari ridho Alloh maka bernilai ibadah. Dan dengan adanya ibadah dalam kehidupan kita inilah yang menjadikan kita mendapatkan hak surga dari Alloh.

Namun dari semua keinginan yang akan dilakukan tidaklah mungkin bisa terwujud bila kita tidak memiliki waktu luang. Waktu luang merupakan anugrah yang istimewa dari Alloh kepada kita. Bila kita kurang mampu mensyukuri nikmat ini, justru bisa menjadikan bencana baru dan mempersulit hisab di akhirat. Rosulullah bersabda:

قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Dua kenikmatan yang sering dilupakan oleh kebanyakan manusia adalah kesehatan dan waktu luang. (H.R Bukhori).

Berhasil dan tidaknya seseorang bisa dilihat bagaimana dirinya mengatur dan mengelola waktunya. Karena keberhasilan seseorang bisa tercapai dengan ia pandai dalam mengatur waktu. Hal ini diungkapkan dalam peribahasa “waktu bagaikan pedang”, maka siapa yang tidak mampu menggunakan dengan baik maka ia akan terluka karenanya”. Dari ungkapan ini celakalah orang yang tidak bisa memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.

Astaghfirullah…

Apalagi kita wahai sahabat Muslimah. Ya…. adalah wanita. Dalam kehidupan ini wanita lebih identik dengan hal-hal yang sifatnya sia-sia seperti hobi shoping, tamasya, ngobrol ke sana-sini dan masih banyak lagi yang merupakan sesuatu yang identik dengan kebiasaan wanita. Maka sudah seyogyanya sahabat muslimah sholihah harusnya berusaha mengatur dan memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Apa lagi mengingat tugas dan peran sahabat muslimah yang begitu banyak dalam urusan keluarga. Jika seorang wanita tidak pandai dalam mengatur waktu maka keadaan rumah tangga akan semrawut. Baik dari segi kebersihan rumah, hidangan makanan, sampai pada kenyamanan dalam beribadah yang menjadi tolak ukur sebuah rumah tangga.

Ada sebuah kisah indah sebagai gambaran bagaimana seharusnya memanfaatkan waktu. Kisah tersebut berasal dari Dawud Ath-Thai. Dia lebih menyukai makan roti yang dibasahi air daripada makan roti kering.

Maka suatu hari pelayannya bertanya: “tidakkah engkau berminat untuk makan roti kering?” Maka Dawudpun menjawab: “Saya mendapati bahwa ada perbedaan antara waktu mengunyah roti kering dan roti yang dibasahi air sama dengan waktu yang digunakan untuk membaca lima puluh ayat”.

Begitulah orang-orang sholih dalam memanfaatkan waktu. Bagaimana dengan sahabat muslimah?

Alloh SWT berfirman:

فَإِذَا فَرَغْتَ فَٱنصَبْ

Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain (QS 94:7).

Ayat di atas mengandung makna apabila telah selesai mengerjakan pekerjaan yang satu maka segera beralih keaktifitas yang lain. Karena jika tidak segera beralih kepada kegiatan yang lain cenderung seseorang akan banyak melamun dan berangan-angan. Dan perlu disadari bahwa angan-angan akan membuka pintu setan.

Seorang Muslimah sholihah akan mampu memilah-milah mana aktifitas yang mesti menjadi prioritas utama. Yang menjadi boss bagi ibu rumah tangga ya diri sendiri. Malas, rajin, lambat atau cekatan tergantung pada bagaimana ia dapat mengatur waktu secara profesional. Urusan rumah tangga adalah sesuatu yang sangat komplek. Namun dalam mengatur waktu harus disertai dengan kesiapan hati. Dikala hati ini siap kita tidak akan banyak mengeluh. Maka jangan banyak mengeluh jika kita memang disibukkan dengan urusan rumah tangga. Sesuatu yang berat jika dilakukan dengan senang hati, maka akan ringan rasanya. Namun pekerjaan yang ringan jika kita dalam melakukannya tidak menyertakan rasa senang hati maka akan terasa berat. Semua tergantung bagaimana kita mensikapinya.

Sahabat Muslimah…

Semoga kita benar-benar pandai mengelola waktu. Semoga kita juga mampu menjaga hati dikala mengemban segala amanah ini. Sehingga kita mampu mewujudkan keluarga yang nyaman dan tengah dengan ketaatan kepada Robbi. Wallahu’alam. [ukhwatuna/voa-islam.com]

image: emadhisto.blogspot.com

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2015/01/12/34991/ini-alasan-mengapa-pentingnya-mengatur-waktu-bagi-muslimah/

10 Pesan Pernikahan untuk Laki-laki

Wahai para suami dan calon suami! Engkau tidak akan meraih kebahagiaan dalam rumah tangga kecuali dengan melakukan sepuluh sikap ini kepada isterimu.

Pertama sekaligus kedua, karena pentingnya pesan ini, wanita itu suka dimanja dan senang mendengar pernyataan cinta. Oleh karena itu, jangan pelit untuk memanjakannya atau menyatakan cinta kepadanya. Jika engkau pelit, berarti engkau telah membangun tutur kata yang kasar dan cinta yang kering sebagai dinding pemisah antara dirimu dengannya.

Ketiga, wanita itu membenci pria yang keras lagi tegas, sebaliknya memanfaatkan laki-laki yang lemah lagi lembut. Oleh karena itu, gunakan masing-masing dari kedua sifat itu pada tempatnya. Itu akan lebih menumbuhkan cinta dan lebih mendatangkan ketenangan.

Keempat, wanita menyukai pada suaminya apa yang disukai suami pada dirinya, yaitu tutur kata yang sopan, penampilan yang menarik, pakaian yang bersih, dan aroma tubuh yang harum. Jadilah pria yang seperti itu dalam setiap keadaan.

Kelima, rumah adalah kerajaan bagi wanita. Di rumah wanita merasa sedang duduk di singgasananya sebagai ratu. Jangan menghancurkan kerajaannya, jangan mengusirnya dari singgasananya. Jika demikian, berarti engkau telah merebut kerajaannya. Tidak ada raja yang lebih keras memusuhimu daripada yang kau rebut kerajaannya, walaupun secara lahir dia bersikap sebaliknya.

Keenam, wanita ingin meraih hati suami tanpa kehilangan keluarganya. Oleh karena itu, jangan menjadikan dirimu dan keluarganya dalam satu timbangan, yang memaksanya untuk memilihmu atau keluarganya. Andaikata ia lebih memilihmu ketimbang keluarganya, tentulah ia terus dalam duka berkepanjangan yang dampaknya akan terasa dalam kehidupanmu sehari-hari.

Ketujuh, wanita itu diciptakan dari tulang rusuk yang melengkung, inilah rahasia kecantikan dan daya tariknya. Ini bukan aib baginya. Alis itu indah justru karena bentuknya yang melengkung. Oleh karena itu, ketika ia melakukan kesalahan, janganlah menyerangnya tanpa kompromi sama sekali. Kamu berusaha meluruskan yang bengkok, tapi yang terjadi justru mematahkannya. Patahnya seorang wanita berarti perceraiannya. Sebaliknya, jangan kau biarkan saja ketika ia melakukan kesalahan sehingga semakin parahlah bengkoknya. Ia menjadi egois, tidak pernah bersikap manis kepadamu sesudah itu, dan tidak mendengarkan kata-katamu. Bersikaplah kepadanya antara ini dan itu.

Kedelapan, wanita itu diciptakan dengan watak “kufur kepada suami” dan “mudah melupakan jasa”. Meskipun engkau telah berbuat baik kepadanya sepanjang masa, lalu satu kali saja engkau berbuat buruk kepadanya, ia akan berkata, “Aku tidak pernah mendapati kebaikan padamu sama sekali!” Jangan membencinya karena sifat buruk ini. Sekalipun engkau tidak menyukai satu sifat pada dirinya, toh engkau masih menyukai sifat-sifat lainnya.

Kesembilan, wanita itu pasti melewati masa-masa kelemahan fisik dan kelelahan psikis sehingga Allah Subhanahu wa Ta’ala menggugurkan sejumlah kewajiban darinya pada kondisi tersebut. Dalam keadaan tersebut, Allah telah menggugurkan sama sekali kewajiban shalat darinya serta menunda kewajiban puasa sampai kesehatannya pulih kembali serta kondisi fisik dan psikisnya kembali seimbang. Pada saat-saat seperti itu, jadilah seorang lelaki rabbani. Sebagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menggugurkan kewajiban-kewajiban yang telah ditetapkan baginya, kurangilah tuntutan-tuntutan dan perintah-perintahmu kepadanya.

Kesepuluh, ketahuilah wanita itu ibarat tawanan bagimu. Kasihilah ia sebagai tawanan dan maafkan kelemahannya niscaya ia menjadi nikmat terbaik sekaligus teman terbaik bagimu.

Diterjemahkan oleh Hawin Murtadlo dari nasehat Imam Ahmad bin Hanbal kepada Putranya.

Image: lifechapterof-dtk.blogspot.com
 

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/read/muslimah/2015/01/06/34909/10-pesan-pernikahan-untuk-lakilaki/