10 Cara Agar Muslimah Tegar di atas Jalan Hidayah

Sahabat Muslimah yang Dirahmati Allah…

SUMBER (www.pury-xp.blogspot.com)

Ramadhan adalah bulan yang penuh dengan keberkahan, dimana umat Islam berbondong- bondong mendatangi masjid dan majelis takim. Bukan hanya itu, motivasi untuk ber-fastabiqul khoirotpun jelas terasa, dimana amal sholeh serta sunah Nabi yang jarang di laksanakan di luar Ramadhan, maka di bulan penuh ampunan ini pasti akan di laksanakan. Subhanalah…

Menjadi seorang Muslimah yang andil dalam setiap kajian amal Islami, serta menjadi bagian dari jamaah dalam melaksanakan aktivitas khoirot di bulan Ramadhan ini, sungguh suatu yang hal perlu di syukuri.

Akan tetapi, mungkinkah apa yang kita laksanakan ini akan terus bersambung hingga bulan di luar Ramadhan? Ataukah terputus sampai di bulan ini saja?

Sungguh hal itu adalah sesuatu yang tidak kita inginkan. Maka dari itu, agar seorang Muslimah tetap tegar di jalan hidayah, sesungguhnya dia harus melaksanakan beberapa hal berikut ini.

Berharganya Nikmat Hidayath dalam Hidup Seorang Muslimah

Di antara nikmat Allah SWT yang terbesar terhadap hamba-Nya adalah memberikan mereka hidayah mengenai hal yang di cintai dan di ridhai-Nya, Karena itu, kita dapati Allah memberikan nikmat kepada Nabinya dengan firmannya: 

dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang bingung, lalu Dia memberikan petunjuk (Qs Dhuha:7).

Allah juga befirman : 

Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.”(QS Al Hujurat :17).

Dan ketika Nabi mengumpulkan orang orang Anshar serta berkhotbah di hadapan mereka, beliau bersabda:

“Wahai kaum Anshar, bukankah dulu kudapati kalian tersesat,kemudian Allah memberikan kalian hidaah dengan perantara diriku? Kalian dulu berpecah belah,kemudian Allah satukan kalian dengan perantara diriku? Kalian dalam keadaan miskin,kemudian Allah beri kecukupan kalian dengan perantara diriku? (HR Muslim, shahih).

Dalam hadist ini beliau mengawali dengan nikmat terbesar yaitu hidayah dari kesesatan.

Wahai para Muslimah…

Bersyukurlah,jikalau hari ini,dirimu bisa bermajelis bersama dengan orang bertakwa dan sholehah lainya. Bersyukurlah jikalau hari inikau telah kenakan jilbabmu, dankau buang semua baju jahiliyahmu. Bersyukurlah jikalau hari ini merasakan indahnya membaca Al Quran setelah lama kau bergelut denga bacaan yang tak ada gunanya. Sunguh semua itu adalah hidayah Allah semata.

Akan tetapi hidayah Allah perlu di jaga,karena setan akan selalu menggoda anak Adam dengan sekuat tenaga,karena mereka tak pernah rela bila anak Adam berhasil mendapatkan tiket menuju surga. Maka fahamilah ada beberapa jalan yang harus kau tempuh agar tetap tegar di jalan hidayah ini.

Syaikh Abu Muhamad Isham bin Muhamad as Syrif dalam kitab Sil Silatul Maratus Shalihah memberikan petunjuk agar kita tetap istiqomah di jalan hidayah.

1. Senantiasa Berdo’a Kepada Allah Agar Selalu Istiqamah

Rasululoh bersabda dalam hadistnya:

“Sungguh iman di hatimu itu bisa usang sebagaimana usangnya baju,maka mohonlah agar Allah memperbarui iman di dalam hatimu” (HR Tbabrani dalam Al-Kabir).

Oleh karena itu, doa seorang hamba Allah yang shalih adalah:

Mereka berdoa): “Ya Tuhan Kami, janganlah Engkau jadikan hati Kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada Kami, dan karuniakanlah kepada Kami rahmat dari sisi Engkau; karena Sesungguhnya Engkau-lah Maha pemberi (karunia)”.(QS Ali Imran: 8).

Jadi, seorang Muslimah seharusnya dalam keseharianya selalu memanjatkan doa di hadapan Allah untuk ketetapan hidayah di dalam hatinya,karena kita tak tahu apa yang akan terjadi pada diri kita kedepanya.

2. Memperbaharui Keimanan Kepada Allah

Yang saya maksud di sini adalah menempuh semua sarana syar’i yang dapat meningkatkan dan memperkuat keimanan,sehingga keimanan pada Allah terus bertahan dan bekasnya tetap hidup.

Allah berfirman:

“ Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannyadi bawah mereka mengalir sungai- sungai di dalam syurga yang penuh kenikmatan”(QS Yunus:9).

Sesuai dengan keimanan dan amal shalihmu kepada Allah.Allah akan memberikan hidayah kepadamu dengan keimanan kepadanya. Bahkan lebih dari itu,Allah akan memperteguhkan dirimu di atas jalan hidayah, sehingga tempat tinggalmu kelak adalah di surga.

3. Mendengar dan Taat Kepada Allah dan Rosulullah

Sunguh,berpijaknya seorang Muslimah di atas prinsip mendengar dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya, termasuk salah satu prinsip agar ia bisa teguh di atas jalan hidayah,sebab ini sama artinya dengan hubungan kuat antara dirinya dengan Allah secara berkesinabungan. Apalagi dengan praktek ibadahnya yang sesunguhnya kepada Allah, sebagai bukti hal itu, maka seorang hamba terhadap majikanya ibarat seorang buta bersama orang yang menuntunnya.

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. karena itu Barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut[162] dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang Amat kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.# Allah pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.”(QS al baqoroh:256-257).

4. Berdzikir Serta Membaca, Tafakur, dan Memahami Al-Qur’an

dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Allah menambah petunjuk kepada mereka dan memberikan Balasan ketaqwaannya.(QS Muhamad:17).

Membaca Al Quran dan berdzikir kepada Allah termasuk sarana penting, yang bisa meneguhkan di atas jalan hidayah, dimana seorang Muslimah akan senantiasa berinteraksi bersama Rabbnya dengan kedua hal tersebut.Ia membaca kalam Allah dan mengingatnya dengan lisannya,sehingga hal itu menyibukkan dirinya dari perakarasia-sia yang batil dan dari bahaya-bahaya yang di timbulkan oleh lisan,sekaligus akan meningkatkan keimanan danketakwaan kepada Allah.

 5. Tafaquddin Serta Aktif dalam Majelis Ilmu

Kehadiran seorang Muslimah dalam mempelajari ilmu yang bermanfaat di dalam masjid dan keterlibatanya dalam majelisdzikir, diiringi pengharapan akan pahala pada setiap langkah dari rumah ke masjid merupakan perangkat penting untuk meneguhkannya di atas jalan hidayah.

Seorang Muslimah yang telah berangkat dari rumah menuju majelis taklim, berarti dia telah melenyapkan kebodohanya dan menambah keimanan yang ada. Agar tsaqofah keilmuannya bertambah sehingga menjadi Muslimah yang luar biasa.

Katakanlah: “Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sesungguhnya orang yang berakAllah yang dapat menerima pelajaran.(QS Az Zumar:9).

6. Berteman dengan Teman Muslimah yang Berakhlak Baik

Dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang Lurus (dengan mengatakan): “Marilah ikuti kami”. Katakanlah:”Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam(QS Al An am:71).

Seorang sisiwi dalam sekolah ataupun dalam kuliah tentu mempunyai teman dekat,secara perlahan atau pun cepat,dia akan terpengaruh oleh gaya teman-teman yang ada di dekatnya. Apalagi bila dari dalam dirinya tidak ada niatan tuk merubah teman-temannya untuk menjadi lebih baik, tentu saja akan menjadikan dia mudah terpengaruh oleh gaya hidup serta temannya yang berakhlak buruk. Akan tetapi, bila temannya adalah para Muslimah yang faham akan dienul Islam,yang selalu menasehati dalam kebaikan,berlomba dalam amal sholeh seta aktif dalam kajian Islam. Insya’a Allah diapun akan tetap terwarnai oleh cahaya hidayah dan indahnya amal sholeh. Insya’a Allah.

7. Banyak Beramal Shalih Baik Secara Terang-Terangan Maupun Secara Sembunyi-Sembunyi

Rosululoh saw bersabda:

“Tak henti-hentinya hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunah sehingga aku mencintainya (HR Bukhari Muslim).

Sungguh ketika seorang Muslimah memperbanyak amaan sholih,baik sholat,puasa, shodaqoh atau membantu sesama akan secara otomatis iman selalu naik derajatya, menuju puncak keimanan. Dalam waktu yang sama Allah cinta dengan orang selalu melaksankan amalan amalansunah. Hal ini menjadi jalan turun hidayah rosyad tuk melaksanakan amal sholeh lainnya yang mungkin kita belum bisa melaksanakanya.

8. Muhasabah Diri dari Setiap Kekurangan Serta Selalu Islah Amal Setiap Waktu

Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan kami. dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.(Al ankabut:69).

Wahai para Muslimah…

Bukankah kalian sering bercermin? Karena dengan bercermin, kalian faham mana yang harus di make up dan mana yang tidak. Begtu juga dengan amal dan diri kita, sebagai seorang Muslimah yang bercita-cita menjadi Muslimah terbaik, maka seharusnya harus suka bermuhasabah. Selalu mengkoreksi setiap kekurangan diri dan kita perbaiki secepatnya. Karena sekarang ini adalah darul amal dan kelak di akhirat adalah darul jaza. Maka beramalah dengan berharap Allah akan memberikan jaza yang terbaik bagi kita.

9. Zuhud dan Pendek Angan-Angan Kosong

Bukan rahasia lagi, jikalau seorang wanita sangat mendaba harta, suka belanja tanpa batas, suka berencana tiada henti untuk koleksi pribadi, serta berencana pingin itu pingin ini tiada hentinya.

Maka sebagai seorang Muslimah, yang sudah terlcelup kajian Islam,maka kita harus bisa menahan hawa nafsu kita. Tidak lucu lagi, masak akhwat yang rutin kajian keluar masuk mall belanja tiada batas. Tidak keren lagi akHwat gonta ganti hand phone bermerk. Dan tidak sopan lah, kalau Muslimah tiada henti bercerita kekayaan yang belum tentu dia miliki.

Nah ketauhilah wahai Muslimah, bahwa zuhud di dunia dan jangan berangan-angan panjang adalah solusi dari itu semua. Berfikirlah tentang akhirat dan jadikan setiap invest, kita arahkan menuju akhirat.

Maka Allah telah meningatkan kita akan bahaya godaan setan dan pengarus dunia.

Hai manusia, Sesungguhnya janji Allah adalah benar, Maka sekali-kali janganlah kehidupan dunia memperdayakan kamu dan sekali-kali janganlah syaitan yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah(QS Al Fathir:5).

10. Ingat Kematian Serta Takut Su’ul Khotimah

Sungguh para sohabiah adalah teladan terbaik bagi kita sebagai seorang Muslimah.Apakah kita tidak pernah mendengar ibunda Sumayyah binti Khubah yang tegar memegang kalimat tauhid, dengan lebih memilih syahid di siram air panas di padang gurun yang panas bersama anak dan suaminya? Tidak pernah kah kau dengar itu wahai Muslimah?

Pernahkan kau baca dalam sirah shahabat? Tentang ketegaran seorang ibu yang bernama Khansa, yang mengikhlaskan anak laki-lakinya untuk berangkat ke medan jihad, dan sungguh dia lebih rela dan bangga anaknya syahid dari pada diam di rumah dengan harta yang menumpuk.

Ingatkah kalian dengan Ummu Sulaim? Yang tiada menangis dan sedih saat anaknya meninggal sedang suaminya sedang berpergian, akan tetapi dia tetap bertindak layaknya pengantin baru saat menyambut suaminya yang sedang datang dari safar? Sungguh kemulian atas dirinya.

Ketauhilah wahai Muslimah…

Kematian adalah keniscayaan.akan tetapi amal kehidupan kita dan amal sholeh harus kita ikhtiari dan kita perjuangkan. Maka sambutlah kematian kita dengan amal sholeh.karena kita pasti akan mati.

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. dan Sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam syurga, Maka sungguh ia telah beruntung. kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.(QS Al Imran:183).

Semoga dengan apa yang kami hadirkan ini, para Muslimah sudi tuk mencoba mengikuti dan istiqomah mengamalkannya, sehingga tidak pupus hidayah setelah sebulan bergulat, akan tetapi setelah selesai Ramadhan kembali futur dan bermaksiat. Naudzubilah. Wallahu’alam. [Adi/NOX_IPEH/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/07/24/31789/10-cara-agar-muslimah-tegar-di-atas-jalan-hidayah/

Ramadan Berkemas, Amal Apa yang Kita Titipkan?

Sahabat Voa Islam,

Di sepuluh hari terakhir Ramadan, bulan mulia ini mulai berkemas. Apa sih yang ada di benak ketika kita mendengar kata berkemas? Bersiap-siap pergi dan entah apakah bisa bersua lagi. Ramadan akan selalu datang hingga nanti saat matahari enggan bersinar alias kiamat. Tapi kita, bisakah berjumpa lagi dengan Ramadan tahun depan? Saat usia tak ada jaminan, apalagi amal yang seringkali cuma ada di angan-angan. Bila sudah begini, lalu amal apa yang akan kita titipkan pada Ramadan untuk dijadikan tabungan saat hari penghisaban?

Bersyukurlah bagi diri yang hari-harinya diisi dengan kataatan. Mulai dari tilawah Quran, salat tarawih dan sunah lainnya, banyak sodaqoh, belajar Islam dengan lebih baik dan tentunya wajib puasa di siang hari. Dan bagi diri yang belum memulai ketaatan itu tapi sudah meniatkannya, ayo mulai melangkah senyampang ada usia di Ramadan ini. Sedangkan bagi jiwa yang masih tenggelam dalam ketersesatan dan kemaksiatan, semoga Allah segera membukakan pintu tobat sebelum Izrail datang.

Ketaatan di Ramadan, bukan cuma selama 29 atau 30 hari saja. Ketaatan di Ramadan adalah sebagai bekal bagi ketaatan kita di 11 bulan setelahnya. Ramadan bukan ketaatan sebatas mode atau trend. Dia bukan musim selayaknya buah-buahan yang memunyai masa panen. Musim pake jilbab, musim tarawih, musim tilawah, musim iktikaf, dan musim-musim lainnya. Namanya musim, pasti sifatnya juga musiman. Ketika Ramadan berlalu, semua kebaikan itu ikut berlalu juga. Naudzubillah.

Ramadan tinggal hitungan hari. Sebegitu cepat waktu berlalu, seolah sekejapan mata. Padahal ketika baru menginjak awal Ramadan, seolah-olah panjang sekali perjalanan menuju lebaran. Kita sudah tak sabar ingin segera mendengar suara takbiran. Esoknya salat Id, kemudian bisa makan enak sepuasnya. Tapi sepanjang-panjangnya hari, selama-lamanya waktu yang ditunggu, tetap ia akan datang juga. Toh, nyatanya kita sudah di sini, di penghujung bulan Ramadan.

Sedikit banyak pasti ada rasa syahdu di hati orang-orang beriman akan berkemasnya Ramadan. Berlipatgandanya pahala, hanya ada di Ramadan. Salat Tawarih, puasa wajib hingga sahur dan buka bersama juga adanya di Ramadan. Malam seribu bulan pun tak mungkin didapati pada bulan selain Ramadan. Bulan ini sungguh sangat istimewa. Pantas bila berat rasanya hati ketika Ramadan mulai berkemas dan akan segera meninggalkan kita untuk datang lagi di 11 bulan berikutnya. Itu pun dengan catatan bila usia kita masih bisa diajak komproim untuk menjumpainya.

Bila mau jujur, Ramadan demi Ramadan betapa masih sering kita tak memaksimalkannya. Tilawah masih dihinggapi rasa malas, puasa pun terasa lemas. Salat tarawih bolong-bolong, di awal rajin sehingga masjid pun penuh. Semakin hari masjid mengalami  kemajuan alias shaf-nya makin maju. Itu tandanya jamaah masjid makin menyusut. Husnudzon saja, semoga jamaahnya tetap menjaga salat wajib dan sunahnya di rumah, amin.

Ramadan berkemas dan segera beranjak. Lima hari ke depan, duhh…berat nian.

Ramadan berkemas dan segera beranjak. Lima hari ke depan, duhh…berat nian. Serasa ingin kita tahan agar ia tak pergi-pergi. Tapi sudah sunatullah bahwa sesuatu yang datang, pasti ia akan pergi juga. Begitu pun dengan Ramadan. Amal apa yang akan kita titipkan pada Ramadan ketika ia benar-benar pergi?

Sodaqoh yang sedikit tapi insya Allah ikhlas. Salat sunah yang tak banyak rakaatnya tapi khusyuk. Komunikasi kita dengan Allah melalui ayat-ayatNya yang mulai intens. Doa tulus untuk Gaza, Kekhilafahan Islam yang baru berdiri agar segera kuat sehingga bisa melindas Israel laknatullah, atau bahkan secuil senyum untuk membahagian saudara seiman yang sedang sedih.

Apapun itu, pastikan kita menitipkan sesuatu yang terbaik yang bisa dilakukan. Ramadan adalah pemegang amanah utama, ia pasti akan menyimpan titipan kita rapat-rapat hingga nanti saatnya kita membuka saat di yaumil hisab. Wallahu alam. [riafariana/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/07/23/31780/ramadan-berkemas-amal-apa-yang-kita-titipkan/

Fakta Dibalik 10 Tahun Pernikahan Kita (1)

Sahabat Keluarga,

Fakta aneh yang banyak dirasakan pasangan suami istri dalam mengarungi bahtera rumah tangga lebih dari sepuluh tahun. Banyak diantara mereka yang memiliki pandangan sebagai berikut :

1. Kebanyakan suami menganggap istrinya cenderung suka marah dan suka mengangkat suara dihadapanya.
2. Kebanyakan istri menganggap suaminya sering berbohong kepadanya.

Namun yang lebih aneh lagi dikala sang istri ditanya katanya itu demi kebaikan suami. Pun demikian pula disaat suami ditanya juga memberikan jawaban demi kebaikan untuk istrinya.

Eit… Namun disaat keduanya ditanya apakah apa yang mereka lakukan itu merupakan akhlaq terbaik, keduanya pun menjawab dengan serempak TIDAK.

Ini merupakan fakta yang aneh dalam rumah tangga (semoga keluarga Sahabat muslimah VOA Islam tidak termasuk). Secara syar’i tidaklah mungkin suatu kebaikan melahirkan perbuatan yang salah dan tidak mungkin pula perbuatan yang salah dilakukan dengan niat demi kebaikan. Karena tidaklah mungkin kebaikan dan kejelekan bertemu dalam satu wujud dengan ketenangan jiwa.

Usut demi usut ternyata muara fenomena aneh yang terjadi dalam rumah tangga ini karena kesalahan dan kurangnya dalam membangun komunikasi. Karena kurang tepatnya mencari waktu terbaik untuk menyampaikan kehendak hati atau kurangnya pandai menyusun kata-kata terindah dengan pasangan hati serta kurang sabarnya dalam menunggu momen terbaik untuk mencurahkan riyak kehidupan.

Ada baiknya para Sahabat Muslimah bermuhasabah dengan wanita terbaik yang telah menjadikan hati Nabi Muhammad begitu mencintainya yaitu Khodijah Radhiyalloh. Bagaimana indahnya akhlaq Khodijah terhadap suami tercinta saat turunnya wahyu yang pertama.

Saat Rosululloh didekap malaikat Jibril dengan menampakkan wujud asli dengan sayap yang teramat sangat panjang sejauh mata memandang. Rosululloh dalam keadaan takut sampai menggigil kemudian turun dari Gua Hira’. Kemudian Rosululloh saat sampai rumah tak mampu terucap banyak kalimat, belum mampu mengungkapkan rentetan kata, namun yang terucap hanyalah permintaan kepada istrinya “selimuti aku, selimuti aku…”.

Di sinilah tercermin akhlaq istri Rosululloh Khodijah tercermin. Bukannya menyerbu Rosululloh dengan pertanyaan dengan bertubi-tubi, bukan pula ogah-ogahan menyambut suaminya. Namun Khodijah diam seribu bahasa dan mengikuti apa yang diinginkan suaminya tercinta sebagai bukti ketaatan sebagai cermin cintanya.

Ketika Rosululloh mulai tenang, beliau berkata: Khadijah, aku khawatir diriku akan tertimpa musibah, aku khawatir diriku akan tertimpa musibah lalu menceritakan kejadian apa yang baru saja dialaminya.

Setelah Khodijah mendengarkan cerita dari suaminya dengan rasa cemas dan takut masih tersisa dari terbatanya kata. Ketika mendengarkan cerita yang aneh karena diceritakan bahwa suaminya baru saja bertemu makhluq yang memiliki sayap sejauh mata memandang. Kembali tercermin bagaimana akhlaq beliau. Cerita yang aneh itu bukannya menelurkan untaian pertanyaan ataupun kalimat yang menunjukkan kurang percaya, namun untaian kalimat yang menyejukkan bak embun yang keluar dari lisan baginda Khodijah.

Khadijah berkata: Bergembiralah, demi Allah, Allah tidak akan merendahkanmu selamanya. Engkau benar-benar jujur dalam ucapan, menjaga silaturahim, menanggung beban, memuliakan tamu dan membantu orang yang kesulitan.

Tidak berhenti di situ, Khodijah kemudian berusaha mencarikan solusi untuk suaminya dengan mengajaknya ke saudaranya yang bernama Waroqoh.

Subhanalloh…
Inilah cermin kecintaan yang luar biasa yang menelurkan sikap yang tepat. Tergambar dengan jelas bagaimana bukti ketaatan istri kepada suaminya. Tergambarkan dengan jelas bagaimana kedudukan seorang istri sebagai penyejuk pandangan sebagaimana yang diungkapkan Imam Asy Syaukani dalam kitab Fathul Qodir. Juga tergambar dengan jelas bagaimana kesabaran Khodijah dalam bersikap dan menuturkan kalimat indahnya.

Demikianlah akhlaq Khodijah yang mendengarkan, mengikuti dan membantu mencarikan solusi terbaik untuk suaminya tercinta. (Bersambung)

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/07/15/31645/fakta-dibalik-10-tahun-pernikahan-kita-1/

Fakta Dibalik 10 Tahun Pernikahan Kita (2)

Sahabat Voa Islam,

Setiap pasangan suami istri selalu mengidamkan rumah tangga yang harmonis. Saling merindukan disaat jauh, selalu merasa tentram dan kita merasakan dicintai oleh pasangan kita masing-masing.

Mengarungi bahtera rumah tangga dengan tujuan seumur hidup, bahkan bukan hanya di dunia tapi sampai di akhirat nanti. Ibarat sebuah bahtera, terkadang rumah tangga terhempas oleh gelombang. Oleh karenanya muhasabah diri kita perlukan demi kebaikan bersama. Bukan hanya dilakukan oleh sahabat muslimah saja, sang pangeran juga perlu muhasabah dan memperbaiki komunikasi dalam rumah tangga.

Bermuhasabah dengan manusia pilihan terbaik di kolong langit ini, yaitu nabi Muhammad Sholallohu Alaihi Wasallam. Ada kecenderungan suami dingin dalam membangun komunikasi. Ada kalimat yang mengatakan “likulli maqolin maqoomun wa likulli maqoomun maqoolun” di setiap perkataan ada tempatnya dan di setiap tempat ada perkataan. Rosululloh begitu tepat memposisikan diri saat berada di dalam rumah sehingga begitu mudahnya membangun komunikasi dengan istrinya.

Ini tercermin dari hadits sebagai berikut. 
عَنْ عُرْوَةَ قَالَ قُلْتُ لِعَائِشَةَ يَا أُمَّ الْمُؤْمِنِيْنَ أي شَيْءٌ كَانَ يَصْنَعُ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا كَانَ عِنْدَكِ؟ قَالَتْ: “مَا يَفْعَلُ أَحَدُكُمْ فِي مِهْنَةِ أَهْلِهِ يَخْصِفُ نَعْلَهُ وَيُخِيْطُ ثَوْبَهُ وَيَرْفَعُ دَلْوَهُ” 
Urwah bertanya kepada Aisyah, “Wahai Ummul Mukminin, apakah yang dikerjakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tatkala bersamamu (di rumahmu)?” Aisyah menjawab, “Beliau melakukan seperti apa yang dilakukan salah seorang dari kalian jika sedang membantu istrinya. Beliau mengesol sandalnya, menjahit bajunya dan mengangkat air di ember.” (H.R. Ibnu Hibban).

Subhanalloh…. Tapi perlu diingat ya… Rosululloh melakukan itu semua bukan karena bentuk ekspresi kekecewaan kepada istrinya, namun itu dilakukan dengan tulus karena ingin meringankan beban istrinya. Bisa kita bayangkan bagaimana respon seorang istri sholihah dikala melihat suaminya melakukan itu semua, otomatis akan mengalir untaian kalimat maaf, mungkin pun akan deras mengucur kalimat candaan dan dan cubitan atau colekan mesra.

Untuk bekal para suami alangkah baiknya bila memperhatikan beberapa hal dibawah ini untuk bekal sebagai pemimpin keluarga:

A. Membekali diri dengan ilmu yang luas terutama ilmu agamanya serta selalu mengajarkan ilmunya kepada istrinya.

Ini penting dilakukan oleh suami agar ada persamaan pemahaman antara suami dan istri mengenai dien Allah. Mengajarkan tentang halal, haram, mubah, bid’ah, sunah dll. Mengajarkan tata cara sholat dan bersuci termasuk hukum-hukum wanita saat datang bulan dan nifas, mengajarkan shaum, haji, zakat, berjilbab.

Juga mengajarkan cara berinteraksi dengan suami, hal-hal yang disukai dan dibencinya. Bahkan mengajarkan pendidikan tentang fiqih dan pendidikan hubungan suami istri, agar keduanya mempunyai satu pandangan dan bisa memahami satu sama lain.

B. Suami harus memiliki jiwa yang kuat, mempunyai semangat bekerja yang tinggi, tetap bekerja, terampil, kreatif demi menafkahi keluarganya. Suami juga harus mengerti kebutuhan istri.

“Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada para ibu dengan cara yang makruf.” (Al Baqarah : 233)

Mu’awiyah Al Qusyairi bertanya kepada Rasulullah SAW, “Ya Rasulullah, apa hak istri terhadap masing-masing kami?” Beliau bersabda, “Hendaklah engkau memberinya makan apabila engkau makan, memberinya pakaian apabila engkau berpakaian atau mendapatkan rezki, jangan memukul muka, jangan menjelek-jelekannya, dan jangan berpisah dengannya kecuali di rumah.” (HR. Abu dawud, Al hakim dan Ibnu Hibban)

C. Komunikasi harus dibangun dengan baik ketika suami akan menggauli istri. Melakukan apa yang dapat membahagiakan istri semampunya, serta menahan diri dan bersabar dari keburukan yang ada pada istrinya. “Dan bergaullah dengan mereka secara patut, bila kamu tidak menyukai mereka, bersabarlah karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (An Nisa” 19).

D. Memuliakan istri. Ketaatan istri kepada suami merupakan suatu keharusan yang tidak mutlak, namun tidak berarti seorang suami bisa sewenang-wenang dengan istrinya. Wujud istri merupakan tanggung jawab suami untuk menjaganya. Disinilah seorang suami bersikap lembut dan tidak menyakitinya walaupun hanya dengan kata-kata.

E. Suami harus memperhatikan istrinya. Suami bersedia mendengarkan segala keluh istri, mampu menjadi sahabat sejati yang baik buat istrinya. Tempat untuk mencurahkan segala isi hati sang istri. Ibaratnya suami itu harus bisa menjadi foto copy hati sang istri. Segala yang ada pada sang istri, suami mengetahuinya.

Alangkah indahnya jika suami adalah satu-satunya tempat yang bisa mengerti istri dan memahami istri. Suami juga harus bisa memperhatikan penampilan sang istri, memilihkan baju untuk dikenakan istri dan memperhatikan kebutuhan istri.

F. Menghormati istri. Kadang-kadang kebiasaan buruk suami sering pergi malam tidak dalam kerangka menegakkan dien, lebih suka berkumpul dan berlama-lama dengan teman-temannya, itu yang harus suami hindari. Suami memandang dan berbicara dengan wanita non mahram di hadapan istri. Suami kurang menghormati istrinya, khususnya di depan orang lain. Suami kurang menghormati kerabat dan teman istrinya. Menjaga penampilan dihadapan istri.

Sering dikaji bahwa seorang istri seharusnya pada penampilan terbaik dihadapan istrinya. Namun sebenarnya pun demikian suami. Seharusnya suami pun menjaga penampilan terbaik saat bertemu istrinya.


“أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم كَانَ إِذَا دَخَلَ بَيْتَهُ بَدَأَ بِالسِّوَاكِ”


“Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam jika masuk ke rumahnya, hal yang pertama kali beliau lakukan adalah bersiwak.” (H.R. Muslim).

Subhanalloh…

Semoga bermanfaat dan kita sebagai suami ataupun istri bisa saling melengkapi satu sama lain.

Sepenat apapun seorang suami karena menumpuknya masalah, secapek apapun seorang suami karena menghadapi beratnya aktrifitas di luar rumah tidak menjadi penghalang bagi dirinya untuk meluangkan waktu berduaan dengan istrinya dalam menyelesaikan urusan dalam rumah tangga.

Karena sesungguhnya keharmonisan rumah tangga adalah penawar dari kepenatan hati kita. Wallahu’alam bisshowab.

[Ukhwatuna]

 

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/07/21/31744/fakta-dibalik-10-tahun-pernikahan-kita-2/

Bolehkah Kaum Hawa I’tikaf?

Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam atas Rh –Shallallahu ‘Alaihi Wasallam-, keluarga dan para sahabatnya.

Umumnya yang sering melaksanakan i’tikaf adalah para lelaki. Muncul kesan bahwa ibadah i’tikaf khusus dilaksanakan oleh kaum Adam. Sehingga ada anggapan bahwa kaum hawa tidak disyariatkan untuk melaksanakannya. Bagaimana sebenarnya hukum i’tikaf ini bagi kaum hawa yang juga ingin mendapatkan pahala besar melalui ibadah puncak di bulan penuh berkah?

I’tikaf termasuk amal shalih yang disyariatkan pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadlan. Dan sesungguhnya Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam biasa beri’tikaf pada sepuluh hari terahir dari Ramadlan itu. Dalam Shahihain, dari jalur ‘Urwah, dari Aisyah Radliyallaahu ‘Anha,

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَعْتَكِفُ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ مِنْ رَمَضَانَ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ

Adalah Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam beri’tikaf pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadlan hingga Allah mewafatkannya. Kemudian i’tikaf dilanjutkan oleh istri-istri beliau.” Hal itu menunjukkan bahwa i’tikaf disyariatkan bagi kaum laki-laki dan wanita. Para ulama juga telah berijma’ (bersepakat) bahwa i’tikaf laki-laki tidak sah kecuali di masjid. Mereka berdalil dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala,

 وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ

Dan janganlah kamu campuri mereka itu (istri-istrimua), sedang kamu beri`tikaf dalam mesjid.” (QS. Al-Baqarah: 187) dan juga dengan dasar pelaksanaan Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam yang di masjid.

Jumhur ulama dari kalangan Madhab Hanafi, Maliki, syafi’i, Hambali, dan lainnya  berpandangan bahwa kaum perempuan seperti laki-laki, tidak sah i’tikafnya kecuali di masjid. Maka tidak sah i’tikaf yang dilaksanakannya di masjid (baca; mushola) rumahnya. Pendapat ini berbeda dengan yang dipahami madhab Hambali, mereka berkata, “Sah i’tikaf seorang wanita yang dilaksanakan di masjid rumahnya.” Sedangkan pendapat jumhur jelas lebih benar, karena pada dasarnya laki-laki dan wanita sama dalam hukum kecuali ada dalil yang menghususkannya. Karena itu disyariatkan bagi wanita yang akan beri’tikaf untuk melaksanakannya di masjid-masjid.

Penting diketahui, bagi wanita yang memiliki suami tidak boleh beri’tikaf kecuali dengan izin suaminya menurut pendapat jumhur ulama. Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda,

لَا يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلَّا بِإِذْنِه

Janganlah seorang wanita berpuasa sementara suaminya ada bersamanya, kecuali dengan seizinnya.” (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026 dari jalur Thariq Abu al-Zinad, dari Al-A’raj, dari Abu Hurairah radliyallaahu ‘anhu)

Apabila dalam urusan puasa saja seperti ini maka dalam i’tikaf jauh lebih (ditekankan untuk mendapat izin dari suaminya), karena hak-hak suaminya yang akan terabaikan jauh lebih banyak.

Begitu juga perlu diingatkan, bahwa apabila kondisi diamnya seorang wanita di masjid tidak terjamin keamananya, seperti keberadaannya di situ membahayakan bagi dirinya atau akan menjadi tontonan, maka ia tidak boleh beri’tikaf. Karena itulah para fuqaha’ menganjurkan bagi wanita apabila beri’tikaf supaya menutup diri dengan kemah dan semisalnya berdasarkan praktek Aisyah, Hafshah, Zainab pada masa Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam.

Diterangkan dalam Shahih Al-Bukhari (2033) dan Muslim (1173) dari jalur Yahya bin Sa’id bin Amrah, dari Aisyah,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَادَ أَنْ يَعْتَكِفَ فَلَمَّا انْصَرَفَ إِلَى الْمَكَانِ الَّذِي أَرَادَ أَنْ يَعْتَكِفَ إِذَا أَخْبِيَةٌ خِبَاءُ عَائِشَةَ وَخِبَاءُ حَفْصَةَ وَخِبَاءُ زَيْنَبَ

Bahwasanya Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam hendak beri’tikaf. Maka ketika beliau beranjak ke tempat yang hendak dijadikan beri’tikaf di sana sudah ada beberapa kemah, yaitu kemah Aisyah, kemah Hafshah, dan kemah Zainab.

Semua itu menunjukkan bahwa disyariatkan mengadakan penutup (satir) bagi wanita yang beri’tikaf dengan tenda (kemah) dan semisalnya. Wallahu Ta’ala a’lam. (PurWD/voa-islam.com)

  • Diterjamahkan oleh Badrul Tamam dari fatwa Syaikh Khalid bin Abdullah al-Mushlih, dalam islamway.com.

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/07/18/31701/bolehkah-kaum-hawa-itikaf/

Program ‘Sekolah Untuk Semua’ Dompet Dhuafa

PRESS RELEASE

Dompet Dhuafa Jawa Barat-Sinergi Foundation

Tahun 2012 lalu, UNICEF meliris laporan tahunan yang demikian mencengangkan. Masih 2,3 juta anak usia 7-15 di negeri ini tidak bersekolah. Propinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat, dimana terdapat sebagian besar penduduk Indonesia, ada 42% anak putus sekolah. 

Pendidikan adalah hak setiap insan. Dengannya generasi kita bisa menyemai harapan. Menuntut ilmu, meretas hari depan.

Orang tua mana yang tak ingin anaknya mendapat pendidikan yang layak? Lihatlah, di pelosok Garut Selatan, Jawa Barat. Demi menjemput ilmu di bangku sekolah, anak-anak di desa Mekar Wangi, Cibalong, harus berjibaku dengan sarana dan prasarana yang serba terbatas. Jalan setapak penuh bebatuan, ditempuh dengan berjalan kaki, tanpa alas kaki. Belum lagi ketiadaan jembatan penghubung antar kampung, memaksa mereka menantang maut, menyeberangi sungai Cibaluk yang cukup lebar, dengan arus yang  begitu deras, untuk sampai tujuan. Bayangkan saat siang atau sore hari, mereka harus pulang dengan rute yang sama. Kembali menantang maut, lantaran banjir bandang bisa saja setiap saat menerjang.

Betapa alas kaki, begitu berarti bagi anak-anak di wilayah tadi. Hal kecil bagi yang berpunya, tapi bermakna besar bagi mereka yang serba tak ada. Buku pelajaran? Apalagi! Sekolah mungkin bisa saja mendatangkan dari penerbit, tapi apa bisa memberikan begitu saja secara Cuma-Cuma?  Apa iya ada dana operasional untuk pembelian dan distribusi dari penerbit ke wilayah setempat? Belum lagi saat masa pendaftaran sekolah tiba seperti saat ini. Orang tua di tempat-tempat seperti itu, yang anaknya beranjak dari sekolah dasar ke sekolah menengah, pun jenjang selanjutnya, tengah galau memikirkan biaya yang harus segera dipersiapkan. Untuk seragam sekolah, uang daftar ulang, tas, sepatu, dan perlengkapan penunjang proses pembelajaran lainnya.

Kondisi demikian kerap menjadi pertimbangan orang tua di wilayah-wilayah semisal, yang minim secara ekonomi, untuk menunda keinginan si buah hati melanjutkan sekolah. Jangankan untuk biaya sekolah, kebutuhan harian pun belum tentu tercukupi dari nafkah.

Tahun 2012 lalu, UNICEF meliris laporan tahunan yang demikian mencengangkan. Masih 2,3 juta anak usia 7-15 di negeri ini tidak bersekolah. Propinsi Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat, dimana terdapat sebagian besar penduduk Indonesia, ada 42% anak putus sekolah.

Meski secara keseluruhan angka masuk sekolah dasar cukup tinggi, sebuah kajian tentang Anak Putus Sekolah yang dilakukan bersama Kementerian Pendidikan, UNESCO, dan UNICEF di tahun sebelumnya, 2011, menunjukkan bahwa 2,5 juta anak usia 7-15 tahun masih tidak bersekolah. Kebanyakan dari mereka putus sekolah sewaktu masa transisi dari SD ke SMP.

Melihat fakta demikian, aksi nyata apa yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan generasi kita? Jangan biarkan Ramadhan kita kali ini berlalu begitu saja, tanpa makna.

Sekolah untuk Semua. Sebuah program yang digagas Dompet Dhuafa Jabar – Sinergi Foundation sebagai ikhtiar penyelamatan generasi bangsa dari ancaman putus sekolah. Ikhtiar yang diberikan antara lain: bantuan bea masuk sekolah, kebutuhan dasar dan penunjang penyelenggaraan proses pembelajaran (bantuan tunggakan spp, bantuan tebus ijazah, seragam, buku, sepatu, dan lainnya). Sampai kini sejak kali pertama digulirkan, ribuan siswa-siswi mulai tingkat SD, SMP dan SMA (sederajat) dari kalangan dhuafa telah merasakan manfaatnya. Ayo, selamatkan generasi kita.

Selamatkan Generasi Kita

Sebanyak 756 siswa/i yang akan melanjutkan sekolah kejenjang SMP/SMA atau sederajat akan menerima bantuan pendidikan dari Dompet Dhuafa Jawa Barat-Sinergi Foundation melalui program Sekolah Untuk Semua. Acara sendiri akan diselenggarakan di Balai Pertemuan UPI, Sabtu (12/7/2014).

Insya Allah, rangkaian acara  akan dihadiri oleh Walikota Bandung, Bapak Ridwan Kamil, dipandu MC Urban dan juga akan  disuguhkan “Oase Inspirasi”  bersama Kang Asep Wahidin al-Mufiid (Master Trainer Writer di Insan Muda Emas). Inspirasi ini disuguhkan sebagai motivasi bagi para penerima manfaat agar tetap menjaga semangat untuk melanjutkan pendidikan baik secara formal maupun non formal.  

Para penerima manfaat Program Sekolah Untuk Semua ini berasal dari berbagai sekolah negeri dan swasta di Jawa Barat yang tersebar di Kota Bandung, Kab. Bandung, Kab. Bandung Barat, Cimahi, Garut, Cirebon dan Tasikmalaya, Bogor, Cianjur dsb.

Dengan rincian jumlah penerima: SMA sebanyak 213 Orang, SMK sebanyak 233 dan SMP/Sederajat sebanyak 310 orang. Adapun pembukaan penerima seleksi ini dimulai pada tanggal 02 Juni sd. 21 juni 2014 lalu. Tahapan seleksi yang dilakukan meliputi seleksi administrasi, home visit (survey) dan rapat pleno sebagai keputusan final dalam menentukan jumlah biaya bantuan dan penerima.

Jumlah nilai bantuan sekolah untuk semua berbeda pada setiap tingkat. nilai bantuan yang diberikan bervariasi dari Rp. 300.000,- sd. Rp. 1.500.000,-.

Menurut Saji Sonjaya, Empowering Manager DD Jabar – Sinergi Foundation, dengan adanya kegiatan ini diharapkan masyarakat yang terbantu dapat melanjutkan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Sesuai keinginan donator yang menitipkan dana ZIS-nya untuk kemaslahatan ummat akan tercapai, terutama bagi mereka yang peduli pada bidang pendidikan.  

CP. Taufiq Hidayat (081802206926)

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/07/17/31680/program-sekolah-untuk-semua-dompet-dhuafa-sinergi-foundation/

Fakta Dibalik 10 Tahun Pernikahan Kita

Sahabat Keluarga,

Fakta aneh yang banyak dirasakan pasangan suami istri dalam mengarungi bahtera rumah tangga lebih dari sepuluh tahun. Banyak diantara mereka yang memiliki pandangan sebagai berikut :

1. Kebanyakan suami menganggap istrinya cenderung suka marah dan suka mengangkat suara dihadapanya.
2. Kebanyakan istri menganggap suaminya sering berbohong kepadanya.

Namun yang lebih aneh lagi dikala sang istri ditanya katanya itu demi kebaikan suami. Pun demikian pula disaat suami ditanya juga memberikan jawaban demi kebaikan untuk istrinya.

Eit… Namun disaat keduanya ditanya apakah apa yang mereka lakukan itu merupakan akhlaq terbaik, keduanya pun menjawab dengan serempak TIDAK.

Ini merupakan fakta yang aneh dalam rumah tangga (semoga keluarga Sahabat muslimah VOA Islam tidak termasuk). Secara syar’i tidaklah mungkin suatu kebaikan melahirkan perbuatan yang salah dan tidak mungkin pula perbuatan yang salah dilakukan dengan niat demi kebaikan. Karena tidaklah mungkin kebaikan dan kejelekan bertemu dalam satu wujud dengan ketenangan jiwa.

Usut demi usut ternyata muara fenomena aneh yang terjadi dalam rumah tangga ini karena kesalahan dan kurangnya dalam membangun komunikasi. Karena kurang tepatnya mencari waktu terbaik untuk menyampaikan kehendak hati atau kurangnya pandai menyusun kata-kata terindah dengan pasangan hati serta kurang sabarnya dalam menunggu momen terbaik untuk mencurahkan riyak kehidupan.

Ada baiknya para Sahabat Muslimah bermuhasabah dengan wanita terbaik yang telah menjadikan hati Nabi Muhammad begitu mencintainya yaitu Khodijah Radhiyalloh. Bagaimana indahnya akhlaq Khodijah terhadap suami tercinta saat turunnya wahyu yang pertama.

Saat Rosululloh didekap malaikat Jibril dengan menampakkan wujud asli dengan sayap yang teramat sangat panjang sejauh mata memandang. Rosululloh dalam keadaan takut sampai menggigil kemudian turun dari Gua Hira’. Kemudian Rosululloh saat sampai rumah tak mampu terucap banyak kalimat, belum mampu mengungkapkan rentetan kata, namun yang terucap hanyalah permintaan kepada istrinya “selimuti aku, selimuti aku…”.

Di sinilah tercermin akhlaq istri Rosululloh Khodijah tercermin. Bukannya menyerbu Rosululloh dengan pertanyaan dengan bertubi-tubi, bukan pula ogah-ogahan menyambut suaminya. Namun Khodijah diam seribu bahasa dan mengikuti apa yang diinginkan suaminya tercinta sebagai bukti ketaatan sebagai cermin cintanya.

Ketika Rosululloh mulai tenang, beliau berkata: Khadijah, aku khawatir diriku akan tertimpa musibah, aku khawatir diriku akan tertimpa musibah lalu menceritakan kejadian apa yang baru saja dialaminya.

Setelah Khodijah mendengarkan cerita dari suaminya dengan rasa cemas dan takut masih tersisa dari terbatanya kata. Ketika mendengarkan cerita yang aneh karena diceritakan bahwa suaminya baru saja bertemu makhluq yang memiliki sayap sejauh mata memandang. Kembali tercermin bagaimana akhlaq beliau. Cerita yang aneh itu bukannya menelurkan untaian pertanyaan ataupun kalimat yang menunjukkan kurang percaya, namun untaian kalimat yang menyejukkan bak embun yang keluar dari lisan baginda Khodijah.

Khadijah berkata: Bergembiralah, demi Allah, Allah tidak akan merendahkanmu selamanya. Engkau benar-benar jujur dalam ucapan, menjaga silaturahim, menanggung beban, memuliakan tamu dan membantu orang yang kesulitan.

Tidak berhenti di situ, Khodijah kemudian berusaha mencarikan solusi untuk suaminya dengan mengajaknya ke saudaranya yang bernama Waroqoh.

Subhanalloh…
Inilah cermin kecintaan yang luar biasa yang menelurkan sikap yang tepat. Tergambar dengan jelas bagaimana bukti ketaatan istri kepada suaminya. Tergambarkan dengan jelas bagaimana kedudukan seorang istri sebagai penyejuk pandangan sebagaimana yang diungkapkan Imam Asy Syaukani dalam kitab Fathul Qodir. Juga tergambar dengan jelas bagaimana kesabaran Khodijah dalam bersikap dan menuturkan kalimat indahnya.

Demikianlah akhlaq Khodijah yang mendengarkan, mengikuti dan membantu mencarikan solusi terbaik untuk suaminya tercinta. (Bersambung)

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/07/15/31645/fakta-dibalik-10-tahun-pernikahan-kita/

Solusi bagi Wanita Haidh Supaya Bisa Membaca Al Quran

Sahabat Muslimah,

Bulan Ramadhan adalah kesempatan yang baik untuk membaca Al Quran. Namun setiap wanita pasti tidak penuh menjalankan puasa. Ada satu waktu ia mengalami haidh.

Ketika mengalami haidh tersebut, ia tentu terhalang untuk membaca Al Quran sehingga waktunya berkurang untuk mengkhatamkan Al Quran sebulan Ramadhan.

Berikut ada solusi yang baik untuk para wanita ketika menghadapi masalah ini.

1- Membaca mushaf saat haidh namun tidak menyentuh secara langsung

Membaca masih dibolehkan bagi wanita yang berhadats. Yang tidak dibolehkan adalah menyentuh langsung saat berhadats.

Dalil yang menunjukkan larangan untuk menyentuhnya adalah ayat,

لَا يَمَسُّهُ إِلَّا الْمُطَهَّرُونَ

Tidak menyentuhnya kecuali orang-orang yang disucikan” (QS. Al Waqi’ah: 79)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لاَ تَمُسُّ القُرْآن إِلاَّ وَأَنْتَ طَاهِرٌ

Tidak boleh menyentuh Al Qur’an kecuali engkau dalam keadaan suci.” (HR. Al Hakim dalam Al Mustadroknya, beliau mengatakan bahwa sanad hadits ini shahih). Dalam keadaan suci di sini bisa berarti suci dari hadats besar dan hadats kecil. Haidh dan nifas termasuk dalam hadats besar.

Jika dilarang menyentuh Al Quran dalam keadaan haidh, lalu bagaimana dengan membaca?

Solusinya dijelaskan oleh Syaikh Ibnu Baz rahimahullah di mana beliau berkata, “Diperbolehkan bagi wanita haid dan nifas untuk membaca Al Qur’an menurut pendapat ulama yang paling kuat. Alasannya, karena tidak ada dalil yang melarang hal ini. Namun, seharusnya membaca Al Qur’an tersebut tidak sampai menyentuh mushaf Al Qur’an. Kalau memang mau menyentuh Al Qur’an, maka seharusnya dengan menggunakan pembatas seperti kain yang suci dan semacamnya (bisa juga dengan sarung tangan, pen). Demikian pula untuk menulis Al Qur’an di kertas ketika hajat (dibutuhkan), maka diperbolehkan dengan menggunakan pembatas seperti kain tadi.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 10: 209-210)

Adapun hadits yang menyebutkan,

لا تقرأ الحائض ولا الجنب شيئاً من القرآن

Tidak boleh membaca Al Qur’an sedikit pun juga bagi wanita haidh dan orang yang junub.” Imam Ahmad telah membicarakan hadits ini sebagaimana anaknya menanyakannya pada beliau lalu dinukil oleh Al ‘Aqili dalam Adh Dhu’afa’ (90), “Hadits ini batil. Isma’il bin ‘Iyas mengingkarinya.” Abu Hatim juga telah menyatakan hal yang sama sebagaimana dinukil oleh anaknya dalam Al ‘Ilal (1/49). Begitu pula Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Fatawanya (21/460), “Hadits ini adalah hadits dho’if sebagaimana kesepakatan para ulama pakar hadits.”

Ibnu Taimiyah mengatakan, “Hadits di atas tidak diketahui sanadnya sampai Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Hadits ini sama sekali tidak disampaikan oleh Ibnu ‘Umar, tidak pula Nafi’, tidak pula dari Musa bin ‘Uqbah, yang di mana sudah sangat ma’ruf banyak hadits dinukil dari mereka. Para wanita di masa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga sudang seringkali mengalami haidh, seandainya terlarangnya membaca Al Qur’an bagi wanita haidh atau nifas sebagaimana larangan shalat dan puasa bagi mereka, maka tentu saja Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam akan menerangkan hal ini pada umatnya. Begitu pula para istri Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahuinya dari beliau. Tentu saja hal ini akan dinukil di tengah-tengah manusia (para sahabat). Ketika tidak ada satu pun yang menukil larangan ini dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka tentu saja membaca Al Qur’an bagi mereka tidak bisa dikatakan haram. Karena senyatanya, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak melarang hal ini. Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sendiri tidak melarangnya padahal begitu sering ada kasus haidh di masa itu, maka tentu saja hal ini tidaklah diharamkan.” (Majmu’ Al Fatawa, 26: 191)

2- Membaca Al Quran terjemahan

Kalau di atas disebut mushaf berarti seluruhnya berisi ayat Al Quran tanpa ada terjemahan. Namun kalau yang dibaca adalah Al Quran terjemahan, itu tidak termasuk mushaf.

Imam Nawawi rahimahullah dalam Al Majmu’ mengatakan, “Jika kitab tafsir tersebut lebih banyak kajian tafsirnya daripada ayat Al Qur’an sebagaimana umumnya kitab tafsir semacam itu, maka di sini ada beberapa pendapat ulama. Namun yang lebih tepat, kitab tafsir semacam itu tidak mengapa disentuh karena tidak disebut mushaf.”

Jika yang disentuh adalah Al Qur’an terjemahan dalam bahasa non Arab, maka itu tidak disebut mushaf yang disyaratkan dalam hadits mesti menyentuhnya dalam keadaan suci. Namun kitab atau buku seperti itu disebut tafsir sebagaimana ditegaskan oleh ulama Malikiyah. Oleh karena itu tidak mengapa menyentuh Al Qur’an terjemahan seperti itu karena hukumnya sama dengan menyentuh kitab tafsir. Akan tetapi, jika isi Al Qur’annya lebih banyak atau sama banyaknya dari kajian terjemahan, maka seharusnya tidak disentuh dalam keadaan berhadats.

Semoga bermanfaat. Hanya Allah yang memberi taufik.

[M.AbduhTuasikal/muslimah]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/07/15/31629/solusi-bagi-wanita-haidh-supaya-bisa-membaca-al-quran/

Jadi Wanita Karir Boleh Enggak Sih?

Sahabat Muslimah VOA-Islam…

Ada ungkapan “Wanita telah diciptakan dari tulang rusuk, maka janganlah engkau jadikan tulang punggung.” Tidak ada perselisihan di kalangan ulama’ bahwa fitrah bagi wanita adalah dirumah. Namun realita saat ini banyak Sahabat Muslimah yang harus keluar rumah, bahkan harus menjadi tulang punggung keluarga atau harus mencari nafkah untuk dirinya sendiri.

Allah Ta`ala berfirman :
وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَىٰ
“ Tetaplah para wanita tinggal di dalam rumah mereka dan janganlah mereka bertabarruj seperti orang jahiliyah ” (Al Ahzab:33)

Dalam menjelaskan ayat di atas Ibnu Katsir berkata :” tetaplah mereka para wanita tinggal di dalam rumah, maka janganlah mereka keluar rumah melainkan ada keperluan syar’i ”.
(Tafsir Ibnu Katsir 3/450).
Sedangkan menurut Asy Syaukani Sesungguhnya maksud ayat di atas adalah “ memerintahkan kepada mereka (para Wanita) agar tinggal dan menetap di dalam rumah, dan bukankah ia(wanita) sebagai penyejuk pandangan “ (Fathul Qodir 4 / 347)

Yang lebih menarik lagi dari ayat di atas yaitu Alloh menyandingkan perintah untuk Sahabat Muslimah supaya tidak keluar rumah dengan kebiasaan tabaruj orang jahiliyah. Mari kita lihat reallita kebanyakan wanita yang keluar rumah. Apakah kebanyakan mereka sulit dibedakan dengan orang jahiliyah (kafir)? Subhanalloh… Maha benar Alloh atas segala firmanNya.

Terus bagaimana kita menyikapi realita banyaknya wanita karir saat ini? Bolehkah hal itu dilakukan Sahabat Muslimah?

Sahabat Muslimah…
Tidak ada larangan sama sekali dalam Islam bagi wanita untuk menyalurkan kemampuan yang dimiliki. Namun Islam mengatur bagaimana batas seorang Muslimah dalam memposisikan diri saat berhubungan dengan orang lain, terutama terhadap kaum Adam. Disaat Sahabat Muslimah melakukan aktrifitas di luar rumah haruslah memenuhi beberapa syarat sebagai berikut.

1. Keluar rumah haruslah karena keterpaksaan. Bukan karena pilihan ataupun karena kesenangan. ​Keterpaksaan (darurat) bagi Sahabat Muslimah dilihat dari segi keurgensianya. Oleh karena itu seorang wanita diperbolehkan keluar rumah untuk memenuhi hajad pribadi ataupun untuk bekerja di luar rumah karena terpaksa.

2. Mendapatkan izin dari walinya, yaitu Ayah atau suaminya untuk janda minta izin kepada siapa?(insyaAlloh kita bahas pada risalah yang lain). Apabila mendapatkan izin pun harus ditemani laki-laki yang berhak, minimal yang sudah bisa bercerita dan makbul atas apa yang telah diungkapkannya. Apabila tidak ada yang menemani, inipun harus karena darurat sekali. Harus pula tujuan keluar rumah bukan dalam masalah yang dilarang Alloh.

3. Tidak berlaku tabaruj dan menampakan perhiasaan yang dapat mengundang fitnah. menurut syeikh Almaududi, kata tabaruj, bila dikaitkan dengan seorang wanita memiliki tiga pengertian :
a. Menampakan keelokan wajah dan bagian bagian tubuh yang membangkitkan birahi,
b. Memamerkan pakaian dan perhiasaan yang indah dihadapan kaum laki laki yang bukan mahram.
c. Memamerkan diri dan berjalan berlenggak lenggok dihadapan kaum laki-laki yang bukan mahram .
Menurut Alqur`an dan As Sunnah dan kesepakatan para ulama bahwa hukum tabaruj adalah haram.

4. Tidak bercampur baur dengan kaum laki laki, atau melakukan khalwat dengan laki laki yang bukan mahramnya. Rasulullah bersabda :

لايخلون رجل بامرأة فإن ثالثهما الشيطان

“ Janganlah sekali kali seorang laki – laki berkhalwat (berduan) dengan wanita, karena yang ketiganya adalah syaithan”. (HR At Tirmidzi ).

5. Tidak memakai parfum atau wewangian
Rasullah bersabda :

عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّ عَيْنٍ زَانِيَةٌ وَالْمَرْأَةُ إِذَا اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ بِالْمَجْلِسِ فَهِيَ كَذَا وَكَذَا يَعْنِي زَانِيَةً
“ Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: Setiap mata memiliki bagian dari zina, dan wanita yang memakai wewangian kemudian lewat di perkumpulan (lelaki) berarti dia begini dan begini. Maksud beliau berbuat zina.”. { HR. At Tirmidzi }.

6. Memakai hijab menurut ketentuan syar`i,
Allah Ta`ala berfirman :

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ قُل لِّأَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ الْمُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِن جَلَابِيبِهِنَّ ذَٰلِكَ أَدْنَىٰ أَن يُعْرَفْنَ فَلَا يُؤْذَيْنَ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

“ Wahai Nabi katakanlah kepada istri istrimu, anak anak perempuanmu, dan para wanita mukminin, hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu ,dan Allah maha pengampun lagi maha penyanyang “ (Al- Ahzab :59 ).

Wallohu a’lam bi showab. [ukhwatua/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/07/11/31554/jadi-wanita-karir-boleh-enggak-sih/

Ketika Laki-laki dan Negara Tak Berfungsi

Sahabat Voa Islam,

Hari ini, saya ngobrol dengan seorang nenek penjual nasi pecel. Usianya 83 tahun dan sudah sakit-sakitan. Ia memunyai satu anak laki-laki yang tinggal serumah dengannya bersama dengan istri dan dua anaknya. Anak laki-laki ini bekerja sebagai tukang becak tapi jarang beroperasi becaknya. Dia lebih memilih duduk atau tiduran di becaknya sambil menikmati semilir angin. Intinya, anak laki-laki ini malas bekerja keras demi menafkahi anak dan istrinya.

Si istri atau menantu nenek penjual nasi pecel ini tidak mau membantu mertuanya berjualan. Ia lebih memilih nonton TV dengan santai di rumah. Anak pertamanya yang perempuan pun harus drop out dari SMK karena hamil duluan. Setelah dinikahkan dan melahirkan, ia, bayi serta suaminya yang pengangguran tinggal di rumah tersebut dan menjadi beban si nenek tersebut. Bayangkan, setua itu dia harus memberi makan 7 mulut di rumahnya.

Di kesempatan yang lain, nenek berusia 87 tahun penjual kerupuk seharga seribuan curhat pada saya. Ia keliling dari kampung ke kampung menjajakan dagangannya demi laba seratus rupiah per bungkus kerupuk. Anaknya sembilan dan sudah menikah semua. Tak ada satu pun yang mau menanggung biaya hidup ibunya. Nenek ini sebetulnya memunyai uang pensiun dari suaminya yang mantan angkatan. Tapi karena ada salah satu anaknya yang hidupnya sangat miskin sehingga ia tidak tega dan memberikan uang tersebut untuk keluarga anaknya. Jadilah untuk makan dan biaya kostnya, ia berjualan kerupuk tersebut.

Dua ilustrasi di atas, bisa jadi membuat hati kita iba dan miris. Sosok yang seharusnya sudah beristirahat di masa tua, masih saja membanting tulang bukan demi dirinya tapi anak dan cucu juga. Salah satu teman, mengatakan bahwa fenomena demikian tidak membuatnya iba tapi marah. Kemana nurani anak dan cucunya? Kemana pemahaman dan bakti si muda pada yang tua? Apalagi bila ada sosok laki-laki di sana, betapa teganya ia membiarkan ibunya mencari receh demi memberi makan keluarga.

Sobat muslimah, kejadian di atas terjadi bukan tanpa sebab. Bentuk anak adalah hasil didikan orang tua. Betapa banyak orang tua di luar sana yang beralasan demi sayangnya pada si anak, tidak memberikan pendidikan yang seharusnya pada buah hati. Ibu dan ayah sibuk membersihkan rumah, memasak, berkebun, mencuci baju, sementara anak dibiarkan sibuk dengan HP dan nonton TV. Mereka tidak dididik untuk memunyai rasa welas asih terhadap orang tua. Dalam benaknya: biar orang tua saja yang susah, anak biar menikmati masa muda. Persepsi salah seperti inilah yang merupakan cikal bakal fenomena dua nenek dalam kisah di atas.

Pola didik yang salah, diperparah dengan nihilnya pemahaman agama membuat masa tua orang tua seperti ini makin merana. Sampai tua, bahkan sampai mati ia akan terus berperan sebagai pihak yang bekerja dan ‘membahagiakan’ anak. Begitu pun dengan si anak, hingga ia dewasa, beranjak tua bahkan mati pun, hidupnya hanya berisi malas-malasan dan enggan bekerja keras. Inilah yang dinamakan hasil didikan, menuai apa yang telah ditanam sebelumnya.

Bila ia laki-laki, jiwa ‘qowwam’ atau pemimpinnya tak nampak. Ia tak tersentuh dengan kondisi orang tua yang renta. Ia sampai hati memakan jatah dari keringat ibunya yang terbungkuk-bungkuk bekerja supaya keluarga bisa makan. Ia melanjutkan apa yang telah menjadi didikan ibunya di masa kecil dulu. Dan ketika akhirnya menjadi orang tua, ia pun tak tahu apa tugas dan kewajibannya sebagai ayah. Tak heran bila anak perempuannya akhirnya juga hamil di luar nikah.

Minimnya pemahaman keislaman membuat ia mengambil langkah umum yang diambil kebanyakan orang. Dinikahkah, habis perkara. Ia tak tahu bahwa menikahkan perempuan yang sudah hamil itu batal atau tidak sah hingga ia melahirkan. Ketidaktahuan ini dibawa terus tanpa ada pembaruan akad nikah. Jadilah seumur hidup anak perempuannya melakukan hubungan haram hingga membuahkan anak demi anak lagi dan lagi.

Suami yang asal comot karena sudah terlanjur hamil semakin memperburuk keadaan ini. Penyakit masyarakat tipe ini semakin membudaya seiring dengan semakin bebasnya pergaulan anak muda yang miskin ilmu agama. Kembali, orang tua yang seharusnya sudah bisa menikmati masa tua dengan bahagia harus terus diliputi masalah demi masalah tanpa kenal ujung.

Lihatlah, PR umat ini demikian besar. Ketika individu dan masyarakat kualitasnya demikian, maka pilar negara seharusnya memunyai jalan keluar. Dan ketika negara pun sebelas dua belas alias sama saja kualitasnya tanpa tahu harus bagaimana dengan fenomena kisah di atas, maka inilah saatnya kita mulai sadar diri. Ada yang salah dalam sistem ini.

Islam, sebagai the way of life punya semua jalan keluar atas penyakit umat. Islam ini tak bisa ditegakkan per individu. Ia harus hadir dalam sebuah sistem untuk memberi penyadaran dan tatanan bagi individu, masyarakat dan negara. Posisi laki-laki didudukkan di tempat semestinya. Ia harus menjadi pemimpin dalam keluarga, pencari nafkah utama. Tak ada tempat bagi laki-laki pemalas.

Proses penyadaran dan pendidikan di tengah masyarakat yang ‘sakit’ ini tak bisa dianggap sepele. Harus ada kekuatan sebuah negara untuk memberlakukan gerakan penyadaran ini. Dan ini tidak bisa dilakukan oleh sembarang negara kecuali benar-benar negara yang mendasarkan dirinya pada ketakwaan terhadap Sang Pencipta. Marilah kita bercermin, bagaimanakah wajah negara ini? Wallahu alam. [riafariana/voa-islam.com]

Sebarkan informasi ini, semoga menjadi amal sholeh kita!




Print Friendly and PDF

Muslimah lainnya:

Article source: http://www.voa-islam.com/muslimah/muslimah/2014/07/09/31499/ketika-lakilaki-dan-negara-tak-berfungsi/